
Suara kicauan burung terdengar di pagi yang cerah ini membuat Rosie akhirnya terbangun dari tidur lelapnya.
Sepasang mata hazelnya terbuka, menatap langit-langit putih di atasnya, kemudian menoleh ke samping di mana cahaya terang itu masuk melalui jendel. Melihat ke sisi lain, Rosie menemukan Victor yang ternyata masih tertidur di sofa dengan sebuah bantal dan selimut tebal.
Benarkah dia seorang pangeran? Bagaimana bisa seseorang yang lahir dan besar di tengah mewahnya keluarga kerajaan bisa tidur nyenyak di atas sofa?
Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh, jadi meski malas Rosie menarik punggungnya dari kasur yang empuk kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya.
Rasanya benar-benar aneh karena pelayannya tidak ada di sana. Bisanya saat bangun tidur Rosie sudah langsung melihat Sharon dan Mery, kedua pelayan itu akan membereskan tempat tidurnya, menyiapkan kamar mandi untuknya, membantunya berpakaian dan menata rambutnya. Tapi, sekarang mereka tidak di sana dan entah ada di mana, jadi Rosie tidak tahu apa yang harus ia lakukan sendirian.
Setelah mencuci muka, Rosie hanya mondar-mandir di kamarnya, berjalan di sekitar sofa hingga suara langkahnya membuat Victor terbangun.
“Apa kau tidak bisa diam?” protes Victor yang merasa Rosie telah mengganggu tidurnya.
“Oh, maaf.”
“Apa yang kau lakukan sepagi ini?”
Karena sudah terlanjur bangun, Victor pun tidak melanjutkan tidurnya, dia duduk di sofa itu sambil menghela napas.
“Aku tidak tahu harus melakukan apa tanpa pelayanku,” kata Rosie sambil berjalan ke arah balkon dan membuka lebar-lebar pintu besar itu hingga angin bisa masuk dengan leluasa ke dalam kamar.
Saat Rosie kecil, balkon itu menjadi tempat ia dan Jayden bermain. Mereka begitu suka menyusup ke dalam kamar raja dan ratu lalu berdiam lama-lama di balkon yang memiliki pemandangan paling indah di antara semua balkon yang ada di istana itu.
Dari sana Rosie bisa melihat hampir seluruh halaman depan istana. Di bawah sana banyak pelayan yang sedang berlalu lalang membereskan sisa-sisa pesta kemarin dan para penjaga berdiri di tempat masing-masing dengan rapi.
Victor masih berada di dalam kamar sendirian dan karena bosan dia pun mengikuti Rosie ke balkon. Awalnya Victor hanya berdiri di samping Rosie dan ikut melihat pemandangan di bawah. Namun, saat beberapa orang melihat ke arah mereka, Victor tiba-tiba merangkul pundak Rosie.
“Apa yang kau lakukan?” Rosie langsung menoleh pada Victor dan berusaha menjauh.
“Diamlah! Aku harus meyakinkan agar orang-orang tidak curiga dengan pernikahan kita,” kata Victor.,
“Kau benar-benar luar biasa.” Rosie mendelik kesal. “Apa kau seorang aktor?”
Rosie memang protes, tapi dia tidak melawan karena dia juga tidak mau orang-orang tahu seperti apa pernikahan dia dan Victor yang sebenarnya. Rosie tidak suka terlihat lemah di depan siapa pun, dia tidak mau dikasihani karena pernikahannya yang tidak bahagia. Orang-orang tidak perlu tahu, yang penting mereka sudah memiliki raja baru yang siap bertanggung jawab atas Kerajaan Spanyol.
“Ayo kita masuk!” Rosie menarik tangan Victor untuk segera masuk ke dalam karena dia tidak tahan jika harus memperlihatkan kemesraan yang palsu di depan para pelayan.
Begitu masuk ke dalam dan memastikan mereka sudah luput dari pandangan siapa pun, Rosie langsung mendorong Victor untuk menjauh.
“Beraninya kau mendorongku,” protes Victor sambil melihat Rosie kesal.
“Beraninya kau menyentuhku,” balas Rosie tak mau kalah.
