
Kangen Jaya BTS nggak?
Sepi amat yak ini cerita :(
BTW mari kita ikuti keseruan Reon dan geng krucilnya haha
Happy reading!
-------
Selesai mandi, Nawang memilih kamar sebagai tempat singgah karena suaminya sedang menonton TV di ruang tengah. Heran. Nggak biasanya Raga ngikutin berita yang lagi booming, yang melibatkan pihak berwajib sampai bikin netizen geram. Tapi giliran diproses, eh, si pelapor berubah pikiran.
Ck, kenapa Nawang jadi mikirin Mbak L?
Menggeleng sambil agak melebarkan mata, napasnya diloloskan begitu saja. Ia bawa langkah-langkah beratnya menuju ranjang, lalu naik, duduk bersandar di headboard. Sejujurnya, banyak hal yang berseliweran di kepala, padahal kemarin dokter memintanya untuk bedrest. Tapi, mau bagaimana lagi? Belakangan ini selalu saja ada hal-hal yang membuatnya berpikir keras, kemudian dirundung cemas, dan akhirnya dia overthinking sendiri.
Ya namanya punya otak, wajar kalau dipakai mikir.
"Aku tungguin di ruang tengah, eh, tahunya udah masuk kamar," celetuk Raga begitu pintu kamar terbuka. Nawang menoleh kaget, lantas mendengkus. Raga menutup pintu, setelahnya berderap menuju ranjang, bergabung dengan istrinya. "Tadi inget nggak Bang Reon bilang apa?"
Nawang mengangguk. "Tapi belom tentu Rendra mantan bosku. Kan yang punya nama Rendra banyak."
"Tapi timingnya kayak pas banget tahu, Bun!" timpal Raga, "Nih ya, Mbak Nadia bilang, sebelum ini Mbak Gitta pernah nikah dan punya anak. Terus tadi Bang Reon bilang juga gitu. Dan ... nama mantan suaminya itu Ren-dra." Menekan satu nama yang sebenarnya sangat ia benci, "Sementara Rendra mantan bos kamu itu punya anak. Tadi anaknya bilang; dia bukan anaknya Citra. Bisa jadi anak itu emang anaknya Rendra sama Mbak Gitta, kan?"
"Mas, mending kamu jadi timnya Aldebaran deh, biar bisa nemuin Andin," gurau Nawang.
Mendengar itu, alih-alih kesal, Raga justru mengedipkan mata genit. "Nggak apa-apa kalau kamu izinin. Tapi jangan baper ya, kalau nanti aku terkenal, terus banyak gadis yang naksir aku."
"Hih, kamu nih!" Nawang cubit lengan suaminya, refleks yang dicubit mengaduh. Tapi kemudian membalas dengan satu pelukan sayang. Nawang jadi sesak napas. "Mas, lepas! Sesak, ih."
"Apanya yang sesak? Orang—" Toyoran di pipi membuat kalimatnya terhenti. Raga mencebik, lalu tersenyum saat dekapannya sedikit terurai. Ia hampiri bibir Nawang dengan bibirnya. Nawang berusaha menghentikan aksi Raga, tetapi laki-laki itu bilang, "Sebentar aja, Sayang. Kangen."
Dan bibir mereka pun bergelut hingga beberapa menit ke depan.
***
Tak mendapat izin dari Tresno—ah, Tristan alias bapaknya Aily, Reon tidak ingin memaksa. Toh, banyak yang diajak bakal banyak pengeluaran juga. Jadi, ia ajak Jaya dan Jizzy saja untuk keliling ibukota. Namun, perubahan wajah Jizzy yang tadinya ceria mendadak jadi cemberut, membuat kening Reon kontan berkerut. Ia sejajari tinggi badan Jizzy, tetapi pandangan gadis cilik itu tertuju ke satu arah. Reon lantas mengikuti arah pandang bocah empat tahun tersebut.
Terkesiap, sosok yang ditemuinya semalam berdiri tidak jauh dari posisinya.
Rendra.
Mantan suami Gitta.
Namun yang lebih mengejutkan lagi adalah suara lantang Jizzy. "Kenapa Papi baru dateng?!" semburnya, "Tadi Jizzy dimarahi Oma gara-gara numpahin air, terus gelasnya pecah." Air mata Jizzy mengalir.
Reon kehilangan akal. Ada apa ini?
Ia berharap yang didengar barusan hanya ilusi.
Tapi ketika punggungnya merasakan dekapan dari belakang—Jizzy memeluk lehernya seolah meminta perlindungan. "Jizzy nggak mau pulang. Papi juga nggak pernah di rumah." Ungkapan pedih Jizzy kian menusuk dada Reon. Apa Jizzy anak dari istrinya? "Papi pergi! Jizzy mau di rumahnya Jaya aja." Menoleh ke arah Jaya, bibirnya melanjutkan, "Jaya, Jizzy boleh tidur di rumah Jaya?"
"Boleh dong. Tapi kamar yang kosong cuma kamar mandi. Jizzy mau tidur di sana?" tawar Jaya.
