YOU ARE MINE"

YOU ARE MINE"
11.gadis kecilku



elkan terdiam memikirkan reaksi mereka bertiga, itu adalah reaksi ketika orang itu tau identitasnya apa benar mereka tau identitasnya, pasalnya identitasnya dan organisasi mafia devil itu tertutup hanya orang orang dari dunia bawah dan orang orang tertentu yang tau identitasnya.


elkan menatap elzia yang masih menunduk lalu meraih tangan gadis itu dan berucap "teman kalian aman sama gue "


mereka bertiga saling pandang lalu elzia mengangguk tatkala kedua sahabatnya masih mengkhawatirkannya, elzia memasang helm yang diberikan elkan lalu menaiki motor sport yang sudah ada pemuda itu di atasnya, motor itu melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan dua orang yang masih saling pandang.


"lo yakin elkan ga bakal ngapa ngapain?" tanya risa


"gue gatau kita berharap aja kalo zia ga bakal kenapa napa, kalo sampek kenapa napa kita cerita ke ayah gue " ucap devina menatap sahabatnya serius


"gue berharapnya juga gitu, jadi pertanyaan gue udah terjawab kan?" tanya risa


"pertanyaan apa? tanya devina tak mengerti


risa menghembuskan nafas pelan "kalo ada elkan di sekitar gue, auranya tu aneh banget kayak kita lagi berhadapan sama malaikat maut " jawab risa


"lo harus tau ris yang namanya orang yang terlibat di dunia bawah, mereka ngak akan segan segan membunuh orang yang mengusik organisasi atau hidup mereka, apalagi organisasi sebesar mafia devil "jelas devina dengan raut wajah serius


"kalo zia dalam bahaya gimana " ucap risa menggigit jempolnya


"semoga aja enggak, kalo dari cerita zia yang ditolongin elkan dari preman jalanan atau cara elkan menatap zia, kita bisa bilang kalo elkan suka sama zia, tapi kita tetep ga boleh lengah apalagi kita berhadapan sama mafia " jelas devina


"oke semoga aja yang lo bilang bener " ucap risa tersenyum sendu


devina yang melihat risa yang mengkhawatirkan sahabatnya hanya bisa menenangkan, pasalnya dia juga mengkhawatirkan elzia tapi dia berusaha bersikap tenang, karna dari mereka bertiga hanya dia yang paling tenang dan dewasa menghadapi suatu masalah, tapi karna sikapnya yang cerewet dan ceria membuat sikapnya seperti anak kecil.


sementara itu elkan dan elzia masih berada di jalan, elzia yang masih syok akan identitas elkan membuatnya tidak berani memulai pembicaraan, sedangkan elkan hanya fokus pada jalanan dan memikirkan reaksi elzia dan kedua sahabatnya tadi "apa benar mereka udah tau, tapi dari siapa " batinnya


beberapa menit kemudian motor sport itu berhenti di depan gerbang besar kediaman keluarga mahendra, elkan membuka helm full facenya lalu berbalik dan melihat elzia yang kesulitan membuka helmnya, elkan tersenyum tipis lalu membantu elzia membuka helmnya.


elkan merapikan anak rambut elzia ke belakang telinganya "udah sana masuk udah malem " ucapnya tersenyum


deg deg deg


jantung elzia berdetak kencang kala elkan menatapnya "ma-makasih el " ucapnya lalu pergi


elkan hanya tersenyum tipis melihat elzia yang salah tingkah dibuatnya, pemuda itu bergegas dari sana menuju markas ada yang perlu dia selidiki perihal elzia dan kedua sahabatnya yang sepertinya tau akan identitasnya.


selang beberapa menit kemudian elkan sampai di hutan pribadinya, hutan milik jordan yang sekarang jadi hak miliknya, di tengah hutan berdiri sebuah bangunan markasnya sengaja dibangun di tengah hutan biar tidak mudah di deteksi oleh pemerintah atau musuh.


sesampainya di bangunan luar markas elkan langsung dibukakan gerbang oleh anak buahnya yang berjaga di depan gerbang, elkan memarkirkan motor sportnya lalu bergegas masuk ke dalam markas melewati anak buahnya yang menunduk karna kedatangannya, elkan melewati ruang latihan para eksekutif yang sudah ada tiga sahabatnya yang sedang betlatih disana


