5th Anniversary

5th Anniversary
Anak Siapa?



"Mas?"


Raga tersenyum, dikecupnya puncak kepala Nawang, lalu beralih ke samping Jaya dan duduk di sana. Jagoannya itu langsung berpindah duduk ke pangkuannya. Tepat ketika Gitta bangkit, untuk kemudian pamit. Raga melempar pandangan teduhnya ke sang istri. "Apa kata dokter?"


"Jaya cuma kecapekan kok. Tadi juga udah dikasih resep sama dokter."


"Syukur lah." Raga peluk putra sulungnya dengan sayang.


Jaya mendongak menatap ayahnya. "Ayah."


"Apa, Kak?"


"Beli mobil-mobilan."


"Oke."


Meninggalkan kafe, mereka mampir ke toko mainan---menuruti bos kecil yang lagi mode manja karena sebentar lagi bakal ada saingan. Raga mengawasi putranya sambil sesekali menoleh ke sisi. Nawang sama sibuknya dengan Jaya. "Bun, kalau capek, tunggu di mobil aja."


Nawang mendongak, menatap suaminya. "Kamu nggak suka aku ada di sini?"


"Astaga, nggak gitu, Bun!" Raga segera menggeleng, "Kamu 'kan lagi hamil. Aku nggak mau kamu kecapekan, makanya aku suruh tunggu di mobil."


"Iya, dengan alasan lain; biar kamu bisa cuci mata!" timpal Nawang, berasumsi sendiri. Netra beningnya diedarkan ke sekitar. Beberapa pramuniaga seumuran Nayla---adiknya, yang tentunya cantik-cantik dan menarik, berdiri di tiap sudut, melayani para pembeli yang barangkali sedang kebingungan mencari barang. "Kan banyak cewek cantik di sini." Kembali menatap sang suami, "Iya 'kan, Yah?"


Sejenak menjeda langkah, Raga bungkukkan badan---mensejajari sang istri yang tingginya sebatas pundaknya. Ia tatap tepat di manik mata perempuan itu, lalu sebelah matanya berkedip genit. "Mereka mah cantik di luarnya doang. Kalau kamu 'kan cantik luar-dalem."


"Gombal!"


"Beneran, Bun." Menegakkan tubuh, Raga tarik tubuh istrinya ke dalam pelukan, lantas ia kecup puncak kepalanya dengan gemas. "Tapi nggak apa-apa. Aku lebih suka kamu yang posesif."


"Aku nggak posesif! Nggak usah GR!" sangkal Nawang.


Raga tertawa. Dirangkulnya sang istri, ekspresinya berubah memohon. "Mulai hari ini kamu nggak usah kerja ya? Please, jaga kesehatan demi anak kita. Lagi pula, aku kerja buat kamu dan anak-anak. Jadi kamu nggak perlu capek-capek cari uang."


"Tapi, Mas, bapakku---"


"Urusan Bapak, biar aku yang nanggung. Aku nggak pernah ngerasa terbebani kok. Are you trust me?" Nawang membuang pandangan, membuat Raga kontan menghela napas panjang. Ia tidak mendengar percakapan Nawang dengan iparnya tadi. Hanya kalimat terakhir Gitta yang berusaha meyakinkan Nawang. "Sayang, aku nggak akan maksa kamu jujur soal Mama. Tapi tolong ... jangan kayak gini. Aku nggak mau pisah dari kamu."


"Aku nggak tahu harus gimana, Mas. Di satu sisi, aku sayaaang banget sama kamu." Nawang menunduk, menahan air mata yang menggenang di pelupuk. "Terus ada anak-anak juga yang butuh kita. Tapi di sisi lain---" Mengangkat wajah, memberanikan diri menatap suaminya lagi. "Aku nggak mau hubungan kamu dan Mama jadi renggang gara-gara aku."


