5th Anniversary

5th Anniversary
Mantan Suami Gitta



Sejauh ini, gimana cerita (Un)-happy With You menurut kalian?


Komen dong. Mau aku pake buat promosi :)


Btw 4 chapter lagi end, yha.


Happy reading!


--------


Menepikan mobil menuruti permintaan sang istri daripada ngambek lagi, Raga melarang istrinya untuk mendahului turun. Dan begitu mesin mati, Raga segera turun, berlari kecil menuju pintu sebelah kemudi, ia buka. Dibantunya Nawang turun. Lantas, mereka dekati bocah perempuan yang terduduk pilu di trotoar. Dengan hati-hati, Nawang beranjak duduk di samping anak itu.


"Jizzy?" Nawang sentuh pundak Jizzy. Refleks sang empunya menoleh.


Mata bulat Jizzy nampak berair. "Mamanya Jaya BTS?"


"Namanya Gananjaya, bukan Jaya BTS!" koreksi Raga, sewot.


Nawang mendongak, melayangkan tatapan penuh peringatan ke Raga yang ajek berdiri di sampingnya. "Mas!" Raga memutar mata jengah, "Sabar kenapa sih?! Namanya juga anak kecil."


"Belain aja terus anak orang!"


Memilih untuk tidak meladeni sang suami, Nawang kembalikan fokusnya ke Jizzy. Bibirnya mengurai senyum hangat. "Kok, Jizzy di sini sendirian? Orang tua Jizzy ke mana?"


"Jizzy kabur, soalnya Jizzy bukan anaknya Mami," kata Jizzy, lirih.


Sontak, Nawang terkesiap. Pun Raga yang detik itu menurunkan pandangan.


Selagi Jizzy meneruskan, "Tadi Jizzy denger Oma bilang gitu." Bulir bening yang sedari tadi ia tahan lolos membasahi wajah. "Mamanya Jaya BTS, Jizzy boleh minta tolong anterin ke rumah Papi?"


Nawang paham siapa ayah Jizzy, tapi dia tidak langsung mengiyakan. Ia angkat wajahnya lagi untuk menatap sang suami. Raga dengan tegas menggeleng. "Nggak. Aku nggak ngizinin kamu ketemu si buaya satu itu. Biar ni anak, aku yang anter. Sekarang aku antar kamu pulang dulu, urusin Jaya. Anak kita lebih penting."


"Emang aku ada bilang pengin ketemu Pak Rendra?" ketus Nawang.


"Ya siapa tahu aja kamu kangen mantan bosmu itu!" balas Raga.


"Dan siapa tahu juga; kamu nganterin Jizzy biar bisa ketemu Mbak—"


"Masuk!" titah Raga, memotong kalimat Nawang. Lalu ia putar tubuh, kakinya diayun menuju mobil. Ia bahkan mengabaikan istrinya yang tampak kesusahan berdiri. Tapi dengan segala kerendahan hatinya, Jizzy yang mengerti berusaha membantu ibu dari temannya.


"Tega kamu, Mas! Aku kesusahan begini gara-gara ulah kamu, bukannya dibantu malah ditinggal!" gerutu Nawang setelah berhasil bangun.


Raga yang telah tiba di dekat mobil menoleh. "Maaf, lupa."


Dan pria itu tetap meneruskan langkah, membuka pintu, meninggalkan Nawang yang lantas menyusulnya—bersama Jizzy di gandengan wanita itu.


***


"Jaya, ayo ganti baju dulu!" Novi masih dipekerjakan di rumah ini. Perempuan itu tampak sabar menghadapi Jaya yang sedari tadi lari-larian mengelilingi ruang tengah sambil mengibas-ngibas pedang mainan. Sesekali berseru "berubah jadi Power Rangers". "Jaya, mainannya nanti lagi ya?"


"Sus, Bunda sama Ayah mana?" tanya Jaya yang rupanya lelah bermain. Anak itu beranjak duduk di samping sang baby sitter. Di tubuh gempalnya, hanya melekat ****** ***** bergambar Thomas.


"Ayah sama Bunda lagi ada urusan. Paling bentar lagi pulang. Nah, sambil nunggu Ayah sama Bunda, Jaya ganti baju ya?" jawab Novi yang diikuti dengan rayuan. Tapi alih-alih terbujuk, Jaya justru menekuk bibir. Sejak kemarin ayah dan ibunya mirip doi si penulis; suka ngilang tiba-tiba.


