
Halooo, maap lama.
Btw 5 chapter lagi kelar ya.
Happy reading!
--------
"Ngapain kamu ke sini?" ketus Nawang, memalingkan muka, memancing desauan lepas dari bibir Raga. Lalu kakinya diayun memasuki kamar, duduk di samping Nawang, ia peluk istrinya itu dari sisi. "Kamu udah ngusir aku, 'kan?" Suaranya bergetar.
"Aku nggak bermaksud kayak gitu, Sayang." Raga topangkan dagunya ke puncak kepala Nawang. "Tadi aku lagi emosi. Dan kamu malah berpihak ke Novi. Kamu tahu 'kan Novi itu—"
"Novi cuma istrinya Pak Kholis, Mas!' tandas Nawang.
"Kita nggak pernah tahu apa maksud dan tujuan orang lain," tegas Raga, kelopak matanya terpejam sejenak. "It's okay bersikap baik, tapi tetap ada batasannya." Jeda, napasnya dihela. Terdengar berat seolah ada beban yang menghambat. "Aku menghargai kamu yang selalu bersikap dan berpikir positif ke orang lain, tapi kadang kebaikanmu yang terlalu itu bikin aku khawatir." Menghela dekapan, ia turunkan pandangan, menyorot sendu figur sang istri yang juga menatapnya.
"Mas, aku ngerasa kalau akhir-akhir ini kamu terlalu berlebihan. Bahkan tadi kamu sampe nepis teh dari Novi, padahal maksud dia baik," cicit Nawang, kecewa. "Aku tahu kamu sayang sama aku. Pun sebaliknya. Aku lebih sayang sama kamu, Mas. Tapi ngelihat orang yang aku sayang berubah kayak gini, aku—" Air matanya menetes, lalu kelopaknya tertutup. Menggeleng pelan, netranya dibuka lagi. Ia tatap suaminya. "Aku kecewa sama kamu, Mas! Khawatir boleh, nggak ada salahnya. Tapi harus ada batasannya juga."
"Terserah kalau kamu kecewa sama aku. Nggak selamanya kita sependapat seia sekata dengan orang yang kita sayang. Tapi aku mohon, pulang. Anak kita nunggu di rumah," mohon Raga, menciptakan kerutan di dahi Nawang. Jaya di rumah? Padahal tadi ia meminta Reon untuk membawa Jaya ke rumah orang tuanya, tapi alih-alih Jaya yang datang, justru Raga.
"Tapi tadi aku minta Mas Reon untuk bawa Jaya ke sini."
"Bang Reon paham, makanya dia konfirmasi dulu ke aku." Meski menjengkelkan, tapi Raga beruntung memiliki abang yang super peka seperti Reon. "Oh ya, tadi Jaya cerita ke aku—" Sambil menghapus air mata sang istri dengan tangannya sendiri, Raga mengalihkan topik. "Pas dia diajak Bang Reon jemput Mbak Gitta, katanya ada Om temennya Bunda. Terus Om Reon marah dan turunin Tante Gitta di jalan."
Lupa akan persoalan rumah tangganya, kening Nawang berkerut bingung. Lantas ia ulang, "Om temennya Bunda?" Raga mengangguk membenarkan. "Siapa?"
"Nggak tahu." Raga mengedikkan bahu santai. "Tapi setahu aku, temen laki-laki yang sering gangguin kamu ya si Rendra Rendra itu."
Kerutan di kening Nawang kian dalam. "Apa hubungannya sama Pak Rendra?"
"Ya aku nggak tahu. Itu 'kan cuma tebakanku aja." Raga mendadak sewot.
"Jadi, kamu ke sini buat apa?" sengit Nawang, berubah jutek. Ia tatap suaminya sebal. Memicu decakkan Raga. "Kalau untuk bahas Pak Rendra, mending kamu ngomong sama tembok!"
"Aku mau jemput kamu, oke? Yuk, mana koper kamu?"
"Kan kamu udah ngusir aku."
"Nawang Wulan," Raga melafalkan nama lengkap sang istri. Ia tusuk wanita itu dengan sorot tajam. "Jangan bikin suasana tambah keruh. Aku udah minta maaf dan jelasin semuanya ke kamu. Tolong dong, ngertiin aku."
"Kamu pikir diusir sama suami sendiri nggak nyakitin?" hardik Nawang. "Waktu aku ninggalin rumah tadi, aku juga ngerasa berat, Mas. Nggak seharusnya aku pergi saat ada masalah. Tapi, suamiku sendiri yang ngusir aku."
"Nawang, aku tadi lagi emosi."
"Apa harus dengan cara ngusir istri yang lagi hamil?" balik Nawang, telak.
"Fine, aku salah!" aku Raga, "Tapi please, lunakkin hati kamu dan sekarang kita pulang, oke? Nggak enak sama Ibu, Bapak, dan Nayla," bujuknya, meraih lengan Nawang, ditepis wanita itu. "Nawang ...."
"Kalau kamu bentak aku pas lagi marah—kayak biasanya, aku bisa terima. Dan mungkin besok bisa langsung balik normal kayak sebelum-sebelumnya. Tapi hari ini kamu keterlaluan, Mas! Kamu ngusir aku!" sembur Nawang, meluapkan sesak yang ditimbulkan oleh emosi. "Magrib-magrib kamu biarin aku keluar rumah sendirian."
"Naw—"
"Aku mau istirahat. Pintu keluar ada di sana." Nawang mengedikkan dagu ke arah pintu. Raga hendak protes, tapi wanita yang sebentar lagi akan dikaruniai anak ke-2 itu memilih beranjak tidur, mengabaikan keberadaan Raga.
