
Di pagi hari yang cerah , Fanny dan managernya telah bersiap-siap menuju bandara . Tetapi Fanny sedikit kelimpungan ,karena dari tadi bangun tidur sampai sekarang mau berangkat dia mencari Hp nya. Dia tidak menemukan dimanapun Hp tersebut, sampai dia ingat kalau tadi malam tidak sengaja meninggalkan Hp nya dimobil Alex.
"oh ****" kesal Fanny.
Padahal dia ingin menggubungi kekasihnya Sean untuk memberi kabar jika dia hari ini berangkat ke Amerika.
"Fanny ayolah cepat sedikit, kita akan ketinggalan pesawat" teriak Rani dari ruang tamu apartmen.
Fanny menghela nafas kasar dan menyusul Rani yang sudah dulu keluar dari apartmen.
Setelah sampai diparkiran Fanny langsung memasuki Mobilnya dan menuju bandara.
"Kau menemukan Hp mu ?" tanya Rani.
"Hilang" jawab Fanny singkat.
Dia sekarang sedang badmood ,jadi sebaiknya jangan diganggu nanti ada macan bangun.
"hihihi" Rani tertawa kecil dengan pikirannya.
"Kau kenapa ?" tanya Fanny yang melihat Rani menertawakannya dengan pelan.
"Tidak-tidak aku hanya merasa lucu dengan ekspresimu sekarang" jawab Rani sambil menahan ketawanya.
Fanny sedang memikirkan bagaimana caranya dia mengambil hp miliknya di lelaki itu, bagaimana caranya dia menghubungi Sean. Bagaimanapun lelaki itu pasti menunggu kabar dari Fanny ,karena Sean tidak akan menghubungi wanita itu jika sudah mengultimatum dirinya agar tidak menghubungi Fanny.
Sementara itu Sean sang kekasih terlihat gusar menunggu kabar dari Fanny . Dia bahkan kurang tidur dari semalam .Dia berencana meminta maaf pada kekasihnya itu karena sudah bersikap kasar dan posesif kepada Fanny . Dia terus menunggu.
hingga, drrrrrt....drrrrrt getar hp nya .
Sean langsung mengangkat tanpa melihat Id penelpon, dan ternyata Fanny dia menelpon menggunakan hp Rani.
"Sayang...." , dengan suara manja Sean memanggil Fanny".
"Kenapa lama sekali menghubungiku ? " tanya Sean tanpa mendengar jawaban si penelpon.
"Hp ku hilang, aku akan berangkat ke amerika sekarang ,ada pemotretan disana , aku tutup yah" Fanny menutup telponnya tanpa menhiraukan suara diseberang sana memanggilnya.
Sean menghela nafas dengan kasar, dia pikir kekasihnya masih marah atas kejadian semalam, tapi dia bersyukur Fanny mau menghubunginya.
Beberapa jam kemudian Fanny sudah mendarat di Amerika, dia menuju hotel yang akan menjadi tempat tidurnya untuk beberapa hari ini.
Disini lah Fanny berada sekarang , Hotel Peninsula Chicago adalah hotel terbaik di Amerika Serikat dimana kelebihannya terletak pada pemandangan Kota North Michigan Avenue, tepat di jantung kota atau distrik belanja. Hotel ini dilengkapi dengan 339 kamar mewah, spa di atap gedung (rooftop), dan klub fitnes dengan fasilitas memadai.
Fanny selalu menyukai hotel ini karena banyak aktivitas lain yang bisa dilakukan, yaitu afternoon tea di The Lobby hotel jika dia sempat . Selain bisa menikmati berbagai jenis teh, para tamu juga bakal diberikan layanan bak raja dan ratu istana dengan acara fashion show informal dari berbagai butik dan retail ternama . Itulah menjadi tujuannya Fanny ke Amerika serikat .
Selain itu sambil menikmati fashion show, para tamu akan disajikan hidangan champagne dan makanan berkelas seperti Cherry Scones, Lavender Marshmallow Pillows, sampai Chive Blinis with Creme Fraiche and Caviar dan Smoked Salmon Terrine. Tarif per malam jelas mahal, yaitu USD420 sampai USD1.750 atau sekitar Rp4 jutaan sampai hampir Rp2 miliar jika di Rupiahkan, sungguh sangat Mahal.
ting tong....
bell kamarnya berbunyi , dan Rani dengan cepat membukanya. Rani terpanah sekarang ,kenapa tidak didepannya berdiri sang pengusaha kaya raya Alexander Elvano Damian .