"dava ke ruangan gue " ucapnya pada dava yang sedang push up


"oke bos " ucap dava


sesampainya di ruangannya elkan duduk di kursi kebesarannya lalu menatap dava yang sudah ada di depannya "lo tau latar belakang kedua sahabat elzia?" tanya elkan


"gue bisa selidiki sekarang el kalo lo mau " ucap dava yakin


"oke cepat gue butuh informasinya malam ini " ucap elkan


"siap bos " ucapnya lalu dengan cekatan mengotak atik laptopnya, dava memang berbakat di bidang IT mencari informasi dengan cepat adalah keahliannya


selang beberapa menit kemudian, dava tersenyum puas melihat hasil kinerjanya lalu meperlihatkannya pada elkan, elkan melihat laptop itu dengan teliti tapi tidak menemukan informasi ketika melihat latar belakang risa orang tuanya memang orang berpengaruh di pemerintah tapi itu tidak cukup untuk mengetahui identitasnya, elkan beralih pada latar belakang devina dahinya mengernyit melihat apa yang terpampang di depannya, elkan menyeringai melihat latar belakang devina.


dava mengkerutkan dahinya melihat elkan yang menyeringai "kenapa el tiba tiba lo nanya latar belakang mereka?" tanyanya


"mereka udah tau " ucap elkan singkat


mata dava membulat tak percaya "identitas kita?" tanya dava, yang dibalas anggukan oleh elkan


dava menghembuskan nafasnya pelan "rencana lo apa el?" tanya dava


"berikan akses untuk mereka tentang identitas kita " ucap elkan


"ya "


"lo ga takut nanti elzia bakal makin jauhin lo?" tanya dava


elkan diam mendengar ucapan dava, tak dipungkiri kalo dia sebenarnya takut elzia menjauhinya, tapi di sisi lain dia sudah tidak bisa menutupi identitas dirinya pada elzia "enggak, berikan aja untuk mereka " ucap elkan


"oke el kalo itu yang lo mau, gue mau nerusin latihan dulu " ujar dava berlalu pergi dari sana


setelah kepergian dava elkan menyandarkan kepalanya pada kursi kebesarannya, lalu memejamkan matanya dia teringat pada gadis kecil yang selalu membuat hatinya menghangat.


"*flasback 2005


"kek el mau beli eskrim dulu " ucap elkan kecil


"mau kakek temani " ucap jordan


"gausah kek, kakek disini aja pasti capek " ucap elkan kecil


"oke kakek tunggu disini " ucap jordan tersenyum, lalu dibalas anggukan oleh elkan kecil dan berlari ke tempat eskrim


di depan tempat eskrim elkan kecil melihat gadis kecil yang sedang makan eskrim dengan mulutnya yang blepotan eskrim, imut menurutnya elkan kecil mendekati gadis itu, merasa ada yang mendekati gadis kecil itu menoleh menatap elkan kecil dengan raut wajah polos.


"kakak ciapa " ucap gadis kecil


"aku el " ucap elkan kecil


"aku juga el " ucap gadis kecil itu dengan raut wajah polos


"ini buat kamu " ucapnya menyodorkan boneka beruang kesayangannya, gadis kecil itu melihat boneka beruang itu dengan tatapan berbinar


"makacih kakak el " ucapnya antusias


"aku suka kamu " ucap elkan kecil tersenyum polos


"aku juga cuka kakak " ucapnya sambil memeluk boneka beruangnya


"hey sayang..... ini siapa " ucap wanita cantik yang baru datang


"ini kakak el ma tadi kacih aku beluang ini " ucap gadis kecil itu


"bilang makasih dong sama kakak elnya " ucap wanita itu tersenyum


"udah tadi ma " ucap gadis kecil itu


wanita itu beralih menatap elkan kecil yang juga menatapnya "kamu disini sama siapa sayang?" ucapnya sambil mensejajarkan drinya dengan elkan kecil


"aku sama kakek tante "


"ohh kamu kok pisah sama kakekmu?"


"aku mau beli eskrim "


"mau sama tente? "


"gausah tante aku sendiri aja "


"oke kalo gitu tante sama el pamit ya "


"iya tante "


"dadah kakak el " ucap gadis kecil itu melambaikan tangannya*