
Eltristan lah yang menolong anaknya. Ayah dari Lili sekaligus sahabat baiknya itu langsung menyerbunya dengan kalimat pedas begitu mereka melipir ke kafe depan sekolah—tempat yang tadi ia kunjungi bersama sang istri.
"Gila ya kalian! Bisa-bisanya pacaran di kafe dan ninggalin anak sendiri di sekolah. Mending kalau ada baby sitter-nya Jaya yang kemaren. Terus untung aja tadi gue lihat. Kalau enggak, bakal nangis darah kalian sekarang." Kalimat Eltristan berhasil menyentil hati Nawang. Bukan tersinggung, tetapi ia sadar; rupanya keberadaan Novi memang dibutuhkan di sini.
"Gue nggak tahu kalau hari ini bakal pulang cepet. Biasanya sejam lagi," sahut Raga. Atensinya disulihkan ke sisi. Jaya duduk di pangkuan Nawang sambil memeluk erat tubuh wanita itu. Tangisnya sudah mereda sejak beberapa menit yang lalu. Hanya isakkan yang sesekali lepas dari bibirnya. "Tapi thanks ya, udah nolongin anak gue." Kembali menatap Eltristan, temannya itu mengangguk.
"Iya."
"Papa, mau jalan-jalan," rengek Lili yang duduk di samping ayahnya.
Eltristan menoleh. "Papa sibuk." Jawaban itu membuat wajah putrinya sontak tertekuk—tampak kecewa. "Buruan abisin es krimnya! Abis ini Papa antar ke rumah Nenek."
"Tapi Lili mau jalan-jalan sama Papa." Lili makin manyun. "Kemaren aja Jaya jalan-jalan sama papa-mamanya. Masa Lili enggak?"
"Oh, yang kemaren itu om dan tantenya Jaya, bukan mama-papanya Jaya," jelas Raga, menyita perhatian Lili sejenak, lalu bocah berusia empat tahun itu kembali menatap ayahnya.
"Papa, om sama tante Lili mana?" tanya Lili.
"Nggak ada," jawab Eltristan, ketus.
"Kenapa nggak ada? Jizzy, temen Lili, punya om sama tante," kata Lili, lugu.
"Kalau Papa bilang nggak ada, ya nggak ada!" tandas Eltristan, galak. Raga dan Nawang sampai geleng-geleng. Segalak-galaknya mereka ke Jaya, pantang untuk mereka berbicara dengan nada tinggi apalagi bersikap sinis seperti itu.
"Lili, mau jalan-jalan?" sela Raga, membuat Lili praktis berpaling menatap ayah dari temannya, lalu mengangguk. "Gimana kalau Lili ikut Jaya? Nanti pulangnya Om antar."
"Boleh, Pa?" tanya Lili, yang lagi-lagi menatap sang ayah.
"Nggak usah, Ga. Makasih," tolak Eltristan, halus. "Dia perlu istirahat."
"Ya elah, Tris," decak Raga.
"Dia baru sembuh. Kalau ntar sakit lagi, bakal ngerepotin gue!" lanjut Eltristan sebelum Raga melayangkan protes. "Mending lo senengin anak lo, biar nggak ketakutan." Setelahnya, pamit tanpa peduli rengekkan Lili.
Nawang mengiringi kepergian Eltristan dengan sorot tak habis pikir. "Mas." Ia panggil suaminya yang lantas menoleh, kemudian ia palingkan mata membalas tatapan sang suami. "Lili tuh sebenernya anak kandung Mas Tristan atau bukan sih? Kok, sikapnya ke Lili nggak mencerminkan ayah ke anaknya."
"Jadi, Lili itu anak kandungnya Bang Ringga," ungkap Raga.
Memicu kerutan di dahi Nawang. "Siapa tuh?"
"Abangnya Tristan." Helaan napas panjang lolos dari bibir Raga. "Lima yang tahun lalu, Bang Ringga ngehamili Diva, pacar Tristan." Nawang terperangah kaget. "Tapi Bang Ringga nggak mau tanggung jawab. Dan Tristan yang masih sayang sama Diva, akhirnya ngambil alih anak itu. Karena Lili sempet dibuang sama adeknya Diva."
