A ROYAL HEIR

A ROYAL HEIR
Part 15



“Oh, dia pasti sangat merindukanmu, kau harus segera membalas suratnya!” seru Rosie yang tidak tahu jika Victor berbohong.


“Aku akan membalasnya nanti saat ada waktu,” kata Victor.


Rosie mengangguk kemudian dia dan Victor pun mulai menikmati sarapan yang sudah disiapkan. Selama sarapan berlangsung keduanya tidak banyak bicara, kemudian setelah sarapan m, mereka pergi meninggalkan istana menuju tempat yang berbeda dengan ditemani pengawal.


“Sampai jumpa nanti siang,” kata Victor sebelum dia dan Rosie berpisah di depan gerbang.


Rosie mengangguk kemudian kereta yang dinaikinya pun pergi ke arah yang berlawanan dengan kuda yang ditunggangi Victor


.


.


.


Kegiatan yang Victor lakukan berjalan lancar tanpa hambatan, dia melakukannya dengan sangat baik dan para petinggi militer di sana begitu menyukai Victor. Jiwa mudanya yang penuh semangat serta pembawaannya yang tegas membuatnya menjadi sosok raja yang sangat dihormati dan disegani.


“Kami merasa sangat terhormat bisa menerima kedatanganmu di sini,” kata seorang jenderal saat Victor pamit untuk pergi karena hari sudah siang dan dia harus melakukan kegiatan berikutnya.


“Aku banyak belajar darimu, Tuan. Kau sudah bekerja keras,” balas Victor. “Kalau begitu aku harus pergi sekarang.”


“Iya, silakan. Hati-hati di jalan dan sampaikan salam kami untuk Yang Mulia Ratu!”


“Akan kusampaikan.”


Victor tak banyak bicara lagi, dia segera menaiki kudanya dan langsung pergi dari tempat itu. Meski masih muda, tapi Victor terlihat begitu berwibawa sebagai seorang raja. Dia sosok yang tegas, berani dan tak kenal takut. Meski bukan orang asli Spanyol, tapi dia bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan baru itu.


Setelah menghabiskan waktu hampir empat puluh menit perjalanan, Victor akhirnya kembali ke istana.


“Apa Ratu sudah kembali?” tanya Victor pada penjaga yang berdiri di depan pintu utama.


“Sudah, Yang Mulia. Beliau sedang bersiap-siap untuk pergi ke pelabuhan baru.”


“Bagus.” Victor hanya mengangguk kemudian melanjutkan langkahnya menuju lantai empat. Dia masuk ke dalam kamar utama dan melihat Rosie yang sedang bersama kedua pelayan pribadinya.


“Oh, Yang Mulai sudah kembali.” Mery langsung menunduk memberi hormat saat dia melihat Victor. Sharon pun melakukan hal yang sama.


“Baguslah kau sudah pulang. Kita harus segera pergi agar tidak kemalaman saat pulang nanti,” kata Rosie yang masih berdiri di depan cermin sementara Sharon dan Mery merapikan gaun biru mudanya.


“Kita tinggal pergi jika kau sudah selesai,” kata Victor.


“Kau harus ganti baju juga!” seru Rosie.


“Kenapa harus ganti baju segala? Merepotkan sekali.” Victor menggerutu.


“Tentu saja harus! Tidak mungkin kau memakai pakaian militer untuk acara peresmian pelabuhan. Sharon sudah menyiapkan pakaian untukmu.” Rosie melirik jas berwarna hitam yang sudah digantung dengan rapi di gantungan pakaian.


“Jika kalian sudah selesai membantu Ratu, bisakah kalian pergi!” Secara tidak langsung Victor mengusir Sharon dan Mery dari kamar itu.


Sharon dan Mery melihat wajah Rosie dan meminta persetujuan melalui mata mereka.


“Kalian boleh pergi, aku sudah selesai. Terima kasih, beristirahatlah!” seru Rosie sambil tersenyum pada kedua pelayannya.


Setelah Sharon dan Mery pergi, Victor pun mengambil pakaiannya, namun Rosie melihatnya dengan tak senang dan membuat Victor risih.


“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Victor bingung.


“Jangan bicara kasar pada pelayanku!” seru Rosie tegas.


“Mereka hanya pelayan. Kau yang aneh, kenapa kau selalu mengucapkan terima kasih? Itu sudah tugas mereka dan mereka dibayar,” balas Victor.


“Karena mereka pelayan bukan berarti mereka tidak harus dihargai. Aku hanya tidak tahu sesulit apa pekerjaan mereka, meski dibayar, sudah sepatutnya kita berterima kasih setelah dibantu. Kita bukan apa-apa tanpa mereka, meski memiliki segalanya, tapi kita tidak bisa melakukan semuanya sendirian.”


Victor diam mendengar penjelasan Rosie. Selama dua puluh lima tahun hidupnya dia tidak pernah mengucapkan terima kasih pada pelayan yang bekerja di istana. Dia juga tidak pernah mendengar keluarganya mengucapkan itu. Rosie adalah orang pertama yang Victor tahu selalu mengucapkan terima kasih kepada pelayan yang sudah membantunya atau penjaga yang membukakan pintu. Itu hal yang aneh untuk Victor karena di keluarganya itu tidak pernah dilakukan.


“Lagi pula aku hanya punya Sharon dan Mery, mereka sudah seperti keluarga dan teman untukku. Hanya mereka yang selalu menemani dan menghiburku setiap saat. Hanya mereka yang selalu cemas bukan karena aku ratu, tapi karena aku adalah aku. Yang mereka rawat bukanlah ratu, tapi Rosie. Jadi, tolong jangan membuat mereka merasa tidak nyaman saat berada di dekatku, aku tidak mau kehilangan mereka.”


