
sementara di sisi lain, di kediaman keluarga mahendra elzia dan para sahabatnya sudah berkumpul dengan tujuan bertemu dengan fito ahli IT handal yang bekerja untuk mereka.
"guys ini udah hampir " ucap risa melihat jam tangannya.
"yuk kita berangkat sekarang " ujar risa sambil menarik tangan devina di dekatnya
"iya iya " ucap risa
mereka bertiga berlalu meninggalkan rumah mewah kediaman mahendra, tujuan mereka bertiga adalah cafe yang berada di pinggiran pusat kota tidak terlalu jauh dari kediaman mahendra.
selang 30 menit kemudian mobil sport warna merah itu masuk ke kawasan caffe yang tidak terlalu besar, banyak pasang yang menatap ke arah mobil sport mereka, karna mobil sport edisi terbatas seperti itu hanya mampu dibeli oleh orang yang bener bener kaya.
"fito mana yak? " ucap risa celingak celinguk dari dalam mobil.
devina memutar bola matanya malas "turun dulu kali ris, lo kek monyet anjir " .
"lo apa apaan sih, gue cantik gini dibilang kek monyet " ucapnya mengibaskan rambut panjangnya.
"idih narsis banget lo cantikan juga gue " sewot devina
"kalian ini bisa ngak sih, sekali aja ga debat pusing gue dengernya tau ngak " ucap elzia menatap kedua sahabatnya bergantian.
"dia nih yang mulai zi " ujar risa menunjuk devina.
"dih apaan, lo kali yang baperan " sinis devina tak terima.
elzia memutar bola matanya jengah dengan kelakuan kedua sahabatnya yang selalu berdebat hal hal yang tidak penting.
drrrtt drrrttt
ponsel elzia berdering menandakan sebuah panggilan.
"gue udah di dalem buruan masuk "
"oke tunggu bentar "
tut
"siapa zi?" tanya devina.
"fito, ayok masuk " jawab elzia berlalu meninggalkan mobil sportnya diikuti kedua sahabatnya.
sesampainya di dalam mereka ke resepsionis menanyakan meja yang di tempati fito.
"ada yang bisa saya bantu kak "
"meja atas nama fito dimana ya kak?" tanya elzia.
"tunggu sebentar "
"kakak lurus aja ada lorong di sebelah kanan, meja pojok kanan itu meja atas nama fito, mau saya anter kak?"
"gausah, terimakasih " ucap elzia
mereka bertiga berlalu meninggalkan resepsionis, sesampainya di meja pojok fito sudah fokus mengotak atik laptopnya.
"tiga bos cantik apa kabar gue kangen sama kalian " sambut fito dengan cengirannya.
"kami juga kangen sama muka jelek lo " timpal risa dengan senyum mengejeknya.
"jelek jelek gue ganteng kali " ucap fito merapikan rambutnya dan menaik turunkan alisnya, dengan gaya narsisnya
"kalian ini sebenernya temen gue ga sih?" tanya fito dengan tampang kesalnya.
"menurut lo?" balik tanya elzia dengan senyum mengejeknya.
"bukan sih, mana ada temen yang bully temen sendiri " ucap fito dengan dahi mengkerut.
"itu lo tau, lo itu babu kita ha..ha..ha..ha " ucap devina sambil tertawa ngakak diikuti risa dan elzia yang juga tertawa melihat raut wajah kesal fito.
"sialan kalian semua, tega banget sama gue " ucap fito sok dramatis.
"udah udah kita ke inti pembicaraan " timpal elzia menatap ketiga sahabatnya bergantian "jadi mana fit informasi lengkapnya?"
fito yang ditanya langsung mengotak atik laptopnya lalu menunjukkannya pada ketiga sahabatnya.
elzia dkk terdiam melihat fakta itu, fakta yang mengatakan kalo elkan dkk adalah pemimpin dan para eksekutif dari organisasi dunia bawah tersebut.
