5th Anniversary

5th Anniversary
Mertua Idaman



"Oh iya, tadi Bu Renata ke sini, Bu," kata Novi. "Eh, maksud saya semalem nginep sini," ralatnya kemudian, membuat Nawang kontan terkesiap. "Jadi setelah Bapak pergi, Bu Renata ke sini, bawain banyak makanan, barangkali Ibu lagi nyidam. Tapi ... berhubung Ibu sama Bapak nggak di rumah, saya bilang kalian lagi ada urusan." Menunduk merasa bersalah, bibirnya bergetar. "Maaf, Bu. Saya nggak berani bohong."


Nawang seolah kehilangan napas.


"Ditambah Jaya juga kebangun, terus nangis. Akhirnya Bu Renata nginep sini," imbuh Novi, lalu mengangkat wajah—memberanikan diri menatap sang majikan. "Bu, maafin saya ya? Gara-gara saya, Ibu sama Bapak berantem, sampe Bapak ngusir Ibu. Saya nggak tahu mesti jujur dengan cara apa. Saya nggak punya bukti untuk menguatkan Bapak, kalau saya nggak ada sangkut-pautnya dengan Mas Kholis."


"Udah, Nov, jangan merasa bersalah gitu," timpal Nawang. "Mungkin karena bawaan bayi. Nggak biasanya saya ambil hati kalau lagi berantem sama ayahnya Jaya, tapi semalem ... saya ngerasa kayak nggak dianggep sebagai istri aja. Ya ... walaupun saya memaklumi Mas Raga; kenapa dia bersikap demikian, tapi tetap yang dia lakukan itu keliru. Dia marahnya ke siapa, yang dijadikan pelampiasan siapa."


Novi mengangguk paham. "Tapi Ibu sama Bapak udah baikan, kan?"


"Udah kok."


"Sekali lagi, saya minta maaf, Bu."


Ketika Nawang hendak menyahut, terdengar derap langkah mendekat. Praktis menoleh, Nawang bersitatap dengan Renata yang berjalan ke arahnya. Novi segera undur diri, sedang Nawang berusaha bangkit untuk menyambut. Namun, Renata menginterupsi dengan menahan lengan menantunya itu.


"Nggak usah, duduk aja."


Nawang mengangguk kecil. "Pagi, Ma," sapanya.


"Pagi," sahut Renata, duduk di samping Nawang. "Gimana rasanya diusir suami?" Terkesiap, Nawang pun menunduk dalam. Mata Renata mengedar. "Di mana Raga?"


"Jemput Jaya, Ma."


"Harusnya kamu pulang ke rumah Mama kemaren malam!" Kembali menatap sang menantu, Renata meraih jemari Nawang, dan membuat menantunya itu kontan mengangkat wajah, bertemu pandang dengannya. "Biar Mama jelasin sekalin siapa Novi. Lagi pula, sebelum Mama taro baby sitter di sini, sudah pasti Mama selidiki dulu seluk beluk latar belakang keluarganya. Dan si Novi Novi itu memang istrinya Kholis yang bunuh Kakek. Tapi Novi baik, dia bekerja untuk keluarganya, setelah dihancurkan harga dirinya oleh si tua bangka itu."


Renata memang angkuh, terlihat dari tatapan serta auranya, tetapi Nawang sadar betul; ada ketulusan yang terselip di balik itu semua dan hanya mereka yang peka yang bisa merasakannya, termasuk Nawang.


"Mas Raga cuma—"


"Kamu tahu Raga salah, kan? Jangan belain dia!" potong Renata. Meski nadanya membentak, tetapi genggaman tangannya tidak lepas. Wanita itu seolah menegur sambil menguatkan. "Nawang, Mama tahu kamu tersinggung dengan sikap Mama tiga tahun belakangan. Tapi asal kamu tahu, Mama minta kamu lepasin Raga bukan karena Mama nggak suka sama kamu. Toh, kalau emang Mama nggak suka, harusnya dari awal Mama nggak ngasih restu." Menatap Nawang tepat di manik mata, Renata melanjutkan, "Itu cuma gertakkan. Dan ternyata kamu emang sebaik ini."


