
Meluncur ke rumah sakit, Raga berpapasan dengan Reon yang baru saja tiba di parkiran. Mereka lantas memasuki gedung tempat dimana orang-orang yang tengah butuh pertolongan bernaung. Kedua kakak-beradik itu sama-sama menunjukkan raut cemas. Terlebih ketika tiba di bagian informasi dan menanyakan pasien atas nama Sagitta Anindya, rasanya jantung Reon seakan berhenti berdetak. Tubuh jangkung pria itu limbung, nyaris ambruk, kalau saja Raga tidak sigap menahan, kemudian digiringnya sang kakak ke ruang ICU.
Terkejut kala menemukan Rendra berdiri di sana.
"Ngapain lo di sini?" sembur Reon.
Seringai penuh cela menghiasi bibir Rendra. "Harusnya Anda berterima kasih sama saya. Kalau nggak ada saya, pasti istri Anda—"
Bugh!
Satu pukulan telak di perut menginterupsi kalimat Rendra. Tentu mantan suami Gitta tidak terima. Maka, ia serang balik laki-laki yang kini berstatus sebagai suami Gitta, dan lagi-lagi Reon tersulut emosi, lalu membalas pukulan tersebut, disambut pukulan Rendra, dan terus saja begitu. Raga berusaha melerai, tapi percuma. Dua pria berbadan kekar itu sama-sama kalut dan tak ingin kalah.
Hingga seorang sekuriti datang sambil meniup peluit, sontak baku hantam pun terjeda.
Reon menatap tajam Rendra. "Pergi!"
"Saya peduli sama Gitta, karena dia ibu dari anak saya. Dan saya nggak akan ngelepasin dia lagi," kata Rendra, enteng.
Otomatis Reon membulatkan mata. "Maksud lo apa, anjing?!"
"Bang!" tahan Raga, menarik pergelangan tangan Reon.
"Lo denger sendiri 'kan gimana bajingannya ini orang!" umpat Reon, kembali menatap tajam Rendra yang dengan santai menaikkan satu alis. "Sampai kapanpun, gue nggak akan biarin laki-laki manapun, termasuk elo, ngambil Gitta dari gue."
Alih-alih tersinggung, Rendra justru tertawa. Lagi-lagi terkesan mencela.
Diinterupsi oleh bunyi derit yang ditimbulkan pintu ruang ICU. Wanita berumur yang tak lain adalah Dokter Dian, menarik seluruh atensi. Reon lekas menghampiri. "Dok, gimana kondisi istri saya? Atas nama Gitta."
"Mari ikut saya ke ruangan," ajak Dokter Dian.
Reon mengangguk. Ditemani Raga, ia ikuti langkah-langkah anggun sang dokter. Sampai ruangan, ia duduk berhadapan dengan Dokter Dian. Wanita itu menjelaskan, "Jadi begini, Pak. Akibat perdarahan hebat yang dialami Bu Gitta, membuat janin dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan."
Janin?
Reon terenyak. "Istri saya hamil, Dok?"
"Bapak tidak tahu?" Dokter Dian mengernyit heran.
Dan gelengan Reon merespons.
Lewat sudut matanya, Raga bisa melihat betapa merasa bersalahnya Reon terhadap kematian calon bayi yang bahkan belum sempat pria itu ketahui keberadaannya. Namun, Raga juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menguatkan kakaknya itu. Sebab sebaik apa pun manusia menjaga titipan-Nya, jika di dalam skenario-Nya, titipan itu harus diambil, maka tak seorang pun mampu menghindari takdir-Nya.
Reon menitikkan air mata.
Membuat Raga kontan terenyak. Kakaknya ini tipe manusia yang nggak bisa serius. Jangankan nangis, bahkan untuk sekadar bersedih saja, rasanya sulit bagi seorang Reon. Dan seumur hidupnya, Raga tidak pernah melihat abangnya menangis. Baru hari ini. Bahkan sewaktu melepas masa lajang, ni orang masih sempat-sempatnya cengengesan di pelaminan.
"Nak, maafin Papa," bisik Reon, merana.
***
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun." Nawang membekap mulut tak percaya.
Di sampingnya, Novi yang tengah menemani Jaya menggambar langsung menoleh, menatap majikannya dengan kaget.
"Aku ke sana ya, Mas?"
"Jangan, sayang. Kondisi kamu juga lagi hamil besar. Nanti aja pas Mbak Gitta udah di rumah, oke?" larang Raga. Seperti biasa, bapak dua anak itu selalu posesif ke istrinya. "Tapi aku minta sama kamu, tolong jangan bilang ke Mama. Aku nggak mau Mama nyerang Mbak Gitta lagi dan bikin Mbak Gitta makin down."
"Mas, Mama nggak kayak gitu. Percaya deh sama aku." Nawang meyakinkan. "Justru kalau kita diem aja, padahal tahu yang sebenarnya, Mama malah mikir yang enggak-enggak tentang kita. Lagi pula, Mama ibu mertuanya Mbak Gitta. Jadi berhak tahu."
"Iya, sayang, aku paham. Tapi nggak sekarang."
"Terserah deh. Pokoknya kabari terus ya."
"Oke, sayang. Kamu baik-baik di rumah. Love you.'
Nawang tidak membalas. Wanita itu memang jarang mengucapkan kalimat gombal seperti i love you, i miss you, dan masih banyak lagi—yang kerap dilontarkan suaminya. Entah. Nawang emang nggak seromantis itu. Padahal suaminya bucin banget.
Usai mengakhiri panggilan, Nawang menyulihkan pandangan.
"Siapa yang meninggal, Bu?" tanya Novi.
"Itu ... calon anaknya Mbak Gitta," jawab Nawang, diiringi desauan.
"Innalillahi," gumam Novi.
