5th Anniversary

5th Anniversary
Sebuah Panggilan



^^^Nafisha:^^^


^^^Naw^^^


Saya:


Iya, kenapa Fish?


^^^Nafisha:^^^


^^^Sori, gue mau nanya sesuatu^^^


Saya:


Nanya apa?


^^^Nafisha:^^^


^^^Lo lagi butuh duit banget ya?^^^


Pertanyaan Nafisha membuat kening Nawang sontak berkerut bingung.


Omong-omong, Nawang nggak begitu dekat dengan teman-teman kerjanya. Bahkan ia hanya akan buka suara ketika ditanya atau ada perlu. Selebihnya, diam dan pasang muka ramah. Itulah kenapa teman-temannya selalu merasa sungkan bila berdekatan dengannya, kadang suka salah tingkah sendiri tiap bersitatap dengan Nawang. Tapi, kenapa tiba-tiba Nafisha bertanya seperti itu?


Saya:


Maksudnya gimana Fish?


^^^Nafisha:^^^


^^^Gue tahu lo punya anak^^^


^^^Pasti kebutuhan makin banyak^^^


^^^Tapi bisa kan lo bilang dulu kalo mau lembur^^^


Nawang terkesiap.


Semalam, bosnya memang meminta dia untuk lembur.


Saya:


Naw, besok lembur ya


Gantiin Nafisha


Sebagai bukti, Nawang teruskan pesan Rendra semalam.


Saya:


Pak Rendra sendiri yang nyuruh


^^^Nafisha:^^^


^^^Bukannya kemaren lo yang bilang^^^


^^^Makanya Pak Rendra gak ngasih gue lembur^^^


^^^Padahal gue lagi butuh duit^^^


Well, biasanya kalau ambil jatah lembur, karyawan akan mendapat uang tambahan. Tapi nggak semua karyawan diberi jatah bersamaan. Ada waktunya masing-masing. Dan Nawang tidak tahu menahu perihal rencana Nafisha yang ingin mengambil jatah lembur.


Saya:


Terserah kalau kamu gak percaya


Hari ini aku resign kok


Kamu tetep berangkat aja


Lalu foto profil Nafisha hilang. Ketika di-chat, hanya centang satu.


Rupanya ia diblokir.


Sementara Raga yang menyadari perubahan ekspresi sang istri kontan menceletuk, "Bun, are you okay?"


Melempar fokus ke sang suami, Nawang meracau. "Maksud Pak Rendra tuh apa ya, Yah?" Raga mengernyit tidak paham. "Semalem dia chat aku, nyuruh lembur, gantiin Fisha. Tapi barusan Fisha nuduh aku ngambil jatah lembur dia. Dan dia bilang; aku yang minta ke Pak Rendra."


"Kamu siap-siap gih! Abis ini kita ke butik. Aku juga mau ngomong sama dia."


Kalau kemarin-kemarin Nawang membela Rendra yang dia nilai "baik" maka tidak untuk sekarang. Bosnya itu mulai keterlaluan. Mulai kelihatan belangnya. Memang sih nggak ada manusia yang sempurna, tapi untuk kali ini Rendra sulit untuk ditolerir.


"Bunda, nungguin Jaya sekolah, 'kan?" tanya Jaya yang baru saja muncul bersama Novi, pengasuhnya.


"Iya, sama Ayah juga," sahut Raga.


Jaya bersorak riang. "Yeay!" Sedetik kemudian teringat sosok yang berdiri di belakang kursinya. Anak itu menoleh sebentar, lalu kembali menatap kedua orang tuanya. "Sus ikut nggak, Yah?"


"Ikut dong."


"Bu, jangan," tolak Novi, sungkan. "Saya sarapan di belakang aja, sama Mbak yang lain."


"Ya udah, terserah kamu."


"Tapi nggak apa-apa, Bu, saya tinggalin Jaya bentar?"


Nawang mengangguk santai. "Ya nggak apa-apa dong. Kan kamu mau sarapan."


"Nov," sela Raga, menyita perhatian Novi. "Meskipun kamu susternya Jaya, jangan terlalu manjain dia. Biarin dia makan dan melakukan semuanya sendiri. Cukup awasi dan tegur kalau sekiranya dia salah. Tapi yang paling penting; ajak dia bicara dengan nada lembut, karena saya dan istri saya sebagai orang tua pun nggak pernah bentak dia."


"Baik, Pak." Novi mengangguk mengerti.


"Sekali aja kamu berani bentak apalagi melakukan kekerasan fisik seperti mencubit, saya nggak akan segan-segan untuk pecat kamu. Paham?" lanjut Raga yang dipahami Novi lewat anggukkan. Well, beberapa waktu lalu sebelum Novi didatangkan sebagai pengasuh Jaya, ada baby sitter yang memarahi anak itu gara-gara nggak hati-hati bawa gelas. Hasilnya, Jaya nangis kejer sampai nggak berani ketemu pengasuhnya.


"Mas, udah dong." Nawang menenangkan, ia usap punggung kokoh sang suami, lalu beralih menatap Novi. "Sarapan dulu, gih!" Novi mengangguk, kemudian pamit. Dan selepas kepergian Novi, Nawang menarik tangannya dari punggung kokoh sang suami. "Jangan gitu, Yah. Aku lihat Novi nggak kayak pengasuh Jaya yang lain."


