A ROYAL HEIR

A ROYAL HEIR
Part 20



Victor masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seseorang yang Rosie bilang sebagai Emma bukanlah Emma, gadis itu jelas Jane. Gadis yang pernah menjadi kekasih Victor dan perpisahan mereka pun bukan karena keinginan mereka berdua. Victor sudah berusaha untuk melupakannya, tapi tiba-tiba saja tanpa diduga Jane malah muncul di hadapannya, menyamar sebagai pelayan dan menggunakan nama lain.


“Jane, bagaimana bisa kau mengganti namamu dan melakukan ini?” tanya Victor yang masih terkejut.


“Temanku Emma bertukar posisi denganku,” jawab Jane.


“Ini sangat berbahaya, bagaimana jika kau ketahuan?”


“Tidakkah kau merindukanku, Yang Mulia?” Jane menatap Victor lekat dengan sorot mata sendu. Rasa rindu itu bukan sesuatu yang bisa dibendung lagi, Jane telah menahannya begitu lama dan sekarang akhirnya dia bisa kembali bertemu dengan sang pujaan hati.


“Ikut denganku!” seru Victor sambil berjalan mendahului Jane.


Jane berjalan di belakang Victor, mereka melewati lantai tiga dan sampai di lantai dua tanpa seorang pun yang curiga. Semua penjaga dan pelayan yang melihat mengira Jane hanya pelayan biasa bernama Emma.


Victor menuju perpustakaan yang tenang dan sepi, tidak ada satu orang pun di sana. Namun, tidak ada orang bukan berarti aman. Jadi, Victor membawa Jane masuk ke dalam ruangan rahasia di dalam perpustakaan. Ruangan itu adalah tempat dokumen-dokumen penting dan rahasia disimpan, hanya Rosie dan Victor saja yang mempunyai akses untuk memasukinya. Tapi, tampaknya Victor telah menyalahgunakan tempat itu.


Setelah Jane masuk, Victor menutup pintu yang menyatu dengan dinding itu dengan rapat. Ruangan itu berukuran lima kali lima meter dengan pencahayaan redup karena tidak ada satu pun jendela di sana.


“Aku sangat merindukanmu.” Jane menghambur memeluk Victor dengan air mata yang tak terbendung lagi. Sulit melihat pria yang dicintainya bersama wanita lain, terlebih wanita itu seorang ratu yang jelas tidak bisa dibandingkan dengan gadis biasa seperti Jane. Tapi, Jane merasa senang karena bisa melihat Victor lagi dan berbicara secara langsung.


Victor tidak bisa untuk tidak membalas pelukan itu. Dari lubuk hatinya yang paling dalam dia tidak pernah melupakan Jane dan selalu merindukannya. Didekapnya erat tubuh gadis itu dan hati yang hampa itu seperti kembali menemukan sang pemilik.


Setelah memekuk Jane cukup lama, akhirnya Victor melepaskan pelukan itu lalu menatap Jane lekat.


“Aku juga merindukanmu, Jane, sangat. Tapi, kau tidak boleh seperti ini! Terlalu berbahaya untukmu. Kau tahu aku sudah menikah dan kita tidak mungkin bersama lagi. Aku mencintaimu, tapi kita tidak bisa kembali seperti dulu,” jelas Victor yang membuat Jane semakin sedih.


“Aku datang jauh-jauh ke sini hanya untuk melihatmu,” kata Jane yang hampir menangis lagi.


Meski berusaha untuk ditahan, tapi air mata itu akhirnya jatuh juga. Jane sangat bahagia bisa melihat Victor lagi, tapi dia juga merasa begitu sakit dengan kenyataan jika Victor sudah menjadi milik wanita lain.


Hati Victor terasa seperti disayat saat melihat air mata Jane. Tidak ada yang tega melihat wanita yang dicintainya menangis seperti itu, tapi Victor juga tidak bisa berbuat banyak selain mencoba menenangkan Jane.


