5th Anniversary

5th Anniversary
Cerita Novi



"Jadi, bener kalau mantan bosnya Nawang itu mantan suaminya Mbak Gitta?"


Reon hanya mengedik, pita suaranya seakan hilang entah kemana.


Raga mengusap wajah, lalu mengesah. Atensinya disulihkan ke Jaya yang duduk di seberang sambil main iPad dan makan es krim. Dua detik kemudian, ia tatap abangnya lagi. "Terus, sekarang Mbak Gitta di mana? Lo udah ngobrol sama dia?"


"Belom," jawab Reon, singkat.


"Why?"


"Gue dibohongi untuk hal sebesar itu, Ga!" tandas Reon, penuh penekanan. Tubuh jangkungnya ditegakkan untuk menatap sang adik. Rupanya, raga Reon sudah kembali, meraih seluruh emosi yang sempat mati. "It's okay kalau dia nggak mau inget-inget mantan suaminya. Tapi ini ada anaknya. Gue emang kecewa, cuma gue masih bisa mikir pake logika. Jizzy nggak salah apa-apa. Ditambah tadi gue denger dia bilang; dia dimarahi omanya dan dikatain bukan anak dari istri Rendra yang sekarang." Jeda, napasnya berembus panjang. "Lo bisa bayangin nggak gimana sakit hatinya dia? Makanya dia sampe kabur."


"Apa itu artinya lo terima ... Jizzy?" pancing Raga, hati-hati.


Reon mendesah. "Kayak yang gue bilang tadi; anak itu nggak tahu apa-apa."


"So?"


"Tapi, gimana sama Mama? Lo tahu kan seorang Ibu Renata, makhluk paling sosialita sejagat raya." Raga mendengkus geli mendengar ocehan Reon yang mulai absurd. "Gue mungkin siap ngadepin emak lo yang super duper drama, tapi ... gimana sama Jizzy?"


"Wait, emang Jizzy tahu kalau Mbak Gitta itu mamanya?"


"Kayaknya sih belom."


"Nah! Ada baiknya sekarang lo ngobrol ama Mbak Gitta," saran Raga. "Kemaren pas gue berantem ama Nawang aja, lo bisa nasihatin gue. Sekarang gue kembaliin nasihat lo untuk nyelesein rumah tangga lo. Jangan sampe Mama tahu dan ikut campur. Bisa hancur dunia persilatan," selorohnya, diikuti tawa sebagai pencair suasana. Reon geleng-geleng. "Gue anter lo pulang, ntar biar gue sama Jaya naik taksi. Udah lama orang kaya nggak naik taksi."


"Serah!" Reon mengibaskan tangan, "Toh, sekaya-kayanya elu, di mata Ibu Renata cuma Akang Raja yang paling kaya. Kaya anjeng." Ia lantas terpingkal-pingkal karena celotehannya sendiri. Nular ke Raga. Sebelum tawa heboh Reon mereda lalu berkata, "Anyway, thanks ya, Ga. Lo selalu ada buat gue. Untung kita sodaraan, jadi gue nggak mungkin jatuh cinta sama lo."


"Jijik aku, Yon!"


Lalu mereka tertawa bersama.


***


Pulang naik taksi, Jaya yang kelelahan tertidur di gendongan sang ayah. Dan begitu memasuki halaman rumah, Raga melihat Nawang berdiri di teras dengan wajah cemas. Tapi menyadari kemunculan anak dan suaminya, wanita itu segera mendekat. Cemas di wajahnya minggat. "Mas?" Ia alihkan matanya ke si sulung, lalu ia usap punggungnya. "Kecapekan dia, Mas. Langsung bawa ke kamar aja."


Raga mengangguk. Dibawanya Jaya ke kamar, lalu ia baringkan ke kasur. Omong-omong, ini kamar pribadi Jaya. Kamar yang didesain dengan tema luar angkasa, karena cita-cita calon personel BTS satu ini pengin jadi astronot. Biar bisa ambil bintang dan minta banyak hal. Reon alias pamannya bilang, konon bintang bisa mewujudkan setiap keinginan. Maka dari itu, Jaya harus bisa jadi astronot, agar bisa menjelajahi angkasa.


Cukup si penulis saja yang menjelajahi hati jodoh orang.


