A ROYAL HEIR

A ROYAL HEIR
Part 10



Dari alam mimpinya Rosie kembali ke alam sadar dan terbangun dari tidurnya. Kesadarannya perlahan terkumpul, namun dia masih diam saat melihat seseorang yang duduk di samping tempat tidur dengan kepala yang ditaruh di tepi kasur.


Kenapa Victor tidur di sana? Hanya itu yang Rosie pikirkan. Dia bangkit dan baru menyadari jika tangannya menggenggam tangan Victor. Rosie yang terkejut langsung melepaskannya dan mendapati telapak tangannya sudah berkeringat, itu menjadi bukti jika dia menggenggam tangan itu cukup lama.


Rosie mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi, namun seingatnya tadi dia sedang membaca dokumen, kenapa bisa tiba-tiba ada di sana?


Dengan helaan napas berat, Rosie melihat Victor yang masih tertidur dengan posisi duduk. Dia yakin pasti telah ketiduran dan Victor yang memindahkannya. Rosie mulai bingung dengan Victor, di satu sisi Victor selalu bersikap dingin dan menyebalkan, tapi kenapa Victor juga peduli?


Tanpa pikir panjang, Rosie menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya kemudian turun dari atas tempat tidur. Dia tidak membangunkan Victor, hanya membiarkannya begitu saja kemudian pergi ke luar kamar.


Sementara itu di dalam kamar, Victor terbangun tak lama setelah Rosie pergi. Dia melihat tempat tidur itu sudah kosong dan hanya bisa mengembuskan napas panjang. Rupanya Rosie sudah bangun dan dengan bodohnya Victor malah ketiduran di sana. Apa yang akan ia jelaskan jika nanti Rosie bertanya?


Setelah semua kesadarannya terkumpul, Victor hanya duduk di kursi itu tanpa beranjak sedikit pun. Dia teringat dengan mimpinya saat tidur barusan. Rosie yang menggenggam tangannya terbawa sampai ke dalam mimpi, namun di dalam mimpi Jane yang memegang tangannya. Mimpi itu terasa sangat nyata, tatapan Jane, senyumannya ... dia sangat cantik dan membuat Victor lebih merindukannya lagi. Saat terbangun, Victor merasa begitu hampa dan sedih. Apa Jane memikirkannya juga? Apa Jane merindukannya juga?


Lagi-lagi Victor menggenggam kalungnya dan berusaha merasakan Jane dari sana. Meski rasanya mustahil untuk kembali bersama, tapi Victor masih belum bisa merelakannya.


.


.


.


Hari-hari santai telah usai dan hari ini untuk pertama kalinya Victor harus mengikuti pertemuan dengan para menteri dan pejabat tinggi kerajaan.


Di ruangan rapat itu Victor duduk di kursi utama bersama Rosie yang duduk di sampingnya. Sore ini mereka tengah membahas kelanjutan proyek pembangunan sekolah baru yang dikhususkan untuk rakyat yang berada di kasta bawah.


Sistem kasta memang masih berlaku di Kerajaan Spanyol, secara umum rakyat di sana memiliki tiga tingkatan kasta. Kasta bawah adalah mereka yang kekurangan dan rata-rata memilik profesi sebagai petani dan nelayan kecil, banyak dari mereka yang juga tidak memiliki pekerjaan tetap. Kasta menengah adalah orang-orang yang berkecukupan namun tidak memiliki bayak harta lebih, mereka para pedagang dan seniman. Kasta atas adalah orang-orang keturunan bangsawan yang bergelimang harta dan hidup di tengah kemewahan. Yang tertinggi adalah anggota keluarga kerajaan.


"Sebenarnya aku kurang setuju jika. Kita membangun terlalu banyak sekolah untuk orang-orang kasta bawah. Mereka cenderung tidak mementingkan pendidikan dan minat belajar anak-anak sangat kecil," ujar salah satu pejabat yang menolak keinginan Rosie untuk membangun lebih dari lima puluh sekolah baru di seluruh daratan Spanyol.


"Kuarsa jumlahnya harus dikurangi setengahnya untuk memotong biaya pembangunan. Kita tidak bisa menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang belum tentu hasilnya," imbuh pejabat lain.


"Tapi pendidikan itu sangat penting untuk bekal masa depan. Apa kalian tahu kenapa orang-orang di kasta bawah lebih banyak yang pengangguran? Karena mereka tidak memiliki pendidikan yang cukup," jelas Rosie.


"Aku setuju dengan Yang Mulia Ratu. Lagi pula jika kesadaran dan minat orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka masih sangat kecil, maka tugas kita untuk menyadarkan mereka betapa pentingnya pendidikan."


"Itu benar. Mungkin banyak anak-anak pintar di kasta bawah, hanya saja mereka tidak punya kesempatan untuk belajar."


Rapat itu diwarnai dengan pro dan kontra. Sebagian pejabat mendukung pembangunan sekolah itu, tapi banyak juga yang menentang dan menganggap itu hanya akan menghamburkan dana pemerintah saja.


"Tapi, jika jumlah sekolah yang dibangun terlalu banyak akan membuat kita kehilangan banyak uang kas. Belum lagi sekolah itu akan beroperasi secara gratis. Kita harus menyediakan peralatan sekolah dan membayar gaji guru untuk jangka panjang."


