5th Anniversary

5th Anniversary
Temennya Bunda



"Ayah, Bunda mana?" tanya Jaya, begitu Reon memulangkan bocah empat tahun tersebut.


Raga mengangkut tubuh gempal putranya ke gendongan, lantas ia kecup pipi chubby-nya selagi Reon berkata, "Mending lo samperin ke rumah Bik Nia deh. Jangan sampe Mama tahu, terus ikut campur." Raga sependapat, tapi ini bukan waktu yang tepat. "Sorry, gue nggak bisa lama-lama."


"He-em, nggak apa-apa."


Dari gelagat Reon barusan, Raga seperti menemukan kejanggalan. Namun, ia tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini. Maka sepeninggal Reon, Raga membawa putranya masuk. Dan anak itu masih terus menanyakan ibunya. "Bunda lagi ada urusan. Gananjaya sama Ayah dulu ya?"


"Urusan apa, Yah?" cecar Jaya.


"Ada lah, urusan ibu-ibu." Raga kecup pipi anaknya.


"Tapi mau sama Bunda," rengek Jaya, keukeuh.


Biasanya sebelum tidur, Jaya akan memeluk ibunya. Pokoknya harus cium baunya Bunda. Padahal waktunya lebih banyak dengan wanita itu, tapi tetap saja; Bunda nggak tergantikan. Tetap jadi yang utama. Dan sekarang tiba-tiba ibunya pergi entah ke mana. Tentu Jaya kecewa.


"Jaya tadi diajak ke mana sih sama Om Reon?" pancing Raga, mengalihkan topik.


"Jemput Tante Gitta, tapi ada om temennya Bunda," jawab Jaya.


Memicu kerutan di dahi Raga. "Om temennya Bunda?"


"Iya."


"Siapa?"


"Om temennya Bunda," kata Jaya yang tak dipahami oleh Raga. "Terus Om Reon marah sama Tante Gitta. Tante Gitta-nya disuruh turun di jalan."


Raga terkesiap mendengar cerita sang jagoan. Jaya emang suka ngaco, tapi kalau dilihat dari ekspresi dan nada bicaranya sekarang; apa yang disampaikan Jaya bukan karangan semata. Ditambah gelagat Reon tadi yang semakin memperkuat asumsi Raga, bahwa rumah tangga abangnya juga sedang tidak baik-baik saja. Tapi, siapa om temennya Bunda yang dimaksud Jaya? Setahu Raga, teman laki-laki Nawang yang pernah menampakkan diri di hadapannya—juga sang jagoan—cuma Rendra.


Ck, wait.


Teman laki-laki Nawang?


Rendra mah udah jelas mau ngerebut istrinya.


Mengingat itu, lepas dengkusan dari bibir Raga. Cih! "Ya udah, nggak usah dipikirin ya?"


"Nanti Tante Gitta-nya gimana? Kasihan, Ayah."


Omong-omong, selain dekat dengan Windi, Jaya juga nempel dengan Gitta. Tapi kalau ada Renata, neneknya itu suka resek ngejauhi Jaya dari tantenya. Padahal di mata Jaya, Gitta sosok tante yang menyenangkan. Tak seperti Nadya yang jarang berbaur dengan para keponakannya. Malah cenderung membentengi diri. Meskipun tiap acara keluarga, selalu wanita itu yang dielu-elukan Renata.


"Nanti Ayah bilangin ke Om Reon ya? Sekarang Jaya bobok."


"Sama Ayah?"


"Iya dong."


Jaya melingkarkan kedua tangannya ke leher sang ayah dan dagunya ditumpukan ke sisi pundak pria itu. Bergegas Raga memacu langkahnya menuju kamar. Dan sebelum menidurkan putranya, ia gantikan baju anak itu, kemudian berbaring di sampingnya. Ia kecup kening buah hatinya dengan sayang.


"Good night, Kak."


"Good night, Ayah."


***


"Minum dulu." Nia menyodorkan segelas air putih, diterima si sulung.


Sementara di sebelahnya, sang ibu mencoba menenangkan lewat usapan di rambut sampai punggung. Well, ini kali pertama Nawang pergi dari rumah saat sedang ada masalah—ditambah kondisinya hamil muda. Sebelum ini, Nawang jarang mengadukan problem rumah tangganya kepada orang tuanya, apalagi sampai pergi dari rumah seperti ini. Karena dia selalu ingat nasihat sang ibu; "sekacau apa pun situasi di dalam rumah, jangan pernah pergi untuk mencari perlindungan, atau menceritakan masalahmu pada orang luar. Kecuali kalau pasanganmu main tangan, kamu berhak melaporkannya kepada pihak yang berwajib."


Dan ayahnya juga sering berpesan kepada Raga; "seandainya kamu bosan dengan anakku, jangan pernah tinggalkan dia. Tetapi kembalikan saja padaku. Aku yang merawat dan mencintainya sedari ia kecil."


Tapi bicara soal main tangan, Raga pun pernah sekali menamparnya.


"Ada apa, Nduk?" tanya Nia kemudian.


Tatapan Nawang tertuju pada sang ibu. "Mas Raga ngusir aku, Bu."


