
Hari sudah malam saat rombongan itu kembali ke istana. Setelah pesta di istana, Rosie dan Victor berkeliling kota dengan kereta kuda seperti yang sudah direncanakan. Dengan dikawal ketat oleh para penjaga, pasangan yang baru menikah itu menyusui setiap jalan utama di kota. Selama berjam-jam mereka duduk di kereta terbuka, menyapa dan melambaikan tangan kepada semua orang yang berada di sepanjang jalan untuk melihat.
Bagi Rosie maupun Victor, hari ini menjadi hari yang panjang dan sangat melelahkan.
Setibanya di istana, para pelayan langsung mengantar mereka untuk naik ke lantai atas. Victor telah menjadi suami Rosie dan pelantikannya sebagai raja telah dilakukan tepat setelah upacara pernikahan. Jadi, malam ini untuk pertama kalinya Victor akan tidur di lantai empat. Sementara keluarga Victor tetap tidur di lantai tiga tempat kamar-kamar tamu berada.
“Yang Mulia, karena kalian raja dan ratu di sini dan kalian sudah menikah, jadi kalian harus tidur di kamar utama. Para pelayan sudah menyiapkannya,” jelas Irish, wanita setengah baya yang merupakan seorang penasihat istana.
“Tapi, itu kamar ayah dan ibuku,” kata Rosie sambil menatap Irish bingung.
“Benar. Tapi, sekarang kamar itu sudah menjadi milik kalian.”
“Apa aku tidak bisa tidur di kamarku saja?” tanya Rosie yang merasa enggan untuk masuk ke kamar bekas orang tuanya. Bayang-bayang dari ayah dan ibunya memenuhi kamar itu dan membuat Rosie sangat sedih.
“Kamarmu terlalu kecil untuk dua orang, Yang Mulia,” kata Irish.
“Pangeran ... maksudku Raja bisa tidur di kamar lain, masih banyak kamar kosong di sini.”
“Tidak bisa seperti itu, Yang Mulia,” kata Saron berbisik di telinga Rosie.
“Apa kau tidak tahu apa artinya menikah? Kalian harus tidur bersama!” Irish tersenyum kecil, tampaknya sang ratu masih terlalu muda untuk mengerti.
“Aku mengerti.” Rosie sedikit kesal karena Irish menganggapnya remeh.
Namun, Irish masih tersenyum kemudian melihat Victor. “Yang Mulia, ratu kami masih sangat muda dan belum berpengalaman. Jadi tolong bimbing dia dengan baik!”
“Jangan cemas,” kata Victor singkat.
“Membimbing apa?” Rosie tidak mengerti dengan apa yang Victor dan Irish bicarakan. Dia melihat dua orang itu secara bergantian.
“Bukan apa-apa, Yang Mulia. Sekarang sebaiknya kalian masuk!” seru Irish.
“Malam ini lantai empat akan dikosongkan, tidak ada pelayan yang boleh naik, penjaga hanya akan berjaga di kaki tangga!” seru Silvia sang kepala pelayan yang langsung mendapat anggukan dari para pelayan yang ada di sana.
“Sharon dan Mery akan menemaniku, bukan?” tanya Rosie yang kebingungan dengan perintah Silvia.
“Tidak, Yang Mulia, mulai sekarang tidak ada lagi pelayan yang akan menemanimu tidur,” jawab Silvia.
“Apa mereka dipindahkan?”
“Bukan begitu, kedua pelayan pribadimu tetap akan melayanimu, tapi mereka tidak akan menemanimu saat malam hari.” Irish menjelaskan.
“Kenapa?”
Irish dan Silvia saling menatap bingung, mereka tidak tahu harus bagaimana untuk menjelaskannya pada Rosie.
“Sudah malam, Yang Mulia. Kalian pasti lelah, segera masuk dan beristirahatlah!” Seru Irish tanpa memberi jawaban untuk pertanyaan Rosie.
Karena semua orang di sana menyuruhnya untuk segera masuk ke dalam kamar dan Rosie juga sudah sangat lelah, akhirnya dia menurut.
Seolah ingin memastikan Rosie dan Victor benar-benar masuk, Irish, Silvia, Sharon, Mery dan beberapa pelayan lain menunggu hingga pintu kamar tertutup dan barulah mereka turun ke lantai bawah, meninggalkan seluruh lantai empat dengan hanya dua orang penghuni.
Helaan napas Rosie terdengar berat saat dia baru saja memasuki kamar itu. Namun, dia terkejut karena suasana kamar itu sangat berbeda dari sebelumnya. Meski kamar yang sama, tapi semuanya tampak baru, warna dinding, tirai, semua perabotan dan dekorasi di kamar itu memiliki nuansa yang berbeda dari sebelumnya. Ratu Annabelle menyukai warna yang gelap, tapi sekarang hampir semua hal di dalam kamar itu berwarna putih dan beberapa berwarna krem.
