5th Anniversary

5th Anniversary
Berbohong?



Raga tidak main-main. Keesokan paginya, begitu Nawang membuka gorden kamar sang jagoan yang langsung bisa menangkap view halaman rumah, netra beningnya menemukan beberapa pria berbadan besar tengah berjaga di depan sana.


Memang sih yang dilakukan Raga untuk kebaikan keluarga kecilnya. Tapi menurut Nawang, ini terlalu berlebihan. Toh, belum jelas juga bagaimana faktanya. Dan kalaupun benar Novi anak dari pembunuh sang kakek, pasti Renata lebih dulu bertindak. Sebab Nawang tahu betul siapa keluarga besar suaminya. Mereka bukan orang sembarangan. Mereka punya kendali penuh atas apa yang mereka inginkan, termasuk memenjarakan orang-orang yang melawan hukum.


Membuang napas, perempuan yang tengah berbadan dua itu berderap menghampiri sang jagoan. Duduk di tepi ranjang, ia guncang lengannya perlahan. "Kakak, bangun yuk! Udah pagi nih."


Jaya masih belum bereaksi.


Tiap abis salat subuh, Jaya selalu melanjutkan tidurnya. Padahal Nawang selalu mewanti-wanti putranya agar tetap terjaga. Tapi kantuk yang menyergap tidak bisa ditoleransi. Alhasil ketika dibangunkan lagi, pasti susah sekali.


"Kak." Kembali mengguncang lengan sang jagoan, tubuhnya dibungkukkan, berbisik tepat di telinga Jaya. "Kak, sekolah yuk! Airnya udah Bunda siapin."


Akhirnya Jaya terusik. Anak itu menggeliat, lalu matanya mengerjap. Dikucek. "Bunda?"


"Iya, ini Bunda. Sekolah yuk!"


"Ayah mana?" tanya Jaya, mirip seperti gumaman.


"Ayah lagi mandi. Yuk, duduk dulu! Kumpulin nyawanya." Nawang membantu anaknya duduk. Selama beberapa saat, ia biarkan sang jagoan duduk sambil sesekali menguap, lalu kepalanya tertunduk, dan matanya kembali tertutup. Namun, setiap kali ia tegur, anak itu akan dengan segera membuka mata dan mengangkat wajah.


Sampai sosok Raga—yang sudah rapi dengan setelan jas kantornya—muncul, Nawang segera membimbing putranya turun dari kasur. "Ayo, mandi! Ayah udah kelar tuh."


"Permisi, Bu, Pak," sapa Novi yang tiba-tiba nongol di ambang pintu.


Nawang dan Raga menoleh.


Novi mengangguk kecil. "Jaya mau dimandiin?"


"Anak saya bisa mandi sendiri. Kamu tunggu aja di dapur!" kata Raga, ketus.


"Oh, baik, Pak." Novi mengangguk lagi, kemudian siuh.


"Mas, nggak seharusnya kamu bersikap kayak tadi," tegur Nawang.


Perhatian Raga kontan teralih. "Terus, aku mesti gimana? Baik-baik sama dia?" balasnya, sengit. "Ayahnya yang bikin kakekku menderita, Naw."


"Kalau bener ayahnya ngelakuin itu, bukan berarti—"


"Udah, aku nggak mau ribut!" Raga mengibaskan tangan, lalu ia gendong anaknya untuk dibawa ke kamar mandi, sementara itu Nawang hanya bisa istigfar.


Dia mengenal baik keluarga suaminya karena sejak kecil tinggal di rumah pria itu. Dia juga sering diajak liburan, dibelikan sesuatu oleh kakek Raga—mengingat semua cucunya laki-laki. Namun, di sisi lain dia tidak ingin menghakimi Novi, karena gadis itu tidak melakukannya. Gadis itu hanya bagian dari orang yang dituduh telah menghilangkan nyawa Sindu.


"Keadilan pasti berpihak pada yang benar, Nov. Meskipun saya nggak tahu siapa yang benar dan salah paham di sini. Tapi saya percaya kamu orang baik."


***


"Kakek!" Nawang remaja tersenyum lebar pada pria paruh baya yang siang ini menempati kursi meja makan paling ujung. Ia jabat telapak tangan pria itu, lantas dicium dengan sopan.