“Aku hanya memainkan peranku.” Victor membalas lagi.
“Aku hanya melindungi diriku dari bahaya.”
“Maksudmu aku berbahayanya?” tanya Victor marah.
“Kau sangat licik dan manipulatif.”
“Oh, memang. Kau tidak suka?” Victor dengan santai berbaring di atas tempat tidur dan melihat Rosie dengan ekspresi yang membuat Rosie kesal.
“Menyingkir dari tempat tidurku!” Rosie naik ke atas tempat tidur lalu menendang punggung Victor hingga pria itu jatuh ke lantai. Kakinya kecil, tapi tendangannya cukup kuat.
Jatuh ke lantai bukan sesuatu yang menyakitkan untuk Victor yang telah melalui banyak latihan fisik sejak kecil, tapi dia kesal dengan sikap Rosie yang terkesan sangat kekanak-kanakan.
“Sejak kapan ini jadi tempat tidurmu sendiri? Ini tempat tidurku juga,” kata Victor sambil berdiri.
“Bagaimana bisa jadi mikmu juga? Kapan kau membelinya?” Rosie meliat Victor dengan tatapan menantang.
“Kau sangat kekanak-kanakan, Rosie.”
“Oh, memang. Kau tidak suka?” Rose meniru kata-kata dan gaya bicara Victor hingga membuat sang suami semakin kesal.
“Kau mengejekku?” tanya Victor marah, namun Rosie malah menjulurkan lidahnya.
Tidak tahan dengan sikap menyebalkan Rosie, Victor pun mengangkat tubuh wanita itu, menggendongnya menuju kamar mandi dan memasukkannya ke dalam bathtub.
“YAAA!”
Rosie langsung berteriak saat tubuhnya tenggelam ke dalam air yang sangat dingin. Dia langsung berdiri dan berusaha menarik Victor. Tapi, Victor menghindar dengan cepat dan segera meninggalkan kamar mandi sambil tertawa.
“VICTOR! KAU MAU MATI?”
Suara Rosie terdengar melengking, dia keluar dari kamar mandi dengan tubuh basah kuyup dan air terus menetes dari pakaiannya hingga membanjir lantai.
“Bagaimana rasanya setelah mandi, ratuku? Segar, bukan?” celetuk Victor tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Kau benar-benar ...” Rosie melotot pada pria itu, namun belum sempat dia mengeluarkan omelan berikutnya, ketukan pintu tiba-tiba terdengar.
“Maaf mengganggu Yang Mulia, kami harus menyiapkan kamar mandi dan air hangat untuk kalian,” kata Sharon canggung.
“Ya ampun, Yang Mulia.” Namun, Mery memekik saat dia mengintip ke dalam dan melihat Rosie yang berdiri dengan tubuh basah kuyup. “Apa yang terjadi?”
“Yang Mulia baik-baik saja?” tanya Sharon yang tak kalah terkejut saat melihat pemandangan yang tidak biasa itu.
“Dia jatuh ke dalam bak mandi,” kata Victor berbohong.
“Ya Tuhan, kau pasti kedinginan. Bagaimana ini?” Sharon segera masuk ke dalam, mengambil jubah lalu menutupi tubuh Rosie yang menggigil.
“Kenapa Yang Mulia bisa terjatuh?” tanya Mery cemas dan penasaran.
“Dia sangat ceroboh.” Victor berbohong lagi, sementara Rosie hanya menatapnya tajam dan penuh dendam.
“Yang Mulia baik-baik saja?” Sharon juga mengambil handuk dan berusaha mengeringkan rambut Rosie yang terus meneteskan air.
“Aku mau mandi sekarang, tolong siapkan air hangat!” seru Rosie yang berusaha menahan-nahan kekesalannya pada Victor.
“Baik, Yang Mulia. Akan segera kami siapkan.”
.
.
.
“Apa semuanya baik-baik saja? Kalian tidur dengan baik ‘kan?” tanya Ratu Victoria di tengah-tengah sarapan bersama yang berlangsungnya pagi ini.
“Iya, semuanya baik-baik saja,” kata Rosie sambil tersenyum simpul.