"Jaya nggak mau sekolah." Jaya merebahkan diri di karpet, kakinya diangkat, sedang tangan kanannya kembali mengibas-ngibaskan pedang mainan.


Novi mengesah. "Katanya, Jaya ketua kelas? Kalau Jaya nggak masuk, nanti yang mimpin doa sama barisan, siapa?"


"Oh iya!" Seakan teringat tanggung jawabnya sebagai pemimpin, bocah laki-laki berbadan gempal itu langsung bangun dan berdiri. Novi pakaikan seragam anak majikannya. Tepat ketika sang majikan menampakkan diri. Namun, mereka tidak berdua, ada sosok kecil di tengah-tengah mereka, yang dengan ceria memanggil Jaya.


"Jaya BTS!"


Merasa terpanggil, Jaya tersenyum malu-malu.


"Halo, bosku!" sapa Raga, saat Jaya menghambur memeluk pinggangnya—selesai ganti seragam.


"Ayah sama Bunda habis dari mana?" tanya Jaya.


"Habis ada urusan, Kak," alibi Raga, yang untungnya selaras dengan jawaban Novi. Pria itu berjongkok menyamai tinggi badan putranya. Ia sentil pucuk hidung anak itu. "Wangi banget sih. Udah siap ke sekolah?"


"Siap, dong!"


"Sarapan dulu, Kak. Sekalian ajak Jizzy," ujar Nawang.


Perhatian Jaya teralih. "Kok, Jizzy bisa sama Bunda sama Ayah?"


"Iya, tadi Ayah sama Bunda ketemu Jizzy di jalan," jelas Nawang.


"Biar Jizzy langsung aku antar ke rumah bapaknya," putus Raga.


"Ini jam ke sekolah, Mas. Lagian, Jizzy juga udah siap. Mending nanti antar aja ke sekolah," usul Nawang, menginterupsi. Entah apa yang terjadi antara Jizzy dan kedua orang tuanya, Nawang tidak ingin ikut campur. Ia hanya bermaksud menyelamatkan gadis itu dari bahaya—yang mungkin saja mengintainya jika dibiarkan di pinggir jalan sendirian.


Nalurinya sebagai ibu membayangkan bila Jizzy adalah Jaya. Yang sedang cekcok dengan orang tuanya, lalu sok-sokan kabur, dan cuma bisa mematung di trotoar tanpa tahu harus ke mana. Toh, sekecewa apa pun Nawang pada Rendra yang notabenenya ayah dari Jizzy—yang sempat membuat Nawang dan Fisha terlibat kesalahpahaman, Jizzy tidak tahu apa-apa. Jadi nggak sepantasnya Nawang melimpahkan amarahnya ke anak itu.


"Ya udah, iya," pasrah Raga.


Setelahnya, mereka berderap menuju meja makan.


Nawang mengambilkan nasi goreng ke piring Jaya dan Jizzy. Membiarkan dua bocah SD itu mengisi perut sambil sesekali saling melempar canda. Disaksikan Raga yang tampak tidak senang, bergegas Nawang menegurnya. "Kalau ada masalah sama orang tuanya, anaknya jangan dimusuhi."


"Apa sih!" ketus Raga.


Raga menoleh, menatap istrinya dengan serius. "Biar imbas. Kemaren magrib, aku biarin kamu pergi sendirian. Jadi malemnya aku pilih tidur di mobil. Biar sama-sama pegel. Abis ini kita bisa pijit-pijitan."


"Mas, aku serius!" cebik Nawang.


"Aku juga serius, Sayang!" tandas Raga, lalu tangannya terulur mengusap puncak kepala sang istri. "Udah ah, nggak usah dibahas. Aku capek berantem sama kamu."


"Ya udah, kamu mandi gih! Abis ini anterin Jaya sama Jizzy."


Raga mengerling jail, bibirnya menghampiri telinga Nawang. "Mandi bareng yuk!"


Nawang melotot.


Memancing decakkan Raga. "Durhaka nolak ajakkan suami!"