"Maksud Mama?"


"Danish, mantan bos kamu sebelum Rendra," kata Renata, membuat Nawang sontak melebarkan mata. "Kamu kaget Mama tahu soal dua nama itu?" Nawang tidak menjawab, tidak juga merespons dengan gerakkan tubuh. "Untuk anak, menantu, dan cucu Mama, Mama akan berikan yang terbaik, begitupun kamu. Waktu Raga memilih kamu untuk jadi bagian dari kami, maka kamu pantas mendapat perlakuan istimewa. Dan ini cara Mama."


Nawang masih belum mengerti.


"Nawang ..." Renata melafalkan nama sang menantu dengan suara lirih seolah sedang berbisik, "Danish dan Rendra itu kakak-beradik. Dari mana Mama bisa tahu soal ini? Orang suruhan Mama," tegasnya, mengambil jeda beberapa detik untuk memasok oksigen. "Berawal dari pencarian Kholis, ternyata orang-orang suruhan Mama menemukan satu nama, yaitu Danish. Dia juga terlibat di kasus pembunuhan Kakek." Nawang terperangah, sementara Renata menyunggingkan senyum kecut. Potongan fakta yang ia terima menjelma menjadi secuil luka yang lagi-lagi terasa nyata.


Sadar akan kerapuhan yang timbul di sepasang mata sang mertua, bergegas Nawang peluk Renata dari samping. Ia usap punggung ibu dari suaminya.


"Mama nggak tahu, apa yang bikin kamu milih kerja, padahal Raga udah menuhin semua kebutuhan kamu dan Jaya." Renata menggeleng tak habis pikir.


Dan Nawang segera meluruskan. "Tante Vina, Ma. Tante Vina bilang; Mama tuh sebenernya nggak suka lihat Mas Raga terlalu baik sama Bapak. Kan waktu itu Bapak mulai sakit-sakitan dan Mas Raga selalu prioritasin Bapak. Makanya sebagai alternatif, daripada hubungan Mama dan Mas Raga jadi renggang, aku coba untuk cari uang sendiri. Uang dari Mas Raga tetep aku kelola dengan baik kok."


"Vina?" ulang Renata dengan mata terbelalak.


Dibalas Nawang lewat anggukkan.


Omong-omong, Vina adik ipar Renata alias istri dari Jovan ini memang pandai bersilat lidah. Seharusnya Nawang paham siapa tantenya itu, tapi berhubung kondisinya mendukung—walau tak ada sedikitpun niat untuk dia memanfaatkan Raga, jadi yang ia lakukan setelahnya adalah berjuang sendiri. Toh, meskipun suaminya pekerja kantoran, ditambah background keluarga pria itu juga patut diperhitungkan, Nawang tetap orang biasa yang memang sedari dulu terbiasa hidup sederhana. Dan untuk bisa mendapatkan sesuatu, ia perlu mencoba dan berusaha.


"Justru dia yang bilang ke Mama kalau kamu ada main sama Danish. Tentu Mama nggak percaya. Mama kenal kamu dari kamu masih bayi," beber Renata, berhasil menghentikan detak jantung Nawang. Benar-benar plot twist. Vina selalu tampil bak malaikat yang seolah-olah dia lah satu-satunya orang paling peduli, tapi ternyata di belakang; dia iblis terjahanam yang perlu dibasmi. "Dan karena Mama dendam sama yang namanya Danish Danish itu, Mama jadi hilang akal. Apalagi lepas dari Danish, kamu deket sama Rendra. Dia itu mantan suaminya Gitta."


"Apa, Ma? Mantan suami?" pekik Nawang.


