5th Anniversary

5th Anniversary
Berubah Pikiran



"Jizzy, Mami 'kan---"


"Citra?"


"Raga?"


Mengelak realita, Nawang memilih siuh. Bergegas Raga menyusul. Ia gapai pergelangan tangan sang istri begitu tiba di area parkir, lantas ditarik ke dalam pelukan. "Udah ya, jangan negatif thinking. Aku pun nggak nyangka bakal ketemu dia lagi di sini."


"Kalian nggak lagi janjian, 'kan?" desis Nawang, cemas.


Raga menghela dekapan, ditatapnya sang istri dengan satu alis terangkat. Dulu waktu hamil Jaya, Nawang nggak se-overthinking ini. Tapi, kenapa sekarang jadi posesif banget? "Ya enggak lah, Bun."


"Oh, ya, Mas---" Nawang mengalihkan topik, "anak kecil tadi anaknya Pak Rendra sama ... Mbak Citra?"


"Mana aku tahu, Bun!" decak Raga, gemas. Ia acak puncak kepala sang istri, lalu digiring masuk mobil. Well, setelah enam bulan dekat dengan Citra, tapi tanpa status, kabarnya perempuan itu pergi ke luar negeri untuk melanjutkan study sekaligus melangsungkan lamaran. Mungkin, pria mapan yang disebut-sebut itu Narendra. Tapi kalau benar begitu, Raga tidak menyesal juga. Toh, empat bulan setelahnya, dia menjalin kasih lagi dengan Nawang.


"Mas," panggil Nawang ketika mobil melaju meninggalkan butik.


"Apa, Sayang?" sahut Raga, fokus ke jalanan.


"Kemaren kamu kok bisa ketemu Mbak Citra?" singgung Nawang.


Kepala Raga tertoleh sebentar, lalu kembali fokus menyetir. "Oh, itu. Kemaren pas nganter Mama pulang, ada Cya di sana. Awalnya dia mau bolos karena ngambek sama orang tuanya. Ya udah, aku coba bujuk dia untuk aku anter. Akhirnya dia mau. Dan nyampe sekolahnya Cya, aku hampir nabrak perempuan. Dan ternyata perempuan itu Citra."


Timbul kerutan di dahi Nawang. "Mbak Citra ada di sekolahnya Cya? Ngapain, Mas?"


"Dia guru di sana, Bun."


Nawang manggut-manggut.


Raga melanjutkan, "Setelah itu nggak ada interaksi apa-apa kok. Aku cuma bilang maaf aja karena hampir nabrak dia."


Seharusnya Nawang lega, tapi dengan kehadiran Citra, justru membuat ibu dua anak itu makin nggak tenang. Sebelum ini, dia memang memanfaatkan kedekatannya dengan Rendra supaya Raga menceraikannya. Namun, setelah mendapat wejangan dari Gitta dan ditambah kemunculan Citra, Nawang jadi panik sendiri. Terlebih Renata alias ibu mertuanya terus mendesak ia agar meninggalkan Raga. Dan bisa saja 'kan dengan masuknya Citra ke hidup Raga, membuat Renata jadi berpaling ke masa lalu Raga.


Membuang napas, Nawang tepiskan seluruh pikiran buruk yang merasuki otak. Ibu hamil nggak boleh mikir yang enggak-enggak. Imbasnya nanti ke calon anak. Tapi, wajar 'kan kalau Nawang berpikir demikian?


"Kamu ada yang pengin dibeli nggak?" Raga mengalihkan topik.


Nawang menoleh sekilas. "Mau siomay. Boleh nggak?"


"Boleh dong." Raga menepikan mobilnya ke pinggir jalan, kemudian turun. Dibukakannya pintu untuk sang istri, ia bantu perempuan itu, setelahnya berderap menuju tukang siomay, dan memesan satu piring.


Sembari menunggu, mereka duduk di kursi yang telah disediakan.


"Kamu inget nggak?" Pertanyaan Raga membuat Nawang praktis menoleh. "Dulu aku sering ajak kamu makan di pinggir jalan." Nawang mengangguk menanggapi. "Tapi semenjak kamu hamil Jaya, kita nggak pernah quality time lagi."