"Kenapa telepon aku nggak diangkat sih? Aku chat juga nggak dibales," sembur Nawang, kesal. "Aku tuh khawatir. Kalau Jaya diculik, terus kamu diapa-apain sama penculiknya, gimana? Paling nggak tadi pas nyampe sekolahnya Jaya, kamu kasih kabar. Biar kalau sekiranya bahaya, aku bisa minta bantuan orang lain." Air matanya menetes. "Kamu tuh emang seneng bikin aku stress tahu, nggak!" Ia usap air matanya, tidak ingin terlihat cengeng.


Sejak hamil, Nawang emang sensitif dan agak berlebihan.


Raga mendekat, dipeluknya sang istri. Ia kecup puncak kepala Nawang. "Maaf, ya? Aku lupa."


"Kamu lupa kalau punya istri yang lagi hamil?" sembur Nawang lagi, mendongak—menatap Raga yang kontan menurunkan pandangan. Dan Nawang mewek lagi. "Kamu nggak mau inget-inget aku yang sekarang gendut, nggak cantik kayak cewek-cewek di luaran sana, ditambah aku cerewet sama ngambekan. Iya, kan?" Kembali air matanya menetes, ia terisak karena terlalu cepat berucap dan terbawa perasaan. "Kamu—"


Cups.


Raga mengecup bibir Nawang supaya diam. "Kalau masih ngomel, aku cium yang lain."


Kalimat Raga disalahartikan oleh Nawang. "Tuh, kan! Kamu mau sama yang lain."


Sontak mata Raga melebar, bergegas ia menyanggah. "Bukan yang lain—argh, gimana sih?!" Mengacak rambut frustrasi, "I mean, aku cium kamu di bagian yang lain." Seketika pipi Nawang memerah salah tingkah sembari buang muka. "Kenapa tuh? Malu ya? Kan sama suami sendiri. Aku juga udah nyoba semua." Mendekatkan bibir ke telinga Nawang, ia berbisik, "Bikin nagih."


"Mas!" Berpaling menatap suaminya lagi, Nawang mendelik kesal.


Raga terbahak-bahak. "Ayo, di mana? Seharian juga aku jabanin kalau sama kamu mah." Sebelah matanya berkedip, "Biar menghemat waktu, kita bikin anak lagi. Jadi ntar lahirannya bisa barengan. Inisiatif banget kan aku?"


"Berobat sana!" Nawang melepaskan diri dari Raga, lalu berderap menuju ranjang dan berbaring di sebelah sang jagoan. Ia peluk anaknya itu, meski agak kesusahan ketika hendak memiringkan posisi karena terhalang perutnya yang buncit. Dan tak lama kemudian Raga menyusul, ikut berbaring. "Tadi Mama ke sini."


"Mama marah karena kemaren aku pulang ke rumah Ibu. Bahkan semalem Mama nginep sini. Tapi sebelum kita pulang, Mama udah pulang," beber Nawang—menurut informasi yang ia dapat dari Novi. "Mas, aku minta maaf ya, selama ini aku udah salah paham, dan Mama nggak bermaksud benci aku. Aku juga udah tahu; kenapa Mama selalu mojokkin aku dan jaga jarak sama Mbak Gitta."


Timbul lipatan halus di dahi Raga, menandakan ketidakpahaman.


"Mas ..." Meraih tangan Raga untuk digenggam, ia tatap suaminya dalam-dalam. Raga masih diam, mendengarkan. "Tuhan menciptakan setiap perkara bukan tanpa alasan, pasti ada sebab yang akhirnya justru mengajarkan kita tentang banyak hal. Aku nggak akan maksa kamu untuk sepemikiran dan sependapat, tapi dari apa yang aku lewati, yang aku pikir itu tanda aku harus tahu diri, ternyata cuma jembatan biar aku lebih berbenah diri dan lebih dekat dengan diri sendiri."


"Apa yang Mama bilang ke kamu?"


***


Tiga jam yang lalu ....


Tidak juga mendapat balasan, Nawang mengesah panjang. Dia tidak mungkin menyusul suaminya, karena sudah pasti Raga akan marah. Dan pula dia sudah sangat lelah berdebat dengan pria itu. Maka yang ia lakukan berikutnya adalah meredakan cemasnya dengan membuat teh hangat. Tapi kemunculan Novi menginterupsi. "Ibu mau bikin teh?"