"Iya, Rendra mantan suaminya Gitta," tegas Renata.


Kepala Nawang bergerak menggeleng dengan sorot seolah tidak percaya.


Renata tersenyum masam. "Alasan kenapa setelah Gitta menikah dengan Reon, Mama jadi hilang respek, ya karena Gitta udah bohongi kita semua. Bukan soal Rendra yang ada hubungannya dengan Danish, tapi cara Gitta menutupi masa lalunya yang membuat Mama kecewa."


Sekarang Nawang paham; selalu ada sebab di balik akibat. Seperti dirinya yang sempat dicurigai oleh sang mertua, tapi kenyataannya berbanding terbalik dengan asumsi wanita itu. Dan meskipun Nawang terkejut dengan fakta soal Gitta, ia tetap harus berprasangka baik pada iparnya itu. Barangkali ada alasan lain yang belum bisa Gitta ungkapkan. Sebab Nawang tahu betul siapa istri dari Reon.


"Tapi sekarang Mama lega karena kamu udah lepas dari Rendra."


"Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Rendra, Ma," tegas Nawang.


Renata tidak menggubris, atensinya tertuju pada manik mata Nawang. "Mama minta maaf untuk ancaman-ancaman waktu itu. Tapi Mama minta sama kamu, ada baiknya kamu di rumah, ngurus anak-anak. Soal Raga, nanti biar Mama yang bicara."


"Apa yang Mama tahu soal Novi?"


***


"Mama nggak cerita soal Novi." Nawang menoleh ke Raga setelah menjelaskan apa yang terjadi barusan. Napasnya dihela panjang. "Tapi aku yakin kok, Novi orang baik."


Raga memijat pangkal hidung.


Nawang bangkit dan duduk.


Mata Raga mengikuti gerak tubuh sang istri. "Udah deh, istirahat. Nggak usah mikirin yang lain. Kesehatanmu lebih penting."


"Mas Reon udah ngobrol sama Mbak Gitta?"


"Nggak tahu, Bun," desis Raga, gemas. "Udah ya, kamu nggak usah musingin mereka. Toh, Bang Reon sama Mbak Gitta bukan anak ABG lagi yang perlu dikhawatirin."


Raga mengesah, ikut bangun, pria itu berangsur turun, kemudian pindah posisi ke samping Nawang. "Aku paham, tapi ini bukan ranah kita. Lebih baik kita doakan yang terbaik untuk mereka, karena pelukan paling nyata dan tulus adalah doa." Terukir senyum di ujung kalimatnya, lalu bibirnya menghampiri bibir Nawang. Bergegas istrinya itu menghindar. Memancing decakan Raga.


"Kamu nih cari kesempatan banget!"


"Daripada aku cari istri muda?" seloroh Raga, jail.


Bola mata Nawang berputar malas. "Udah ah, aku mau nyiapin makan."


"Aku temenin ya?"


"Terserah!" tukas Nawang, mendahului.


Tepat ketika Raga hendak menutup pintu kamar, suara Jaya terdengar merengek. Otomatis bapak dua anak itu mengurungkan niat dan kembali mendekati sang jagoan. Jaya bangun untuk duduk. Raga tersenyum. "Kebangun ya?" Jaya tidak menjawab, matanya dikucek. Raga melebarkan tangan, diangkutnya sang jagoan ke dalam gendongan, ia bawa ke meja makan dan dipangku. "Bun, anaknya kebangun nih."


"Kebangun atau kamu gangguin?" tuduh Nawang, disela aktivitasnya.


"Astagfirullah!" Raga menggeleng dramatis.


Nawang tidak menggubris, dihidangkannya beberapa menu masakkannya ke meja makan, lalu ia ambilkan untuk sang suami. "Kakak, mau makan juga?" Jaya menggeleng. "Duduk sendiri dong kalau gitu. Ayah mau makan."


"Ayah, ke rumah Jizzy yuk!" rengek Jaya.


