
Selesai mandi, Raga langsung turun menuju meja makan, beranjak duduk di samping Nawang, sementara istrinya itu segera mengambilkan nasi serta lauk pauk untuknya. Raga memperhatikan Nawang dalam diam. Benar kata Ronald; bagaimana bisa ia lebih memilih Nawang yang dulu ia anggap cengeng sampai ia beri nama panggilan Jelek, yang kerap mengadu ke Kakek karena terus-terusan ia jaili, dan yang sering menangis karena ia takut-takuti badut—well, Nawang memang fobia badut.
Tapi terlepas itu semua, yang Raga tahu, ia merasa cocok dengan wanita ini karena cuma dia satu-satunya sandaran ketika ia lelah. Wanita ini pula yang mengajarkannya salat dan tak pernah absen mengingatkannya untuk mengingat Allah di setiap langkah-langkahnya. Raga seperti menemukan alasan; mengapa ia harus hidup lebih lama. Sebab dunia yang konon fana, menyimpan jutaan rahasia indah. Yang hanya orang-orang bersyukur saja yang bisa merasakannya.
Tiba-tiba lamunannya buyar ketika Nawang menoyor pipinya. "Dimakan, Mas. Jangan ngelihatin aku terus."
"Abisnya kamu makin hari makin kurang ajar sih," balas Raga yang membuat Nawang kontan berjengit. Raga tertawa. "Kurang ajar cantiknya."
"Gombal!"
"Aku dibiarin makan sendiri nih?" Raga mengernyit.
"Ya terus?"
Raga berdecak. "Suapin kek, biar romantis. Mumpung nggak ada si Kakak."
"Dasar bayi gede!" Meski mengomel, tapi tangannya tetap mengindahkan. "Nggak malu kamu ya kalau nanti dilihat Iin atau Hana?"
"Nggak. Kalau mereka komen, aku pecat."
"Sombong! Nggak inget dulu pernah susah," cibir Nawang yang malah bikin Raga tertawa terbahak-bahak. "Nggak usah ketawa! Buruan buka mulut!" titahnya, galak.
"Iya, Bunda Tiri!" Raga membuka mulut dan menerima suapan sang istri.
"Oh iya, tadi katanya kamu mau cerita soal Mbak Gitta sama Pak Rendra. Kenapa sama mereka?" singgung Nawang.
"Nanti, nunggu ini habis."
"Makan sendiri ah, Mas." Nawang menggeser piring tersebut.
Walau agak kecewa, akhirnya Raga makan sendiri. Dan selama pria itu menghabiskan makan malamnya, Nawang menyempatkan diri membuka aplikasi WhatsApp. Takutnya ada pesan dari Ronald terkait putranya. Entah tiba-tiba minta pulang atau rewel di sana. Tapi yang ia jumpai justru senyum bahagia Jaya yang berpose lucu dengan sang sepupu; Shaqueen. Mereka tengah menghabiskan waktu di Transmart Jakarta.
Windi lah yang mengunggahnya ke story WhatsApp.
Diberi caption; Shaqueen vs Gananjaya.
Lalu beralih ke story Ronald. Abang iparnya itu mengunggah foto mereka berempat; dia, istri, kedua anak perempuannya, dan Jaya. Juga dibubuhi caption; abis nyulik anaknya si Ayah, semoga dia nggak minta tebusan.
Nawang geleng-geleng, bibirnya tersenyum geli. Abang dari suaminya selalu baik dan perhatian dengan anaknya. Setiap satu bulan sekali, Jaya selalu diajak liburan—entah di dalam maupun luar negeri. Ronald dan istrinya memang seroyal itu, makanya Jaya betah kalau main ke rumah paman dan tantenya itu, kecuali pas tiba-tiba nggak enak badan.
Membalas story Windi, Nawang menuliskan sebaris kalimat.
Saya:
Makasih Mama Indi udah ajak Jaya jalan-jalan
Sehat selalu dan lancar terus rezekinya
^^^Mbak Windi:^^^
^^^Sama-sama Naw^^^
^^^Aku udah gak bisa hamil^^^
^^^Jadi Jaya tuh kayak bonus anak laki-laki^^^
Tapi kadang sisi lain dari dirinya suka berburuk sangka. Andai dulu Jaya terlahir sebagai perempuan, apa dia tetap mendapat perlakuan seperti ini?
