
"Lo serius?" Raga mengangguk menanggapi keterkejutan sang kakak, sementara Ronald segera memasok oksigen—khawatir kehilangan napas. "Tapi kita nggak bisa mutusin mana yang bisa dipercaya."
"Maksud lo, Gading bohongin gue?" sewot Raga, merasa diragukan.
"Nggak gitu, Mamat!" dengkus Ronald, gemas.
"Kalau menurut gue sih, ada yang Novi sembunyiin,* simpul Raga.
Disetujui Ronald lewat anggukkan. "Lagian, gue nggak habis pikir sama Mama. Kenapa enteng banget ngirim baby sitter tanpa diskusi? Kalau si Novi Novi itu punya maksud nggak baik, gimana? Nggak sanggup gue kehilangan Jaya Sentosa. Ntar nggak ada yang manggil gue Papa Onad."
"Gananjaya njir, bukan Jaya Sentosa!" koreksi Raga, sewot.
"Heleh, ribet bener nama anak lo! Kerenan juga Jaya Sentosa atau Jaya Abadi. Atau kalau mau viral, ganti Jaya Jaya Jaya," seloroh Ronald, diikuti tawa mengejek. Well, meskipun sudah berkeluarga, tapi empat bersaudara ini nggak pernah absen untuk saling menjaili.
Terutama Raga yang selalu jadi bahan ejekkan abang-abangnya.
"Enak aja! Gananjaya itu singkatan nama gue sama Nawang, terus belakangnya diselipin kata Jaya, biar kelak hidupnya lebih baik dari orang tuanya," tegas Raga yang entah ke berapa kali ia jelaskan. "Emang nama anak-anak lo yang copas dari internet!"
"Gue nggak copas njir!" sanggah Ronald, "Orang yang nulis artikel gue."
"Halah, dulu aja lo sering nyuruh ibunya Nawang ngerjain PR lo!" ungkit Raga.
Memicu decakkan Ronald. "Tapi 'kan jawabannya udah dipikirin sama bestie gue. Bik Nia tinggal nyalin doang," elaknya, lalu menyinggung, "Eh, Ga, nyangka nggak sih kalau lo bakal jadi menantunya Bik Nia? Padahal dulu lo pun sering nyuruh-nyuruh mertua lo seenak jidat."
Raga meringis. Benar juga.
"Dan gue takjub banget sih sama keputusan lo yang lebih milih Nawang yang notabenenya anak ART daripada anak pengusaha, dokter, polisi, sampai pejabat yang ngejar-ngejar lo," lanjut Ronald, menggeleng kagum.
Bibir Raga melengkungkan senyum geli. "Hati tahu kemana dia harus berlabuh."
"Si Ayah semenjak tahu caranya bikin anak, jadi bijak bener," gurau Ronald.
"Papa!" Bunyi derit yang ditimbulkan oleh pintu, diikuti seruan heboh Shaqueen, menyita seluruh atensi. Gadis cilik yang kemarin genap berusia lima tahun itu berlari mendekati ayahnya, lalu mendongak menatap pria itu. "Papa, hari ini Shaqueen dapet bintang lima."
"Wah, hebat anak Papa!" puji Ronald.
Mata bulat Shqueen terlempar ke arah Raga. "Ayah Aga, nanti Shaqueen main ke rumah Jaya Sentosa ya? Shaqueen mau traktir cilok."
"Gananjaya, Shaqueen. Bukan Jaya Sentosa," ralat Raga.
Ronald tertawa melihat ekspresi sebal sang adik. "Si Ayah sewot mulu."
Alih-alih menggubris, Raga justru memutar mata.
Sebelum Windi muncul dan menginterupsi, "Eh, ada Raga."
"Mbak, kayaknya suami lo butuh dirukyah deh," celetuk Raga.
"Biar apa gitu?" sahut Windi, mengernyitkan.
"Biar nggak setan-setan amat jadi manusia!" tandas Raga, lalu bangkit. "Udah, ah, gue cabut aja. Sakit gigi lihat keluarga cemara sok harmonis."
Bukannya tersinggung, Ronald dan Windi kompak menyemburkan tawa.
"Dia tuh lagi pusing, Win. Anak mau nambah, eh, jabatan kagak naik-naik. Mana gaji stay kek masalah idup," sindir Ronald, mengajak bicara istrinya. Lalu tatapannya dialihkan ke sang adik. "Lagian, udah tahu keluarga lo tajir, ngapain coba ngelamar di perusahaan lain?"
"Gue lebih nyaman kerja di tempat orang lain, Bang. Nggak beban."
Omong-omong perusahaan tempat Raga bekerja bukan milik keluarga, karena dia dan istri sepakat untuk hidup mandiri pasca menikah. Bahkan Raga menolak fasilitas rumah yang diberikan ayahnya secara cuma-cuma. Dia juga dengan sopan mengembalikan uang pemberian keluarga besar untuk keberlangsungan hidupnya selama belum memiliki pekerjaan tetap. Karena itu Renata sempat marah, merasa tidak dihargai. Wanita itu sampai menuduh Nawang meracuni pikiran putra bungsunya. Sebab ibu empat orang anak itu paling nggak bisa lihat anak-anaknya susah.
Padahal sekali lagi, Raga hanya ingin berdiri dengan kedua kakinya sendiri.
"Soal?"
"Gitta."
"Kenapa sama Mbak Gitta, Mbak?" serobot Raga, penasaran. Niat untuk pulang terurung seketika.
