
di kediaman keluarga mahendra jam sudah menunjukkan pukul 18:00, gadis cantik itu sudah rapi dengan pakaian santai dan make up tipisnya, selesai dengan segala rutinitasnya elzia turun dari kamarnya menuju meja makan untuk makan malam, sedang asik asiknya makan elzia dikejutkan oleh dering ponselnya
drrtt drrttt
"*halo zi kita berangkat duluan yah "
"oke gapapa, gue bentar lagi juga jalan kok "
"oke zi.."
drttt drrrttt*
"*halo ini siapa "
"elkan, aku ada di gerbang "
"be-beneran?"
"iya* "
elzia segera mematikan ponselnya berlalu pergi dari sana menuju gerbang, dari kejauhan di gerbang sudah nampak seorang pemuda duduk di atas motor sportnya sembari sibuk dengan ponselnya, elkan memakai celana jeans kaos hitam dan jaket kulit serta rambut yang acak acakan menambah kesan badboy yang kentara, beberapa detik elzia terpaku pada pemuda itu elkan selalu bisa membuatnya salah tingkah sendiri
elkan yang sadar tengah diperhatikan menoleh dan mendapati elzia yang tengah tersenyum kikuk menatapnya "el sekarang kamu mau ke mana?" tanya elkan
beberapa detik elzia terpaku 'el' panggilan itu mengingatkannya pada bocah kecil, yang elzia cari selama ini "ka-kamu panggil aku el? "tanya elzia
elkan tersenyum tipis dan mengangguk mengiyakan "kenapa?" tanya elkan
elzia menggeleng gelengkan kepalanya "eng-enggak ga-gapapa " jawabnya terbata
elkan gemes sendiri melihat elzia yang menurutnya sangat imut "kamu belum jawab pertanyaanku?"
"oh itu, aku mau ke danau sama temen-temen aku " jawabnya sembari melihat jam tangan
"ayok aku anterin " ucap elkan
"ga-gausah....."
"aku ga nerima penolakan " ucap elkan
"i-iya " jawabnya pasrah, dengan mencebikkan bibirnya
"ha ha ha ha...." elkan tertawa melihat ekspresi gadis itu yang menurutnya sangat imut, sambil mengacak acak rambut gadis itu
elzia yang mendapatkan perlakuan itu tambah cemberut "ihh berantakan el " ucapnya sambil merapikan rambutnya yang di acak oleh elkan
"udah rapi jugak " gerutunya
elkan makin tersenyum melihat eksperesi elzia, gadis yang selalu mengisi kekosongan hatinya, gadis yang membuatnya hidup hingga saat ini, gadis yang membuatnya bertahan di kerasnya dunia bawah hingga menjadi yang teratas, gadis yang sedari kecil sudah memberi kehangatan pada hatinya, tak di sangka dunia ini begitu sempit hingga kakeknya mempertemukannya kembali dengan gadis kecil cengeng penyemangatnya
elkan merapikan rambut elzia yang di acak acak olehnya "yaudah maaf, nih helmnya " ucap elkan menyodorkan helm
elzia menerima helm itu lalu memakainya, sesudahnya gadis itu naik ke motor sport elkan "udah, ayo el jalan " ucapnya sembari memegang bahu elkan
"belum " ucap elkan sambil meraih kedua tangan elzia dari belakang, dan menaruhnya di perutnya sendiri posisinya sekarang elxia memeluk elkan dari belakang, wajah elzia memerah bak kepiting rebus akan perlakuan kecil elkan padanya
motor sport elkan melaju dengan kecepatan sedang di jalanan, beberapa menit kemudian motor sport itu berhenti di area danau kota memasuki tempat parkir yang di sediakan, disana dua sahabat elzia sudah menunggu sahabatnya
sementara dahi devina mengkerut melihat motor sport yang familiar "itu bukannya motor elkan?" tanya devina pada risa disampingnya
motor sport elkan berhenti di samping sahabat elzia yang masih sibuk berbisik bisik, elzia membuka helmnya sahabatnya menganga melihat elzia
"elziaa " pekik keduanya
"kalian apaansih gue ga budek " ucapnya kesal pada sahabatnya, kemudian beralih menatap elkan yang menatapnya lalu tersenyum manis "makasih ya el " ucapnya
elkan mengangguk mengiyakan lalu membuka jaketnya lalu menyampirkannya pada tubuh elzia, yang menurutnya terlalu terbuka untuk malam hari yang dingin, sementara elzia menatapnya bertanya
"pakek ga ada penolakan " ucapnya tegas
"iya " jawab elzia pasrah, sembari memegang ujung jaket yang diberikan elkan biar tidak merosot ke bawah
elkan merapikan anak rambut di telinga elzia "yaudah aku pergi du ya " pamitnya
elzia menganggukkan kepalanya mengiyakan "iya makasih el " ucapnya tersenyum manis
elkan hanya tersenyum tipis di dalam helm full facenya lalu mengangguk, sembari menghidupkan motornya dan berlalu pergi dari sana.
