5th Anniversary

5th Anniversary
Fakta yang Belum Jelas



Menghadiri pesta ulang tahun Shaqueen—putri bungsu Ronald, Raga sekeluarga mengenakan outfit couple; sweatshirt bergambar foto mereka bertiga, dipadu celana panjang. Dan Nawang menambahkan jilbab berwarna biru, membuatnya semakin bersinar.


"Papa Onad, Mama Indi!" seru Jaya, menyita seluruh perhatian.


Ronald dan Windi tersenyum.


Jaya mendekat, lalu berkata, "Papa Onad, Jaya nggak bawa kado. Tadi kadonya diminta manusia silver."


"Bohong banget!" serobot Raga, "Ini apa yang dipegang Ayah?"


Menoleh ke belakang, Jaya melayangkan tatapan sebal. Padahal tadi mereka sudah sepakat untuk menjaili Shaqueen yang hari ini genap berusia lima tahun, tapi ayahnya itu malah buka kartu.


"Wih, kadonya gede banget. Pasti isinya kulkas deh," seloroh Ronald.


"Bunda, pulang," rengek Jaya, menghampiri ibunya.


"Gitu doang ngambek." Raga toyor pipi tembam si kecil. Segera Jaya menghapus jejak toyorannya. "Ya udah, iya, ulang. Papa Onad, Jaya nggak bawa kado, soalnya tadi diminta sama manusia silver."


Kompromi sang ayah tak mampu menenangkan dirinya yang telanjur kesal. Jaya beranjak naik ke pangkuan ibunya, bikin Raga ngilu sendiri karena perut Nawang tertekan oleh tubuh gempal si kecil. Bergegas pria itu mengambil alih Jaya ke gendongan. "Gendong Ayah aja, nanti adeknya nggak bisa napas."


"Adek siapa, Ga?" tanya Ronald.


Perhatian Raga teralih. "Oh iya, gue lupa bilang. Nawang hamil."


"Serius?" Windi ternganga tak percaya, ditegaskan Raga lewat anggukkan, sebelum fokus wanita itu berpindah ke Nawang yang duduk di kursi tamu. "Selamat ya, Naw."


"Makasih, Mbak."


"Siapa yang hamil?" sela Renata, membuat Nawang kontan disergap waswas. Alarm bahaya seakan berdenging di atas kepalanya. Namun, Raga tak menyadari itu. Ia justru dengan bangga mengatakan bahwa Nawang lah yang hamil. Dan ketika netra bening Renata jatuh padanya, Nawang kian diburu perasaan tak enak. Tapi di luar dugaan. "Pa, sini deh!" panggil Renata, menuntun langkah Sammy mendekat. "Nawang hamil."


Sama seperti yang lain, Sammy pun tak kalah kaget. Tapi selang beberapa detik, keterkejutan di wajah berganti rona bahagia. "Akhirnya cucu Papa nambah lagi. Selamat ya, Naw. Semoga dapet perempuan."


"Kalau Mama sih mau laki-laki atau perempuan, yang penting baby-nya sehat," timpal Renata.


Nawang seakan dibuat bingung dengan skenario yang dipilihkan untuknya. Sebenarnya Renata ini memegang tokoh antagonis atau protagonis? Saat tahu bahwa dirinya hamil, sang mertua tampak begitu bahagia. Bukan karena di depan anak dan suaminya, tetapi Nawang bisa melihat dengan jelas; kebahagiaan yang tersirat memang betul-betul nyata adanya. Tapi, kenapa wanita itu juga meminta Nawang agar menjauhi Raga?


Ada apa?


"Wah, ada yang mau jadi abang nih," beo Raja yang tiba-tiba muncul bersama istrinya. Nadya. Iris elang pria itu tertuju pada sang keponakan. "Abang Jaya atau Kak Jaya?"


"Cak aje, udeh," sela Reon yang juga datang bersama istrinya. Gitta.


"Ja, Cya mana? Nggak ikut?" tanya Renata.


