
...Double update nih, biar cepet kelar. HAHAHA. Next, aku bakal fokus ke cerita (Tak) Ingin Usai. Nggak tahu kenapa, aku berasa main-main di cerita itu. Bukan nggak serius, tapi konflik dan feel yang aku bangun di awal tuh kayak menantang banget. Ahayy....
...Btw happy reading and i hope u like it!...
...---------------...
"Novi!"
Nawang mempererat gamitan lengan Raga ketika menyadari alarm bahaya muncul ke permukaan, sementara Novi yang dipanggil menoleh ke belakang. Panggilannya telah terputus. Ia anggukkan kepala sambil disertai senyum sopan. "Ya, Pak? Ada apa?"
"Telepon dari siapa?"
"Oh, dari ibu saya. Maaf sebelumnya, Pak, tadi saya udah izin Pak Reon waktu mau terima telepon." Novi segera menjelaskan tanpa diminta.
Raga mendengkus tak kentara. "Saya nggak peduli," ketusnya, lalu mengedikkan dagu. "Ibu kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa kok, Pak."
"Tadi saya denger kamu butuh uang dan sebut-sebut nama Kholis. Kholis itu siapa? Ayah kamu?" tembak Raga, membuat Nawang dan Novi kompak berjengit hingga melebarkan mata. Nawang yang khawatir akan terjadi keributan, sedang Novi takut rahasianya terbongkar. "Kenapa diam?"
"A-anu, Pak. Mas Kholis itu—"
"Ayah!" Seruan Jaya menginterupsi ketegangan. Anak itu berlari mendekati sang ayah, ia peluk pinggang pria itu.
Kalau sudah begini, fokus Raga akan terpecah. Ia sejajari tinggi badan si kecil. "Loh, ini kenapa?" Menyentuh bawah mata sang jagoan yang basah, "Habis nangis?"
Jaya mengangguk. "Iya, soalnya Ayah sama Bunda pergi."
"Ya ampun. Tadi perut Bunda sakit, Kak, terus Ayah bawa ke rumah sakit," jelas Raga. "Tapi setelah diperiksa, dedeknya baik-baik aja kok." Tersumir senyum di wajah tampannya. "Kakak mau ke mana sama Om Reon?"
"Beli pizza," sahut Reon, mendahului, menyita seluruh atensi. Kakinya diayun menghampiri sang adik. "Gue pinjem anak lo ye, sekalian susternya. Mau gue ajak jemput Gitta."
"Jaya aja. Susternya nggak usah."
Reon berdecak. "Ya elah, nggak bakal gue apa-apa kali susternya."
"Mau nggak?" Raga ngegas.
"Ya udah, iya. Si Ayah mah pelit," sungut Reon yang akhirnya membawa Jaya. Tapi sebelumnya, Jaya menyempatkan diri mencium punggung tangan ibu dan ayahnya.
Dan selepas kepergian mereka, Raga menyulihkan fokus ke Novi. "Masuk, Nov! Ada yang mau saya omongin."
"Baik, Pak."
...***...
Hari ini Raga sedang tidak baik-baik saja. Banyak hal yang membuat kepalanya serasa ingin mau pecah. Dan itu berimbas pada moodnya. Ditambah barusan ia mendengar Novi menyebut-nyebut nama Kholis. Anehnya, perempuan itu menyebut Kholis dengan embel-embel Mas. Tentu Raga semakin curiga.
Sebenarnya untuk tujuan apa Novi bekerja di sini?
"Kamu belum jawab; Kholis siapa?" cecar Raga.
Di hadapannya, Novi menunduk. Kedua tangannya menyatu di atas paha. "Mas Kholis itu ..."
"Jawab, Nov! Jangan mengulur waktu!" sentak Raga, sontak Nawang yang duduk di sebelahnya terkesiap kaget. Pun Novi. Raga kalau udah ngamuk, bisa bikin macan sungkem. "Saya tahu kamu kerja di sini atas izin ibu saya, tapi saya juga perlu tahu siapa kamu."
"Salahnya kita—" Nawang buka suara, "nggak interview dari awal, meskipun Novi udah diinterview Mama, tapi tetep aja, Mas; Novi kerja di rumah kita."
"Jadi, aku juga salah karena ngebiarin dia kerja di sini?" Raga menoleh.
"Aku juga salah, Mas. Bukan kamu aja!" timpal Nawang.
Raga mendengkus. "Naw, kamu bisa diem dulu nggak? Aku butuh jawaban dari Novi."
Nawang memalingkan wajah.
Perhatian Raga kembali pada sang baby sitter. "Nov!"
"Mas Kholis itu ..." Wajah Novi terangkat, membalas tatapan Raga dengan ragu. "Pak, Bu, sebelumnya saya minta maaf, tapi saya terpaksa berbohong supaya mendapat pekerjaan ini." Pernyataan Novi menciptakan kerutan di dahi Raga dan Nawang. "Ibu Renata bilang, beliau mencari baby sitter yang masih lajang, makanya saya nggak bilang kalau sebenernya saya ini udah nikah."