"Kok, tega sih?"
Raga mengedikkan bahu. "Apa pun alasannya, Lili nggak pantes diperlakukan kayak gitu, karena dia nggak tahu apa-apa."
Nawang mengangguk setuju. "Iya, Mas. Padahal kalau diperhatiin, Lili tuh anaknya manis, baik, sopan, ceria. Nggak tega aku denger dia dibentak kayak tadi."
"Bunda, pulang," rengek Jaya.
"Sini, Ayah gendong!" Raga bangkit, lalu mengambil alih putranya sebelum Nawang ikut bangkit. Lantas, beranjak meninggalkan kafe. Tepat ketika melewati pintu utama kafe, mereka berpapasan dengan Citra yang menggandeng seorang anak perempuan.
Anak itu berseru ceria. "Jaya Sentosa!"
Ingin rasanya Raga memarahi anak itu. Dia paling nggak suka kalau anaknya dipanggil Jaya Sentosa, Jaya Abadi, atau Jaya Jaya yang lain, merusak makna yang telah ia sematkan dalam nama sang jagoan. Sementara itu, tatapan Citra dan Nawang bertemu.
Citra menurunkan pandangan. "Jizzy, kenal sama anaknya Tante Nawang?"
"Iya, itu Jaya, Mi!" Jizzy menunjuk Jaya yang memeluk leher ayahnya, enggan menggubris sekitar. "Jaya BTS." Di sekolah, Jaya terkenal dengan nama Jaya BTS gara-gara Reon pamannya yang selalu mengajaknya berhalu jadi member BTS, terus ngadain konser di Korea.
Selain Jaya Sentosa atau Jaya Abadi, Raga juga sebal dengan sebutan Jaya BTS, Jaya NCT, bahkan Jaya SM*SH. Sumpah demi apa pun, Raga ingin mengutuk orang-orang yang suka seenak jidat ganti nama anaknya. Mereka nggak tahu gimana susahnya Raga dulu yang hampir nggak bisa bikinin bubur merah, karena uang tabungannya hampir ludes untuk biaya persalinan. Lalu, akhirnya ia meminjam Ronald—abangnya.
"Kalian di sini juga?" Citra melempar senyum.
"Oke, Tante." Jizzy mengangguk, lalu melambaikan tangan. "Bye, Jaya BTS!"
"Namanya Gananjaya," koreksi Raga.
Perhatian Jizzy teralih ke Raga. "Tapi kalau di sekolah namanya ganti jadi Jaya BTS, Om."
Raga mendengkus.
Buru-buru Nawang menarik suaminya pergi setelah mengucap salam. "Ya udah sih, Mas. Namanya anak-anak. Kamu ni serius banget jadi orang. Atau ... kamu masih sebel sama Mbak Citra, tapi yang kamu musuhi anaknya?"
"Apaan sih!" sungut Raga, "Ya enggak lah, Bun. Tapi anaknya si Citra itu emang ngeselin! Bisa-bisanya di depan kita, dia panggil Jaya BTS. Ngerusak arti nama aja."
"Kalau kamu lupa, anakmu sendiri loh yang sering nyebut namanya Jaya BTS. Wajar 'kan kalau temennya ikut-ikutan." Nawang usap punggung kokoh suaminya—menenangkan. "Udah dong. Mau punya anak lagi kok marah-marah."
"Nggak marah-marah, Bun. Tapi ... arghh! Tahu, ah. Pokoknya aku nggak suka ya, anakku dipanggil Jaya BTS!" tegas Raga, dongkol. "Ntar kalau si adek lahir mau dikasih embel-embel juga? Blackpink, SNSD, atau Cibi Cibi?"
***
Meeting hari ini berjalan dengan lancar. Raga segera pulang setelah mendapat pesan dari Nawang. Istrinya itu minta dibelikan bakso depan gang. Rupanya nyidam lagi. Seperti biasa, Raga tidak hanya membeli untuk sang istri, tetapi para karyawan di rumahnya juga. Dan setibanya di rumah, ia dibuat kaget oleh keberadaan sang ibu. "Ma?"