“Kami sangat menantikan seorang cucu,” kata Raja Eric membuat Rosie nyaris tersedak.
“Kami baru saja menikah, belum waktunya untuk membicarakannya soal anak,” kata Victor.
“Kalian pasti ingin menikmati waktu berduaan saja, aku mengerti,” kata Elisa sambil tersenyum jahil.
“Benar, biarkan mereka menikmati waktu berdua dulu!” seru Ratu Victoria pada Raja Eric.
“Baiklah, terserah kalian saja! Hari ini kami akan kembali ke Jerman, jadi Victor, baik-baik di sini dan jagi Yang Mulia Ratu! Mengerti!” seru Raja Eric pada Victor.
“Jangan cemas, aku akan melakukan tugasku dengan baik,” balas Victor penuh keyakinan dan percaya diri.
“Aku akan sangat merindukanmu.” Elisa terlihat sangat sedih karena akan berpisah dengan kakak yang paling dekat dengannya.
“Aku juga. Tulis surat untukku jika kau merindukanku!” Victor mengelus kepala Elisa yang duduk di sampingnya. Meski menyebalkan, tapi Victor sangat menyayangi adiknya.
Setelah sarapan bersama, Raja Eric, Ratu Victoria, Jack dan Elisa berisap-siap untuk pergi. Para pengawal yang mereka bawa dari Jerman telah mempersiapkan kereta yang akan membawa mereka ke pelabuhan sebelum mereka menaiki kapal menuju Jerman.
Ratu Victoria telah lebih dulu selesai di saat yang lain masih ganti baju dan bersiap-siap di kamar. Sambil menunggu yang lain selesai, dia duduk di taman bersama Rosie dan mengobrol ringan.
“Di sini pasti akan sepi saat kalian sudah pergi,” kata Rosie yang tampaknya cukup sedih. Ratu Victoria dan Elisa sangat ramah dan baik hingga membuat Rosie tidak begitu kesepian.
“Jangan cemas. Aku menyuruh sebagian pelayan yang ikut untuk tinggal di sini. Kau telah kehilangan banyak pelayan karena insiden itu, jadi menuntutku kau akan membutuhkan beberapa pelayan baru.”
“Yang Mulia, kau terlalu berlebihan. Aku sudah mendapat begitu banyak hadiah pernikahan.”
Rosie merasa sedikit tidak enak karena hadiah pernikahan yang Victor dan pihak kerajaan Jerman berikan sangat banyak. Mulai dari emas batangan, perhiasan berlapis berlian yang sangat banyak, ribuan potong gaun mewah yang dirancang khusus untuk Rosie, bahkan tiga ribu ekor kuda terbaik yang diberikan kepada pasukan militer Spanyol.
Selain itu Rosie juga dibelikan Rumah yang sangat mewah di tepi pantai. Walau bagaimanapun memberikan tempat tinggal adalah kewajiban suami, tapi karena Rosie seorang ratu yang harus memimpin kerajaan dan tinggal di istana, jadi Victor yang harus ikut tinggal di rumah Rosie. Meski begitu rumah itu tetap diberikan jika saja sewaktu-waktu Rosie membutuhkan ketenangan atau ingin liburan.
“Hanya itu yang mampu kami berikan untukmu. Jangan memanggilku seperti itu, panggil saja Ibu, kau sudah menjadi putriku!” seru Ratu Victoria sambil menggenggam tangan Rosie.
“Kalau begitu panggil namaku juga!” Rosie tersenyum lebar.
“Baiklah, sayang.” Ratu Victoria memeluk Rosie dan mengelus punggung sang menantu. “Kau dan Victor harus saling menjaga. Memimpin dan memerintah kerajaan sebesar ini tidak mudah, kalian masih sangat muda. Sebenarnya aku sangat cemas meninggalkan kalian.”
“Aku percaya Victor orang yang hebat.” Rosie memujinya meski kenyataannya dia masih kesal pada pria itu.
“Jika dia membuatmu kesal dan marah, tolong dimaafkan! Victor memiliki sifat yang unik dan sulit ditebak, dia bisa menjadi pemarah atau lembut.”
.
.
.
To be continued