5th Anniversary

5th Anniversary
Kok, Mas?



Biasanya jika sedang kalut begini, Raga akan mendekati anaknya, lalu ia peluk dan ciumi anak itu. Seperti sekarang. Pria itu beranjak naik ke kasur, berbaring di dekat anaknya, ia peluk dan cium si sulung. Dan tindakannya itu berhasil mengusik tidur sang jagoan. Jaya membuka mata secara perlahan, kemudian mengerjap beberapa kali. Raga tersenyum. "Kebangun gara-gara Ayah, ya?"


"He-em." Jaya mengangguk.


"Maaf ya, Ayah cuma pengin peluk Gananjaya." Raga peluk anaknya lagi.


"Laper," keluh Jaya. Rupanya didera takut sampai menangis kencang, berhasil membuat tenaga seorang Jaya BTS melemah. Dan sekarang perutnya keroncongan.


Raga terkekeh geli, lalu bangun. Ia gapai sebungkus martabak yang tadi ia beli. Mencomot sepotong, ia suapkan ke mulut sang jagoan begitu anaknya duduk. "Nih, tadi Ayah beli banyak. Soalnya Bunda lagi ngidam."


"Ngidam itu apa, Yah?" tanya Jaya, di sela kunyahannya.


"Ngidam itu permintaan dedek yang ada di perut Bunda," jelas Raga. "Kayak Jaya dulu."


"Emang Jaya minta martabak juga?"


Seketika terbit ringisan di bibir Raga kala mengingat obrolannya dengan sang istri kemarin. Nawang mengaku, saat hamil Jaya, ia sempat ngidam pizza. Tapi melihat perekonomian mereka waktu itu, Nawang pun urung meminta. "Emm, Gananjaya mau pizza nggak?"


"Mau, Ayah!" Jaya tentu tidak menyia-nyiakan makanan enak.


"Nanti Ayah beliin ya. Ini habisin dulu, terus mandi, oke?"


"Oke, Ayah."


...***...


Selepas kepergian Renata, lalu disusul Raga, Nawang memilih teras belakang sebagai tempat singgah. Di mata orang-orang, memiliki suami seperti Raga adalah keberuntungan. Memang benar. Tapi, menjalani rumah tangga dengan pria itu, tidak luput dari kesedihan. Sebab Renata selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Padahal baik Raga maupun Nawang tidak pernah membeberkan seperti apa kondisi rumah tangga mereka, tetapi Renata lah yang lancang masuk dengan sendirinya, untuk kemudian mengatur segalanya sesuai apa yang wanita itu inginkan.


Betul, penyebab keretakkan rumah tangga ada empat; KDRT, kurang komunikasi, perekonomian, dan orang orang ketiga yang tak selalu pelakor, bisa juga mertua atau ipar.


Di tahun pertama pernikahan, Renata masih baik. Walau banyak komentar—entah soal rumah yang mereka tempati saat itu, penampilan Nawang yang tak se-glowing Nadya atau Windi, dan masih banyak lagi. Dan Nawang berusaha memaklumi, meski kadang diambil hati dan bikin overthinking sepanjang hari. Lalu di tahun kedua, Renata mulai nyinyir dengan bilang Nawang terlalu enak jadi istri. Apa-apa selalu Raga. Sampai ayahnya Nawang bolak-balik masuk rumah sakit, Raga yang menanggung biayanya. Padahal pria itu sendiri yang mau.


Nayla—adik Nawang—yang bekerja di perusahaan kakek Raga sebagai marketing turut dikecam Renata, bahkan dituduh korupsi. Lalu akhirnya perempuan itu mengundurkan diri karena tidak tahan dengan sikap mertua dari kakaknya. Namun, Raga tidak tahu menahu akan hal itu.


Sementara Nayla pindah ke perusahaan lain, masih sebagai marketing, Nawang yang cuma tamatan SMA memutuskan untuk melamar kerja sebagai SPG. Gajinya memang tidak seberapa jika dibanding penghasilan Raga per bulan, tapi itu cukup untuk membantu biaya pengobatan sang ayah, karena uang dari Raga sengaja ia tabung untuk keperluan Jaya di masa mendatang.


