
"Oh ya, Bu, saya boleh nanya sesuatu nggak?"
"Soal apa?"
"Pak Raga."
Sontak mengernyitkan dahi, kepala Nawang langsung beragam prasangka buruk yang berpotensi membuatnya overthinking lagi. Namun dengan segera kewarasan mengambil alih. Tidak. Ia gelengkan kepala tak kentara sambil dibubuhi senyum tipis. "Kenapa sama suami saya?" tanggapnya, berusaha tenang.
"Emang bener ya, Bu, Pak Raga itu ..." Novi menggigit bibir dengan sirat ragu di wajah. Nawang menunggu dengan cemas, sampai lanjutan kalimat Novi membuatnya lupa bagaimana caranya bernapas. "Pak Raga itu ... artis ya?"
***
"Seriusan, Bun?" Raga terkesiap geli begitu mendengar cerita Nawang barusan, direspons Nawang lewat anggukkan. Well, Nawang bilang tadi Novi nanya ke dia; apa bener Raga artis. Soalnya Jaya sempet cerita kalau ayahnya pernah main film, judulnya Sepatu Super. Praktis pria dua anak itu tergelak riang. Lelah di tubuh seketika siuh. Momen-momen seperti inilah yang ia rindukan; berinteraksi laiknya pasangan yang kadang menyamar menjadi teman. "Astaga, si kakak! Aku jadi ngebayangin kalau anak kedua kita lahir, terus agak gedean dikit, pasti bakal diracunin cerita-cerita halu."
"Kita doain aja deh, semoga Bang Reon cepet punya anak." Nawang memilih opsi lain.
Dan Raga mengaamiinkan. Aamiin paling serius. Sebab abangnya itu senang sekali meracuni otak para keponakannya dengan cerita-cerita halu yang dibangun oleh imajinasinya sendiri.
"Bunda!" Seruan dari luar membuat Nawang menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka. "Bunda, mau makan, tapi nggak mau sama Sus. Maunya sama Bunda."
"Kambuh lagi manjanya," decak Nawang.
"Novi gimana kerjanya, Bun?" tanya Raga yang duduk di sampingnya.
Nawang menoleh setelah menyahut sebentar. "Baik kok, Yah."
"Jangan nutupin kesalahan orang lain karena nggak enak ya, Bun! Sumpah demi apa pun, aku paling nggak suka sama sifatmu itu!" Raga memberi peringatan sekaligus menumpahkan uneg-unegnya pada sang istri.
Merasa tertuduh, Nawang lepas decakkan dari bibirnya. "Enggak, Ayah. Dia beneran baik kok. Tadi juga sempet cerita-cerita sama aku."
"Zaman sekarang banyak orang yang ngejual cerita sedihnya untuk dapet simpati, Bun!" timpal Raga yang memang tidak mudah percaya. Nawang paham betul siapa dan bagaimana suaminya, tetapi ia juga bisa melihat kejujuran di sepasang mata Novi. "Lagian, sebenernya aku nggak butuh orang lain buat jagain anak-anakku, biar mereka lebih dekat sama orang tuanya. Aku nggak mau kayak mama dan papa yang super sibuk sampe nggak ada waktu buat sekadar ngobrol sama anak-anaknya, nanya gimana hari ini, ada kegiatan apa di sekolah, atau ... udah makan atau belum."
Dulu yang memperhatikan Raga adalah orang tua Nawang. Yang dengan telaten menyiapkan keperluan Raga kecil sampai remaja selalu Nia. Yang mengantar bocah tengil itu kemana-mana pasti Ruslan. Ayah-ibunya sibuk. Ayahnya seorang pejabat, sedang ibunya designer terkenal. Tentu menghabiskan waktu di luar dengan dalih mencari nafkah, tidak perlu diherankan apalagi dipertanyakan.
"Mas, udah dong." Nawang usap lengan kokoh suaminya, "Aku nggak mau bahas soal ini lagi. Toh, yang dilakuin Mama juga untuk kebaikan kita. Apalagi kondisiku sekarang lagi hamil, 'kan? Aku butuh bantuan orang lain untuk nanganin Jaya. Terus aku lihat, Novi sabar banget ngadepin Jaya. Soalnya dia bilang; dia juga punya adik seumuran Jaya."
"Bunda!" Seruan si kecil balik menggaung.
"Udah sana, suapin dulu anaknya!" titah Raga, seakan tidak tersentuh oleh penjelasannya barusan mengenai kisah hidup baby sitter Jaya. "Abis ini suapin aku, ya?" Aura tengilnya muncul ke permukaan. Satu matanya dikedipkan. "Oke, Sayang?"
"Mandi sana! Bau!" cibir Nawang, menutup hidung sambil bangkit.
Raga mendongak lalu tergelak. "Halah, bau-bau gini juga kamu suka."
"Cih!" Nawang berlalu sebelum ocehan Raga mulai nggak keruan.
Sementara yang ditinggalkan tidak segera mandi, alih-alih membuka ponsel dan memerintah beberapa anak buahnya untuk mencari tahu siapa Novi. Raga merasa familier dengan wajah itu, seperti mirip atau ... memang dia? Buru-buru ia gelengkan kepala, menepis segala prasangka. Tapi yang jelas kejadian lima tahun silam tidak akan ia lupa.