"gue gatau apa rencana kalian tapi gue cuma mau ngingetin untuk selalu hati hati, nih kalian bawa ini gue harus pulang kalian juga harus langsung pulang, mereka organisasi kejam dan berbahaya apapun bisa terjadi, inget selalu hati hati kopinya udah gue bayar gue balik dulu " ucapnya berlalu meninggalkan elzia dkk, setelah memberikan berkas tentang organisasi mafia devil.
"kita harus cepet pulang, bener apa kata fito apapun bisa terjadi " ujar devina yang dibalas anggukan oleh kedua sahabatnya.
"yaudah yuk " ucap elzia berlalu pergi dari sana diikuti kedua sahabatnya.
sesampainya di parkiran mereka bertiga langsung memasuki mobil sport elzia dan berlalu meninggalkan kawasan caffe itu, tidak ada pembicaraan di perjalanan untuk pulang mereka masih sibuk dengan pikiran masing masing, sesampainya di kediaman mahendra elzia langsung memarkirkan mobil sportnya.
"yuk kita bahas di kamar gue " ajak elzia pada kedua sahabatnya.
"gue masih ga nyangka, kalo mafia itu bener bener ada " timpal risa sambil mengikuti langkah kaki kedua sahabatnya "gue taunya cuma di novel dan mereka keren banget "
devina mendengus malas mendengar crocosan risa "iya lo liat sisi kerennya doang, lo lupa mereka ngak segan segan membunuh orang yang cari masalah sama mereka, dan lo lupa bisnis para mafia itu gimana?"
"sttt kita bahas di kamar gue aja, kalo ada yang denger kita bisa ketahuan " bisik elzia lalu menarik tangan keduanya menuju kamarnya.
sesampainya di kamar devina dan risa lanngung duduk di kasur king zizenya sementara elzia mengunci pintunya lalu mengeluarkan berkas yang diberikan fito lalu menunjukkan pada kedua sahabatnya, mereka bertiga apa yang tertulis di berkas itu satu persatu, mereka menganga tak percaya dengan informasi yang tertulis di berkas itu, berkas itu berisi tentang ciri ciri anggota mafia devil, eksekutifnya, bahkan pemimpinnya, lalu tentang bisnis yang mereka kerjakan mulai dari klub malam, kasino dan penjualan barang barang ilegal yang jelas dilarang oleh negara.
"ini bisa di laporin ga sih?" tanya risa menatap kedua sahabatnya bergantian.
"bisa asal ada buktinya " jawab devina sambil membaca berkas itu.
"jadi rencana kita gimana?" tanya risa
devina dan elzia saling berpandangan sembari berpikir unruk langkah selanjutnya "kita harus ikutin mereka, gue penasaran banget sama mereka " ucap elzia.
devina menatap elzia intens "lo berniat ngelaporin mereka?" tanyanya.
"enggak, gue cuma penasaran aja sama kehidupan para mafia itu gimana " ucap elzia menatap kedua sahabatnya penuh arti.
"gue juga penasaran banget sih, bener apa kata zia dev gimana kalo kita selidiki mereka, apa kayak yang di novel uhh..... keren banget, ya ya mau ya dev " timpal risa dengan tampang memohonnya.
melihat risa yang merengek pada devina, elzia juga membujuk devina dengan menyatukan tangannya "plis dev mau ya, masa lo ga penasaran sama mereka " rayu elzia.
devina menghembuskan nafasnya pelan lalu menatap kedua sahabatnya yang tersenyum penuh arti kepadanya, meskipun devina yang paling cerewet di antara mereka, tapi devina yang paling rasional dan dewasa dalam sebuah masalah.
"oke gue mau " ucapnya
elzia dan risa menyunggingkan senyumnya mendapat persetujuan dari devina "makasih dev, jadi kapan kita mulainya kita bakal kayak detektif gitu kan " ucap risa tersenyum sumringah.
"secepetnya, tapi kita harus hati hati inget yang kita selidiki sekarang bukan preman atau pengedar biasa melainkan para mafia yang jauh lebih kejam, jadi kita harus hati hati " jelas devina yang dibalas anggukan oleh elzia dan risa.