Dan di tahun-tahun berikutnya, hubungan Nawang dengan Renata memang merenggang. Wanita sosialita itu selalu mencerca Nawang dengan kalimat jahat, ia pula yang meminta Nawang agar meninggalkan Raga. Padahal dulu, Renata sendiri yang meminta Nawang untuk menjaga Raga, sebab hanya dengan Nawang, Raga bisa dikendalikan.


Mengembuskan napas, kepala Nawang tertoleh ke sumber suara begitu mendengar derap langkah mendekat. Ia pikir suaminya, tapi ternyata Novi. Gadis itu membawakan secangkir teh hangat dan diletakkan di meja. "Bu, ini saya buatin teh."


"Makasih ya, Nov," ucap Nawang, meraih cangkir teh tersebut, lalu ia dekatkan ke bibir untuk diminum. Namun, seketika ia tersentak saat tiba-tiba tangan lain menyambar cangkir di tangannya, lalu dibuang ke sembarang arah, dan menimbulkan bunyi pyar.


Raga lah pelakunya.


"Mas?"


"Jobdesk kamu di sini cuma jagain anak saya! Nggak usah sok-sokan bikinin teh buat istri saya! Saya masih bisa kok bikinin teh, bahkan pabrik tehnya sekalian!" hardik Raga, tajam.


Novi menunduk takut. "Ma-maaf, Pak."


"Pergi!" usir Raga, mengibaskan satu tangan.


"Permisi, Pak, Bu," pamit Novi dengan suara bergetar. Setelahnya, sang baby sitter enyah.


Nawang bangkit, lalu ia sorot suaminya itu dengan tatapan sengit. "Nggak seharusnya kamu bersikap kayak gitu, Mas! Novi cuma bikinin aku teh. Apa salahnya sih?"


"Jelas salah!" tandas Raga, tak kalah sengit. "Kalau dia campurin sesuatu ke teh yang dia bikin, gimana? Aku nggak mau kamu dan calon anak kita kenapa-napa."


"Astagfirullah, Mas! Kamu tuh terlalu overthinking tahu nggak!"


"Nggak!" balas Raga, sewot. "Kamu inget 'kan ceritaku waktu itu?"


"Aku selalu inget! Tapi apa yang kamu lakuin barusan itu keterlaluan banget!" sembur Nawang, jengkel. Raga emang bucin  sama Nawang, tapi bukan berarti dia selalu tunduk dengan istrinya itu. Raga juga sering marah-marah. Tapi marahnya Raga nggak sampai bikin orang lain ketakutan seperti tadi.


"Kamu belain dia daripada aku suamimu?" Raga menggeleng tak percaya.


Refleks lepas decakan dari bibir Nawang. "Nggak gitu, Sayang."


"Daripada kita ribut terus, mending aku pecat dia." Raga melangkah—hendak menghampiri Novi, bergegas Nawang mencegahnya. Dan di waktu yang sama, perut Nawang terasa kram. Wanita itu mengaduh. "Sayang, are you okay?"


"Perut aku sakit banget, Mas."


"Iya."


Raga segera membawa istrinya ke rumah sakit. Tak lupa, ia titipkan Jaya ke Hana dan Iin, tanpa memperbolehkan Novi menyentuh anaknya. Pria itu juga berpesan, "Telepon saya kalau terjadi sesuatu."


...***...


Lagi-lagi Jaya menangis karena orang tuanya tidak ada di rumah. Hana dan Iin sibuk menenangkan anak itu, tapi bukannya tenang, Jaya malah semakin kalap. Bocah empat tahun itu guling-guling di atas karpet, memanggil-manggil Ayah yang tadi berjanji akan membelikannya pizza.


Sebagai alternatif, Novi pun berinisiatif membuatkan pizza mini untuk Jaya. Tapi dengan tegas Hana berkata, "Nggak usah, Nov. Nanti kalau Pak Raga tahu, kami yang kena marah. Kamu sih enak bentar lagi dipecat. Kalau kami ... urusannya bakal panjang. Karena orang tua kami udah lama kerja sama keluarganya Pak Raga."


"Tapi kasihan, Mbak. Saya nggak tega lihat—"


"Udah, Nov, nggak usah!" potong Iin, judes.