***
"Bun, mau main ke rumah Lili," rengek Jaya. Well, Aily atau yang akrab disapa Lili itu tetangga sebelah rumah. Dan ayah dari gadis cilik tersebut adalah teman baik Raga. Namun, Nawang tak mengizinkan. Selain sudah malam, Eltristan tidak akan menerima siapapun memasuki rumahnya, sekalipun Jaya menggaet ayahnya.
Sebab ayah Lili terkenal judes dan pelit di komplek.
Pria itu juga sering melontarkan kalimat pedas.
"Eh, tadi Kakak cerita sama Sus ya?" Nawang mencari topik lain.
Jaya menerima suapan ibunya, dikunyah sesaat, kemudian menanggapi. "Cerita apa, Bun?"
"Cerita kalau Ayah main film Sepatu Super."
Jaya mengangguk membenarkan. "Iya, Bunda. Kata Om Reon, Ayah main film itu, tapi Ayah yang jualan sepatu." Cerita Novi kurang lengkap, maka untuk menuntaskan rasa penasarannya, Nawang tanyakan langsung ke anaknya. Dan sekarang perempuan itu dibuat tercengang oleh cerita absurd sang buah hati. "Bun, emang Ayah dulu pengin jadi tukang sol sepatu ya?"
"Ooh, Ayah mau kayak Pak Tarno?" Jaya mengerjapkan mata.
"Astagfirullah, Bun!"
Nawang tertawa.
Raga mendengkus dongkol, selang beberapa detik senyumnya tersumir. Ia comot sepotong tahu bakso dan dilahap. "Besok Shaqueen ulang tahun, 'kan? Kita dateng ke sana, sekalian ngabarin soal kehamilan kamu."
Memilih diam karena tidak yakin adalah solusi paling baik.
Setelah Renata mendesak ia berkali-kali agar pisah dari Raga, Nawang jadi ragu mengabarkan berita yang seharusnya bisa memperkokoh istana kecilnya. Sebab jika ditelaah dengan logika, kecil kemungkinan untuk Raga mempertahankannya, memposisikan ia sebagai pelabuhan untuk pulang. Nawang tidak punya apa-apa selain rasa dan anak-anak yang mengikat mereka, sedang Renata bisa memberinya lebih, bahkan mencarikannya calon istri yang sepadan, yang tentunya juga bisa dijadikan tempat pulang.
Nawang mendesah samar.
Bicara soal pulang, siapapun bisa bertandang ke mana saja.
Setidaknya untuk mereka yang paham arti setia.
"Kayaknya aku di rumah aja deh, Mas."
Lipatan halus menghiasi kening Raga, matanya menyipit. "Why?"
"Nggak apa-apa, Mas."
"Aku nggak percaya."
"Kamu selalu kayak gini, Naw!" sungut Raga, sebal. "Dan hal-hal kayak gini ini yang bikin kita sering berantem. Tolong bilang ... ada apa? Kalau sekiranya aku ada salah, jelasin. Atau barangkali ada yang bikin kamu nggak nyaman. Ngomong, Naw."
Dulu Nawang pikir; ketika dia mencintai Raga yang memiliki segalanya, dia hanya perlu tidur agar bisa bersama sang pujaan. Tapi ternyata, semesta terlalu baik dengan memberinya peluang untuk dekat dengan pria itu, menjatuhkan rasanya semakin dalam, berkembang, hingga ia tenggelam pada kegilaan yang disebut cinta.
Dan sampai detik ini, pria yang berhasil membuatnya hanyut dalam jurang perasaan itu tetap konsisten dengan apa yang ia tawarkan. Sayangnya, pihak dari si pria menginginkan dongeng mereka usai, entah apa alasannya. Namun, ada satu hal yang menjadi asumsi Nawang---yang ia pikir sangat masuk akal; status sosialnya dan sang suami.
Walau terlambat untuk diributkan.
"Nggak ada, Mas."
"Kakak mau Bunda ikut nggak?" Senjata Raga adalah Jaya.
Anak itu mengangguk. "Iya dong! Masa nanti yang nggak ada bundanya Jaya doang sih?" Bibirnya mengerucut, lalu sambil menyatukan telapak tangan, bocah laki-laki berusia enam tahun itu memohon, "Plis, Bunda."
Nawang sulit mengabaikan anaknya. Jadilah, ia anggukkan kepala. Membuat anak dan suaminya serentak berseru yeay. Nawang tertawa geli, sebelum tubuh gempal Jaya menubruk memeluknya. Refleks Raga meringis.
"Kak, jangan kenceng-kenceng. Itu di perutnya Bunda ada adek."
"Bunda, besok adeknya kasih ke Om Reon ya?"
Hendak menyela, tapi dering ponselnya menginterupsi. Raga berdecak, lalu merogoh saku celana. Pesan masuk dari orang suruhannya. Cepat-cepat ia buka dan detik ke tiga, jiwanya melayang entah ke mana.
^^^Gading:^^^
^^^Betul pak^^^
^^^Itu Novi anaknya Kholis^^^
Rahang Raga kontan mengeras, tanpa sadar ponselnya diremas. Netra biji kopinya dilarikan ke dapur. Novi sibuk berbincang dengan para mbak. Dalam hati, ia berdesis, "Berani-beraninya lo nampakkin diri, berengsek!"
//
Saatnya kita pantun gaes; gajah makan kawat alias gawattt!! 🤣🤣
Dah bikin penasaran pa belom sih?