"Bukankah kita memiliki pemasukan tetap dari pajak yang dibayarkan oleh rakyat? Kita tidak perlu terlalu mencemaskan soal biaya. Untuk jumlah sekolah juga kita bisa membangun banyak sekolah, tapi tidak perlu terlalu besar. Dengan ukuran yang lebih kecil dan tersebar di setiap daerah akan lebih memudahkan anak-anak untuk menjangkaunya, jadi mereka tidak perlu pergi jauh," jelas Victor.


"Apa ada jaminan jika mereka akan menerima dengan baik program ini?"


"Kita tidak akan tahu jika tidak mencoba. Program pendidikan tidak akan merugikan siapa pun. Jika anak-anak semakin pintar akan menjadi hal baik jika untuk masa depan kerajaan kita," jelas Rosie.


"Jika kalian masih mencemaskan masalah biaya," Victor kembali bicara, "kita punya solusi lain untuk meningkatkan pasukan. Dari apa yang kulihat semua orang baik dari kasta bawah, menengah maupun atas harus membayar pajak tanah dengan persentase yang sama. Aku ingin mencoba menerapkan apa yang kami lakukan di Jerman, kita bisa menaikkan sekitar empat sampai lima persen dari jumlah pajak untuk orang-orang yang memiliki tanah yang sangat luas."


"Yang Mulia, itu akan memberatkan. Mereka yang memiliki tanah luas sudah berat karena harus membayar pajak yang besar, jika jumlahnya dinaikkan akan semakin berat."


"Aku rasa pendapat itu tidak masuk akal," kata Victor membantah keberatan dari salah satu pejabat. "Yang memiliki tanah luas tentu saja mereka yang berasal dari kasta atas dan memiliki banyak kekayaan, itu sudah risiko mereka karena memiliki tanah yang luas. Kenaikan lima persen bukanlah apa-apa dibandingkan jumlah harta yang mereka punya. Lagi pula itu hanya dibayarkan satu kali dalam setahun. Aku tahu kalian yang di sini berasal dari kasta atas, tapi tolong pahami mereka yang berada di bawah juga. Tujuan kita adalah meningkatkan kualitas rakyat dalam segala hal termasuk pendidikan. Kita tidak bisa memakmurkan yang di atas sedangkan yang di bawah dilupakan."


Para menteri dan pejabat itu diam setelah mendengar penjelasan Victor yang cukup panjang.


"Maaf, Yang Mulia. Tapi ini Spanyol bukan Jerman, kau tidak bisa menyamakannya. Lagi pula kau belum lama tinggal di sini dan belum paham betul dengan rakyat Spanyol."


Rosie menghela napas saat lagi-lagi salah satu pejabat di sana menentang apa yang Victor katakan. Yang lebih parahnya pejabat itu mengungkit tentang status Victor yang bukan orang asli Spanyol.


"Tapi, aku sependapat dengan Raja. Orang-orang yang memiliki banyak harta tidak akan sampai rugi hanya karena pajak sedikit dinaikkan," kata Rosie. "Dan tolong bicaralah yang sopan pada Raja! Karena dia belum lama di sini bukan berarti dia tidak tahu apa-apa."


Victor menoleh pada Rosie, dia melihat wanita itu tampak kesal. Padahal Victor tidak begitu peduli dengan ucapan tentang dirinya yang bukan orang Spanyol, malah Rosie yang marah. Tapi, Victor merasa cukup senang karena Rosie membelanya di depan orang-orang menyebalkan itu.


"Maaf, Yang Mulia Ratu, aku hanya menyampaikan pendapatku. Tapi, tak seharusnya kau melibatkan perasaan pribadi dalam rapat ini. Aku mengerti kau ingin membela suamimu, tapi bersikaplah profesional!"


Bukannya berhenti, pejabat itu malah mengritik Rosie juga. Raja dan ratu yang masih baru dan sangat muda membuat para pembangkang itu lebih berani untuk menentang bahkan mengritik secara terang-terangan.


Victor menoleh lagi pada Rosie, kini Rosie bukan hanya marah, tapi tampak sedih juga.


"Jadi, apa yang kau inginkan, Tuan? Kulihat sejak tadi kau hanya terus menentang dan mengritik tanpa memberi pendapat dan solusi. Kalau begitu katakan apa yang kau inginkan! Katakan apa yang menurutmu terbaik!" seru Victor dengan tegas dan dingin.


Pejabat yang mengritik Rosie dan Victor itu hanya diam dan tidak menjawab apa pun. Dia bungkam sambil memalingkan wajahnya dari raja dan ratu untuk menyembunyikan kekesalannya.


"Untuk siapa pun di sini, kalian bebas mengutarakan pendapat dan kritik. Tapi, jangan hanya bisa berkomentar tanpa memberi solusi, aku tidak butuh orang seperti itu," kata Victor lagi dan tak seorang pun berani menatap matanya, sang raja mulai marah.


"Victor," bisik Rosie sambil memegang tangan Victor. "Kendalikan dirimu!"


.


.


.


To be continued