"Aku nggak tahu sih ini bener atau nggak, tapi Nadya bilang sebelum nikah sama Reon, Gitta pernah nikah sama pengusaha," ujar Windi yang membuat Ronald dan Raga kompak terkesiap kaget. "And fyi, alasan Mama nggak suka sama Gitta bukan karena dia belum bisa hamil. Tapi dia bohong soal jati dirinya."
"Bang Reon tahu soal ini?" cecar Raga.
Windi menggeleng. "Kayaknya sih belum, Ga."
"Masa sih Mbak Gitta setega itu?" Raga masih belum percaya. Pasalnya, Gitta yang ia kenal selama ini adalah orang yang tulus. Tapi ternyata; tulus dan jujur adalah dua hal yang berbeda. Orang bisa tulus, tapi belum tentu mau jujur. Tapi orang jujur sudah pasti tulus.
"Aku juga nggak mau percaya, Ga. Tapi Mama nggak mungkin bohong dong?"
Raga mengangguk setuju. Well, ibunya memang lebih dekat dengan Nadya, sementara Nadya cukup akrab dengan Windi karena mereka satu angkatan. Dulu mereka teman satu SMA. Bedanya, Nadya jurusan IPA, sedang Windi IPS. Lalu setelah lulus SMA, mereka dipertemukan lagi di Oxford University. Nadya mengambil jurusan Bisnis dan Manajemen, makanya sekarang dia punya bisnis dimana-mana, sambil mengembangkan skillnya di bidang fashion. Sementara itu, Windi mengambil jurusan Ilmu Sosial dan Komunikasi.
"Dia—ah, I mean, mantan suami Gitta, satu circle sama keluarga kita nggak?" tanya Ronald.
"Kurang tahu. Tapi katanya, mantan suami Gitta juga udah nikah lagi. Bahkan punya anak sama istri barunya itu. Dan anaknya seumuran Jaya."
***
Ketika melahirkan Jaya, Nawang dan Raga harus menjual cincin nikah mereka untuk biaya persalinan. Padahal orang tuanya sudah menawarkan bantuan berkali-kali, tapi Raga memilih untuk berusaha sendiri. Ia lantas meminjam teman-temannya sampai menjual mobil dan akhirnya kemana-mana harus naik motor. Tapi Tuhan tidak tidur. Barangsiapa yang ikhlas dan sabar, kelak akan mendapat hadiah tak terduga. Dan kejutan pun datang berkali-kali lipat.
Raga diangkat sebagai pegawai tetap. Bisa membangun rumah untuk keluarga kecilnya, kemana-mana nggak perlu kepanasan karena pada waktunya ia bisa membeli mobil dari hasil jerih payahnya sendiri, dan yang paling membahagiakan adalah kehadiran Anak Bagus Gananjaya.
Nawang tersenyum-senyum sendiri mengingat perjuangannya dan sang suami. Terlalu mahal waktu yang ia habiskan untuk menuruti keinginan sang mertua. Memang Raga anak kandung Renata, tetapi wanita itu tidak lagi berhak atas Raga. Raga sudah memiliki keluarga dan kehidupan sendiri.
"Bunda, mau makan!" seru Jaya.
Lamunan Nawang buyar. Perempuan itu bangkit, berderap menuju dapur. Jaya menyusul, berdiri di sampingnya. "Sus mana, Kak?"
"Sus ngomong sendiri, Bun," kata Jaya, menciptakan kerutan di dahi sang ibu.
Nawang menoleh ke belakang, mengedarkan pandangan, sampai sosok Novi tertangkap penglihatan. Gadis itu berdiri di ambang pintu belakang sambil bercakap melalui telepon. Prakis kerutan di dahi Nawang kian dalam. "Mbak, tolong ambilin makan buat Jaya ya," titahnya pada Ika.
Ika mengangguk. "Baik, Bu."
"Kakak di sini bentar."
"Oke, Bunda."
Setelahnya, Nawang melebarkan langkah menghampiri Novi. Tidak segera menegur, ia berdiri di belakang Novi seraya bersedekap dada, menyimak obrolan sang baby sitter.
"Nggak bisa sekarang dong, Bu. Aku aja kerja belum sebulan." Jeda, Novi meraup oksigen di sekitar lalu dibuang dengan gusar. "Ibu tuh kenapa sih selalu nyalahin aku? Aku udah ngikutin apa yang Ibu mau, bahkan sampai masa depanku hancur. Tapi Ibu tetep nganggep aku salah." Terdengar isakkan yang membuat Nawang kontan meringis, lipatan tangannya terurai. "Aku beneran nggak megang uang, Bu. Tolong jangan peralat aku kayak gini. Kalau aku ada, pasti aku kirim buat Ibu, adik-adik, dan—"
"Bunda, suapin!" Teriakkan Jaya menarik perhatian Novi untuk berpaling ke sumbernya. Dan di detik berikutnya, ia dibuat kaget oleh keberadaan Nawang. Namun, majikannya itu enggan menggubris dan memilih menghampiri sang jagoan.
Novi menggigit bibir.
...----...
...Jaya ngerusak misi aja nih 😭😭...
...BTW setiap part yang aku tulis selalu ada benang merah antar satu tokoh dengan tokoh lainnya. Jadi tergantung gimana kalian nyambunginnya. Cukup hubunganku dan abang grab aja yang nggak bisa disambung. Hiks....
...Next or stop?...