“Jangan menangis!” Victor mengusap air mata di pipi Jane. “Aku benar-benar minta maaf, Jane. Kau tidak boleh berada di sini! Aku sudah menikah dan punya kehidupan baru. Jika kau berada di sini, kau hanya akan semakin terluka.”


“Aku hanya ingin melihatmu. Biarkan aku tetap di sini! Biarkan aku menjadi pelayan ratu agar aku bisa melayanimu juga!”


“Jane!”


“Kumohon! Aku hanya ingin melihatmu, Victor. Aku hanya ingin berada di dekatmu. Tidak apa-apa walaupun aku melihatmu bersama ratu. Aku tahu kau tidak mencintainya.”


Victor terdiam, dia tidak bisa membantah, perasaan cinta untuk Rosie memang tidak ada. Tapi, momen yang telah mereka lalui dan bagi bersama, serta kekaguman Victor pada sosok Rosie juga tidak bisa dibantah. Victor baru saja akan berusaha untuk menjalin hubungan lebih dekat dengan Rosie, tapi Jane tiba-tiba datang dan memorak-porandakan hati yang mulai Victor tata kembali. Meski akal sehatnya menolak, tapi hatinya meronta ingin kembali pada gadis itu.


“Cepat ambilkan jasku di ruang rapat!” seru Victor sambil membuka pintu ruangan rahasia itu.


“Baiklah, Yang Mulia.” Jane mengangguk dan langsung pergi dengan ekspresi sedih yang sangat terlihat meski berusaha untuk disembunyikan.


Reaksi Victor tidak sesuai dengan harapannya, tapi Jane bangga karena Victor tetap menjadi orang yang tegas dan bertanggung-jawab. Alasan Victor bicara seperti itu pasti hanya karena Victor tidak ingin menyakiti istrinya. Walau begitu, Jane masih menemukan cinta untuknya di mata Victor. Tatapan Victor untuknya tidak pernah berubah, masih sama seperti dulu.


.


.


.


Victor berdiri di atas salah satu menara yang ada di istana. Dari atas sana dia bisa melihat Rosie yang sedang bertarung menggunakan pedang bersama Jeon.


Senyum tipis tiba-tiba terukir di bibir Victor karena dia menyadari kemampuan Rosie yang semakin baik. Namun, senyuman itu memudar dengan cepat, kemudian kembali saat Victor melihat tiga orang pelayan yang berada tak jauh dari Rosie untuk melihat sang ratu latihan.


Sharon, Mery dan Jane berdiri bersisian, namun tentu hanya Jane yang menarik perhatian Victor. Sejak kedatangan Jane yang tiba-tiba kemarin, Victor menjadi sangat kacau. Dia tidak bisa tidur karena terus memikirkannya. Saat tengah malam ingin sekali rasanya mendatangi Jane, memeluknya, menciumnya dan mengatakan betapa dia merindukannya. Tapi, saat berbalik dan melihat Rosie yang terlelap di kasurnya, Victor tidak bisa menjelaskan debaran apa yang dirasakan hatinya. Melihat Rosie yang polos membuat Victor rindu dengan sikap malu-malu dan salah tingkah Rosie saat di rumah.


“Mereka sudah selesai?” tanya Victor pada dirinya sendiri saat melihat Rosie dan Jeon memasukkan pedang mereka ke dalam sarung. Jeon pergi dan Rosie berjalan meninggalkan halaman belakang diikuti oleh ke-tiga pelayan pribadinya.


Karena tidak ada lagi yang bisa dilihat dari atas menara, Victor pun turun melalui tangga luar. Saat sudah Sampai di bawah Victor bertemu dengan Rosie dan ketiga pelayannya.


“Kau sudah selesai?” tanya Victor pada sang istri.


“Iya, aku harus segera mandi sebelum makan malam,” jawab Rosie.


“Baiklah, kalau begitu sampai jumpa saat makan malam.”


Sebelum pergi, Victor melihat Jane sekilas dan mata mereka bertemu. Selalu ada getaran hebat di dadanya setiap kali mata coklat itu bertemu dengan mata abu-abu milik Victor. Mulut bisa berbohong, tapi mata tidak bisa membantah apa yang dilihat. Jane sangat cantik dan Victor semakin merindukannya.