Novi diam.


"Kami juga nggak tega. Tapi, apa kamu tega lihat kita kehilangan pekerjaan?" ketus Hana.


"Sebenernya kenapa sih, Mbak? Saya di sini kerja loh. Tapi, kenapa yang saya lakuin selalu salah? Padahal saya sudah melakukan semua dengan hati-hati." Novi meluapkan keresahan di hatinya tanpa tedeng aling. "Kalau sekiranya saya salah, jangan bikin saya nggak nyaman kayak gini."


"Kamu tanya aja ke Pak Raga. Karena dari awal kamu kerja di sini, Pak Raga udah nunjukkin rasa nggak sukanya. Dan itu jarang terjadi," balas Hana. "Maaf juga ya kalau sikapku agak nggak berkenan. Tapi dari gerak-gerikmu, aku nggak yakin sama kamu, Nov."


"Emang saya kenapa?" balik Novi.


Iin yang menjawab, "Kamu nggak tahu apa salah kamu?" Novi menggeleng—menanggapi, memancing dengkusan Iin. "Kamu tu di sini dibayar buat kerja, bukan mainan hape. Tapi, aku perhatiin kamu lebih sering main hape."


"Kan saya sambil jagain Jaya. Terus, kalau ada Pak Raga atau Bu Nawang, Jaya lebih nempel ke orang tuanya daripada saya." Novi mengatakan realitanya. Namun, Hana dan Iin yang telanjur tidak suka hanya memutar mata malas. "Lagian, saya nggak terlalu sering main hape. Saya cuma cek hape, soalnya a—" Jeda, Novi menggigit bibir, "eumm, adik saya lagi sakit."


"Ayah!" Seruan Jaya kembali menarik seluruh atensi.


Sebelum suara lain menginterupsi. "Astaga, ini kenapa?" Semua mata tertuju ke si pemilik bariton. Reon muncul dengan wajah bingung, lalu berderap mendekati Jaya, ia gendong keponakannya itu. "Kenapa, Bosku?"


"Ayah sama Bunda ilang, Om," lapor Jaya, di tengah isak pedihnya.


Alih-alih bersedih, Reon justru tergelak, membuat tangis Jaya meredup. "Kalau bapak lo yang ilang sih, nggak apa-apa, bisa cari yang lain. Tapi kalau emak lo, bahh ... emak kayak gitu nggak ada gantinya," selorohnya, kemudian berpaling ke Hana. "Na, Raga sama Nawang ke mana?"


"Tadi perutnya Bu Nawang sakit, terus dibawa ke rumah sakit sama Pak Raga," jelas Hana.


Reon manggut-manggut, atensinya dikembalikan ke Jaya. "Oh, bapak lo nggak jadi ilang. Cuma nganterin majikannya periksa. Udah, lo nggak usah sedih. Mending main sama Om Arya Saloka."


"Mau pizza," rengek Jaya.


"Ya udah, ayo, beli!"


Jaya mengangguk lesu.


Perhatian Reon teralih ke Novi. "Nov, ikut ya?"


"Baik, Pak."


Ketika hendak masuk mobil, tiba-tiba ponsel Novi berdering. Ia lantas meminta izin pada Reon untuk menerima panggilan sebentar, diizinkan pria itu. Sejurus dengan kemunculan mobil Raga. Ayah dari Jaya itu turun, lalu membantu istrinya. Tidak langsung mendekati mobil Reon, Raga justru berdiri di belakang Novi—dengan Nawang yang menggamit lengannya.


"Ada apa, Bu?" Novi bertanya, "Aku nggak ada simpenan uang. Lagian, aku juga baru beberapa hari kerja. Nggak enak, Bu, kalau tahu-tahu minjem ke bos. Emang Mas Kholis nggak pulang?"


Mas Kholis?


Raga berjengit, ia pertajam lagi pendengarannya.


"Coba Ibu telepon Mas Kholis lagi. Aku beneran nggak bisa, Bu."


Benar. Mas. Raga mengeraskan rahang.


"Novi!"


...-----...


...Raga lebih serem dari Tristan yak :(...


...Next nggak?...