
"Ayah!"
Selalu ayahnya yang pertama kali diserukan setiap kali bocah empat tahun itu pulang. Membuar Raga dan Nawang yang sedang sarapan di meja makan serentak menoleh. Jaya menghambur memeluk ayahnya. "Ayah."
"Bosku udah pulang aja nih. Habis dari mana semalem nggak pulang?"
"Kemaren Jaya diajak jalan-jalan Papa Onad, Mama Indi, Kakak Shaqueen, sama Kakak Killa. Terus Jaya dibeliin baju BTS, Yah," ujar Jaya, lalu menunjukkan baju bergambar personel BTS yang ia pakai.
Tatapan Raga tertuju pada baju baru sang jagoan, ia tunjuk salah satu personel BTS. "Ini kok mirip Ayah ya?"
"Mana?" Jaya menurunkan pandangan, mengikuti arah jari telunjuk sang ayah. "Enggak. Ini sodara kembarnya Om Reon, namanya Om Suga."
"Tapi mirip Ayah kok." Raga terus memaksakan diri, kemudian melarikan atensi ke sang istri. "Iya 'kan, Bun?"
"Iya," jawab Nawang, mendukung dengan setengah hati. "Oh ya, Nov, Pak Ronald mana?"
"Tadi cuma nitip salam, Bu. Soalnya buru-buru mau nganter Non Shakilla," kata Novi. Omong-omong, semalam Novi pulang dijemput sopir. Gadis itu memang difasilitasi kamar bersama dua ART yang lain.
"Oh, gitu." Nawang manggut-manggut.
"Kakak udah mandi?" tanya Raga sambil sesekali mendaratkan kecupan gemas di pipi chubby sang jagoan.
"Udah, Ayah."
"Dimandiin Papa Onad?" tebak Raga.
Jaya menggeleng. "Enggak dong. Jaya mandi sendiri tahu, Yah. Soalnya kata Papa Onad, kalau masih dimandiin, nanti pas sunat, burungnya nggak mau lepas," ujarnya, polos. "Ayah, kalau sunat pake burung ya?"
Raga menepuk jidat. Abang-abangnya demen banget ngasih PR!
"Terus sunat itu apa, Yah?" cecar Jaya.
Melihat suaminya kebingungan, Nawang segera menengahi. "Yuk, Kak, ganti seragam!"
"Oke, Bunda." Jaya mengacungkan ibu jari.
Setelahnya, ikut ke kamar untuk ganti baju. Dan begitu siap, mereka langsung meluncur ke TK Cendekia. Seperti biasa, Raga dan Nawang menunggu putranya tanpa baby sitter. Sebab di jam-jam segini, para mata-mata yang ia percaya, mulai beraksi; mengawasi setiap gerak-gerik Novi.
Ah, bahkan Raga juga melibatkan Iin dan Hana untuk menyelidiki Novi.
Tiba di TK Cendekia, Jaya turun dari mobil dengan semangat. Bertemu Lili alias tetangga yang kebetulan satu sekolah. Anak itu diantar sopir. Jaya langsung mendekat.
"Lili Blackpink!" panggil Jaya.
Gadis kecil yang mengikat surai hitam sepunggungnya menjadi dua bagian itu berpaling, langkahnya terjeda. "Ih, nama aku Aily! Bukan Lili Blackpink! Aku bilangin papaku nih!" ancamnya.
"Kok, papa kamu kayak kakek-kakek." Jaya menjulurkan lidah karena ia pikir sopir Lili adalah ayah dari temannya itu.
Lili mendongak ke belakang, menatap pria paruh baya yang biasa ia sapa Pak Yus, lalu kembali ke Jaya. "Itu Pak Yus, sopirnya Papa. Bukan papaku."
"Ups!" Jaya menutup mulut, ekspresinya sungguh sangat menyebalkan.
"Loh, Lili nggak diantar Papa?" tanya Raga.
Lili menggeleng, wajahnya tertekuk bete. "Enggak, Om. Soalnya Papa lagi sibuk."
"Ayah aku nggak sibuk," sela Jaya, "makanya antar aku."
"Gananjaya," tegur Nawang.
Jaya memalingkan pandangannya ke sang ibu.
Tepat ketika Lili memutuskan pergi.
"Kakak nggak boleh ngomong kayak tadi. Lihat tuh temennya sedih," tutur Raga, menasihati. Jaya cemberut. "Nanti minta maaf ya. Bagi martabaknya ke Lili, oke?"
"Oke, Ayah!" Wajah manyun Jaya seketika sirna, berubah ceria. Ia salimi kedua orang tuanya bergantian. "Bye, Ayah! Bye, Bunda!" pamitnya, melambaikan tangan. Dibalas ayah dan ibunya.