"Aku itung sampe tiga, kalau kamu—"


"Fine!" Raga bangkit, tapi sebelum enyah, ia sempatkan diri untuk mencuri ciuman singkat di bibir Nawang. Untung Jaya dan Jizzy asyik bercengkerama, jadi nggak lihat. Sementara itu, Nawang bersiap melempari suaminya dengan perkedel tahu. Bergegas Raga kabur sambil melantunkan lagu dan mengangkat kedua tangan. "Aaj ke ladke I tell you, kitne lallu what you do. Koi mujhe pooche how are you, koi mujhe bole how do you do. Kabhi koi mujshe na kahe, oh my darling I love you."


Jaya tertawa melihat kekonyolan ayahnya.


Anomali dengan Nawang yang menyerukan astagfirullah dalam hati.


"Papanya Jaya BTS lucu banget," kata Jizzy. "Nggak kayak papi Jizzy."


"Emang papinya Jizzy nggak pernah nyanyi india kayak ayah Jaya?"


Jizzy menggeleng lesu.


Di tempatnya, Nawang mengesah panjang—menahan malu. Bisa-bisanya Jaya tanya begitu ke Jizzy. Jelas Rendra alias mantan bosnya nggak mungkin segila Raga.


"Nanti Jaya bilang Ayah ya, biar papinya Jizzy diajak nyanyi india," hibur Jaya.


Berhasil menyurutkan sendu di wajah Jizzy. Mata bulatnya berbinar ceria. "Are you seriously?"


Jarang bicara dengan bahasa asing membuat Jaya mengernyit tidak mengerti, lalu menoleh ke sang ibu. Seakan paham, Nawang pun menjelaskan, "Kata Jizzy, Jaya serius?"


"Serius itu apa?"


"Nggak bohong."


Jaya manggut-manggut. "Oh. Iya, Jaya nggak bohong."


"Thank you, Jaya BTS," ucap Jizzy.


Bukannya menjawab, Jaya malah mengeluh, "Jizzy ngomongnya kayak Kak Cya. Jaya nggak ngerti."


"Jaya Sentosa!" Seruan dari luar, menyita seluruh perhatian. Reon muncul dengan wajah tengil seperti biasa, bebarengan dengan Raga yang baru kelar mandi.


"Gue santet lu, Yon! Panggil anak gue yang bener!" sewot Raga.


Reon mencebik. "Si Ayah sensian amat."


"Om Reon, mau antar Jaya ke sekolah?" tebak Jaya.


Dibenarkan Reon melalui anggukkan mantap. "Iya dong."


"Yeay!" Jaya bersorak riang, menerbitkan senyum di wajah kedua orang tuanya. "Tapi sama Jizzy juga ya, Om?"


Melarikan pandangan ke sosok mungil yang duduk di samping Jaya, yang kini menatapnya ragu-ragu, Reon seakan tersentuh sesuatu. "Boleh." Ia anggukkan kepalanya lagi, lalu berpaling ke sang adik. "Ayahku sayang, hari ini Om Reon Halilintar free. Boleh nggak Gananjaya-nya dipinjem seharian?"


"Mau lo ajak ke mana?"


"Healing lah, biar nggak pusing."


"Oke." Raga tentu mengizinkan karena rencananya hari ini dia tidak ke kantor, biar bisa berduaan sama istrinya. Sekalian mengawasi Novi; apa benar perempuan itu tidak punya tujuan selain mencari nafkah?


Dan seolah mendapat harta karun, Reon tersenyum semringah. "Asyik!" Beralih ke Jaya, "Oi, Jaya Sentosa! Ntar pulang sekolah jalan-jalan sama Om Reon ya? Sekalian ajakkin pacar pertama lo. Siapa tuh? Lili Blackpink?"


"Oke, bos!" Jaya mengacungkan ibu jari, "Jizzy Chibi boleh ikut nggak?"


"Boleh dong!"


"Yeay!" Jaya bersorak lagi, kemudian teringat istri dari pamannya. "Tante Gitta nggak diajak, Om?"


"Nggak."


"Kenapa, Om?"


Reon mengesah, kepalanya menggeleng.


Disela Raga. "Lo lagi ada masalah, Bang?"


"Gitta bohongi gue, Ga," ungkap Reon, getir. Sirat kecewa berpendar jelas di kedua matanya. "Sebelum sama gue, dia pernah nikah, bahkan punya anak. Dan kemaren gue ketemu mantan suaminya. Rendra."


---------


Sampai sini paham?