Victor yang sedang mengancingkan kemeja barunya menatap Rosie. Meski hanya sisi wajah wanita itu yang terlihat, tapi Rosie tampak sangat sedih saat membicarakan soal kedua pelayannya. Bagi Victor mereka hanya pelayan yang melakukan tugasnya karena dibayar dan bisa digantikan dengan pelayanan baru kapan pun. Tapi, bagi Rosie mereka lebih dari itu. Mereka adalah orang yang menghibur Rosie di saat Rosie kehilangan seluruh keluarganya, mereka menemani Rosie tidur dan membuat Rosie tidak terlalu kesepian.


“Setelah keluargaku pergi, hanya mereka yang menjagaku seperti Ayah, menyayangiku seperti Ibu dan menghiburku seperti Jay. Aku tahu kau tidak akan mengerti posisiku, aku hanya meminta kau menghargai siapa pun yang aku hargai.”


“Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu, Rosie. Maaf,” kata Victor sambil memakai jasanya.


“Sudahlah, kita harus pergi sekarang. Apa kau sudah makan siang?” Rosie berdiri kemudian menoleh pada Victor.


“Sudah saat di markas militer tadi.”


“Kalau begitu kita bisa langsung pergi sekarang.”


“Baiklah.”


Tak banyak perdebatan lagi, Rosie dan Victor pun keluar dari dalam kamar dan segera menuju kereta kuda yang sudah disiapkan di depan istana. Perjalanan akan memakan waktu hingga dua jam, jadi mereka harus segera pergi agar tidak kemalaman saat pulang nanti.


.


.


.


Acara peresmian pelabuhan baru itu sudah selesai dan pesta yang rencananya akan diadakan di pantai hingga malam hari harus batal karena hujan turun dengan deras dan menyebabkan air pasang.


Hari sudah semakin sore, tapi Rosie dan Victor yang seharusnya sudah pulang malah terjebak di dalam gedung tempat pesta sederhana dilakukan. Karena pesta di pantai batal, jadi orang-orang yang suah terlanjur datang tetap mengadakan pesta seadanya di dalam sebuah gedung yang terletak di pinggir pantai.


Rosie dan Victor yang awalnya hanya berencana untuk menghadiri peresmian saja, kini malah harus terlibat dalam pesta sambil menunggu hujan reda. Namun, mereka tidak bergabung dengan yang lain, keduanya hanya duduk di sofa yang sudah disediakan sambil melihat orang-orang yang sedang bersenang-senang.


“Yang Mulia.” Seorang pengawal yang datang bersama mereka tiba-tiba menghampiri. “Hujan ini membuat air sungai meluap dan membanjiri jalan, sangat tidak mungkin untuk kita bisa kembali ke istana malam ini juga.”


Untuk kembali ke istana mereka memang harus melewati jembatan besar dan tak ada jalan lain, tapi karena hujan yang sangat deras air sungai itu jadi meluap hingga merendam jembatan dan memutus akses untuk kembali ke istana.


“Apa benar-benar tidak mungkin untuk dilewati?” tanya Victor.


“Jembatannya terendam sangat tinggi. Akan sangat berbahaya jika kita memaksa untuk melewatinya. Kita bisa saja hanyut,” jelas pengawal itu.


“Jadi, apa yang harus kita lakukan?” tanya Rosie.


“Terpaksa kita harus bermalam di sini. Jika hujannya reda malam ini, kemungkinan baru besok air sungai akan surut. Penginapan paling dekat dari sisi bersedia untuk mengosongkan seluruh lantai paling atas agar Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman.”


Rosie hanya bisa menghela napas mendengar penjelasan sang pengawal. Mau bagaimana lagi, hanya itu pilihan yang tersedia demi keselamatan mereka.


“Kami tidak butuh penginapan. Rumah kami hanya berjarak tiga ratus meter dari sini,” kata Victor membuat Rosie menoleh dan menatapnya bingung.


“Rumah?” tanya Rosie heran.


“Kau lupa jika kita punya rumah dari hadiah pernikahan? Rumah itu tidak jauh dari sini.” Victor menjawab rasa penasaran Rosie.


“Ah? Jadi di dekat sini?”


Rosie tahu soal rumah itu, tapi dia tidak pernah bertanya di mana letak jelasnya.


“Sepertinya hujan tidak akan reda dalam waktu dekat. Siapkan kereta untuk kami ke rumah, aku ingin segera istirahat!” seru Victor sarat pemerintah.


“Baik Yang Mulia, keretanya akan segera siap di depan pintu.”


“Belikan pakaian dan makanan untuk kami!” seru Victor lagi.


“Beli pakaian ganti juga untukmu, pengawal lain dan kusir. Bali juga makanan yang kalian mau! Kalian bisa menggunakan uang perjalanan!” seru Rosie.


“Terima kasih banyak Yang Mulia, kau sangat murah hati. Kalau begitu aku akan segera mengabari yang lain untuk membagi tugas.”


Pengawal itu pun pergi, sementara Victor masih menatap Rosie lekat. Lagi-lagi Victor dibuat heran dengan sikap Rosie kepada para pengawal itu. Tapi, di sisi lain Victor juga merasa kagum dengan kerendahan hati Rosie yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tapi selalu memikirkan orang lain juga.


.


.


.


To be continued