A ROYAL HEIR

A ROYAL HEIR
Part 1



“Pangeran! Tuan putri!”


“Pangeran Jay!”


Suara itu sayup-sayup terdengar di telinganya begitu Rosie tersadar dari pingsan. Hal pertama yang ia rasakan adalah sakit di sekujur tubuhnya. Kemudian dia menyadari rasa berat seperti sesuatu menindihnya yang terbaring telungkup.


Pelan-pelan Rosie menoleh ke belakang kepalanya dan langsung terbelalak saat melihat wajah pucat seorang pria, ternyata tubuh pria itu yang membuat Rosie merasa berat.


“Jay! Jayden!” Rosie memanggil pria yang tak lain adalah kakak kandungnya, Pangeran Jayden.


“Jay, bangun!”


Jayden tidak merespons. Sambil berusaha bangun, Rosie mengingat-ingat kejadian sebelum dia pingsan. Sekelompok orang tidak dikenal menyusup ke dalam istana dan melakukan penyerangan. Semuanya begitu cepat dan tiba-tiba, Rosie tidak tahu bagaimana keadaan ayah dan ibunya karena Jayden langsung membawanya lari. Sekelompok orang itu mengejar mereka dan Rosie tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, bangun-bangun dia sudah seperti sekarang.


Rosie berhasil bangun dan membuat tubuh Jayden terjatuh ke sampingnya dengan posisi telentang. Punggung bagian kanan Rosie terasa nyeri dan perih seperti sesuatu telah menusuknya. Rosie ingin membangunkan Jayden, namun dia langsung menjerit saat melihat ujung anak panah keluar dari jantung Jayden, menembus kemeja putih yang sudah berwarna merah karena darah. Anak panah itu berasal dari punggung hingga menembus dada Jayden.


Rosie tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dia mengguncang tubuh Jayden dan mencoba membangunkannya. Tapi, tubuh Jayden sudah terbujur kaku.


“Jay! JAYDEN! JAY! TIDAK JAY!”


Guncangan itu semakin kuat, Rosie berteriak sambil menangis, berharap Jayden akan mendengarnya dan bangun untuk memarahinya. Namun, mata yang sudah terpejam itu menolak untuk terbuka, bibir pucatnya bungkam dan tak sedikit pun angin berembus dari hidungnya.


“Jay, jangan bercanda! Ini tidak lucu! JAY! BANGUN! BANGUN!” Rosie terus mengguncang tubuh Jayden dan berteriak histeris hingga suara teriakannya itu terdengar oleh para prajurit yang sedang mencarinya.


“Tuan putri? Hei, kami menemukan Tuan putri!” Prajurit yang pertama kali menemukan mereka langsung berteriak memberitahu prajurit yang lain.


Begitu mendengar kabar jika pangeran dan tuan putri telah ditemukan. Semua prajurit yang sedang mencari langsung datang.


“Tuan putri, kau baik-baik saja?” Seorang prajurit langsung berjongkok di samping Rosie untuk memeriksa keadaannya.


“Jay terluka, cepat bawa dia! Cepat!” Rosie memerintahkan para prajurit untuk membawa Jayden.


Namun, para prajurit yang melihat kondisi Jayden sudah tahu jika sang putra mahkota tidak selamat, sama seperti raja dan ratu mereka.


“Bawa jasad Pangeran untuk dikremasi dan segera obati Tuan putri!” seru seorang kepala prajurit kepada para bawahannya.


Begitu mendengar kata 'jasad' Rosie langsung meronta dan berusaha melepaskan diri dari para prajurit yang akan membawanya, dia mencoba menghampiri Jayden sambil menangis sejadi-jadinya. Namun, karena terluka dan sangat tertekan, akhirnya Rosie kembali pingsan dan langsung dibawa kembali ke istana untuk dirawat.


Sementara itu keadaan istana jauh dari kata baik. Semuanya kacau dan berantakan, para penjaga yang tumbang hampir memenuhi setiap sudut, sebagian dari mereka suah tidak tertolong dan yang terluka segera dibantu oleh rekan-rekan mereka untuk diobati di rumah sakit istana.


Bukan hanya para penjaga, para pelayan pun banyak yang menjadi korban jiwa dalam insiden penyerangan itu. Meski tampaknya target utama hannyalah anggota keluarga kerajaan, tapi siapa pun yang menghalangi ikut disingkirkan juga.


Penyerangan itu terjadi di tengah malam saat kebanyakan orang sedang beristirahat.


