
risa dan elzia masih terdiam di tempatnya dengan pikiran masing masing, mereka masih mencerna semuanya terlebih elzia yang sekarang mulai dekat dengan elkan.
devina menatap kedua sahabatnya bergantian "gimana kalo kita selidiki dulu?" ujarnya
mendengar itu elzia dan risa sontak menatapnya dengan pandangan bertanya seolah mengatakan 'maksudnya'.
"jadi gini kita selidiki mereka, secara mendetail tentang organisasi dan apa yang mereka lakukan " jelas devina
elzia berpikir beberapa detik kemudia mengangguk "oke gue setuju " ucapnya
"gue juga setuju " timpal risa
"kita sewa profesional untuk mencari tau dulu organisasi mereka, tapi inget jangan sampai orang tua kita tau kalo kita menyelidiki mereka, karna yang kita selidiki organisasi berbahaya, bahkan ayah aja kalo ga ada bukti gaberani terang terangan menghadapi mereka " jelas devina, sambil menatap kedua sahabatnya secara bergantian
"gue masih ga nyangka sih sebenernya, kalo mereka emang bener bener terlibat " ucapnya menatap kedua sahabatnya
"gue juga, tapi ini informasi dari ayah yang ga mungkin berbohong " ucap devina
"lo harus hati hati zi " ucap risa menatap elzia yang masih sibuk dengan pikirannya
tersadar dari lamunannya lalu menatap kedua sahabatnya yang juga menatapnya "kenapa gue?" tanya elzia
"lo lupa kalo elkan lagi deketin lo " ucap risa, membuat elzia diam
"bener zi kita ga ngelarang lo deket sama siapapun, tapi kita khawatir sama lo " ucap devina
elzia tersenyum mendengar penjelasan sahabatnya " iya gue akan inget apa kata kalian kok " ucapnya
sementara itu di bangunan tua yang nampak terbengkalai puluhan orang nampak melakukan transaksi, mereka menyunggingkan senyum tatkala barang terlarang mereka laku, mereka tidak tau saja kalo malam ini akan jadi malam yang menegerikan sekaligus malam terakhir untuk mereka.
elkan dan anak buahnya sudah mengepung bangunan itu, mereka akan membunuh siapa saja yang berani mengedarkan barang terlarang di wilayah kekuasan mafia devil "ada berapa orang?" tanya elkan pada anak buahnya yang sibuk dengan teropongnya
"ada sekitar tiga puluh orang bos " ucapnya
elkan menoleh pada tito disebelahnya "panggil anggota senior lima orang " perintahnya
"oke bos " tito yang dapat perintah, mengeluarkan walkie talkie lalu menghubungi bawahannya
"*lima anggota senior masuk "
"siap bos* "
selang beberapa menit kemudian lima anggota mendekati elkan lalu membungkuk sebagai salam untuk eksekutif dan pemimpin mereka
"kita masuk persiapkan kelengkapan senjata kalian, jangan lengah " titah elkan
"siap bos " ucap mereka serempak
mereka bertujuh berjalan ke arah bangunan itu dengan senjata masing masing, kecuali elkan yang masih santai dengan raut wajah datar, di luar bangunan itu ada dua orang penjaga, elkan hanya mengangguk pada tito memberi kode, tito menoleh pada angotanya "satu orang pisau dan leher " ucap tito anggotanya hanya mengangguk paham
salah satu anggota langsung mengeluarkan pisau berukuran sedang tak terkecuali tito yang juga mengeluarkan pisau, tito langsung melempar pisau itu dengan cepat, anak buahnya yang melihat dia melempar juga ikut melempar pisau itu.