"Ya 'kan semenjak aku hamil Jaya, kamu mulai sibuk di kantor."


Raga nyengir.


Nawang berdeham sejenak, tenggorokkannya mendadak kering. "Mas."


"Hm?" Raga menautkan alis.


"Kenapa kamu pilih aku?"


"Kenapa nanya gitu lagi sih?" cebik Raga, tidak suka. "Dulu waktu aku ngelamar kamu, kamu juga nanya kayak gini. Inget nggak?" Nawang diam, menatap Raga dalam-dalam. "Naw ..." Raga sentuh sisi pundak istrinya, "... cinta nggak butuh alasan."


"Aku tahu, Mas. Tapi kisah kita tuh kayak---"


"Bu, Pak, ini pesanannya." Suara mamang siomay menginterupsi.


Raga menerima piring tersebut, diikuti ucapan terima kasih. Dan begitu mamang siomay lenyap dari pandangan, ia suapi istrinya itu. Nawang menatap Raga. "Nggak mau disuapi suaminya?"


"Mau lah, Yah."


Bibir Raga menahan senyum, ia sendokkan sesuap siomay ke mulut sang istri.


Nawang melahap jajanan pinggir jalan favoritnya. "Ayah juga dong."


"Nggak, ah. Udah kenyang."


"Udah nggak selera makan makanan pinggir jalan ya, Yah?"


"Nggak gitu, Bun," sanggah Raga. "Aku emang udah kenyang. Lagian, ini tuh dalam rangka nurutin kamu yang lagi hamil. Biar happy dan nggak overthinking mulu." Ia acak puncak kepala Nawang. Istrinya itu tertawa. "Nah, gitu dong, Bun, ketawa."


"Emang biasanya gimana, Yah?"


"Marah-marah."


"Ish!"


"Tapi kamu sadar nggak sih?" Raga kembali serius, "Banyak hal yang udah kita lewati. Dari pacaran selama hampir enam tahun, terus putus di tahun ke empat, dan setelah balikan, aku ngelamar kamu. Kita nikah. Hidup serba papasan karena kita nggak mau ngerepotin orang tua."


Nawang mengangguk setuju. "Dan di awal-awal pernikahan, kita tinggal di kontrakan satu petak. Tapi alhamdulillah, setelah kamu lulus kuliah, dan punya kerjaan, kamu mulai bangun rumah." Giliran Raga yang mengangguk, senyumnya terbentuk. "Aku inget waktu aku hamil Jaya, aku pengiiiiin banget nyobain pizza, tapi ... aku sampe hati bilang ke kamu, karena kamu lagi ngumpulin uang buat nyelesein rumah."


"Tapi itu bukan masalah besar, Yah." Nawang usap lengan kokoh Raga.


"Bun, kalau buat anak kita, kamu bilang dong."


Gelengan Nawang merespons. "Kakak tahu kok kalau orang tuanya lagi berjuang."


"Tapi plis, untuk kehamilan kali ini, kalau pengin apa-apa, bilang. Jangan dipendem, oke?" pesan Raga.


"Siap, Ayah!" Nawang memberi salam hormat, memancing tawa Raga. "Oh ya, Yah, tolong sekalian bungkusin buat Jaya sama susternya ya."


"Iya, Sayang."


***


Obrolannya dengan Raga, semakin membuka pikirannya. Tegakah ia menukar lima tahun pernikahan dengan ego sang mertua? Toh, dia juga tidak tahu apa alasan pasti Renata meminta ia meninggalkan Raga. Dan jika status sosial yang menjadi alibi, mengapa tidak dari pertama kali Raga melamar Nawang? Mengapa baru sekarang wanita itu menentang? Mungkinkah ada udang di balik bakwan?


"Bu." Panggilan itu menyadarkan Nawang pada realita.


Menoleh, dijumpainya Novi berdiri tepat di samping sofa yang ia tempati. "Ya, Nov?"


"Ibu butuh sesuatu?"


"Enggak kok." Nawang menggeleng, "Lagian, jobdesk kamu cuma jagain Jaya."