"Enggak, Ma. Lagi bimbel," jawab Raja. "Belakangan ini nilainya tuh anjlok semua gara-gara keseringan nonton drakor, jadi lupa sama kewajiban."


"Yang kamu salahin jangan drakornya, Ja," tegur Sammy. "Tapi kamu dan Nadya harus sama-sama introspeksi diri. Papa tahu kalian sibuk, tapi ada Cya yang butuh perhatian kalian. Papa sih nggak masalah tiap Cya dateng ke rumah, cerita tentang banyak hal, dan melakukan apa pun yang dia suka di sana. Tapi dari penglihatan Papa, Papa tahu Cya rindu peran orang tua."


"Iya, Pa." Selalu itu jawaban yang diberikan Raja.


"Udah dong, Pa." Renata menenangkan suaminya, ia usap lengan Sammy dengan lembut. "Namanya anak dan menantu kita sibuk, ya, mau gimana? Raja banyak kerjaan di kantor, Nadya pasti kebanjiran job juga sebagai model. Kecuali kalau Jaya nggak keurus, itu Papa baru boleh marah."


Nah, kan!


Nawang memalingkan pandangan.


Selagi Renata melanjutkan, "Lagian, Raja sama Nadya kerja bukan buat diri sendiri. Ada Cya yang harus dinafkahi. Beda cerita sama Reon dan Gitta. Percuma mereka kerja keras kalau buat diri sendiri."


"Ma!" tegur Sammy.


"Emang iya kok." Renata memutar mata.


"Eh, yuk, diicipi!" Ronald segera mencairkan suasana. "Istri gue manggil chef profesional loh. Cobain deh. Pasti kalian ketagihan."


Omong-omong, chef profesional yang dimaksud Ronald itu ... Chef Wina alias adik kandung Windi—yang merupakan jebolan ajang pencarian bakat Master Chef Indonesia. Dan sekarang ini sedang mengembangkan bisnis di dunia kuliner, bahkan restorannya sudah tersebar di beberapa negara tetangga seperti Thailand, Singapura, Malasyia.


"Killa jelek!" ejek Jaya yang kini sudah lepas dari gendongan sang ayah. Bocah empat tahun itu menjulurkan lidah.


Shakilla—putri sulung Ronald yang beberapa bulan silam genap berusia tujuh tahun itu mendengkus. Dia paling malas sama yang namanya Gananjaya. Selain usil, Jaya juga suka halu. Contohnya minggu lalu; pas acara perkumpulan keluarga tiap satu bulan sekali, tu anak bilang ke sepupu-sepupunya; kalau dia bakal syuting film di Korea.


Padahal usut punya usut, skenario tersebut disusun oleh Reon.


"Besok aku mau ke Korea, jalan-jalan sama BTS," kata Jaya.


"Enggak dong." Jaya menanggapinya dengan kalem. "Tapi 'kan aku punya asisten. Jadi nanti asisten aku yang ngasih tahu. Eh, Kak Killa jangan ikut ya. Di Korea dingin. Nanti Kak Killa kedinginan."


"Tahu dari mana kalau di Korea dingin?"


"Di laptop Bunda dong. Kan yang syuting di sana pake jaket."


Kemudian Shakilla memilih pergi.


Jaya cekikikan di tempatnya.


Sementara itu, Nawang yang sedari tadi intens menyaksikan interaksi antara anak dan keponakannya cuma geleng-geleng. Jaya emang sejail itu. Karakter yang kadang bikin Nawang terhibur, tapi nggak jarang bikin kesel.


"Naw," panggil Raga, yang entah sejak kapan duduk di sebelahnya.


"Kenapa, Mas?" sahut Nawang.


"Kamu keberatan nggak kalau aku pecat Novi?"


Pertanyaan itu menimbulkan kerutan di dahi Nawang. Raga memang tipe ayah dan suami yang over protektif, makanya dia nggak pernah buka lowongan ART atau sopir di rumahnya. Dua mbak yang membantu memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah sekaligus sopir yang mengantar-jemput Jaya atau Nawang ketika dirinya sibuk di kantor, adalah karyawan di rumah orang tuanya—yang tentunya bisa dipercaya.