Dan selepas kepergian Jaya, Nawang membuka obrolan. "Mas, katanya kemaren kamu mau ngomong soal Pak Rendra juga."
Memilih kafe dekat TK Cendekia sebagai tempat singgah, sepasang suami-istri itu menempati salah satu meja sambil ditemani segelas jus. Raga sengaja mengajak Nawang ke sini, karena menurutnya kurang etis membahas hal-hal rahasia di gerbang sekolah. Meski sebenarnya ia tidak mood bila harus menyebut nama si berengsek satu itu.
Terlebih kemarin Raga mendengar dengan telinganya sendiri kalau si bangsat Rendra memang menaruh hati pada Nawang. Dan apakah ia harus menceritakan perihal Rendra dan Citra yang rupanya memiliki hubungan spesial? Jujur, Raga tidak ingin berdebat lagi. Sudah bagus hubungannya mulai membaik beberapa har terakhir.
"Harus banget ya?" Raga menaikkan satu alis.
"Kan kemaren kamu sendiri yang bilang," timpal Nawang.
Lolos desauan dari bibir Raga. "Iya sih." Rehat, diraupnya oksigen di sekitar lalu dengan penuh tekad, akhirnya ia jelaskan. "Jadi kemaren aku lihat Rendra sama Citra, terus ada anak kecil yang waktu itu manggil Rendra Papi. Dan kayaknya sih Citra itu istrinya Rendra."
"Cuma gitu doang?"
"Lah iya. Emang kamu ngarepinnya gimana?" Raga jadi bingung.
"Ya nggak ngarepin apa-apa, Mas. Nggak penting juga." Nawang memutar mata.
Raga tertawa geli, ia colek dagu sang istri dengan gemas. "Kamu nih!"
"Ya udah, yuk, balik ke sekolahnya Jaya!" ajak Nawang.
"Eits, nanti aja, Bun!" tahan Raga, meraih pergelangan tangan Nawang yang hendak bangkit. Pria itu mencebik. "Ayolah, manfaatin waktu buat ngobrol berdua. Selama tiga tahun terakhir, kita lebih banyak berantem."
Nawang diam.
Cekalan Raga beralih ke jemari Nawang, ia genggam dengan lembut. Iris biji kopinya terarah pada netra bening sang istri. Nampak sirat sendu di balik mata perempuan itu. "Naw, sebenernya apa yang diomongin Mama ke kamu? Kenapa kamu ngotot minta pisah? Aku pernah ada salah ya, sampe bikin kamu pengin pisah dari aku?"
"Mas ..." Nawang memberanikan diri membalas tatapan sang suami, "... aku juga masih nggak ngerti sama semua ini. Tapi yang jelas, aku nggak mau ceritain apa pun ke kamu. Bukannya aku nggak bisa diajak diskusi, tapi posisiku sekarang ini kayak terjebak situasi."
"Mama ngancem kamu?" desak Raga, menuntut jawaban.
"Kamu tanya sendiri ke Mama." Nawang menarik jemarinya dari genggaman Raga, lalu bangkit. Suaminya mendongak. "Tapi apa pun yang terjadi nantinya, kamu tetap laki-laki terbaik setelah Bapak."
"Oke, tapi aku nggak akan ngelepasin kamu!" tandas Raga, ikut berdiri.
Keduanya melenggang meninggalkan kafe dan kembali ke TK Cendekia. Ternyata murid-murid pulang lebih awal. Mereka pun buru-buru menjemput Jaya. Dan di luar dugaan, bocah empat tahun itu berdiri di trotoar sambil melambaikan tangan.
"Ayah! Bunda!"
"Gananjaya, stop di situ, Nak!" seru Raga, kepalanya celingukkan membaca situasi.
Nawang terlihat waswas. "Mas, Jaya."
"Kamu tunggu sini aja, biar aku yang susulin Jaya."
"Oke." Nawang mengangguk patuh.
Ketika Raga hendak menjangkau putranya, anak itu lebih dulu melangkah untuk menyeberangi jalan. Sementara dari arah berlawanan, muncul sebuah truk yang seketika membuat Raga panik, lalu berteriak. "Gananjaya, awas!"
Wushh!
Truk melintas. Raga terpaku di tempat, wajahnya memucat. Dia palingkan wajah ke arah putranya berlari dan ketakutan itu kian membesar. Namun, pada saat ia menemukan putranya dalam dekapan seorang pria, hatinya langsung lega.
Tunggu!
Pria?
Siapa?
Raga segera mendekat. "Lo?!"
...-------...
...Kira-kira siapa ya yang nolongin Jaya BTS 🤣🤣...
...Apakah Rendra? Atau Rendra? Eh, sama aja deng!...
...Lanjut nggak?...