Andai Reon tidak sedang dalam keadaan terkejut, ia pasti sudah terbahak-bahak sembari mencibir keponakannya itu. Namun, situasinya tidak mendukung. Pria itu menunduk, tidak tahu harus bagaimana. Jika benar gadis kecil di belakangnya ini adalah anak dari istrinya, seharusnya ia bisa menerima. Apalagi dia mudah dekat dan akrab dengan anak kecil, seperti dia dan keponakan-keponakannya.
Tapi masalahnya, Gitta sudah membohonginya.
"Jizzy, ayo kita pulang! Nanti Papi jelasin," bujuk Rendra, merentangkan kedua tangan. Jizzy menggeleng, bersembunyi di balik punggung Reon.
"Om Reon, ayo pergi dari sini!" ajak Jizzy.
Reon mengangkat wajah, lalu melirik ke belakang. Dadanya bergemuruh kencang. Dalam satu tarikan napas, ia berkata dengan nada sedingin tatapannya. "Pulang sama papimu. Saya ada urusan." Dan Reon merasakan dirinya terlepas dari pelukan hangat yang beberapa saat lalu membuat hatinya terenyuh.
Jizzy mengurai jarak—mundur beberapa tindak dengan raut kecewa. "Tadi Om Reon bilang mau ajak Jizzy jalan-jalan?" tagihnya, lirih. "Jizzy nakal ya? Makanya Om Reon nggak jadi ajak Jizzy?"
Bukan.
Bukan itu.
Ingin rasanya Reon menyanggah, tetapi sakitnya kalah dengan kenyataan yang ada. Reon bangkit, digiringnya Jaya menuju mobil tanpa permisi. Dan Jizzy tidak menyerah, gadis kecil itu mengejar Reon. Nyaris menggapai tangannya, tetapi gerakkan Rendra berhasil menghalau niat bocah berambut hitam tersebut. Jizzy menangis.
Suara yang secara spontan menghentikan langkah-langkah lebar Reon. Kepalanya menoleh untuk melihat Jizzy. Anak itu digendong paksa oleh Rendra dan dibawa ke mobil, melewatinya yang tak bisa melakukan apa-apa. Hingga pertanyaan Jaya membuatnya tersentil. "Om, kenapa Om bilang gitu ke Jizzy? Jizzy kasihan, dia nggak mau pulang, nanti sakit hati katanya."
Mata Reon tertuju pada Jaya.
Tak seperti biasanya, tatapan pria itu nampak datar.
"Jizzy kemaren dimarahi omanya gara-gara pecahin gelas, terus dibilang bukan anak maminya. Terus Jaya bilang; pasti Jizzy anak sekolah. Yang di Trans 7 itu, Om. Iya, kan?"
Dan Reon tetap tidak bisa tertawa.
Ia hubungi Raga untuk menolong akalnya.
***
Yang menjadi titik fokus Raga sekarang adalah keselamatan kakak dan anaknya. Selama perjalanan, ia terus diselimuti rasa cemas. Ia bahkan sampai berpikir yang tidak-tidak, seperti anaknya tiba-tiba diculik, lalu Reon berperan bak super hero yang berusaha menyelamatkan, tapi kesialan menimpanya, hingga ia tidak bisa berbuat apa-apa dan terpaksa meminta bantuan Raga. Maka sebagai pemeran cadangan yang memiliki kekuatan serupa, Raga pun hadir untuk menyelamatkan. Sayangnya, imajinasi Raga terlalu konyol. Sebab yang ia jumpai kemudian ... abangnya duduk di balik kemudi, sedang Jaya di sampingnya.
Mereka baik-baik saja.
Apa abangnya lagi ngeprank?
Kan sekarang zamannya prank, terus ujung-ujungnya minta maaf.
Udah bikin satu negara panik, tahunya cuma gimmick.
Ups.
Membungkuk mensejajari kaca mobil bagian samping yang terbuka, Raga langsung menyembur abangnya. "Lo ngeprank gue?!"
Tidak menjawab, Reon turun. Menghampiri Raga, ia berkata tanpa tenaga. "Lo yang nyetir. Kita ke kafe deket-deket sini. Ada yang mau gue ceritain."
"Soal?"
Lagi-lagi Reon abai, menyingkirkan Raga, lalu masuk dan duduk di kursi dekat kemudi. Ia pangku Jaya yang kebingungan. Sementara itu, Raga segera masuk dan duduk di balik kemudi. Mobil melaju. Raga berusaha fokus menyetir, tetapi sesekali matanya mencuri pandang ke sisi. Ada yang aneh. Apa mungkin ini soal kakak iparnya? Tapi, di mana wanita itu sekarang? Tidak mungkin Reon dan istrinya berdebat di tempat umum. Raga tahu betul siapa kakaknya. Jika sedang kesal, Reon akan menggiring lawan ke tempat sepi untuk menuntaskan permasalahan mereka.
Tapi ....
Menepikan mobil ke area parkir kafe, Raga mematikan mesin begitu mendapat tempat parkir. Pada saat menoleh, pria itu dikejutkan oleh Reon yang memeluk Jaya sambil meneteskan air mata. Namun yang lebih mengagetkan ketika Reon berkata, "Jizzy temennya Jaya itu ... anaknya Gitta sama mantan suaminya."
Seketika Raga lupa bagaimana caranya bernapas.