Sementara Rosie naik ke lantai empat untuk membersihkan diri dan ganti baju, Victor memilih untuk jalan-jalan di sekitar istana hingga jam makan malam tiba. Setelah kemarin malam mereka makan bersama George, malam ini mereka akan makan berdua lagi. Tidak ada bedanya makan di ruang makan ataupun di kamar, tidak ada anggota keluarga lain.


Setelah jalan-jalan sebentar, Victor masuk dan langsung menuju ruang makan saat jam menunjukkan pukul tujuh malam. Ternyata Rosie sudah menunggunya di sana. Sang ratu duduk anggun dengan gaun berwarna merah yang tampak cantik di atas kulitnya yang putih. Rambut pirang panjangnya terurai dan siapa yang punya ide memoles bibir ratu dengan warna merah?


“Kau datang lebih awal, Yang Mulia.” Victor duduk saat pelayan menarik kursi untuknya.


“Iya,” jawab Rosie sambil mengangguk. “Bagaimana pekerjaan hari ini?”


“Semuanya lancar.”


“Kalau begitu selamat makan, aku lelah dan sangat lapar.”


Victor hanya tertawa pelan mendengar Rosie yang terlalu jujur. “Kalau begitu makan yang banyak!”


“Kau juga.”


Setelah makan malam dimulai, mereka tidak banyak bicara dan hanya fokus pada makanan masing-masing. Rosie yang lelah dan lapar setelah latihan makan dengan baik dan lahap. Namun, berbeda dengan Victor yang tampak tidak nafsu makan.


Victor berada di sana bersama Rosie, tapi hatinya terus memikirkan Jane. Di sana Victor makan enak bersama Rosie, tapi Jane pasti memakan makanan biasa dan sedang menunggu dengan bosan di lantai empat bersama Sharon dan Mery.


“Victor, kau tahu kan festival akan diadakan dalam waktu dekat?” tanya Rosie tiba-tiba.


“Iya, aku tahu.”


“Malam puncaknya akan berlangsung di istana dan akan digelar pesta dansa tahunan. Sebagai tuan rumah, kita harus berdansa di pesta itu.”


“Aku tidak pernah berdansa dan tidak bisa,” kata Victor.


“Apa? Mana mungkin keluarga kerajaan tidak pernah dan tidak bisa berdansa,” kata Rosie heran dan terkejut.


“Kerajaan Jerman tidak pernah mengadakan pesta dansa. Mereka yang mau berdansa bisa berdansa, tapi aku tidak suka dan tidak mau melakukan hal seperti itu,” jelas Victor.


“Sayang sekali, berdansa itu sangat menyenangkan. Aku sering melakukannya dengan ayah dan kakakku,” kata Rosie yang tiba-tiba tampak sedih saat membicarakan keluarganya.


“Sangat manis, kalian pasti sangat dekat.”


“Iya. Tapi, meski kau tidak bisa dan tidak mau, kau harus tetap melakukannya. Pesta dansa tidak bisa dibuka jika raja dan ratu tidak berdansa terlebih dahulu di depan semua tamu undangan. Dulu ayah dan ibuku melakukannya setiap tahun, sekarang kita tidak punya pilihan.”


“Tapi, aku tidak bisa berdansa.” Victor tampak cemas saat mengetahui jika berdansa adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan raja dan ratu.


“Kau bisa belajar, kita punya waktu satu minggu dari sekarang. Aku akan mengajarimu. Cepat habiskan makananmu, kita akan belajar sekarang!”


“Sekarang?”


“Iya, sekarang. Kau harus bisa melakukannya dalam satu minggu, jangan mempermalukan dirimu di depan banyak orang!”


Rosie tidak bisa dibantah dan entah kenapa Victor yang biasanya keras dan tidak mudah digoyahkan patuh begitu saja pada Rosie.