elzia berbalik dan melihat kedua sahabatnya yang masih terbengong di tempatnya, elzia yang melihatnya mengkerutkan dahinya "kalian kenapa?" tanya elzia
"itu beneran elkan?" tanya devina tak percaya, dan risa yang menatapnya dengan senyum menggoda
"yaiyalah emang siapa lagi " ucap elzia menatap kedua sahabatnya bergantian
"cie cie ada yang bakal jadian nih " goda risa
wajah elzia mulai memanas mendengar ucapan sahabatnya "eng-enggak lah " ucapnya salah tingkah
"ada yang perlu gue omongin sama kalian " ucap devina langsung menarik keduanya menuju pinggir danau yang tak terlalu ramai, sesampainya di bawah pohon besar mereka yang biasa mereka tempati kala sedang berkumpul atau membahas sesuatu, mereka bertiga langsung mendudukkan dirinya di kursi yang sudah di sediakan
raut wajah devina yang serius dan khawatir membuat mereka bertanya tanya, pasalnya devina kalo menunjukkan raut wajah itu, berarti ada masalah serius yang ingin gadis itu sampaikan.
"kenapa dev?" tanya risa memulai pembicaraan
devina menghembuskan nafasnya pelan lalu menatap kedua sahabatnya bergantian "lo tau sendiri kan kalo bokap gue jendral militer?" tanya devina
"iya " ucap risa dan elzia mengganggukkan kepalanya
"tadi ayah peringatin gue nyuruh hati hati di sekolah karna kemungkinan ada beberapa siswa di sekolah kita, yang merupakan pemimpin dan para inti organisasi bawah tanah paling berbahaya sekaligus terbesar di indonesia, namanya organisasi mafia devil " jelasnya, risa dan elzia terkejut mendengar penjelasan devina, 'organisasi bawah tanah' 'mafia' itu adalah hal asing yang baru mereka dengar sekarang, biasanya mereka hanya tau di buku novel yang menceritakan tentang mafia atau semacamnya, tak di sangka ternyata mereka mendengar langsung di dunia nyata
melihat reaksi sahabatnya devina membuang nafas kasar "kalian pasti lebih terkejut lagi kalo tau kemungkinan orang orang dari organisasi itu sendiri " jelasnya
mendengar itu elzia mengkerutkan dahinya "maksud lo?"
"kata ayah kemungkinan pimpinan organisasi mafia devil adalah elkan sanjaya, sementara tito ferso, ethan aditama, dan dava emilio adalah para inti dari organisasi tersebut " jelas devina
risa dan elzia terkejut mendengar penjelasan devina, mau tidak percaya tapi yang memberi informasi adalah seorang jendral militer
"lo be-beneran, ga mungkin kan anak sma bisa menjadi pimpinan sekaligus inti sebuah organisasi berbahaya " ucap elzia yang masih tak percaya
"iya itu nggak mungkin banget " ucap risa menyetujui ucapan elzia
devina menghembuskan nafasnya pelan "gue sebelumnya juga nggak percaya, tapi ayah bilang kamungkinan mereka dilatih dan diberi pemahaman tentang sebuah organisasi dari kecil, jadi walaupun mereka masih muda tetap aja mereka orang orang berbahaya, kalian inget kan dulu waktu pertama kali elkan sama temen temennya baru menginjakkan kaki di sma sriwijaya, pas digangguin sama lima kakak kelas, mereka dibantai sama elkan sendirian sampe kritis, itu lima orang loh dan mereka rata rata sabuk hitam karate sejauh apa cobak kemampuan elkan, bahkan orang tua mereka yang notabenenya adalah orang orang kaya, malah nyuruh semua orang untuk tutup mulut, kalian nggak curiga kalo ada ancaman dari pihak organisasi itu sendiri?" jelas devina
risa dan elzia shok mendengar penjelasan dari devina, bagaimana mereka menyadari hal itu dari lama.
"kayaknya kata devina bener, bahkan malam itu elkan membantai preman itu tanpa ekspresi, seakan akan membantai dan membunuh adalah hal wajar baginya, el siapa kamu sebenarnya " batin elzia