"Ngapain ke sana?" tanya Raga, mengernyit bingung.


"Lihat Jizzy, Ayah. Nanti kalau Jizzy dimarahi omanya lagi, gimana?"


"Itu bukan urusan Gananjaya, oke? Sekarang makan, nggak usah mikirin yang lain!" tandas Raga, tegas. Bikin anaknya kontan mengerucutkan bibir. Sadar akan hal itu, Raga mencebik jengkel. "Ayah masih baik loh ini, jangan sampe bikin Ayah marah."


Jaya berangsur turun, melenggang menuju ibunya, ia peluk wanita itu dari samping. "Bunda, ayo ke rumah Jizzy!" ajaknya, lalu melirik sang ayah lewat sudut mata. "Ayah nggak usah diajak."


"Bunda nggak boleh pergi-pergi!" larang Raga.


"Kenapa? Kan sama Jaya perginya," balas Jaya, agak sewot.


"Udah dong, malah berantem!" lerai Nawang, "Biasanya juga Bunda yang dicuekin. Ini kenapa jadi sewot-sewotan gini sih?" Beralih menatap sang jagoan, "Kakak, minta maaf sama Ayah. Nggak baik ngomong judes gitu ke ayahnya."


"Tapi Ayah juga minta maaf sama Jaya! Nggak baik ngomong judes gitu ke anaknya," tiru Jaya, masih saja sewot. Lalu telapak tangannya terulur. Raga dengan segera menarik pergelangan tangan si sulung, ia kecup pipinya dengan gemas. Jaya terkikik geli. "Ayah, ih!"


"Maafin Ayah ya. Dimaafin nggak nih?"


Jaya mendongak menatap sang ayah. "Tapi beliin mobil-mobilan."


"Dih!" dengkus Raga, kembali menghujani pipi si kecil dengan kecupan gemas, tak tanggung ia gelitikki pinggang anak itu. Jaya terkikik lagi. "Kalau ada yang minta maaf, dimaafin dong. Nggak boleh minta mainan, oke?"


"Ayah nggak mau beliin mobil-mobilan?" Jaya makin manyun, raut kecewa tersirat jelas begitu sang ayah menghentikan aksi jailnya. "Ayah nggak sayang Jaya."


"Nggak gitu, Kak. Nanti Ayah beliin, tapi lain kali kalau ada yang minta maaf, Kakak nggak boleh nego pake mainan. Itu nggak baik, Kak," tutur Raga.


Jaya melirik ibunya, wanita itu mengangguk. Perhatian Jaya teralih ke sang ayah. "Iya deh. Jaya minta maaf."


Satu pelukan dari sang ayah menyambut permintaan maafnya.


Diiringi senyum hangat sang ibu sebelum dering ponsel wanita itu menginterupsi. Raga mengedikkan dagu seraya bertanya siapa. Nawang menjawab, "Mas Reon."


"Angkat."


Mengindahkan, lalu Nawang loudspeaker dan suara Reon terdengar panik. "Naw, Raga di rumah nggak? Gue telepon, nggak diangkat. Ini tadi gue dapet kabar dari rumah sakit, katanya Gitta lagi dirawat di Rumah Sakit Sejahtera."


"Mbak Gitta sakit, Mas?"


"Nggak tahu. Gue masih on the way ke sana. Tolong bilangin Raga suruh nyusul ya."


"Iya, Mas."


Panggilan terputus.


Nawang menoleh. "Abis makan, bantuin Mas Reon gih, Yah."


"Nyusahin banget keluarganya Reon," gerutu Raga.


"Ayah, Jaya ikut!" rengek Jaya.


"Kakak di rumah, jagain Bunda," tolak Raga, halus.


Jaya manyun lagi.


"Kira-kira Mbak Gitta kenapa ya, Mas?"


"Nggak tahu lah. Kamu jangan bilang Mama ya."


"Iya."