"Masalahnya apa?" Nia bukan Renata yang mudah meledak hanya dari sebaris kalimat yang ia dengar.


"Jadi, Mama nyuruh baby sitter baru buat jagain Jaya. Tapi Mas Raga yang nggak gampang percaya, nyuruh anak buahnya untuk cari tahu siapa Novi. Ternyata ... Novi ini istrinya Pak Kholis yang katanya terlibat di kasus pembunuhan Kakek," kata Nawang, menjelaskan. Lalu napasnya dihela, mengumpulkan energi. "Karena itu, sikap Mas Raga ke Novi jadi lebih sinis. Bahkan waktu Novi bikinin aku teh, sama Mas Raga, gelasnya ditepis gitu sampe jatuh dan pecah."


"Dan menurut kamu, kenapa Raga ngelakuin itu?"


Butuh beberapa detik untuk Nawang mengeluarkan suaranya lagi. "Karena Mas Raga sayang sama aku, dia takut aku kenapa-napa. Tapi kadang caranya nggak tepat, Bu."


"Tiap orang punya cara masing-masing, Nduk."


"Aku tahu, Bu," timpal Nawang. "Tapi semenjak ada Novi dan Mas Raga mikir yang enggak-enggak tentang Novi, kita jadi sering berantem." Walau kenyataannya selama tiga tahun belakangan, berdebat sudah menjadi rutinitas mereka, tetapi kehadiran Novi sedikit memperkeruh suasana yang sempat menghangat. "Kita udah nggak bisa bicara sambil duduk."


Usapan Nia beralih ke lengan. Ia sorot putri sulungnya yang sebentar lagi akan dikaruniai anak ke dua dengan tatapan teduh. "Yang namanya rumah tangga, pasti ada pahitnya. Ibu sama Bapak juga sering kayak gini. Tapi prinsip kita; kita menikah untuk belajar, belajar, dan belajar. Nah, belajar ini memiliki arti luas. Bisa belajar sabar, belajar memahami sifat dan karakter pasangan, dan tentunya belajar memaknai arti dari pernikahan itu sendiri." Jeda, tersumir senyum di bibir Nia. "Apa Ibu pernah putus menjalani rumah tangga? Pernah. Tapi, apa Ibu menyerah dengan rintangan yang ada di dalam rumah tangga? Enggak. Kalau Ibu nyerah, kamu nggak akan ada di titik ini."


"Apa Bapak pernah ngusir Ibu?" tanya Nawang, telak.


"Marahnya orang beda-beda, Nduk. Lagi pula, mana mungkin bapakmu ngusir Ibu? Orang dulu kita numpang di rumahnya Raga puluhan tahun, karena Ibu kerja sama keluarganya." Senyum Nia terbit lagi. Kali ini tampak getir. "Nduk, Ibu nggak berhak ikut campur, tapi Ibu siap dengerin keluh kesahmu. Karena ketika Raga datang dan meminang kamu, kamu bukan lagi tanggung jawab Ibu. Kecuali kalau suamimu itu nyerah, dia harus mengembalikan kamu untuk kami pertanggung jawabkan lagi."


Nawang menunduk, air matanya menetes.


"Jaya di mana?"


"Tadi ikut Mas Reon. Tapi aku udah bilang; nanti pulangnya diantar ke sini," jawab Nawang tanpa menatap ibunya. Entah kenapa, dia tidak sanggup melihat raut pilu sang ibu. "Bu, aku boleh istirahat nggak?"


"Boleh. Ibu keluar ya?"


Nawang hanya mengangguk.


Selepas kepergian sang ibu, punggungnya disandarkan ke headboard. Mengilas balik kenyataan, keluarga Raga memang sangat berjasa untuk keluarganya, terutama Kakek. Dulu saking susahnya, bahkan waktu lahiran Nawang saja, kedua orang tuanya harus jual motor, cincin nikah, dan beberapa barang lainnya. Tapi berkat kebaikan Sindu, mereka tidak hanya diberi kemudahan untuk persalinan, tetapi juga ditawari pekerjaan. Hingga pelan-pelan mereka mampu membangun rumah, meski tidak mewah.


Dan rumah yang saat ini Nawang datangi lah bukti kerja keras Nia dan Ruslan.


Tidak lama kemudian, ponselnya bergetar—menandakan pesan masuk. Nawang menoleh, tangannya terulur meraih benda pipih berteknologi canggih yang tergeletak di meja kecil dekat ranjang. Ia buka pesan tersebut. Ternyata dari Raga alias suaminya.


Mengembuskan napas seusai membaca pesan dari sang suami, perlahan kelopak matanya tertutup. Pengusiran Raga tadi benar-benar melukai hati. Meski Nawang tahu, su


aminya sedang emosi. Tapi, apa pantas ia bertindak demikian?


Membuka mata, Nawang dibuat kaget oleh bunyi derit yang ditimbulkan pintu kamar. Atensinya terlempar ke sumber suara. Dan pintu didorong dari luar, menampilkan sosok Raga berdiri tegap di sana.


------


Next nggak?


Komen dong :(