"Justru dengan kamu maksa aku untuk nyeraiin kamu, bisa bikin hubunganku dan Mama jadi renggang!" tandas Raga, "Bun ..." Meraih sisi pundak Nawang dan diremas perlahan, ia meneruskan, "Kita pergi dari sini ya?"


Nawang menggeleng kaget, matanya membeliak. "Kalau kita pergi dari sini, yang ada Mama jadi makin nggak suka sama aku, Yah."


"Cuma ini yang bisa aku lakuin untuk mempertahankan rumah tangga kita, Bun."


"Tapi---"


"Ayah, mau mobil yang itu!" Seruan Jaya menginterupsi obrolan kedua orang tuanya.


Raga mendekati sang jagoan yang berada di ujung, menunjuk mobil-mobilan, lalu ia ambilkan. Tak peduli berapa harganya. "Ini aja?"


"Iya, Yah." Jaya mengangguk.


Kepala Raga tertoleh ke belakang, menatap Nawang yang berjalan ke arahnya. Lalu, pria berperawakan jangkung itu menggiring anak dan istrinya menuju rak boneka. Diambilnya boneka Doraemon berukuran sedang, ia berikan pada Nawang. "For you, Bun."


"Hm?" Kedua alis Nawang saling bertaut, menatap bingung Raga.


"For you," ulang Raga, diterima Nawang.


"Makasih, Ayah," ucap Nawang.


"Kembali kasih, Bunda," balas Raga.


Melihat kedua orang tuanya yang tampak akur, Jaya tersenyum senang.


Setelahnya, mereka berderap ke kasir untuk tranksaksi, kemudian pulang. Tapi langkah ketiganya terjeda oleh pertemuan yang tak diinginkan. Mereka berpapasan dengan Rendra ketika hendak masuk mobil. Seperti biasa, pria itu menyapa Nawang tanpa memedulikan keberadaan.


"Hai, Naw."


"Iya, Pak." Nawang mengangguk sopan.


Perhatian Rendra teralih pada Jaya yang berdiri di samping Raga. "Jaya udah sembuh?"


"Udah, Om. Kan tadi abis ke dokter."


"Maaf, Pak, anak dan istri saya nggak bisa berdiri lama-lama," sela Raga dengan cara formal, lalu ia bukakan pintu belakang untuk anaknya. Dan begitu si kecil masuk, ia ganti mempersilakan sang istri masuk dan duduk di sebelah kursi kemudi. Lantas Raga berbalik, menghadap Rendra yang seketika menaikkan satu alis. "Oh ya, atas nama istri saya, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk kesempatan yang Anda berikan. Maaf, kalau selama bekerja di tempat Anda, istri saya pernah melakukan kesalahan. Tapi sekali lagi, saya ucapkan terima kasih." Membulatkan tekad demi sebuah kemenangan, Raga mengimbuhkan, "Dan mulai besok, istri saya resmi mengundurkan diri."


"Kenapa? Anda khawatir Nawang tambah dekat sama saya?"


"Bukan itu alasannya, Pak," sanggah Raga, tertawa pelan. "Tapi istri saya lagi hamil."


"Yakin, hamil anak Anda?"


Tanggapan Rendra berhasil menyulut emosi Raga. Tepat ketika Nawang menurunkan kaca mobil seraya berseru, "Yah, ayo pulang!"


"Permisi," tukas Raga, menahan emosi.


Diiringi tatapan licik Rendra.


***


Sejak pulang dari toko mainan, Raga lebih banyak diam. Bahkan ketika menemani si sulung bermain di ruang tengah, ia hanya menjawab sekadarnya tiap kali anak itu bertanya. Dan Nawang yang sedari tadi memperhatikan suaminya mulai mencium ketidakberesan di sini. Apa ini ada kaitannya dengan obrolan pria itu dan Rendra beberapa saat lalu?


"Yah," panggil Nawang, menyentuh sisi pundak Raga.


Yang disentuh pundaknya menoleh sekilas, lalu kembali fokus ke si kecil.