Sindu selalu terkesan pada setiap tingkah remaja empat belas tahun tersebut. Dia tidak terlalu menarik jika dilihat dari fisik, tapi hatinya benar-benar baik. Definisi cantik yang sebenarnya. "Kakek mau ajak Nawang liburan. Nawang siap-siap ya. Sore ini kita berangkat."


"Liburan ke mana, Kek?" Binar bahagia tidak mampu Nawang tutupi.


"Deket-deket sini aja."


"Oke, Kek." Nawang mengacungkan ibu jari.


"Jangan lupa sikat gigi ya, jelek!" celetuk Raga yang baru saja pulang—dengan tas ransel yang dicangklong di sebelah pundak.


Nawang memutar mata.


Omong-omong, Raga alias anak bungsu Sammy yang tengilnya luar biasa—yang usianya terpaut dua tahun di atas Nawang itu memang hobi meledeknya bau. Gara-garanya, dulu waktu kelas satu SD, gigi Nawang ompong satu. Dan Raga bilang; itu karena Nawang jarang sikat gigi, makanya ompong, bau lagi.


Pasca momen tersebut, Raga mematenkan jelek sebagai panggilan sayangnya untuk Nawang.


"Oh iya, Kek, tadi aku dapet nilai seratus di ulangan Matematika loh," kata Raga.


Alih-alih bangga, Sindu justru menaikkan satu alis. "Tumben?"


"Kakek!" decak Raga, "Cucunya dapet nilai bagus bukannya seneng malah dibilang tumben."


"Ya 'kan biasanya kamu dapet hukuman," ejek Sindu, diselingi tawa menggoda. Ia sentuh sisi lengan sang cucu. "Coba Kakek lihat!"


"Nih!" Raga mengeluarkan buku kotak dari dalam ransel, meletakkannya di meja makan, lalu ia buka lembar yang dipenuhi dengan soal Matematika untuk ulangan tadi. Namun, bukan angka seratus yang tertera di sana, melainkan sepuluh.


Sindu mengernyit. "Mana seratus? Sepuluh ini!" protesnya.


"Hah?" Raga mendekatkan pandangannya ke buku, menilik angka yang tertera di sana, kemudian menggeleng sambil disertai decakkan. "Gara-gara si jelek nih!" tudingnya, disambut pelototan Nawang.


"Kenapa jadi aku?"


"Ya iyalah. Tadi 'kan gue nyuruh lo jemput, biar nolnya nggak nggelinding."


"Apa hubungannya?" sewot Nawang, gemas.


"Hm?" Raga menautkan sepasang alis tebalnya, "Hubungan gue sama lo?"


"Ga, kamu ini ya masih kecil udah jago modus!" seloroh Sindu.


"Kakek tahu kata modus dari siapa?" tanya Raga, bingung.


"Abangmu. Reon."


"Emang Kakek tahu apa itu modus?" pancing Raga.


Sindu nyengir. "Emang apa?"


"Jiah!" Raga menepuk jidat, "Udah, ah. Aku mau beberes dulu." Kembali menatap Nawang, sebelah matanya dikedipkan. "Abis ini buka chat dari gue ya. Itu jumlah tagihan selama lo nebeng gue."


Menyadari adanya alarm bahaya, Raga bergegas enyah.


"Kenapa harus Nawang, Kek?"


"Karena cuma kamu yang bisa mengendalikan Raga."


***


"Gananjaya!" Seruan Raga memutus ingatan Nawang. Perempuan bersurai hitam sepunggung yang kini duduk di meja makan itu menolehkan kepala. Raga sibuk mengurus putranya yang nggak bisa diam. "Ayo dong, Kak! Nanti telat."


"Ayah, Power Rangers rumahnya di mana sih?" tanya Jaya yang berdiri di hadapan sang ayah sambil ngedot. Sesekali pinggulnya bergoyang-goyang.


Raga memakaikan seragam untuk sang jagoan. "Nggak tahu. Kan Ayah nggak kenal Power Rangers."


"Kalau Captain America?" cecar Jaya.


"Nggak tahu juga, Kak."


"Kok, Ayah nggak tahu?"


Bukannya merespons, Raga justru melarikan pandangannya ke Novi. "Nov, kamu nggak usah ikut antar Jaya. Di rumah aja. Jangan banyak tanya."