"Hati-hati itu perlu, Bun," tandas Raga sambil menyuapkan nasi goreng ke mulut.


Nawang mengesah, fokusnya dilempar ke si kecil.


"Bunda, besok Jaya mau ke Korea sama Om Reon," ujar Jaya.


"Ngapain ke sana?" Nawang merespons.


"Ketemu NCT," jawab Jaya, semangat. "Bunda, NCT itu apa sih?"


"Lah, mana Bunda tahu. Kan yang ngajakkin Om Reon. Kamu tanya dong ke Om."


"Kata Om Reon, NCT itu sodara-sodaranya Om Reon. Ada Om Na Jaemin, Om Lucas, Om Jaehyun, Om Jeno, banyak deh," jelas Jaya, mengingat jawaban sang paman. Biarpun dia masih nggak ngerti; NCT tuh maksudnya apa.


"Kak, sodara-sodaranya Om Reon mah Ayah, Om Raja, sama Om Ronald," sela Raga.


Mata bulat Jaya berpindah ke sang ayah. "Bukan, Ayah. Udah ganti."


"Astagfirullah, Bang Reon!" Nawang cuma bisa istigfar. Se-la-lu. Saben ketemu iparnya satu itu, pasti anaknya punya kosakata dan cerita konyol baru. Heran. Setengil-tengilnya Raga dulu, tapi semenjak menikah, suaminya berubah agak kalem---walaupun kalau marah tetep serem sih.


"Nanti Jaya mau pedekate sama Lisa Blackpink," lanjut Jaya, lalu bertanya lagi. "Yah, pedekate itu apa?"


"Si Reon emang minta disantet!" geram Raga, pelan, yang hanya bisa didengar Nawang.


***


"Kamu jagain anak saya, ya? Sejam lagi kami balik," pesan Raga.


Novi mengangguk. "Baik, Pak."


Setelah berpamitan, Raga menggiring istrinya ke mobil. Mereka meluncur ke butik tempat Nawang bekerja. Ini saat yang tepat untuk menjatuhkan Rendra yang selalu bersikap seenaknya. Raga benar-benar tidak sabar ingin menunjukkan senyum penuh kemenangan di hadapan pria itu. Biar tahu rasa si Narendra Jelek Akhlaknya!


Dan setibanya di butik, mereka disambut tatapan bingung Rendra.


Nawang mendekat.


Raga mengekor.


"Nawang, kenapa kamu---"


"Ini surat pengunduran diri saya, Pak." Nawang meletakkan amplop cokelat di meja.


Rendra menatap amplop cokelat tersebut, lalu beralih menatap sinis Raga. "Anda yang maksa istri Anda untuk resign dari butik saya?"


Pertanyaan Rendra membuat satu alis Raga praktis terangkat. "Lho, heh? Ini istri gue. Salah kalau dia nurut apa kata suami?" Mengedikkan dagu, tersirat sorot penuh ledek di sepasang matanya, memicu dengkusan Rendra. Lantas perhatian Raga tersulih ke sisi. "Bun, bilang dong; kamu resign karena apa?"


"Karena saya nggak bisa bekerja dengan orang bermuka dua!" tegas Nawang.


"Maksud kamu?" Rendra mengernyit tidak paham.


"Udah jelas kali, Bro. Muka lo ada dua. Di depan istri gue, lo sok bersikap baik. Tapi di belakang, lo fitnah istri gue. Dasar!" sahut Raga, kesal. "Eh, tapi omong-omong skincare lo mahal dong? Kan muka lo double." Tergelak, pelototan Rendra segera membungkam kepongahannya. Raga mesam-mesem, merasa menang. "Lagian, lo 'kan tahu Nawang udah punya suami. Ganteng lagi, kayak Arya Saloka. Kenapa lo masih nekat mepetin istri gue sih? Mau jadi Raul Lemos Part Dua lo?"


"Pokoknya kamu nggak boleh resign, Nawang. Ini terlalu dadakan."


"Emang kenapa kalau dadakan? Lo khawatir nggak bisa deket-deket istri gue lagi?" sembur Raga, "Asal lo tahu ya, dengan lo ngomong yang nggak-nggak kayak kemaren, istri gue jadi jijik sama lo!"


"Nawang---"


"Terima kasih untuk kebaikan Bapak selama ini. Tapi benar kata suami saya; saya harus resign. Apalagi saya sedang hamil. Suami saya selalu khawatir kalau saya ada di luar rumah," pungkas Nawang.


"Tapi, Naw---"


"Papi!" Panggilan itu menyita seluruh atensi, disambut beragam reaksi kala mendapati gadis cilik yang kira-kira seusia Jaya berlari meghampiri Rendra, lalu menghambur memeluk pinggang pria itu. Kepalanya mendongak. "Papi, Jizzy mau ke sekolah sama Papi, soalnya Mami bulu-bulu."


"Jizzy, Mami 'kan---"


"Citra?"


//


Ono opo iki gaes? 🙄🙄