"Masih lama nggak main hapenya?" tegur Raga, menyita perhatian Nawang.
"Apa?"
"Aku udah selese."
Nawang meletakkan ponselnya di meja.
Raga membersihkan sisa makanan dengan serbet, lalu menjatuhkan tatapan serius ke sang istri. "Kamu 'kan deket tuh sama Mbak Gitta. Dia ada pernah cerita tentang masa lalunya nggak?"
"Enggak." Nawang menggeleng.
"Yakin?"
Kali ini Nawang mengangguk. "Yakin lah, Mas. Emang kenapa sih? Mbak Gitta sama Mas Reon lagi berantem?"
"Enggak."
"Terus?" cecar Nawang, sorot penasaran tersirat jelas di sepasang matanya.
Dan Raga tidak langsung menjawab. Ditariknya napas dalam-dalam, lalu ia buang perlahan. "Aku belom bisa mastiin ini bener atau nggak, karena Mbak Windi sama Mbak Nadya juga masih sangsi," ujarnya. "Cuma katanya; sebelum nikah sama Bang Reon, Mbak Gitta pernah nikah sama pengusaha. Tapi nggak tahu siapa."
Nawang terkejut. "Masa sih, Mas? Kok, dia nggak pernah cerita ya?"
"Makanya itu. Bang Reon aja nggak tahu."
"Loh, terus Mas tahu dari siapa?" Nawang jadi bingung.
"Mbak Windi. Tadi pas aku main ke kantornya Bang Ronald, ada Mbak Windi di sana. Terus cerita deh," terang Raga. "Dan alasan Mama nggak suka sama Mbak Gitta tuh bukan karena Mbak Gitta belum hamil, tapi soal rahasia yang dia tutupi ini."
Pernyataan terakhir membuat hati Nawang tersengat pilu. Jika ibu mertuanya memiliki alasan logis untuk marah pada menantunya yang lain, lantas untuk alasan apa wanita itu tidak menyukainya? Kalau benar soal kasta, harusnya dari awal. Toh, dulu Renata tidak pernah mempermasalahkan soal kedekatan Nawang dengan Raga. Malah wanita itu pernah murka lantaran Nawang membiarkan Raga dekat dengan gadis lain sewaktu SMA.
Membuang napas, obrolan mereka terinterupsi oleh mual yang menyerbu Nawang tanpa komando. Bergegas wanita itu bangkit, bergerak menuju kamar mandi, diikuti Raga seraya mengingatkan. "Sayang, jangan lari-lari!"
***
Baru juga pulang, gadis berseragam putih abu-abu yang menghiasi matanya dengan tesmak itu sudah ditodong pertanyaan oleh majikannya. "Nawang, Raga mana?"
"Oh, tadi nganter Kak Reyna dulu, Bu."
"Reyna yang kemaren dateng ke sini?" Alarm bahaya mulai terpancar di wajah Renata.
Nawang mengangguk, rasa takut menghampiri kalbu. "I-iya, Bu."
"Saya 'kan udah bilang; awasi dia dan jangan sampai dekat dengan sembarang perempuan! Saya lebih percaya Raga sama kamu!" Renata murka, atensinya disulihkan ke sembarang arah. "Pa, sini bentar!"
"Ada apa sih, Ma? Orang kok hobi banget teriak-teriak," sahut Sammy yang tiba-tiba muncul dengan koran di tangan.
"Pa, telepon Raga sekarang!" titah Renata.
Alih-alih mengindahkan, Sammy justru berdecak. "Ngapain ditelepon? Anak itu nggak bakal ilang, Ma. Ntar kalau laper atau uangnya habis, pasti pulang sendiri. Udah, Mama tenang aja."
"Ini bukan masalah laper atau uangnya kurang, Pa!" sanggah Renata, "Nawang bilang Raga main sama si Reyna Reyna itu. Yang kemaren dateng ke sini buat cari muka."
"Astagfirullah, Mama! Reyna sama Raga cuma temenan."
"Pa, Mama tahu kalau si Reyna Reyna itu suka sama Raga!" Renata makin ngegas, lalu fokusnya dilempar ke Nawang yang seketika menundukkan kepala. Bibirnya digigit dengan raut gelisah. "Sekarang kamu ganti baju, terus samperin Raga. Nanti biar diantar Mang Ujang. Dan bilang sama si Reyna Reyna itu kalau kamu pacarnya Raga."