Sementara yang diabaikan memilih pamit pada sang mertua. Namun, ia tidak benar-benar pulang, melainkan bermalam di mobil. Meninggalkan si sulung yang entah tidur nyenyak atau tidak dan menunggu si bungsu serta istrinya yang ada di dalam sana, tanpa bisa ia jangkau.
***
"Mobilnya Raga ada di halaman. Kayaknya dia nggak pulang, Nduk," kata Nia, menginformasikan keesokkan paginya. Nawang mengernyit lalu berderap menuju jendela, ia sibak gordennya, dan benar; mobil suaminya ada di halaman. "Kamu ajak sarapan sekalian, abis itu kalian pulang."
"Nggak kayak gitu, Nduk," sanggah Nia.
"Naw, kamu ini seorang ibu. Kalau ada masalah sama suamimu, selesaikan!" tegas Ruslan yang sedari semalam menahan diri untuk tidak menegur putrinya. Mata pria paruh baya itu mengarah tajam ke si sulung. "Bapak nggak membenarkan apa yang dilakukan Raga, tapi, sekecewa apa pun kamu sama Raga, ada Jaya yang butuh kamu."
Ayahnya benar. Nawang meneguk ludah dengan susah payah.
"Temui Raga, bicarakan lagi."
Ruslan tipe bapak yang nggak pernah marah. Pria itu termasuk ayah yang selalu mendukung setiap keputusan anak-anaknya. Bagi pria dua anak itu, nasihat dan saran adalah pelengkap. Yang berhak memilih dan memutuskan tetap anak-anaknya, sebab mereka lah yang nantinya akan menjalani.
Seperti saat Raga datang untuk meminang Nawang menjadi istrinya, Ruslan sempat tidak yakin lantaran Raga masih belum punya pekerjaan tetap. Ditambah anak majikannya itu senang foya-foya. Tentu jadi pertimbangan bagi seorang ayah ketika ada laki-laki yang berniat mengambil alih tanggung jawab anak perempuannya. Tapi melihat putrinya yang selalu tampak bahagia, rasa-rasanya Ruslan tidak tega jika harus menuruti kepalanya. Maka dengan segala kebijakan yang telah ia pikirkan, ia berikan Nawang pada Raga dengan satu pesan; jaga anak Bapak. Kalau kamu bosan, kembalikan. Jangan tinggalkan anak yang Bapak cintai sedari ia belum tahu bagaimana kejamnya dunia.
"Nawang?" Suara Ruslan menyadarkan.
Nawang segera memacu langkah menghampiri Raga. Ia ketuk kaca mobil dan perlahan kaca turun. Menampilkan wajah letih suaminya. "Pamit dulu sama Bapak sama Ibu, sekalian aku ambil koperku. Kita pulang. Kita bicarain di rumah."
Bak gayung bersambut, Raga turun dari mobil. Ia giring istrinya masuk, ia bantu wanita itu mengambil koper, lalu ia seret keluar. Menemui sang mertua, ia mohon undur diri. Dan selama perjalanan pulang, Raga mencoba mencairkan suasana dengan pertanyaan basa-basi, kadang banyolan garingnya. Tapi, Nawang memilih diam seribu bahasa.
Memancing desauan lepas dari bibir Raga. Tangannya terulur mengusap perut Nawang. "Dek, bilangin Bunda dong; ngambeknya udahan. Ayah tu nggak bisa diginiin."
"Minggirin nggak tangannya!" titah Nawang, galak.
Seraya berdecak, Raga menarik tangannya dari perut sang istri. "Ya udah, nggak apa-apa kalau kamu masih marah. Yang penting jangan pergi-pergi lagi."
"Orang kamu yang ngusir aku!" timpal Nawang.
"Sebagai permintaan maaf, kamu boleh minta apa aja deh."
"Minta apa?" Nawang pura-pura jutek, padahal negosiasi ini adalah kesempatan paling bagus untuk dia menjaili seorang Nuraga Cakrawala.
"Ya terserah."
"Terserah itu kalau dalam kamus cewek berarti nggak boleh."
Menoleh sekilas, Raga mencebik. "Kan aku laki-laki, ganteng lagi. Kalau terserah ya berarti suka-suka kamu. Lagian, apa sih yang enggak buat istriku?" Ia colek dagu Nawang, membuat wanitanya kontan salah tingkah. "Jadi, kamu pengin apa? Nambah anak setelah si dedek lahir? Aku sih ayok, kalau kamu maksa."
"Dih, aku nggak bilang gitu ya!" Nawang memutar mata.
"Bilang juga nggak apa-apa." Berpaling sekilas, Raga kedipkan sebelah mata.
Nawang mendengkus. Yang paling ia benci seusai bertengkar adalah lelucon Raga. Karena cara itu lah yang selalu bisa meredakan amarah seorang Nawang Wulan. "Ganjen!"
"Emang salah?" Raga menaikkan sebelah alis, "Kan ganjennya sama istri sendiri. Orang aku ngehamilin kamu aja boleh, masa timbang ganjen doang dilarang?"
"Nggak usah bercanda! Lagi nggak mood!" Nawang memalingkan fokusnya ke arah kaca, seolah pemandangan luar lebih menarik daripada suaminya. Meski dadanya kini dinaungi debaran hebat yang ia kenali adalah rasa bahagia. Padahal semalam mereka nyaris saling melepas, tapi pagi ini takdir berkata sebaliknya. Mungkin benar; sebaik-baiknya pilihan manusia, tetap lebih baik skenario-Nya.
Membuang napas tak kentara, mata Nawang jatuh pada sosok kecil yang duduk di trotoar. Anak itu mengenakan seragam TK Cendekia. "Mas, Mas, berhenti."
"Kenapa?"
"Itu ... Jizzy temennya Jaya, 'kan? Anaknya Pak Rendra."
-----
Next nggak?