Nawang menghela napas. "Ayah," ulangnya. "Ada masalah?"


"Naw ...." Raga menoleh lagi, lalu tatapannya pindah ke perut sang istri. "Itu anakku, 'kan?"


Tersentak pilu, Nawang gelengkan kepala. Tak menyangka suaminya akan bertanya demikian. "Kamu nggak percaya sama aku, Mas?"


"Nggak gitu, Naw." Giliran Raga yang menggeleng. "Setahun belakangan 'kan kamu deket sama si Rendra, terus tadi Rendra sempet nanya ke aku; apa aku yakin itu anak aku?" Jeda, diraihnya telapak tangan Nawang. Bergegas Nawang tepis. "Naw---"


"Enam tahun kita berumah tangga, Mas. Harusnya kamu tahu siapa aku. Dan meskipun aku tertekan dengan setiap omongan mama kamu, sampe aku minta pisah dari kamu, tapi nggak pernah sekalipun aku kepikiran untuk duain kamu, apalagi berbuat zina di belakang kamu!" tegas Nawang, yang diakhiri ringisan pedih. Ia sentuh dadanya yang terasa sesak. "Kamu inget, sebulan sebelum pernikahan kita?" singgungnya, mengungkit masa lalu. "Beberapa laki-laki dengan terang-terangan ngelamar aku, tapi siapa yang aku pilih?" Memperdalam tatapan, "Kamu, Mas. Kamu yang aku pilih. Tahu kenapa? Karena cuma kamu yang bisa ngeyakinin aku."


Tanpa kata, Raga tarik istrinya ke dalam pelukan. "Maaf."


Nawang meneteskan air mata. "Besok anterin aku ke butik untuk resign ya?"


"Tadi udah aku sampein ke Rendra."


"Aku mau ngomong langsung, Mas."


"Oke."


Letupan emosi yang membuncah di balik dada, membuat Nawang yakin mundur dari tempat gawai. Terlebih mengingat obrolannya dengan Gitta tadi, ia pikir ada benarnya juga. Kadang ia terlalu gegabah dengan mengambil keputusan secara sepihak. Padahal rumah tangga itu tentang dua orang, dua kepala, dua pendapat, dan bagaimana caranya supaya bisa jadi satu mufakat.


"Ayah, ngantuk," ringik Jaya, otomatis dekapan kedua orang tuanya terhela.


"Bawa ke kamar gih, Yah! Biar aku bikinin susu," kata Nawang.


"Siap, Bun." Raga langsung membawa putranya ke kamar selagi Nawang membuatkan susu untuk si kecil. Baru hendak melangkah menuju dapur, tiba-tiba ponselnya bergetar pendek---menandakan pesan masuk. Ketika dibuka, ternyata dari Rendra.


Nawang mencebik.


Omong-omong setelah berdebat panjang, tadi pagi SIM Card-nya dikembalikan Raga. Dan ia buka juga blokiran semalam. Tapi sekarang ia justru menyesal karena mulut Rendra nyaris menghancurkan kepercayaan Raga. Well, Rendra memang pernah menyatakan cinta dan mengaku tertarik padanya, tapi Nawang tidak mungkin menyambut perasaan bosnya itu. Terlepas sudah bersuami, cuma Raga satu-satunya pria yang berhasil mengetuk hatinya. Bahkan sepanjang hidupnya, ia hanya menjalin hubungan dengan satu pria, yaitu Raga yang sekarang jadi suami serta ayah dari anak-anaknya.


^^^Pak Rendra:^^^


^^^Naw, besok kamu lembur ya^^^


^^^Gantiin Nafisha^^^


Saya:


Baik, Pak


Akan Nawang beri kejutan spesial untuk bosnya itu.


Besok, tunggu saja.


//


Nawang nih kalem, tapi serem 🤣🤣


Gimana gaes chapter ini? Sori ya kalau feel-nya kurang nusuk. Wkwk