"Tapi anaknya udah tidur, Bu. Saya nggak enak kalau nggak ngapa-ngapain." Novi meringis kaku. "Atau ... Ibu mau saya pijitin? Saya jago mijit loh, Bu."


"Nggak perlu, Nov," tolak Nawang, halus, kemudian ia tepuk sisi sofa. "Sini temenin saya ngobrol aja." Novi beranjak duduk di bawah sofa, alih-alih di samping sang majikan. Tentu Nawang kaget. "Loh, Nov?"


"Nggak enak, Bu. Masa---"


"Novi, nggak apa-apa," potong Nawang. "Sini!" Sekali lagi menepuk sisi sofa, akhirnya Novi mengindahkan, meski tampak canggung. Nawang mengulas senyum hangat. "Gimana jadi baby sitter-nya Jaya? Dia suka bikin kesel ya?"


"Kalau jail mah udah biasa ya, Bu. Namanya anak-anak. Lagian, saya juga punya adek seumuran Jaya, jadi ngasuh Jaya tuh berasa jagain adek sendiri." Novi tertawa di ujung kalimatnya.


"Oh, iya?" Nawang mulai tertarik.


"Iya, Bu." Novi mengangguk. "Tapi kalau adek saya perempuan."


"Kamu berapa bersaudara?"


"Empat, Bu. Saya anak pertama," jelas Novi. "Yang kedua baru masuk SMA, terus yang ketiga kelas 4 SD, dan yang terakhir TK."


Nawang manggut-manggut. "Kamu asli Jakarta?"


"Enggak, Bu. Saya asli Mojokerto, tapi semenjak bapak saya meninggal empat tahun yang lalu, saya merantau ke Jakarta. Bantu ibu cari nafkah. Cuma ibu saya nggak di sini, beliau tetep tinggal di Mojokerto."


"Kalau boleh tahu, bapak kamu meninggal karena apa?" tanya Nawang, hati-hati.


"Kecelakaan di tempat kerja, Bu." Ada jeda selama beberapa detik, Novi menghela napas sejenak. "Dan semenjak bapak saya meninggal, saya harus menggantikan beliau untuk menafkahi adik-adik saya."


"Sekarang kamu umur berapa?"


"Dua puluh, Bu."


"Berarti dari umur enam belas kamu udah kerja? Nggak sekolah?"


Novi menggeleng. "SMA kelas satu saya berhenti, Bu. Awalnya ibu saya ngelarang, tapi saya lebih nggak tega lihat ibu saya kerja keras banting tulang kalau saya tetep lanjut sekolah." Rehat lagi, dihelanya oksigen di sekitar. "Apalagi saya masih punya tiga adik yang perlu diperhatiin, Bu, terutama adek saya yang seumuran Jaya."


"Berarti bapak kamu meninggal waktu adek kamu lahir?"


"Tiga bulan setelah adek saya lahir, Bu," koreksi Novi.


Nawang mengangguk paham. Sekarang ia tahu, mengapa Novi nggak seperti baby sitter Jaya yang lain, padahal umurnya paling muda kalau dibanding baby sitter sebelumnya. Dan Nawang bersyukur, di saat Tuhan menitipkan calon anak lagi, ada seseorang yang dengan tulus membantu menjaga putra pertamanya. Kendati demikian, sebagai ibu, dia tetap akan mengawasi anaknya.


"Sehat-sehat ya, Nov, biar bisa bantu ibu kamu dan biayain adek-adek kamu," ujar Nawang, menyentuh sisi pundak Novi dan dielus. "Allah tahu kamu kuat, makanya kamu dikasih alur hidup kayak gini."


"Iya, Bu. Makasih loh. Saya jadi curhat."


Lepas decakkan dari bibir Nawang. "Nggak apa-apa. Santai aja."


Meringis, lalu Novi mengalihkan topik. "Oh, ya, Bu, saya boleh tanya sesuatu?"


"Soal apa?"


"Pak Raga."


//


haloooo, aku update lagi hahaha


btw itu kenapa si Novi nanyain Raga ya?


next nggak?