Nuansanya terasa lebih cerah dan tenang, Rosie nyaris tidak mengenali kamar itu lagi meski aura penghuni sebelumnya masih terasa nyata di sana. Raja Edward yang tegas dan Ratu Annabelle yang lembut, Rosie seperti bisa merasakan orang tuanya di sana. Di kamar itu raja dan ratu sebelumnya tidur selama lebih dari dua puluh tahun, dan sekarang kamar itu telah berganti pemilik.
“Kau mau mandi duluan? Pelayanku pasti sudah menyiapkan semuanya,” kata Rosie sambil duduk di depan meja rias. Dia melepaskan mahkota dan kerudung pernikahan dari kepalanya kemudian menaruhnya di atas meja.
“Kau tidak mau duluan?” tanya Victor yang juga melonggarkan dasinya yang terasa mencekik.
“Kau duluan saja!” seru Rosie.
Victor yang sudah lelah dan ingin segera beristirahat pun tidak menolak tawaran untuk mandi terlebih dahulu. Dia masuk ke dalam kamar mandi pribadi yang ada di kamar itu. Handuk, jubah mandi, sabun dan semua hal yang dibutuhkan sudah ada di dalam. Ada dua bak untuk berendam di sana dan keduanya sudah diisi dengan air hangat yang diberi taburan kelopak bunga mawar. Para pelayan menyiapkannya dengan sangat baik.
Sementara Victor mandi, Rosie yang masih duduk di depan meja rias mulai berusaha melepaskan gaun putihnya. Tapi, karena Rosie selalu dibantu oleh pelayan dan tidak terbiasa melepaskan pakaiannya sendiri, jadi dia sangat kesulitan. Dia melepaskan sarung tangannya dan menghabiskan banyak waktu untuk mencari-cari ritsleting di punggungnya.
Tapi, hingga Victor selesai mandi dan keluar dengan jubah mandi putih, Rosie masih belum berhasil menarik ritsleting itu.
Victor memperhatikan apa yang sedang Rosie lakukan dan Rosie terkejut saat menyadari Victor sedang melihatnya.
“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Rosie.
“Apa yang kau lakukan?” Victor balik bertanya.
“Tidak ada, bukan apa-apa.” Rosie membiarkan Victor begitu saja dan kembali berusaha menarik ritsleting yang tampaknya tersangkut.
Victor juga tidak begitu peduli dan hanya melewati wanita itu lalu duduk di tepi tempat tidur. “Airnya akan dingin jika kau tidak mandi sekarang,” katanya mengingatkan.
“Aku tahu,” balas Rosie yang masih berkutat dengan gaunnya.
Victor yang memperhatikan Rosie akhirnya mengerti apa yang sedang berusaha Rosie lakukan.
“Butuh bantuan?” tanya Victor.
“Tidak, aku bisa sendiri.” Rosie menolak dan tetap berusaha melakukannya sendiri. Tapi, setelah beberapa menit berlalu, dia masih saja belum berhasil.
Victor semakin memperhatikan Rosie, dipikir-pikir jadi lucu juga melihat sang ratu yang katanya pintar itu tidak bisa melepaskan pakaiannya sendiri. Karena Rosie menolak bantuannya, jadi Victor hanya menonton dan penasaran sampai kapan Rosie akan terlihat konyol seperti itu.
“Pangeran, maksudku Yang Mulia ....” Rosie tiba-tiba menoleh dan memanggil Victor.
“Kita sudah menikah, panggil saja aku Victor!”
“Baiklah, kalau begitu kau bisa memanggil namaku juga!” seru Rosie.
“Ada apa?” tanya Victor yang belum tahu tujuan Rosie memanggilnya.
“Membantu apa?”
“Aku tidak bisa menurunkan ritsleting gaunku.”
“Kau bilang bisa melakukannya sendiri,” kata Victor.
“Sepertinya tersangkut. Kau bisa membantuku?” Rosie melihat Victor dengan tatapan memohon.
Victor menggeleng. “Tidak,” Jawabnya singkat.
Rosie langsung tampak cemberut karena penolakan Victor yang tegas. Dengan malas dia bangkit lalu berjalan meninggalkan meja rias.
“Kau mau ke mana?” Mata abu-abu Victor mengikuti arah Rosie melangkah.
“Aku akan turun ke bawah dan meminta pelayanku membukanya.”
Mendengar jawaban Rosie, Victor hanya memutar matanya lalu mengembuskan napas panjang. “Duduklah!” serunya.
“Apa!”
“Duduk! Aku akan membantumu.”
Rosie menuruti perkataan Victor, dia duduk di samping pria itu lalu membelakanginya.
“Turunkan bagian atasnya sedikit saja, aku akan melakukan sisanya!” seru Rosie yang tidak mau Victor melihat punggungnya.
“Apa kau malu jika aku melihatmu?” Victor berusaha menarik ritsleting yang tersangkut pada benang di ujung jahitan gaun itu.
