
Raga selalu serius pada apa yang ia kerjakan. Sejak menikah, pria itu tidak lagi main-main, sebab tanggung jawab yang ia pegang lebih besar dari tugas seorang anak. Mungkin benar; hanya dua yang bisa mengubah kita, yaitu waktu dan diri sendiri. Dan sore ini, selepas menuntaskan gawai, Raga tidak langsung pulang. Ia menyempatkan diri mampir beli martabak, karena tadi istrinya kirim pesan pengin martbak.
Tidak tanggung-tanggung, Raga memborong sepuluh dus supaya karyawan di rumahnya bisa ikut makan. Well, Raga emang seroyal itu. Baginya, di setiap rezeki yang ia dapatkan pasti ada hak orang lain di dalamnya. Jadi, bukan masalah besar ketika ia harus berbagi.
Sembari menunggu, ia sibukkan diri dengan bermain gadget. Panggilan video dari Nawang. Bergegas ia terima, tapi yang muncul justru wajah tengil anaknya. Jaya melambaikan tangan. "Ayah! Ayah masuk hape!" seru Jaya, heboh.
Memancing tawa Raga. "Kakak juga masuk hape," balasnya. "Kenapa, Kak?"
"Ayah, Jaya mau ke rumah Kakak Shaqueen."
"Nanti ya. Nunggu Ayah pulang."
"Tapi udah dijemput Papa Onad sama Mama Indi." Jaya mengerucutkan bibir.
Sedetik kemudian, Nawang menampakkan diri. "Ayah lagi di mana?"
"Beli martabak, Bun. Tadi katanya nyidam martabak."
"Oh, gitu. Ya udah, biarin Kakak sama Bang Ronald ya, Yah? Nanti kita jemput," bujuk Nawang. "Shaqueen pengin traktir Kakak cilok dalam rangka abis dapet bintang lima."
"Ada-ada aja anaknya Onad Bolong," dengkus Raga.
"Ih, bukan, Ayah! Namanya Papa Onad Ganteng!" ralat Jaya.
Kembali Raga mendengkus. Omong-omong, anaknya juga lumayan dekat dengan abang keduanya. Karena Ronald tipe paman yang royal dan menyenangkan. Tiap pulang dari rumah pria itu, Jaya selalu membawa mainan baru, sekaligus uang saku. Ditambah Windi yang nggak kalah perhatian. Wanita itu selalu membawakan bekal—entah berisi pizza mini, burger, kebab, dan sederet makanan favorit Jaya. Dan anak-anak Ronald; Shakilla dan Shaqueena pun sama baiknya dengan kedua orang tuanya.
Lain cerita kalau Jaya main ke rumah Raja. Abang tertuanya itu cukup sibuk. Pun Nadya alias iparnya. Paling kalau mampir ke rumah mereka, Jaya main sama ART di sana. Soalnya Cyara jarang di rumah. Dan biasanya yang ngajak Jaya ke sana itu neneknya alias Renata.
"Tutup dulu ya, Yah, teleponnya." Suara Nawang menyadarkan Raga.
"Loh, heh, Bun! Aku belum ngasih keputusan."
Terdengar embusan napas panjang dari bibir Nawang. "Boleh?"
"Iya, boleh."
"Dadaaa, Ayah!" Jaya melambai lalu tanpa menunggu balasan sang ayah, ia melompat turun dari sofa dan berlari menjauh, diikuti seruan hebohnya. "Kakak Shaqueen, ayo kita kemoooon!"
Raga geleng-geleng.
Perhatian Nawang kembali ke layar. "Ada yang mau diomongin lagi, Mas?"
"Nggak ada, Sayang. Sampai ketemu di rumah."
"Oke."
Tidak lama waktu berselang, pesanan pun jadi. Raga segera membayar. Setelah itu, kakinya diayun menuju mobil. Tepat ketika hendak membuka pintu mobil, iris biji kopinya menangkap figur Rendra turun dari mobil bersama gadis kecil yang tempo hari mendatangi butiknya dan memanggilnya Papi, disusul Citra yang juga turun dari mobil yang sama.
"Aku ngelakuin ini demi Jizzy," kata Rendra, dingin.
"Karena kamu udah jatuh cinta sama istri orang, 'kan?" sindir Citra.
Rendra mengedikkan dagu. "Emang kenapa kalau aku jatuh cinta sama Nawang? Dia perempuan baik kok. Nggak kayak kamu dan keluargamu; busuk!"
Sontak mata Citra melebar, tampak tidak terima.
Sementara di tempatnya, Raga menahan diri untuk tidak memutilasi mantan bos Nawang. Bukan karena sikapnya kepada Citra, akan tetapi ucapan pria itu barusan. Benar-benar sinting! Bisa-bisanya dia terobsesi pada istri orang.
Gue nggak akan biarin lo hidup tenang, Ren.