Novi mengangguk, lalu melanjutkan, "Sekali lagi saya minta maaf, Bu. Dan adik yang saya ceritakan waktu itu sebenernya ... anak saya."
Nawang menggeleng tak percaya. Novi bilang adiknya seumuran Jaya. Itu artinya dia menjadi ibu ketika umurnya baru enam belas tahun, karena tahun ini dia baru menginjak angka dua puluh satu. "Tapi, kenapa harus bohong sih, Nov? Dan ... tolong kamu jujur sejujur-jujurnya; ada apa ini?"
"Saya nggak mau mengharapkan belas kasih atau apa pun itu, karena saya sedang berusaha semampu saya untuk menghidupi keluarga. Tapi memang salah saya yang memilih berbohong." Jeda, Novi butuh oksigen. Diraupnya udara di sekitar lalu kembali menjatuhkan tatapan ke depan. "Ibu ingat 'kan saya pernah cerita kalau bapak saya sudah meninggal?"
Nawang mengangguk.
Lain halnya dengan Raga yang justru menyunggingkan seringai masam.
"Sejak bapak saya meninggal, saya dipaksa ibu saya untuk menikah. Toh, saya udah putus sekolah." Mata Novi mulai berkaca-kaca, "Ibu bilang saya ini terlalu beban untuk beliau, apalagi adik-adik saya masih sekolah. Masih butuh biaya banyak. Akhirnya saya menikah dengan Mas Kholis. Tapi suami saya itu nggak pernah kasih saya nafkah. Semua kebutuhan saya tanggung sendiri. Belum lagi ibu saya sering minta dibelikan ini-itu."
"Nov—" Nawang terenyuh.
Anomali dengan dengan Raga. "Jangan bohong kamu!"
"Saya bicara jujur, Pak." Novi berusaha meyakinkan.
"Zaman sekarang banyak manusia setipe kamu yang hobi ngejual cerita-cerita sedihnya biar dapet simpati dari orang lain!" sinis Raga, hatinya telah terpupuk kebencian yang teramat dalam. Wajar. Konon kakeknya meninggal karena dibunuh Kholis, lalu orang-orang suruhannya menyelidiki siapa Kholis. "Dan bukannya Kholis itu ayah kamu?"
"Bukan, Pak."
"Tapi umur kalian lumayan jauh."
"Mas, dia dipaksa ibunya. Ngerti nggak sih?!" Nawang geregetan sendiri.
"Terus, apa tujuan kamu kerja di sini?" desak Raga yang masih saja mencurigai baby sitter anaknya.
"Saya butuh biaya untuk menghidupi keluarga, Pak. Saya nggak ada maksud lain." Novi terus meyakinkan sang majikan, "Apalagi gaji yang ditawarkan Bu Renata di atas UMR Jakarta. Orang butuh kayak saya pasti tergiyur."
"Oke, kalau gitu saya kasih kamu uang dua puluh lima juta, asal berhenti ikut saya dan tutup mulut atas pemecatan kamu ini," tandas Raga. Dan ketika Novi hendak bertanya, Raga lekas memotong. "Kamu nggak salah. Saya cuma nggak tertarik dengan jasa baby sitter. Lagi pula, saya nggak mau anak saya jauh dari ibunya."
"Aku tetep bisa deket sama Jaya kok, Mas," sanggah Nawang.
Raga menoleh. "Terus aja ya, Naw, kamu belain dia!"
"Aku nggak belain Novi. Mas. Tapi kenyataannya—"
"Udah, kamu ikut dia pergi sana!" usir Raga yang terdengar serius di telinga Nawang.
Wanita itu terperangah, kepalanya menggeleng tak percaya. "Kamu ngusir aku, Mas?"
"Kamu nganggepnya gitu?" balik Raga.
"Iya." Dan anggukkan Nawang menegaskan bahwa ia sakit hati.
"Ya udah. Pergi!"
Tanpa sepatah kata, Nawang bangkit, melenggang menuju kamar. Ia kemasi barang-barang, lalu keluar dengan koper biru. Ia seret, melewati Raga yang masih duduk di sofa. Pria itu tidak menahannya, hanya menatapnya datar.
Nawang betul-betul kecewa. Bahkan ketika langkahnya mencapai ambang pintu beranda dan ia jeda sebentar, menengok ke belakang, Raga masih diam, menatapnya. Tega kamu, Mas. Nawang memalingkan muka, ia paksa kakinya menjauh meninggalkan istana yang dibangun atas kerja keras suaminya juga doa-doanya, yang ia tinggali nyaris lima tahun. Yang menjadi saksi atas kehidupannya selama berumah tangga dengan Raga. Ada tangis, tawa, dan cerita-cerita indah yang pada akhirnya menjelma menjadi kenangan.
Setelah memesan taksi online, ia kirim pesan ke nomor Reon.
Saya:
Mas Reon, nanti tolong anterin Jaya ke rumah orang tuaku ya
Makasih
...------...
...Kok yang selese bukan pekerjaan Novi, tapi malah hubungan RaNa sih? 😭😭...
...Komen dong weyyy...