"Baik, Pak." Novi mengangguk patuh.


"Yeah, Ayah." Jaya mendesah kecewa.


Mengembalikan fokus ke si kecil, dahi Raga berkerut heran. "Kenapa, Kak? Kan masih ada Ayah sama Bunda yang jagain Kakak."


"Tapi seru sama Sus." Jaya makin manyun.


Melihat itu, ingin rasanya Nawang menengahi, membujuk suaminya agar membiarkan Novi ikut mengantar anak mereka. Namun, mengingat percakapan sengitnya beberapa saat lalu, Nawang memilih urung.


"Gananjaya nggak nurut apa kata Ayah?" Meski memanjakan putranya dan selalu bersikap hangat, tapi ada saat Raga berlaku keras dan tegas pada sang anak.


Jaya mendongak, bibirnya masih manyun. "Tapi kenapa Ayah?"


"Gananjaya!" geram Raga.


"Kak," sela Nawang, menghampiri anak dan suaminya. "Bunda lagi pengin semur ayam, terus kata Mbak Iin, Sus Novi jago masak semur ayam, makanya Bunda suruh Sus bikinin semur ayam. Jadi nanti pas pulang, Bunda bisa langsung makan semur ayam."


"Jaya juga suka sumur ayam," kata Jaya.


"Semur, Kak, bukan sumur," koreksi Raga, diikuti kekehan geli.


Tatapan sebal Jaya langsung menghujam pria itu. "Sumur, Ayah! Ayah nggak pernah bersihin telinga ya, jadinya nggak denger!"


"Betul kata Ayah, Kak. Semur, bukan sumur," timbrung Nawang.


"Sumur aja, Bunda. Biar Ayah nggak ada temennya. Tadi Jaya dimarahi Ayah." Jaya melengos, berpindah ke pangkuan ibunya—yang duduk di samping sang ayah. "Bunda, nanti main ke rumah Uti ya?"


"Boleh. Tapi sekolah dulu ya?"


"Tapi sekolahnya pulang aja." Tangan Jaya memainkan anak rambut sang ibu. Well, tiap di rumah, Nawang terbiasa mengikat surai hitam sepunggungnya dengan asal, tapi kalau di luar rumah, selalu ia tutupi dengan hijab.


"Gimana sih?" Nawang mengernyit tidak paham.


"Bunda," Jaya mendekatkan bibirnya ke telinga sang ibu lalu berbisik, "Ayah nanti nggak usah diajak ke rumah Uti ya? Nanti Jaya sama Bunda ngumpet di belakang mobil, oke?"


"Oke."


"Ayah denger tahu!" celetuk Raga.


"Bunda, ayo!" Enggan menggubris, Jaya berangsur turun dari pangkuan sang ibu, ditariknya pergelangan tangan perempuan itu, dan otomatis Nawang bangkit, meninggalkan Raga sendirian.


Bersamaan dengan itu, ponsel Raga mendentingkan pesan masuk. Bergegas ia buka, ternyata dari orang suruhannya. Dan satu fakta kembali tergenggam, memperkuat keinginan Raga untuk menyingkirkan Novi, lantas ia hancurkan keluarga gadis itu, terutama Kholis—ayahnya.


^^^Gading:^^^


^^^Saya sudah menemukan markas Kholis dan komplotannya, Pak^^^


Saya:


Bagus


Kamu cari tahu sekalian soal Novi


^^^Gading:^^^


^^^Dari pengakuan warga setempat, Novi dipaksa merantau oleh ibunya^^^


^^^Karena dia punya anak seumuran Jaya, Pak^^^


Pesan terakhir menimbulkan kerutan di dahi Raga.


Anak seusia Jaya?


Tapi kemarin Nawang bilang; Novi punya adik seumuran Jaya.


"Nov, kamu jangan main-main sama saya!"


//


Pantun lagi yuk gaes; ada gajah makan kawat, gawattt 🤣😭


Sumpah, aku masih bingung mau digimanain ini cerita, tapi yang jelas nggak akan panjang. Maybe 25 chapter. HAHAHAHA. Kalau nggak khilap maksudnya 🤣🤣


BTW gimana chapter ini? Komen dong 😭😭