A ROYAL HEIR

A ROYAL HEIR
Part 16



Hujan masih tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti saat Rosie dan Victor tiba di rumah mewah itu. Mereka masuk ke dalam bersama beberapa pengawal yang membawakan pakaian serta makanan.


Namun, setelah itu para pengawal pergi meninggalkan ruang utama. Sebagian berjaga di depan rumah dan sisanya pergi ke paviliun yang berada di belakang rumah itu. Rosie yang menyuruh mereka berjaga secara bergiliran agar semua orang bisa punya waktu untuk beristirahat.


“Wah, aku suka rumah ini.” Rosie berlari dengan gembira melewati ruang tengah yang luas. Rumah itu memang besar dan mewah tapi tidak memiliki banyak ruangan, hanya memiliki tiga kamar tidur yang dua di antaranya masih kosong dan hanya kamar utama yang sudah diisi dengan lengkap.


Victor tidak begitu memedulikan Rosie, dia hanya masuk ke dalam kamar utama untuk mandi dan berganti pakaian yang sudah basah karena hujan.


Rosie juga tidak peduli dengan yang Victor lakukan, dia masih sibuk menjelajahi setiap ruangan di rumah itu. Rasanya menyenangkan memiliki rumah biasa seperti itu, tidak ada penjaga yang berdiri di setiap pintu dan tidak ada pelayan yang berlalu-lalang. Rosie merasa sangat bebas dan leluasa, tapi karena tidak ada satu pun pelayan, jadi Rosie harus melakukan semuanya sendirian.


Sementara Victor masih mandi, Rosie pergi ke dapur untuk memeriksa makanan yang dibelikan pengawalnya. Ada makanan yang sudah jadi dan ada juga bahan makanan mentah.


Rosie tidak pernah memasak ataupun memasuki dapur seumur hidupnya. Tapi, memasak adalah salah satu impian kecil Rosie. Entah kenapa berada di rumah itu seperti impiannya sedikit terwujud, untuk sesaat dia melupakan siapa dirinya, dia menikmati perannya sebagai wanita biasa yang tinggal di rumah biasa, bukan istana. Dia seorang istri dan berpikir harus menyiapkan makan malam.


Victor memang bukan pria yang Rosie suka, bukan pula pria impiannya. Tapi, berada di rumah itu terasa cukup manis dan romantis bagi Rosie. Hanya mereka berdua dan rasanya sangat privat.


Dengan semangat Rosie mulai mencoba untuk memasak. Dimulai dari yang paling sederhana, dia mengambil telur. Dinyalakannya kompor minyak itu, namun dia yang berniat membuat telur goreng malah mengambi panci alih-alih wajan atau penggorengan.


Kekacauan di dapur tidak bisa dihindari, suara sendok, pisau dan tutup panci yang berjatuhan di lantai mengiringi suara gemercik air hujan. Dari pada seorang istri yang sedang memasak, Rosie tampak lebih mirip pengacau yang akan menghancurkan dapur dalam hitungan menit.


Victor yang telah selesai mandi dan berganti pakaian keluar dari dalam kamar karena merasa lapar. Namun, dia terkejut saat melihat asap yang berasal dari arah dapur. Victor pun segera pergi untuk memeriksa, tapi begitu sampai di dapur dia mencium bau gosong yang kuat dan Rosie sedang berdiri di depan kompor.


“Apa yang terjadi?” tanya Victor bingung.


Rosie menoleh dengan wajah cemberut, dia tampak marah dengan dirinya sendiri.


“Aku ingin memasak telur, tapi gosong,” kata Rosie dengan bibir yang mengerucut.


“Astaga, Rosie!”


Victor nyaris lupa jika yang ada di hadapannya itu adalah ratu. Rosie terlihat sangat berantakan dengan beberapa noda hitam di wajahnya. Dia menyentuh panci yang gosong kemudian menyentuh wajahnya hingga bekas gosong itu menghiasi pipinya.


“Kalau tidak bisa memasak sebaiknya diam saja! Makan saja yang sudah jadi, kenapa repot-repot?” Victor tidak habis pikir dengan sang istri.


“Tapi, aku ingin belajar memasak sendiri, aku ingin membuat telur goreng, tapi pancingnya malah gosong,” keluh Rosie masih dengan wajah cemberut.


“Sejak kapan panci jadi tempat untuk menggoreng? Aku tahu kau tidak pernah masuk ke dapur, tapi apa kau separah ini?”


“Aku ‘kan masih belajar.”


“Belajar juga tidak seperti ini. Bagaimana kalau kebakaran? Lihat, kau seperti anak kecil yang sedang bermain arang.” Victor menghampiri Rosie lalu membersihkan noda di wajah Rosie dengan tangannya. “Rakyat kita akan tertawa jika melihat ratu mereka seperti ini. Kau ini ada-ada saja.”


Rosie terpaku saat Victor melakukan itu. Victor memang mengomel, tapi Rosie merasa pria itu sedang cemas dan memperhatikannya.