***
Memasak tetap menjadi kegiatan Nawang. Sambil menunggu suaminya pulang dan kebetulan anaknya sedang di rumah Ronald—kakak iparnya, Nawang menyempatkan diri memasak untuk makan malam, dibantu kedua ART. Tapi mereka cuma nyiapin bahan-bahan yang diperlukan, sedang Novi ... baby sitter Jaya ikut dengan bos kecilnya. Entah. Tadi Ronald yang minta Novi ikut.
"Ibu ini ya, emang istri idaman. Pantesan Pak Raga cinta mati," celetuk Iin.
"Betul, Bu." Iin sependapat.
"Soalnya sekarang banyak jajanan nggak sehat di luar 'kan, Bu? Takutnya suami jadi oleng," seloroh Hana yang berhasil mencairkan suasana. Iin dan Nawang tergelak. "Oh ya, Bu, saya boleh nanya sesuatu tentang Novi nggak?"
"Boleh. Kenapa sama dia?"
"Sebelumnya maaf ya, Bu, kalau kedengerannya ngomporin, tapi ..." Hana meraup oksigen di sekitar dan dibuang, "... saya tuh agak curiga sama si Novi Novi ini. Tadinya saya nggak mau suuzan, cuma beberapa hari lihat dia di sini, saya sering mergokin dia teleponan sambil bisik-bisik gitu, Bu."
"Tapi selama jagain Jaya, dia nggak pernah pegang hape kok, Han," sanggah Nawang.
"Kalau pas jam kerja emang enggak, Bu." Iin menimbrung. "Ya maaf-maaf aja nih ya, Bu. Kami 'kan ikut keluarganya Pak Raga udah dari lama, kami juga bukan orang baru buat Pak Raga dan Bu Nawang. Dan sama halnya kalian, kami pun menganggap kalian sebagai keluarga. Jadi, ndak ada salahnya 'kan, Bu, kalau kami mengingatkan Ibu dan Bapak untuk lebih waspada?"
Iin dan Hana bukan orang baru.
Sama seperti Nawang; mereka anak ART di rumah sepupu Raga yang kemudian ditarik untuk membantu Nawang. Mereka tentu memiliki ikatan dengan keluarga ini, pasalnya keluarga besar Raga sebenarnya orang baik, terutama di bawah pimpinan Sindu yang selalu mengedepankan rasa kemanusiaan.
"Tadi pas dia teleponan di belakang, saya juga sempet denger sih," ujar Nawang, meraba momen beberapa saat lalu. "Dan kalau dikaitkan dengan cerita dia sebelumnya, yang saya denger tadi jelas beda." Menyalakan kompor lalu menumis bumbu, Nawang menoleh sekilas. "Malah sama apa yang disampaikan Pak Raga."
"Maksudnya, Bu? Pak Raga nyelidiki siapa Novi?" tanya Iin.
"Yeah, begitulah, In. Ada beberapa alasan yang bikin Pak Raga curiga sama dia," desau Nawang, letih. "Walaupun saya lihat dia orangnya baik, tapi 'kan baik aja nggak menjamin seseorang." Kedua bahunya terangkat, disetujui sang ART lewat anggukkan.
"Saya juga lihatnya gitu, Bu," timpal Hana. "Dia lebih telaten dibanding baby sitter Jaya sebelumnya. Cuma ... kayak yang Ibu bilang barusan; baik aja nggak menjamin seseorang, meskipun kita bisa mempercayai orang itu dengan sisi positif."
"Udahlah, nggak usah dibalas lagi." Nawang menyudahi.
Wanita itu segera menghidangkan menu makan malam di meja, masih dibantu Iin dan Hana. Hingga terdengar derap langkah mendekat, Nawang refleks menoleh. Raga berada tepat di belakangnya, memeluk pinggangnya dengan satu tangan, lalu menyematkan kecupan singkat di kening.
Nawang tersenyum, diambilnya tas kerja sang suami, ia salimi pria itu. "Capek banget kelihatannya."
"Nanti pijitin ya?" bisik Raga.
"Kebiasaan!" Nawang toyor pipi suaminya, dia tahu minta pijit ala Raga jelas bukan pijit biasa. Yang ada bukannya Nawang yang pijit suaminya, tapi justru tangan pria itu yang merembet ke seluruh tubuh Nawang. "Mandi gih!"
"Mandiin dong!"
"Pake air panas?"
"Sadis!"
Nawang enggan menggubris, ia dorong lengan suaminya agar menjauh.
Memicu decakkan Raga. "Ya udah, iya. Siap, Ibu Negara."
Ketika bibir Raga hendak menghampiri bibirnya, Nawang buru-buru mengelak. Matanya melotot. "Mas!"
"Susah banget!"
"Mandi nggak?!"
"Iya, iya." Raga pasrah, kemudian menukas, "Nanti sekalian ada yang mau aku omongin, Bun."
"Soal?"
"Mbak Gitta dan Rendra."
...---------...
...Aduh, makin nganu aja....
...Komen dong gaes :(...