
sesampainya di dalam restoran ketiga gadis itu langsung memesan kue yang mau mereka pesan.
tak lama salah satu pelayan mendekati mereka "mau pesen apa kak "
"kami pesen menu terfaforit disini kak "
"oke tunggu sebentar ya kak " ucap pelayan itu dengan sopan, sambil berlalu pergi dari sana, selang beberapa menit kemudian pelayan itu kembali dengan nampan di tangannya "silahkan dinikmati kak " ucap pelayan itu ramah
"oke terima kasih "
"sama sama " ucap pelayan itu membungkuk dan pergi
devina tersenyum sumringah "wah kayaknya enak banget " ucapnya
elzia yang sudah menyendok kue ke dalam mulutnya tersenyum "cobain deh enak banget tau " jelasnya
"enak banget asli... " ucap risa
"bener banget, ga sia sia kita jauh jauh kesini dong " dengan mulut yang masih mengunyah
elzia tersenyum mendengar pujian sahabatnya "ya dong kalo gaenak ga mungkin gue ngajak kalian ke sini " ucapnya
"betul banget tuh, gue ga nyesel nungguin lo sampe lumutan kalo kayak gini sih hehehe " ucap devina sambil menunjukkan deretan giginya
elzia hanya tersenyum sambil meneruskan makannya, tidak ada percakapan hanya suara denting sendok di meja mereka dan percakapan di meja lain, wajar karna malam itu keadaan restoran yang ramai, mereka sibuk makan sampai kue di tiga piring itu habis.
drtttt drrtttt
ponsel devina berdering, tertera panggilan dari ayahnya "*halo yah kenapa?"
"kamu pulang sekarang, pelatih kamu udah dateng "
"iya bentar lagi aku pulang "
"yaudah hati hati "
"oke yah* "
tut tut
"eh guys gue kayaknya harus pulang deh pelatih gue udah dateng " ucap devina pada sahabatnya
"oke bentar gue bayar dulu " ucap elzia berdiri dan memanggil pelayan untuk membayar kuenya, tak lama pelayan datang menghampiri meja mereka, gadis itu membayar kue yang mereka makan dan berlalu pergi dari sana menuju parkiran, sesampainya di parkiran ketiga gadis itu masuk ke mobilnya dan pergi dari restoran itu, mobil sport warna merah itu melaju dengan kecepatan sedang.
"btw gue pengen latihan karate lagi deh " ucap elzia memulai pembicaraan
devina menoleh menatap elzia dan tersenyum "yaudah lo kerumah gue aja zi " ucapnya
risa menatap kedua sahabatnya secara bergantian "gue ikut dong kalo mau latihan karate " timpalnya
devina makin tersenyum sumringah "bagus dong kalo kalian ikut gue nggak sendiran latihannya "
melihat keantusiasan sahabatnya elzia makin yakin untuk latihan karate lagi "oke nanti kita atur, btw pelatih lo itu seminggu sekali kan dev?"
"bener banget pelatih gue seminggu sekali malam rabu zi, nanti kalian kerumah pas malem rabu pukul 9 " jelasnya dengan antusias
"oke setuju " jawab risa dan elzia secara bersamaan
1 jam kemudian mereka sampai di rumah mewah risa, risa pun turun dari mobil elzia, tak menunggu lama elzia tancap gas ke rumah devina, selang beberapa menit mereka sampai.
devina turun dari mobil elzia "makasih zi, lo mau mampir dulu nggak?" tanyanya
elzia menggelengkan kepalanya "enggak dev lain kali aja, gue pergi dulu ya... dahh " pamitnya
"dahh..... " devina melambaikan tangannya pada elzia yang sudah menjauh dari kediamannya
devina masuk ke rumahnya melewati penjaga yang menunduk karena kedatangannya, di ruang tamu sudah ada pelatihnya dan ayahnya yang berprofesi sebagai jenderal tentara indonesia, jenderal dimas adhitama yang terkenal akan kedisiplinan dan ketegasannya serta diakui oleh negara luar, dan juga diakui oleh para pemimpin organisasi bawah tanah.
devina sampai di ruang tamu dan mencium tangan ayahnya dan pelatihnya yang sudah berumur seperti ayahnya "kamu dari mana aja kok lama banget, nih om joe udah nungguin dari tadi " tanya ayahnya
"hehehe aku beli kue yah, bareng risa sama zia tadi " ucapnya sambil bergelayut manja pada lengan ayahnya, wajar kalo devina manja pada ayahnya karna ibunya sudah meninggal diusianya yang masih 10 tahun
ayahnya pun sudah terbiasa dengan sikap manja putrinya, kalo di luar dia sangat tegas dan garang beda halnya kalo bersama putrinya dia berubah jadi lembut "yaudah kamu ganti baju cepet kasian nih om joenya " ucapnya sambil mengelus rambut putrinya
devina mendongak pada ayahnya yang menatapnya "oh iya, zia sama risa mau ikut latihan, boleh kan yah?" tanyanya
"ya boleh dong bagus malah " jawabnya tersenyum lembut pada putrinya
devina menerbitkan senyumnya dan memeluk ayahnya dari samping "yeey makasih yah " ucapanya
"ya sama sama udah sana ganti baju " ucapnya
"siap pakk..." ucapnya sambil hormat pada ayahnya, dan berlalu dari sana menuju kamarnya
ayahnya hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan putrinya, yang menurutnya masih seperti anak kecil kalo sedang bersamanya.