" Stefanny " jawab Alex singkat.
" Ah...iya silahkan masuk tuan , Fanny sedang membersihkan dirinya di toilet " . Rani mempersilahkan lelaki itu masuk tanpa persetujuan Fanny.
Alex masuk ke kamar itu dan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar , terlihat berantakan dengan 5 koper Fanny yang terbuka dan baju-bajunya berserakan .
Rani menyadari tatapan Alex dan kemudian berlari sambil menutup satu persatu koper milik Fanny dan membereskannya .
"Maaf tuan tadi aku sedang merapikan pakaian Fanny" penjelasan Rani.
"It's ok" jawab singkat Alex.
"Bisa kau keluar sebentar ? ada yang ingin ku bicarakan dengan artismu ? tanya Alex ".
"Baiklah tuan", Rani menjawabnya dengan cepat dan berlari kecil keluar dari kamar tersebut.
Alex duduk di balkom kamar tersebut sambil melihat pemandangan didepannya , Tidak sia-sia dia mendirikan hotel disini , hotel ini adalah salah satu aset dari kekayaan keluarga Damian yang tentunya akan menjadi kekayaan Damian di masa akan datang.
Fanny keluar dari toilet tanpa melihat seseorang yang menatapnya dari balkom dengan pemandangan yang sulit diartikan. Fanny hanya menggunakan handuk yang minim ,hanya menutupi sebagian paha atasnya ,dan siapapun yang melihatnya pasti akan panas dingin , tidak terkecuali Alex yang menatapnya seperti seorang yang kelaparan.
Fanny belum menyadari keberadaan Alex sampai dia selsai untuk mengganti bajunya, untungnya Fanny menggunakan pakaian dalamnya di toilet tadi jadi tidak sampai terlihat polos tanpa sehelai benangpun.
"Ehmmm" suara Alex mengejutkan Fanny sampai kaget dan hampir terjungkal ke belakang .
."Kyaaaaaaak" teriak Fanny setelah melihat Alex berdiri menghampirinya.
"Apa yang kau lakukan dikamarku?" tanya Fanny sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari managernya itu. Ingatkan Fanny untuk mengutuk managernya itu menjadi batu jika dia kembali karen membiarkan Alex masuk tanpa ijinnya.
"Merindukanmu" jawab Alex yang menghampiri wanita itu yang hendak menuju minibar dikamar itu.
"Kau membual tuan ? " Fanny tersenyum mengejek kearah lelaki itu.
"Aku benar-benar merindukanmu nona" jawab Alex dengan santai mengambil minuman yang hendak diminum Fanny.
"Kau sengaja menggodaku dengan menggunakan pakaian itu ?" jawab alex yang melihat pakaian Fanny yang sexy dan transparan.
"Jangan melihatnya jika tidak ingin tergoda" Fanny mencibir Alex.
Fanny menjauhi minibar tersebut dan mulai menyalakan tv dikamar itu, dia tidak menghiraukan Alex yang duduk disampingnya dan terus menatapnya. Fanny menyadari sesuatu dan langsung menghadap Alex.
"Hey tuan dimana ponselku ?" tanya Fanny dengan pelan .
"Aku membuangnya" dengan enteng menjawab.
"Akan aku belikan yang baru untukmu sayang" senyum Alex yang kini sibuk mencium wangi dari tubuh Fanny. Wanita itu menghela nafasnya dengan Kasar. Dia tahu tidak akan menang jika berbicara dengan Alex.
"Aku ingin menciummu" Alex menatap mata Fanny dengan dalam dan tanpa persetujuan Fanny dia langsung mencium tepat dibibir wanita itu dengan lembut. Alex sangat mendambakan bibir ini sejak dulu pertama kali melihat wanita ini ,dan itu sudah beberapa tahun yang lalu ,Alex hanya berani menatap wanita itu dari kejauhan ,dari tv atau majalah dikantornya, entah keberaniannya akhir-akhir ini muncul untuk mendekati sang pujaan hati dengan terang-terangan.