"Sebenernya saya pengin ke sana, tapi nggak dibolehin ayahnya Jaya," ujar Nawang.
"Bu, maaf, bukannya saya mau ikut campur, tapi Bapak ada benarnya juga." Novi tersenyum canggung di akhir kalimatnya. Nawang mendesah kecewa. "Ibu mau saya buatkan sesuatu? Barangkali Ibu laper atau haus."
"Saya nggak mood." Nawang bangkit, berderap menuju kamar. Sejak hamil anak kedua, dia memang agak sensitif. Bahkan kadang muak lihat muka suaminya dan bermalam di kamar Jaya. Raga sampai terheran-heran; apa calon anaknya perempuan?
Kembali pada Nawang, perempuan yang tengah hamil anak kedua itu mendudukkan diri ke tepi ranjang. Atensinya dilarikan ke pigura yang tergeletak di nakas. Potret kebersamaannya dengan Raga sewaktu masih SMA terpampang jelas di sana.
Tangan Nawang menggapai pigura tersebut, ia pandangi wajah bahagianya bersama sang suami. Kala itu, mereka baru saja meresmikan hubungan. Raga yang kebetulan lagi kena hukum—uang jajan dipotong karena mecahin pot bunga kesayangan ibunya, cuma bisa traktir Nawang batagor satu porsi, ples es teh manis.
Sesederhana itu.
Nawang terkekeh geli mengenangnya.
"Berarti diem-diem lo suka kan sama gue?"
"Kak Raga juga, kan?"
"Tapi kenapa harus dengan kekerasan?"
"Gue nggak akan sekasar itu kalau dia bisa jaga sikap."
Masih terekam jelas di ingatan Nawang saat Riski dengan sengaja hampir menciumnya, bahkan tangan laki-laki itu nyaris menyentuh aset berharganya. Beruntung ada Raga yang ternyata diam-diam mengikutinya. Hm, sebenarnya momen saat itu bukan pertama kalinya. Raga sering muncul tiba-tiba dimanapun Nawang berada. Dan setelah menikah, barulah Raga mengaku bahwa pria itu selalu membuntutinya kemanapun.
"Nanti kalau kita nikah, kamu maunya tinggal di mana?"
"Yang jelas jangan serumah sama orang tua kita."
"Tapi aku belum ada rumah, Yang."
"Kita bisa ngekos atau kontrak, Mas."
"Sempit nggak apa-apa?"
"Aku nggak pilih-pilih soal tempat tinggal, yang penting bisa tidur nyenyak."
"Ya udah, selama tidurnya sama kamu, aku manut."
"Ish!"
"Dan satu lagi; jatahnya jangan sampe—"
"Diem!"
Lagi, Nawang terkekeh geli.
Raga emang seabsurd itu, sedangkan Nawang tipe cewek jutek yang nggak bisa romantis ke pasangannya. Tapi justru itu lah yang menjadi daya tarik dan membuat Raga terpikat, sampai bucin ke Nawang.
"Bunda!" seru Jaya, membuka pintu.
Nawang meletakkan pigura di tangannya ke tempat semula, kemudian menoleh. "Iya, Kak. Kenapa?"
"Mau main ke rumah Lili," kata Jaya yang berdiri di ambang pintu sambil memegangi kenop.
"Nanti aja ya?"
"Sekarang, Bunda," rengek Jaya.
Lolos desauan dari bibir Nawang. Sejujurnya dia keberatan. Pasalnya, beberapa waktu lalu, Jaya pernah mendatangi rumah Lili, tapi bukannya disambut, anaknya malah diusir dan otomatis Jaya pulang-pulang nangis. Ngadu sakit hati. Walau akhirnya tetap aja main sama Lili lagi. "Ini waktunya tidur siang loh, Kak."
"Bentar, Bunda."
"Kenapa mainnya harus ke rumah Lili sih? Emang nggak bisa di sini aja?" Nawang berusaha sabar.
Jaya menggeleng. "Kita tuh mau nonton live-nya Bunda Corla."
Kening Nawang berkerut bingung. "Bunda Corla?" ulangnya.
"Iya, bunda kita semua."
"Siapa itu Bunda Corla?" Nawang mulai mikir yang enggak-enggak.
"Iih, Bunda Corla, Bun. Ayah aja tahu."
Nawang melotot. Apa suaminya selingkuh dan selingkuhannya dikenalin ke anak mereka?
"Nanti aja ya? Izin dulu sama Ayah," bujuk Nawang.
"Tapi Ayah lama," keluh Jaya.
"Bentar lagi pulang kok," alibi Nawang.
Jaya mencebik. "Halah, Bunda pelit!"
"Coba Bunda mau lihat gambar Kakak." Nawang mengoper topik.
"Nanti. Aku mau main."
"Kakak," tegur Nawang, penuh peringatan.
"Hih, Bunda!" Jaya mengentakkan kaki sebal lalu akhirnya menangis.
Nawang bangkit, berjalan mendekat. "Kakak, ayo dong jangan rewel gini."
"Tapi mau main!"
"Iya, nanti. Izin Ayah dulu, Kak."
"Halah, Ayah lama!"
Mengembuskan napas panjang dan berat, Nawang melongokkan kepala ke depan. "Nov!" panggilnya. Tak butuh waktu lama, Novi muncul. "Tolong antar Jaya ke rumahnya Lili ya? Kalau misal nggak boleh main sama papanya Lili, langsung ajak pulang."
"Baik, Bu."
Selepas kepergian si sulung, Nawang kembali menutup pintu. Sejurus dengan itu, perutnya mendadak kram. Ia merintih kesakitan. Dirogohnya saku—mengeluarkan ponsel, ia hubungi suaminya. "Mas, perutku sakit banget."
"Aku pulang sekarang, Bun."