Ratu Annabelle ditemukan tewas di kamar bersama pelayan pribadinya, Jasad Raja Edward ditemukan di depan istana. Sementara Jayden tampaknya berhasil membawa adiknya lari, namun naas dia terkena anak panah saat berusaha menyelamatkan Rosie. Tapi, sepertinya para penyerang itu tidak sadar jika Rosie selamat, mereka berpikir Rosie sudah meninggal, atau mereka tidak bisa menemukannya karena Jayden berhasil membawanya lari lebih jauh sebelum dia benar-benar meninggal.


.


.


.


“Tuan putri, kau sudah bangun. Apa kau baik-baik saja?” pelayan itu langsung bertanya saat melihat Rosie membuka matanya.


Rosie masih terdiam, berusaha mengumpulkan kesadarannya dan mencoba mengingat apa yang terjadi.


“Jay! Di mana Jay?”


Begitu mengingat Jayden, Rosie langsung bangun meski seluruh tubuhnya masih terasa sangat ngilu dan sakit.


Dua orang pelayan yang menemani Rosie menatap sang tuan putri dengan pandangan sedih. Mereka tampak sakit, tertekan dan sangat berat untuk memberitahu Rosie. Tak ada yang berani bicara, mereka hanya saling melemparkan pandangan satu sama lain berharap bukan masing-masing dari mereka yang harus menjelaskan.


“Sharon, Mary?” Rosie melihat kedua pelayan itu. Raut cemas semakin terlihat di wajahnya, diakui atau tidak dia sudah bisa menebak apa yang terjadi. Tapi, besar harapan Rosie jika semua itu hanya mimpi, dia sangat ingin mendengar Mary mengatakan jika Jayden sedang dimarahi Raja karena keluar diam-diam dari dalam istana, atau Ratu sedang mengomelinya, atau apalah itu, hal yang sering terjadi di antara mereka.


“Yang Mulia, kuharap kau diberikan ketabahan. Upacara pemakaman sudah siap dilaksanakan, kami semua menunggu kau bangun untuk menghadirinya,” jelas Sharon.


Rosie menghela napas. Benar, pakaian hitam Sharon dan Mery sudah cukup untuk menjelaskan jika akan ada upacara pemakaman. Rosie benar-benar hancur dengan fakta jika kakaknya telah tiada.


“Bagaimana dengan Ayah dan Ibu?”


Kali ini Sharon menatap Mery seolah memohon agar Mery saja yang menjelaskannya.


Mery menghela napas berat, kemudian dia membuka mulutnya. “Dengan sangat berat hati aku harus mengatakan ini. Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu tidak selamat dalam penyerangan. Kuharap kau bisa menerima kepergian mereka dengan ikhlas.”


Rosie seperti sudah tidak mampu merasakan apa pun lagi, semua yang ada di sekitarnya tampak memudar. Bahkan sebelum dia meneteskan air mata pertamanya, dia kembali pingsan.


.


.


.


Kehilangan seluruh anggota keluarga dalam semalam akan menjadi pukulan hebat untuk siapa pun yang mengalaminya. Tak terkecuali untuk gadis berusia dua puluh tahun itu, dia bukan hanya telah kehilangan keluarga, tapi juga harus menerima beban dan tanggung jawab baru sebagai satu-satunya keluarga kerajaan yang tersisa. Setelah kematian ayah, ibu serta kakaknya, secara otomatis Rosie telah diangkat menjadi ratu di kerajaan Spanyol itu.


Tanggung jawab dan beban yang sangat sulit untuk dipikul, di saat dia bahkan tidak mampu mengatasi kesedihannya sendiri, dia harus memimpin rakyat dan mencoba menghibur rasa kehilangan mereka atas kepergian raja, ratu dan putra mahkota yang sangat dicintai.


Setelah tertunda selama beberapa hari karena kondisi Rosie yang tidak memungkinkan, akhirnya hari ini upacara pemakaman pun dilakukan secara tertutup di dalam istana. Rosie yang merupakan putri serta adik kandung dari jasad-jasad yang dimakamkan itu mau tak mau harus memimpin upacara pemakaman dan menyampaikan beberapa patah kata untuk orang-orang yang hadir di sana.


Untuk pertama kali dalam hidupnya dia menyembunyikan tangisannya. Rosie yang cengeng dan manja dipaksa untuk menjadi gadis yang tegar hanya dalam waktu beberapa hari. Itu adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan.


Setelah jasad Raja Edward, Ratu Annabelle dan Pangeran Jayden dimakamkan tak lantas membuat Rosie bisa langsung beristirahat. Jangan lupakan puluhan ribu orang yang saat ini berada di luar istana.