"Kalau kamu dan Nawang nggak bisa jagain Jaya, kasih Jaya ke Mama!"
"Apa maksud Mama ngomong gitu?" Raga tentu tidak terima dengan perkataan ibunya barusan. Dianggap tidak becus jelas menyakiti hatinya, walau ucapan ibunya ada benarnya juga. Tapi Raga tetap tidak akan menyerahkan putranya pada siapapun.
Renata menyodorkan ponsel—menunjukkan video berdurasi tiga puluh detik yang terjadi beberapa jam yang lalu. Saat Jaya hampir ditabrak truk, tapi untungnya ada Eltristan yang sigap menyelamatkan. "Nggak tahu siapa yang ngirim, tapi ini bukti kalau kalian mulai nggak sayang sama Jaya."
"Ma!" hardik Raga.
Tersentak, hingga tersurut ke belakang beberapa tindak, Renata menggeleng tak percaya. "Kamu bentak Mama?"
"Kalau Mama nggak keterlaluan, aku nggak akan bersikap kayak gini ke Mama!" balas Raga, yang membuat Renata langsung melayangkan tatapan tidak suka ke arah Nawang. "Mulai sekarang, stop ikut campur urusan rumah tanggaku, Ma! Biarin kami hidup mandiri dan menyelesaikan semua masalah sendiri."
"Kamu racuni apa anak saya?" tuduh Renata.
"Nawang nggak pernah ngeracunin aku! Tapi Mama yang terlalu ikut campur sama urusan rumah tanggaku!" tandas Raga, "Cukup Bang Raja aja yang rumah tangganya Mama atur-atur. Aku nggak suka diperlakuin kayak Bang Raja."
"Mama nggak pernah ngatur-ngatur abangmu!" sanggah Renata, "Tapi emang dibanding Nawang, Nadya itu lebih pintar dan paham tentang perannya."
"Oh ya?" Raga menaikkan satu alis, bibirnya menyeringai masam. "Mama lupa ya, waktu Cya ngambek nggak mau sekolah?" Renata mendengkus tak kentara. "Dan Mama tahu 'kan apa alasannya? Terus, siapa yang bujuk dan antar dia ke sekolah? Oh, nggak cuma itu. Sebelum-sebelumnya, aku juga pernah beberapa kali mewakili rapat di sekolah Cya. Bahkan Nawang pun pernah belain-belain libur, biar bisa nemenin Cya di acara Dies Natalies."
Raga tidak bermaksud menyakiti ibunya dengan mengungkit apa yang pernah ia lakukan untuk sang keponakan. Tetapi, dia melakukan semua ini karena sudah tidak sanggup mendengar setiap celaan yang ibunya lontarkan untuk sang istri. Dia juga lelah dianggap paling buruk diantara abang-abangnya karena menolak bekerja di perusahaan kakeknya. Padahal Raga begini karena tidak ingin merepotkan orang tuanya lagi. Dia merasa sudah dewasa, sudah tahu apa tujuan, tugas, dan tanggung jawabnya.
"Mama kecewa sama kamu!" tukas Renata, kemudian enyah.
"Mas," gumam Nawang, menghampiri suaminya. Akan tetapi, gerak tangan Raga yang memintanya untuk berhenti, membuat langkahnya refleks terjeda. Ia tatap suaminya itu dengan sorot ada apa.
"Jaya lagi apa?"
"Di kamar. Masih tidur."
Raga membawa langkahnya menuju kamar sang jagoan. Biasanya jika sedang kalut begini, hatinya akan membaik setelah memeluk anak sulungnya. Sebab Gananjaya adalah pelipur di kala moodnya sedang hancur. Itulah kenapa ia selalu bilang ke anaknya; apa pun yang terjadi, Gananjaya harus sama Ayah.
...------------...
...Tinggal 9 chapter lagi loh....
...Siap menuju ending?...
...Komen laaaa 😭😭...