Setelah makan malam, mereka langsung menuju kamar utama di lantai empat. Sharon, Mery dan Jane yang selalu berada di luar kamar langsung menyapa raja dan ratu mereka.


“Yang, Mulia, kami sudah menyiapkan baju tidur kalian,” kita Sharon sopan.


“Iya, terima kasih. Tapi, aku tidak akan langsung tidur,” kata Rosie. “Seperti yang kalian tahu, pesta dansa akan digelar satu minggu lagi, tapi berita buruknya Yang Mulia Raja ini tidak bisa berdansa ....”


“Kenapa kau membicarakannya pada mereka?” Victor memotong ucapan Rosie sambil membekap mulutnya.


Sharon dan Mery yang melihat itu hanya terkekeh melihat kelakuan raja dan ratu yang masih sangat muda itu. Namun, di balik senyuman tipisnya, Jane tengah menahan rasa panas di dalam hati.


“Memangnya kenapa? Aku akan mengajarimu di sini dan mereka akan menonton,” kata Rosie sambil menunjuk pada tiga pelayannya.


“Apa, di sini? Kenapa tidak di kamar saja?” tanya Victor.


“Kenapa? Kau malu?” Rosie balik bertanya. “Anggap saja ini latihan, nanti kau akan dilihat ribuan orang, jadi kau harus mulai terbiasa.”


Victor memutar matanya malas, tapi ide Rosie memang ada benarnya juga. Namun, yang membuat Victor cemas adalah Jane yang ada di sana juga. Jane tidak akan baik-baik saja melihat kedekatan Victor dan Rosie, Jane akan terluka dan Victor tidak ingin melukainya.


“Aku akan belajar sendiri besok, sekarang aku ingin istirahat,” kata Victor.


“Kita tidak punya banyak waktu, lagi pula mana bisa kau belajar sendiri,” kata Rosie skeptis.


“Aku punya cara sendiri. Tidak perlu mengurusku! Yang penting aku bisa saat acara tiba, iya kan?” Victor tiba-tiba berbicara dengan nada ketus dan langsung masuk ke dalam kamar.


Melihat itu, Rosie hanya mengernyit heran. “Sepertinya dia lelah. Aku tidak memerlukan apa-apa lagi, sekarang kalian kembali ke kamar kalian dan istirahat!” serunya kepada Sharon, Mery dan Jane.


“Baiklah, Yang Mulia. Kalau begitu selamat beristirahat,” kata Mery.


“Oh iya, Emma,” panggil Rosie membuat Jane langsung menoleh.


“Iya, Yang Mulai? Kau butuh sesuatu?” tanya Emma.


“Apa kau bisa membuat teh yang biasa dibuat di istana Jerman? Raja sangat menyukainya, Aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba kesal, tapi teh itu mungkin bisa membuatnya lebih tenang,” jelas Rosie.


“Tentu saja, Yang Mulia. Aku akan membuatnya sekarang.”


“Terima kasih Emma,” kata Rosie sebelum dia masuk ke dalam kamar.


Saat Rosie masuk, terlihat Victor yang sedang duduk di sofa dengan ekspresi wajah yang sulit untuk ditebak.


“Kau kenapa?” Rosie bertanya sambil duduk di samping Victor.


“Tidak apa-apa. Cepat tidur, Ini sudah malam!” seru Victor.


Rosie menatap Victor bingung. Belakangan Victor sudah jarang bersikap dingin dan bicara ketus padanya, tapi sekarang tiba-tiba saja.


“Rosie, apa kau benar-benar membutuhkan Emma untuk jadi pelayan pribadimu?” tanya Victor tiba-tiba.


“Iya, tentu saja aku butuh. Emma sangat membantu, dia juga tahu banyak tentangmu, dia bukan hanya melayaniku, tapi melayanimu juga,” jelas Rosie.


“Masih banyak pelayan dari Jerman yang lain, gantikan saja dia!” seru Victor membuat Rosie semakin bingung.


“Kenapa? Apa yang salah dengan Emma? Apa dia melakukan kesalahan padamu?”


.


.


.


To be continued