Dan baby sitter yang berkali-kali dikirim Renata, lalu berakhir dipecat oleh Raga karena kinerja mereka dianggap kurang profesional, adalah baby sitter yang diminta dari yayasan. Bukan bekas baby sitter Cya, Shakilla, atau cucu-cucu Renata yang lain.


"Tapi kenapa, Mas? Novi anaknya baik kok."


"Iya, aku tahu." Raga mengangguk paham, "Tapi aku nggak bisa percaya seratus persen. Apalagi dari riwayat keluarganya ada jejak yang nggak bisa aku toleransi." Kerutan di dahi Nawang kian dalam, sorot matanya seolah mempertanyakan maksud dari kalimat Raga. Bergegas pria itu mengungkapkan. "Kholis, ayahnya Novi. Dia yang bunuh Kakek."


"Apa?!"


***


"Kholis, ayahnya Novi. Dia yang bunuh Kakek."


"Bapak saya meninggal empat tahun yang lalu karena kecelakaan."


Ini tidak masuk akal. Nawang menggeleng samar—menepis berbagai asumsi yang bersahutan di kepala. Entah siapa yang benar dan salah paham. Tapi, ini benar-benar tidak masuk akal. Novi bilang ayahnya meninggal karena kecelakaan, sementara yang Nawang ingat, Sindu alias kakek Raga meninggal karena diduga adanya pembunuhan berencana. Dan jika dikaitkan antara kematian keduanya, di sana tidak ada korelasi apa pun.


Membuang napas panjang, mata Nawang tersulih ke si kecil yang ternyata sudah terlelap. Padahal tadi masih asyik mengoceh sambil ngedot. Nawang menggeleng lagi, lalu ia sematkan kecupan sayang di kening sang jagoan.


"Kakak doang nih yang dicium? Ayahnya enggak?" celetuk Raga yang tiba-tiba nongol bak jin botol. Pria itu bergabung dengan anak dan istrinya, duduk bersandar di kepala ranjang. "Mikirin apa sih? Dari tadi aku perhatiin ngelamun mulu."


"Mas yakin kalau ayahnya Novi ada kaitannya dengan kematian Kakek?" singgung Nawang.


Raga mengangguk. "Orang-orang suruhanku masih terus cari bukti dan semuanya mengarah ke Kholis."


"Tapi kemaren Novi cerita ke aku kalau ayahnya meninggal, empat tahun yang lalu karena kecelakaan. Dan dia merantau ke Jakarta untuk membantu perekonomian keluarganya," ujar Nawang, memaparkan apa yang dikisahkan Novi kemarin.


"Bohong dia."


"Maksud Mas?"


"Ayahnya masih hidup, Naw!" tandas Raga.


Bibir Nawang terbuka, diikuti gelengan tak percaya. "Tapi aku bisa lihat kalau dia nggak lagi bohong, Mas."


"Kan aku udah bilang; zaman sekarang banyak yang ngejual cerita sedihnya untuk mendapat simpati orang lain." Merebahkan tubuh dengan posisi menyamping, tangan Raga terulur—melewati anaknya yang terlelap di tengah, untuk kemudian ia sentuh pipi sang istri dan diusap dengan lembut. "Aku bersyukur punya istri sebaik kamu, tapi menjadi baik harus ada porsinya, Sayang. Karena terkadang kebaikan bisa dijadikan celah untuk menghancurkan."


"Aku tahu itu, Mas. Tapi aku juga bisa ngerasain mana yang tulus dan enggak," tegas Nawang. "Tapi aku paham kok kalau kamu khawatir. Cuma kita nggak bisa mecat Novi gitu aja. Kita tunggu dulu bukti-bukti selanjutnya, oke?"


"Besok aku suruh beberapa orang untuk jaga di sini ya?" putus Raga.


Nawang mengernyit. "Buat apa?"


"Jagain kamu dan anak-anak kita selama aku di kantor."


//


Wedeh, Bapak Raga emang paling the best 💕💕


Gimana gaes chapter ini?