Sementara itu, Victor yang masih membersihkan wajah Rosie tanpa sadar tertawa pelan, wajah konyol Rosie menjadi hiburan tersendiri untuk Victor dan dia semakin sadar betapa mudanya Rosie. Meski berusaha bersikap dewasa, tapi sifat kekanak-kanakannya sesekali muncul seperti sekarang.


“Kau melihat apa, hah? Sebaiknya mandi sana!” seru Victor sambil mendorong pelan kening Rosie dengan telunjuknya.


“Baiklah.” Rosie yang masih cemberut pun pergi meninggalkan dapur dan segera menuju kamar utama untuk membersihkan diri.


Sementara itu, Victor masih tersenyum melihat kelakuan sang istri. Dengan kedua sudut bibir yang tertarik ke atas, Victor mengambil makanan yang sudah jadi dan membawanya menuju ruang makan. Tapi, Victor tidak langsung makan sendirian, dia menunggu Rosie terlebih dahulu.


Victor beranjak menuju ruang tengah, dia menemukan setumpuk kertas surat dan pena di bawah meja, dia pun mengambil selembar kertas dan berniat menulis balasan untuk Jane.


‘Jane’


Victor berhenti di kata pertama, dia berpikir lagi, mungkin tak seharusnya dia membalas surat itu. Jika dia membalasnya, artinya dia memberi harapan untuk Jane. Bagaimana pun Victor sadar jika hubungan mereka sudah berakhir dan tidak mungkin untuk kembali bersama seperti dulu. Victor menginginkan kekuasaan, jadi harus ada yang dikorbankan. Sekarang dia adalah seorang raja yang tentunya harus sangat menjaga sikap dan perilaku. Meski tidak mencintai Rosie, tapi bukan hal yang terpuji untuk berbalas surat dan memulai kembali hubungan dengan wanita lain.


Akhirnya Victor meninggalkan surat dan kertas-kertas itu di atas meja saat dia mendengar Rosie memanggilnya dari ruang makan.


“Apa kau yang menyiapkan semua ini?” tanya Rosie saat melihat makanan yang sudah tersaji di atas meja.


“Iya, kenapa?” kata Victor yang baru saja datang dan langsung duduk.


“Kau berbakat juga.”


“Kau saja yang tidak bisa apa-apa,” ejek Victor.


Rosie mengusap tengkuknya sambil tersenyum kikuk, sepertinya dia memang tidak bisa melakukan hal-hal seperti itu. Baru beberapa saat di dapur saja dia sudah menghancurkan dapur itu.


“Sepertinya begitu,” kata Rosie seraya mengambil sepotong daging dari atas piring.


“Berarti kau bodoh,” ejek Victor lagi.


“Bukan begitu.” Rosie memutar matanya kesal. “Seumur hidup aku tidak pernah masuk ke dapur dan melihat orang memasak.”


“Kau pasti sangat dimanjakan.” Victor juga mulai makan. “Apa sekarang kau merasa kerepotan karena tidak ada satu pun pelayan yang membantumu?” tanyanya mulai penasaran.


“Sebenarnya merepotkan, tapi aku senang berada di sini. Aku selalu bermimpi untuk keluar dari istana dan tinggal di rumah biasa, menikah dengan pria biasa dan menjalani kehidupan biasa seperti kebanyakan orang. Berada di sini membuatku merasa menjadi orang biasa meski hanya sebentar,” jelas Rosie di sela-sela mengunyah makanannya.


“Kenapa kau menginginkan kehidupan seperti itu? Orang lain memimpikan kehidupanmu sekarang, kau memiliki segalanya,” kata Victor heran.


“Aku tidak suka memikirkan banyak hal, aku tidak suka memikirkan semua orang. Aku ingin hidup dengan bebas dan tidur dengan nyenyak tanpa merasa cemas,” jelas Rosie.


Victor memahami apa yang Rosie inginkan, menjadi pemimpin bukanlah sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan. Kelihatannya mudah, hanya memerintah ini dan itu, tapi nyatanya jauh lebih sulit dari yang dibayangkan.


“Kalau begitu kau bisa menjadi orang biasa saat di sini. Lupakan semua yang ada di luar, anggap kau bukan ratu dan hanya perempuan biasa yang tinggal di rumah biasa. Jika itu membuatmu senang, jadilah orang biasa untuk malam ini dan lakukan apa pun yang ingin kau lakukan!” seru Victor.


Rosie tersenyum mendengar itu. “Benar, itu ide bagus. Jadi malam ini aku hanya Rosie, aku tidak akan menjadi ratu dan akan melakukan apa pun yang aku mau di rumah ini.”


“Asalkan jangan mencoba untuk memasak lagi!” Victor mengingatkan sebelum Rosie kembali mengacaukan dapur.


Rosie cemberut, tapi Victor malah tertawa dan semakin menggoda Rosie karena dia suka melihat wajah Rosie yang lucu saat ngambek.


.


.


.


To be continued