Kalimat terakhir Renata membuat Nawang praktis mengangkat wajah.
"Cepat!"
Kalau nyonya besar sudah ngamuk begini, nggak ada yang bisa para pelayan lakukan selain menurut. Maka dengan tekad yang kuat, Nawang memberanikan diri untuk mengindahkan. Ia susul Raga setelah bertanya melalui BBM. Dan cowok itu bilang lagi nongkrong di Kafe Tenda Semanggi yang terletak di SCBD. Bergegas Nawang meluncur ke sana dan alih-alih menemukan Raga tengah haha-hihi dengan teman satu gengnya, cowok itu justru sendirian di sana.
Nawang mendekat. "Aku kirain Kakak sama temen-temen Kakak."
"Duduk!" perintah Raga, diindahkan Nawang. "Mau pesen apa?"
"Nggak usah, Kak. Makasih. Aku ke sini—" Kalimat Nwang teredam oleh tindakan Raga yang tahu-tahu memesankan minuman untuknya. Nawang mengesah. "Kak, aku ke sini karena disuruh mama Kakak."
"Lo ngadu ya kalau gue nganterin Reyna?" sembur Raga.
"Emang iya, 'kan?" balik Nawang.
"Iya, tapi itu yang lo lihat. Karena tadi gue turunin dia di jalan. Ogah banget boncengin cewek gatel!" kata Raga, "Tapi gue udah nebak sih, pasti lo jujur ke Mama, terus Mama marah, dan ujung-ujungnya nyuruh lo nyusulin gue."
Nawang diam, entah harus merasa kagum karena cowok di depannya bisa cosplay jadi cenayang atau justru merasa bersalah sebelum Raga melanjutkan, "Padahal gue sengaja jebak lo biar gue bisa ngomong sesuatu. Berdua."
"Ngomong apa, Kak?"
"Jadi pacar gue ya?"
***
Ingatan itu kembali menyapa. Nawang meringis mengenangnya. Tadi setelah drama mual, ia kemudian rebahan di kamar karena suaminya yang over protektif itu melarangnya melakukan aktivitas lagi.
"Mas," panggil Nawang.
Raga yang duduk bersandar di kepala ranjang sambil memainkan ponsel menoleh. "Kenapa, Sayang?"
"Ini udah malem loh. Kamu nggak jemput Jaya?"
"Tadi Bang Ronald bilang; Jaya udah tidur. Kecapekan. Jadi, biarin dulu dia nginep semalem di rumah Bang Ronald," kata Raga, membuat Nawang makin nggak tenang.
Memang sih Ronald dan istrinya selalu baik pada anaknya. Tapi sebagai ibu, Nawang tetap mengkhawatirkan anaknya. "Udah pules banget emang ya? Aku jadi nggak bisa tidur kalau Jaya nggak di sini, Mas."
"Sayang, Jaya nggak ilang. Dia cuma nginep semalem di rumah abangku." Raga menenangkan istrinya. "Udah, nggak usah terlalu dipikirin. Anak kita baik-baik aja, oke? Lagian, masih ada si adek. Sekarang waktunya kita tidur bertiga."
"Mas—"
"Naw, udah dong!" Raga merebahkan tubuh, lalu mematikan lampu tidur dan menyelimuti tubuhnya dan sang istri sebatas dada, sementara tangannya mulai usil di balik selimut. "Tipis-tipis ya," bisiknya.
"Singkirin nggak tangannya!" titah Nawang, galak.
"Ya ampun, timbang pisah sama anaknya bentar," cebik Raga. "Lagian, kalau ada si Kakak, aku nggak bisa gini."
"Bodo amat!" tukas Nawang, memunggungi Raga.
Yang dipunggungi meratap. "Kak, tahu gitu Ayah nggak ngasih izin tadi. Lihat nih, sekarang Ayah dipunggungi Bunda!"
...----...
...Nulis cerita ini tuh kayak lagi nunjukkin betapa harmonisnya sebuah keluarga meski di dalamnya selalu ada konflik-konflik kecil sebagai penyempurna, jadi aku nggak terlalu banyak mikir. Karena konflik utamanya udah dipecah satu per satu dan bakal diungkap dengan santuy 🥰🥰...
...BTW gimana chapter ini?...
...Komen laaaa ~...