“Walaupun kita sudah menikah, kau masih orang asing untukku.”
“Aku tahu,” balas Victor sambil mengangguk meski Rosie tidak melihatnya. “Ah!” Dia terkejut saat menarik ritsleting terlalu kuat hingga menampakkan hampir seluruh punggung Rosie yang terbuka.
“Apa yang kau lakukan? Kubilang sedikit saja! Kau sengaja ya?” Rosie yang terkejut langsung marah dan segera menghadap Victor untuk menyembunyikan punggungnya.
“Aku tidak sengaja,” kata Victor.
“Tidak sengaja?” Rosie semakin terlihat kesal dan marah. “Jangan berbohong! Kau pasti sengaja melakukannya.”
Victor yang mendengar tuduhan Rosie menjadi ikut kesal, dia menatap Rosie dengan sorot mata yang tajam.
“Apa kau berpikir aku tertarik padamu? Sudah kubilang aku tidak sengaja, aku tidak akan melakukan sesuatu apa lagi menidurimu! Cepat mandi karena aku harus ganti baju!” seru Victor dengan suara yang sedikit meninggi dan sangat jelas terdengar ketus.
Rosie melihat Victor kesal, dia menarik taplak meja yang kebetulan ada di samping tempat tidur untuk menutupi punggungnya kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi.
Victor tidak memedulikan Rosie lagi, dia membuka lemari dan mencari baju tidurnya di sana. Setelah berganti pakaian, dia berbaring untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat pegal. Sebenarnya Victor tidak bermaksud untuk langsung tidur, tapi karena kelelahan tanpa sadar dia pun tertidur.
Victor tidak tahu pasti berapa lama dia terlelap, namun tiba-tiba saja dia terbangun dan baru sadar dirinya telah ketiduran. Pria itu mencoba mengumpulkan kesadarannya dan saat mengedarkan pandangannya dia menemukan Rosie yang tengah duduk di depan meja rias dengan gaun tidur hitam dan kardigan abu-abu muda.
Di tangannya Rosie memegang sebuah map dan sekumpulan kertas. Dia menatapnya lekat dengan kepala yang menunduk.
Victor memeriksa jam dinding dan ternyata sudah jam sebelas lewat, dia tidur cukup lama, tapi Rosie belum tidur padahal sudah hampir tengah malam.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa tidak tidur?” Victor bertanya dan membuat Rosie menoleh.
Rosie tidak menjawab, hanya menggeleng kecil sebagai respons dari pertanyaan Victor. Wanita itu kembali melihat kumpulan kertas di tangannya.
Victor hanya melihat wajah Rosie sebentar, tapi dia menyadari mata Rosie yang sembab dan merah seperti habis menangis.
Karena penasaran, Victor pun bangun, berjalan menghampiri Rosie lalu berdiri di belakangnya sambil mengintip apa yang sedang Rosie lihat.
Ternyata itu berkas-berkas kasus kematian keluarga kerajaan Spanyol beberapa bulan yang lalu. Selama ini Rosie terus memantau perkembangannya dan membantu para penyidik untuk menemukan dari mana sebenarnya orang-orang itu, siapa dalangnya dan apa tujuan mereka.
“Apa yang kau lakukan dengan berkas-berkas itu?” tanya Victor lagi.
“Kenapa kau tidak kembali tidur saja!” seru Rosie tanpa menoleh pada sang suami.
Victor menghela napas, mengambil map dan semua kertas di tangan Rosie kemudian menaruhnya di atas meja. “Kau yang harus tidur! Apa pun yang sedang kau lakukan, lanjutkan besok pagi! Ini sudah terlalu malam.”
“Apa pedulimu?” ketus Rosie sambil menoleh ke belakang, pada Victor yang masih berdiri di sana.
“Sebenarnya aku tidak peduli,” balas Victor seraya berbalik dan berjalan menuju sofa. Dia mengambil selimut lalu berbaring di sana dengan maksud agar Rosie bisa tidur tanpa merasa canggung. Victor juga tidak mau tidur satu ranjang dengan Rosie karena dia tidak memiliki perasaan apa pun pada sang istri.
“Kenapa kau tidur di sana?” tanya Rosie sambil melihat Victor heran.
“Kalau begitu kau yang tidur di sini dan aku tidur di kasur! Sudah kubilang, aku tidak tertarik untuk tidur denganmu.”
“Bagus, jangan pernah menyentuhku! Kalau begitu tidurlah di kamar lain!” seru Rosie kesal.
“Aku tidak bisa membiarkan siapa pun tahu jika aku menikahimu hanya untuk takhta. Yang semua orang tahu aku mencintaimu,” kata Victor
“Kau sangat licik.” Rosie tersenyum mengejek.
“Memang. Kau menyesal menikah denganku, Yang Mulia Ratu?”
.
.
.
To be continued