sementara itu di taman kota yang sudah mulai sepi karna jam yang sudah menunjukkan pukul 10:35, seorang gadis remaja duduk di bangku taman sambil melihat jutaan bintang di langit
tak lama suara derap langkah mendekat 5 preman yang biasa memalak orang di taman kota berjalan mendekati gadis itu "eh bos ada mangsa "
"bener masih muda cantik lagi bos "
"yoi bisa nih jadiin penghangat kita malam ini "
"yok lah sikat "
kelima preman itu mendekat ke arah gadis itu "cewek cantik nih, lagi ngapain malem malem disini " ucapnya basa basi
elzia yang tersadar dari lamunannya langsung terkejut melihat kelima preman yang berbadan besar, menatapnya dengan tatapan penuh nafsu, elzia lekas berdiri dan mundur dari sana dia tau arti tatapan para preman itu kepadanya, arti tatapan ingin dan nafsu.
"eh mau kemana sini dong sayang " ucap salah satu preman sambil mendekat dan meraih tangannya
tapi elzia tidak selemah itu, gadis itu menendang perut pria yang memegang tangannya cukup kencang
bukkk
"akhh shhh "
"mau main kasar rupanya " ucap salah satu preman yang mungkin bosnya
"tangkap dia " perintahnya
para preman itu menangkap elzia dengan mudah, meskipun memberontak tenaganya tidak cukup kuat untuk ke tiga pria besar yang memegangnya, sekarang dia menyesal dulu waktu latihan bela diri tidak serius mempelajarinya.
"lepasin gue " teriak elzia
"ha ha ha gadis cantik nanti kalo kita sudah puas bakal kita lepasin kok " ucapnya dengan sorot mata nafsu
"brengsek lepasin gue " teriak elzia
plakkk
"diam " bentak preman itu dengan kasar
elzia diam dan menunduk dengan sorot mata berkaca kaca, dia sudah pasrah karna melawan pun dia tidak punya kesempatan melawan lima orang itu
dari kejauhan elkan yang mendengar suara teriakan yang familiar langsung berdiri dan menoleh ke kanan dan kiri, mencari sumber suara, dari kejauhan dia melihat lima pria yang memegang seorang gadis
"itu bukannya elzia yah.... bangsat beraninya mereka " gumamnya dengan tangan terkepal erat, elkan menghampiri kelima preman itu dengan cepat
"lepasin " ucapnya dingin dengan gigi bergeletuk marah
kelima preman dan gadis itu menoleh bersamaan pada sumber suara yang terdengar dingin "ha ha ha jangan sok jadi pahlawan deh lo, lo sendirian disini " ucapnya salah satu preman mengejek
elzia yang melihat elkan punya sedikit harapan untuk selamat dari preman itu, meskipun dia tidak kenal dengan elkan tapi dia masih punya secercah harapan untuk lepas dari kelima preman itu
elkan yang melihat sorot mata elzia yang berkaca kaca hatinya sakit melihat itu, meskipun belum mengenal satu sama lain tapi elkan sudah mencintai gadis itu saat pertama kali melihatnya
"gue gapeduli " ucap elkan dingin
"wah mau main main nih bocah, kasih dia pelajaran cepat " bentaknya
ketiga preman itu bersamaan dengan tampang garang, tanpa banyak bicara lagi elkan melesat dan menendang leher salah satu preman dan...
brukk krekk
suara tulang patah terdengar dari salah satu preman yang pingsan, para preman dan elzia melongo melihat itu, mereka bergidik ngeri saat melihat pemuda yang seperti iblis, sorot mata tajam, wajah tanpa ekspresi, dan aura membunuh yang kuat memberikan kesan mengerikan
"cepat hajar jangan bengong brengsek "
mendengar perintah dari bosnya mereka maju bersamaan
elkan maju dengan santai dan memberikan pukulan tepat pada rahang lawan, yang meneyebabkan lawannya pingsan seketika, pukulan yang mengerikan tak sampai disitu elkan menendang preman yang medekat hendak memukulnya tapi tendangan elkan lebih cepat hingga mengenai tepat dikepalanya, bunyi tulang patah kembali terdengar, teman preman itu hanya ternganga melihat temannya yang sudah dilumpuhkan semua hanya oleh satu orang, tapi tak lama...
jlebb
benda runcing menembus tubuhnya "akhh khakh " preman ambruk ke tanah dan pingsan seketika
bos preman yang masih memegang elzia dibuat melongo dengan itu, pasalnya anak buahnya dibabat habis hanya dengan satu orang, dia melepas elzia dan mendekati pemuda itu "beraninya lo.... "
brukk brakk
belum selesai lelaki itu berbicara elkan sudah menendang dengan sangat keras
"akhhh ba-bangsat... "
tak cukup sampai disitu elkan kembali menendang pelipisnya dengan cepat, hingga membuat lelaki itu tak sadarkan diri
elkan melihat elzia yang masih melongo di tempatnya, dia mendekat dan memeluk gadis itu, elzia terpaku pada perlakuan elkan yang tiba tiba memeluknya.
elkan melepas pelukannnya sambil menyelipkan rambut sebahu elzia pada belakang lehernya, dan mengelus pipi elzia yang memerah akibat ditampar preman tadi, hatinya sakit melihat gadisnya yang seperti itu.