set cratss
set cratss
dua duanya tergeletak di tanah tatkala pisau itu menancap di leher mereka berdua, mereka meregang nyawa dengan sangat cepat
elkan hanya menyeringai "masuk " titahnya
mereka bertujuh masuk dengan elkan dan tito yang memimpin, sesampainya di depan pintu elkan memberi kode dengan jarinya, dan dibalas anggukan oleh mereka semua, lima anggota siap dengan senjata mereka masing masing, tito di depan pintu dan elkan di sebelahnya, tito menendang pintu itu dengan keras
dor dor dor
dor dor dor dor
pengedar yang belum siap akan serangan terkejut dengan suara tembakan dan banyak dari mereka yang berjatuhan, tidak butuh waktu lama tiga puluh dari mereka sudah tersisa setengah yang tumbang, seakan tak memberi ampun elkan dan anak buahnya kembali melancarkan tembakan yang lebih beruntun
dor dor dor dor
dor dor dor dor
baku tembak tidak terhindarkan lagi elkan yang masih santai bersembunyi di balik lemari sambil mengisi pelurunya, banyak dari pengedar yang mencoba kabur tapi sesampainya di luar mereka malah mendapatkan tembakan dari anak buah elkan dan berakhir meregang nyawa, di dalam bangunan itu penuh dengan darah dan bau amis dari puluhan pengedar itu hanya tersisa satu yang sekarang sudah bersimpuh di depan elkan badannya bergetar ketakutan melihat teman temannya yang berjumlah tiga puluh dibabat habis oleh tujuh orang
"si-siapa ka-ka-kalian " ucapnya bergetar melihat elkan
elkan berbalik dan memperlihatkan tato tengkorak merah dengan lambang api sebesar dua telapak tengan di punggungnya, tato itu adalah tato identitas organisasi mafia devil, tato anggota berada di leher berukuran kecil, tato eksekutif berada di punggung berukuran satu telapak tangan, untuk pemimpin ada di punggung dengan ukuran dua kali lipat ukuran untuk eksekutif dengan lambang api di bawahnya.
pengedar itu bergetar ketakutan melihat tato itu, siapa orang dunia bawah yang tidak tau tato legendaris yang merupakan tato indentitas pemimpin mafia kejam berbahaya yang ada di puncak dunia bawah " ma-maaf tuan " ucapnya bergetar sambil bersimpuh di depan elkan
"am-ampuni sa-saya tuan "
elkan menyeringai lalu mengeluarkan katananya dan menancapkan pada punggung pengedar itu dan menembus perutnya
akhh khakhh
pengedar itu memuntahkan darah dari mulutnya dan meregang nyawa seketika, semua anak buah elkan yang ada disana bergidik ngeri melihatnya, meskipun mereka sering membunuh tapi kalo pemimpin mereka sendiri yang membunuh itu membuat aura sekitar mencekam seketika, wajah dingin itu seperti tidak punya perasaan ketika membunuh orang orang yang mengusik organisasi dan hidupnya
elkan menoleh menatap anak buahnya "tumpuk semua mayat, bakar tempat ini, dan kirim tubuh ini pada pimpinannya " ucapnya tanpa ekspresi
"baik bos "
elkan berlalu pergi dari sana menuju luar bangunan itu disana anak buahnya menunduk keoadanya, elkan berhenti melangkah "bawa masuk mayat, bantu eksekutif kalian " ucap elkan sambil meneruskan langkahnya
"siap bos "
elkan menuju ke tempat motornya yang terparkir di sebelah pohon besar, elkan menghidupkan motor sportnya melaju pergi dari sana dengan kecepatan tinggi, tujuannya kali ini adalah danau tempat dia mengantar elzia, elkan tersenyum tipis di balik helm full facenya memikirkan tingkah lucu elzia.
sementara di tempat elzia dan para sahabatnya mereka sudah bersiap siap untuk pulang, setelah berdiskusi tentang rencana mereka untuk menyelidiki organisasi mafia devil.
"zi lo bareng kita " ucap devina
"gausah kita nggak searah, gue cari taksi aja " tolak elzia
"ini udah malem zi ga ada taksi jam segini " ujar risa
brumm brrmm
terdengar suara motor mendekat, mereka bertiga langsung terdiam dengan jantung yang berdetak cepat melihat kedatangan elkan dengan motor sportnya, setelah melepas helmnya pemuda itu mendekat ke arah mereka, suara serak elkan memecah lamunan mereka.
"aku anter pulang " ucap elkan menatap elzia
"ga-gausah zia sa-sama kami aja " ucap risa terbata, dia masih terkejut dengan identitas elkan yang sebenarnya
set. deg
nafas mereka tercekat melihat elkan yang menatap mereka tajam, wajah dingin itu benar benar menyeramkan.
elkan yang menyadari reaksi itu langsung mengerti dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh elzia dan kedua sahabatnya, reaksi ketakutan yang sering ditunjukkan padanya ketika orang itu tau identitasnya.