"Iya, Nov." Nawang mengangguk, "Barangkali dengan begini saya nggak cemas lagi."


"Kalau Ibu nggak keberatan, biar saya buatin. Ibu duduk aja," tawar Novi.


"Boleh deh."


Selagi Nawang beranjak duduk, Novi membuatkan teh untuk majikannya itu. "Nov," panggil Nawang kemudian, setelah menempati kursi makan. "Maafin tindakan suami saya kemaren ya?"


"Ibu nggak perlu minta maaf, saya paham kok, Bapak cuma khawatir istrinya kenapa-napa." Novi kembali sambil membawa baki berisi secangkir teh. Bibirnya menyunggingkan senyum tulus. "Tapi kalau boleh saya jujur—" Memindah cangkir teh ke meja, Novi ikut duduk di samping Nawang.


Nawang meraih cangkir teh tersebut. "Makasih, Nov."


"Sama-sama, Bu."


Setelah meneguk teh dan merasa sedikit lebih baik, Nawang buka suara. "Jujur apa, Nov?"


"Dari awal saya kerja di sini, saya udah tahu kok kalau Bapak curiga sama saya. Tapi saya tetap bersikap biasa-biasa aja, karena ... saya nggak merasa melakukan kesalahan apa pun. Toh, niat saya di sini memang murni soal pekerjaan. Siapa sih, Bu, yang nggak tergiyur ditawarin kerja dengan gaji dua kali lipat UMR Jakarta? Apalagi saya butuh uang untuk kebutuhan anak dan keluarga."


Nawang manggut-manggut.


"Saya pernah denger Bapak ngobrol sama kakaknya. Pak Ronald. Mereka sebut-sebut nama saya dan Mas Kholis. Dari situ saya paham; kenapa Bapak selalu mengintimasi saya dan dari obrolan itu juga saya baru tahu, Bu, kalau Mas Kholis sekejam itu." Rehat sebentar, Novi mengembuskan napas gusar. "Saya pengin lepas dari dia, Bu. Dan jalan satu-satunya saya harus kerja supaya bisa bayar hutang-hutang ibu saya."


"Tapi kan kamu udah ada anak sama dia?"


"Anak aja, Bu. Tanggung jawab dia ke anak nggak ada," tegas Novi. "Saya udah nyaman kerja di sini. Saya ngerasa dimanusiakan. Tapi dengan status saya, Bapak jadi mikir yang enggak-enggak."


"Nov, saya nggak memihak ke siapapun. Tapi saya juga nggak bisa menyalahkan siapa-siapa. Masing-masing punya alasan. Cuma satu hal yang harus kamu tahu; saya seneng kamu kerja di sini," aku Nawang. "Mamanya Mas Raga selalu mencarikan baby sitter dan beliau juga yang menggajinya. Padahal Mas Raga udah bilang; nggak perlu. Tapi entahlah. Dan sebelum kamu, saya dan Mas Raga nggak pernah cocok sama baby sitter-nya Jaya. Apalagi persis sebelum kamu, Jaya pernah dibentak, bahkan dicubit."


"Astagfirullah. Betul itu, Bu?"


Nawang mengangguk. "Tapi setelah ketemu kamu, saya nggak lagi ngerasa cemas. Lihat gimana kamu ngadepin Jaya, saya kayak lagi bercermin."


"Memang anak harus dirangkul kan, Bu?"


"Benar." Lagi-lagi Nawang mengangguk. "Saya dan Mas Raga sedikit belajar tentu ilmu parenting. Ketika Jaya salah, kami sepakat untuk nggak marahi dia, tapi negur. Karena marah dan negur itu dua hal yang berbeda."


Novi sependapat, terbukti dari anggukkannya.


"Kalau Jaya nggak tahu, terus dia banyak nanya, ya kami jawab sebisanya. Yang dimengerti anak seusinya," lanjut Nawang. "Tapi yang paling penting; pantang buat kami untuk main tangan."


"Saya setuju, Bu."


Nawang tersenyum.


Tapi cuma sebentar sebelum senyuman itu hilang begitu Novi menginformasikan. "Oh iya, tadi Bu Renata ke sini, Bu."