Kabar duka itu telah menyebar ke seluruh penjuru negeri dan membuat banyak sekali orang yang datang untuk mengucapkan belasungkawa dan mengikuti upacara pemakaman meski hanya dari luar istana.


“Yang Mulia.” Seorang penjaga membantu Rosie berdiri dan para penjaga lain mengawalnya melewati gerbang utama.


Begitu gerbang dibuka, Rosie bisa melihat orang berpakaian hitam yang sangat banyak hingga tidak terlihat sampai mana kerumunan orang itu berakhir.


Rakyat yang datang tidak ada yang bicara saat melihat Rosie keluar dari istana, namun mereka semua terlihat sangat sedih, bahkan beberapa orang tak kuasa menahan air matanya.


Rosie juga begitu ingin menangis merasakan suasana sedih yang begitu kuat di sana. Hatinya hancur dan pikirannya kacau, namun yang harus Rosie lakukan adalah berbicara dan memberikan pidato kepada semua orang yang telah hadir.


“Aku Ratu Rosie Anne Anderson dari Kerajaan Spanyol, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kalian yang telah hadir di sini. Mewakili keluarga kerajaan, mendiang Raja Edward Anderson, Ratu Annabelle Anderson dan Pangeran Jayden Anderson, aku memohon maaf atas luka dan kecemasan yang kalian alami atas insiden ini. Juga untuk keluarga para penjaga dan pelayan yang gugur, aku benar-benar memohon maaf atas ketidakmampuan kami untuk melindungi mereka. Aku juga meminta maaf jika selama memimpin Raja dan Ratu membuat kesalahan. Raja, Ratu dan Putra mahkota sangat mencintai kalian semua, sekarang mereka telah beristirahat dengan tenang. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih banyak. Meski telah kehilangan, kuharap kita semua bisa tetap kuat dan tegar.”


Rosie tak kuat lagi menahan tangisannya, bahkan saat kata-kata terakhir suaranya sudah bergetar. Dia pun menyudahi pidatonya dan segera kembali ke dalam istana dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Diikuti oleh para pelayan pribadinya, Rosie naik ke lantai empat. Satu-satunya hal yang ingin dia lakukan hannyalah beristirahat dan menenangkan dirinya sendiri.


“Aku ingin sendiri, tidak perlu ada pelayan yang menemaniku di dalam kamar! Jika aku butuh sesuatu aku akan memanggil kalian,” kata Rosie yang sangat ingin menyendiri dan ingin menangis tanpa dilihat oleh siapa pun.


Sebenarnya aturannya mengharuskan dua atau tiga orang pelayan menemaninya di dalam kamar. Tapi, jika Rosie menolak untuk ditemani, para pelayan itu hanya bisa menurut.


“Baiklah, Yang Mulia. Kami berada di luar pintu, panggil saja kami jika kau butuh sesuatu,” kata Mery yang sudah menjadi pelayan pribadi Rosie sejak lama.


Rosie mengangguk, namun belum sempat ia masuk ke dalam kamarnya, seorang penjaga datang dengan sebuah amplop di tangannya.


“Yang Mulia, ada surat dari kerajaan Jerman untukmu.”


Rosie mengambil surat itu kemudian masuk ke dalam kamar.


Niatnya untuk langsung tidur batal karena dia tidak bisa mengabaikan surat yang dikirim oleh raja Jerman untuknya. Rosie pun menyobek ujung amplop itu dan mengeluarkan selembar kertas dari dalamnya.


‘Yang Mulia Ratu Rosie Anne, sebelumnya aku mengucapkan turut berdukacita atas kepergian sahabatku Raja Edward dan Ratu Annabelle, juga Pangeran Jayden. Jika kau menerima surat ini aku sudah berada di perjalanan menuju Spanyol. Maaf jika aku tidak bisa datang tepat waktu untuk menghadiri upacara pemakaman, aku sangat menyesal.’


‘Mengingat janjiku dengan sahabatku Raja Edward. Kami sudah menjodohkan Pangeran Jayden dengan putriku Elisa. Namun, bagaimanapun juga Pangeran telah pergi untuk selamanya. Tapi, janji tetap janji, kita tidak bisa memutuskan hubungan baik dua kerajaan begitu saja. Maka dengan surat ini aku ingin memberitahumu jika aku tidak pergi sendirian. Putra keduaku Pangeran Victor menemaniku dan aku bertujuan melamarmu untuk dipersunting oleh putraku.’


‘Untuk lebih jelasnya kita akan membicarakannya secara langsung saat bertemu.’


‘Dengan segala hormat, Raja Eric dari Kerajaan Jerman.’


.


.


.


To be continued