Who is that mysterious boy

Who is that mysterious boy
Perang dimulai



Randy langsung mendorong balik, dan menarik baju Edward. Disitu langsung banyak murid-murid pulang sekolah bergerombolan melihat Randy dan Edward ribut besar-besaran, di tengah-tengah Ana mencoba memisahkan mereka berdua tetapi di tengah keributan Ana terjatuh terdorong oleh Randy.


Randy yang tak sengaja mendorong Ana itu pun langsung membantu Ana untuk berdiri, tetapi belum sempat membantu nya berdiri Edward langsung menarik Randy dan meninju wajah nya.


"Lu liat, Ana jadi jatoh gara-gara elu!" ucap Edward.


"Mending lu pergi dari sini, kagak usah deketin Ana lagi!" kata Edward memberikan peringatan ke Randy.


Randy pun langsung pergi meninggalkan tempat itu, dan segerombolan murid itu juga ikut bubar. Edward langsung membantu Ana yang terjatuh "lu gapapa kan na? Ada yang sakit?" tanya Edward khawatir.


"Nggak" ucap Ana.


"Udah mending pulang aja" kata Ana yang mood nya sudah rusak gara-gara tadi.


Edward pun menuntun Ana dan mengantarkannya pulang kerumah, di perjalanan Edward menyuruh Ana untuk mengobati lutut nya yang berdarah itu.


Sesampainya dirumah, Edward menuntun Ana masuk sampai ke dalam rumah. Mama nya Ana yang baru saja dari dapur langsung keluar ke ruang tamu dan heran mengapa Edward menuntun Ana? Dan ternyata lutut Ana berdarah, mama nya Ana pun langsung mengambil kotak p3k untuk segera mengobati luka di lutut Ana.


"Biar saya aja tante yang ngobatin luka di lutut Ana" ucap Edward dengan sopan.


"Oh baiklah, ini ya" ucap mama nya Ana memberikan kotak p3k yang berisi obat luka.


Edward pun mulai mengobati kaki Ana yang terluka itu dengan pelan-pelan, tetapi Ana tetap merasakan rasa perih di luka nya.


"Aduh sakit-sakit, pelan-pelan" ucap Ana.


"Tadi di sekolah, di tanya ada yang sakit jawab nya enggak" kata Edward mengingat perkataan Ana tadi di sekolah.


Ana pun mengingat perkataan dia sendiri dan mencoba mencari alasan "hehe, baru kerasa sekarang sakit nya sumpah deh gak bohong" ucap Ana yang mencoba bohong sedikit.


Tapi wajah Ana tak bisa bohong, karena seorang Ana selalu jujur dalam mengungkapkan sesuatu.


Edward hanya diam saja, walaupun tau kalau Ana sedang berbohong dan mencari alasan.


Mama nya Ana pun bertanya, sebenarnya mengapa bisa Ana terluka seperti sekarang. Lalu Edward pun menceritakan semua nya sekaligus meminta maaf kepada mama nya Ana.


"Udah ngapain minta maaf, ini bukan salah kamu kok. Salah si Randy yang dorong Ana" ucap mama nya Ana dengan jengkel ke Randy yang sudah mendorong Ana sampai terluka.


"Iya tante, cuma saya gak enak aja. Seandainya saya gak berantem sama Randy mungkin Ana gak ke dorong sampe luka begini" ucap Edward merasa bersalah.


Mama nya Ana pun berkata "sudahlah, ini udah terjadi yang penting jangan diulangin lagi ya Edward? Oke?" ucap mama nya Ana sambil tersenyum.


Ana berkata, "huh capek deh".


Edward melihat ke arah Ana yang tiba-tiba mengatakan kalau diri nya lelah, seorang Ana bisa lelah juga ternyata? Selama ini dia kelihatan semangat dan tak kenal rasa lelah.


Edward pun izin pulang ke mama nya Ana karena mau membiarkan Ana istirahat, takut mengganggu waktu Ana. Edward pun menyuruh Ana untuk istirahat di kamar dan tidak usah memikirkan kejadian hari ini, Edward juga menyuruh Ana untuk melupakan semua keributan di sekolah tadi.


Ana pun tersenyum karena Edward memperdulikan diri nya, mama nya Ana melihat ada senyuman di wajah Ana langsung terkejut. Ternyata Edward bisa membuat ada senyuman di wajah Ana.


"Edward hebat, bisa membuat ada senyuman di wajah Ana. Baru kali ini mama lihat Ana tersenyum, mama aja susah buat Ana tersenyum" ucap mama Ana sambil memegang wajah Ana.


Edward yang mendengar perkataan mama nya Ama itu pun ikut senang, dan berpikir "apa sesusah itu ya membuat Ana tersenyum?".


Tapi Edward berpikir yang penting Ana bahagia dan juga senyuman Ana bisa membuat mama nya juga ikut bahagia, kebahagiaan Ana nomor satu buat Edward.


Hari yang tak disenangi seluruh murid pun tiba, ya apalagi kalau bukan hari ujian? Ujian kenaikan kelas pula... Seluruh murid mencoba tenang, dan ada juga yang sudah mempersiapkan contekan.


Edward memberikan semangat untuk Ana supaya bisa mengerjakan ujian dengan tenang dan dengan kepala dingin. Edward selalu mendukung Ana dan memberikan semangat supaya Ana tak menyerah.


Ana juga memberikan semangat ke Edward, tapi Ana berkata kalau diri nya agak takut kalau soal ujian kali ini tidak sama seperti yang ia pelajari semalam di buku.


Edward langsung memberikan kalimat penenang, dan berkata " tenang aja, pasti ada kok" ucap Edward menyakinkan Ana.


Ana pun mulai agak sedikit tenang dengan perkataan Edward, beberapa menit kemudian ujian pun dimulai. Seluruh murid fokus ke kertas ujiannya masing-masing, beberapa murid juga ada yang mencontek. Sebagian siswa yang mencontek ketahuan oleh guru pengawas dan kertas ujiannya dirobek.


Ana dengan santai nya mengisi soal ujian tersebut karena ternyata semua soal ujian itu ada di buku yang ia pelajari. Begitupun dengan Edward, kali ini Ana bersaing dengan Edward soal ranking. Siapakah yang akan menjadi juara kelas kali ini? Apakah Ana bisa mempertahankan posisi nya? Apa akan tergeser oleh Edward?. Ana berusaha keras untuk mempertahankan posisi nya itu.


Ujian telah selesai, hari berganti dan siswa bisa dengan tenang karena hari ujian telah selesai. Tetapi siswa tak bisa tenang 100% dikarenakan hasil naik kelas atau tidaknya belum ditentukan.


Hari ketiga setelah ujian selesai, hasil nilai dan ranking keluar. Ana dan Edward langsung ke board ranking di depan kelas nya itu, Ana mulai mencari nama nya dan hualaaahhhhh Ana mendapatkan ranking kedua, siapakah ranking pertama?


Edward melihat Ana lesu sewaktu ia melihat ke board, Edward pun mencoba untuk melihat ke board dan ternyata itu alasan mengapa Ana menjadi lesu. Karena Ana mendapatkan juara 2, Edward memberikan semangat dan berkata "udah ini juga udah bagus kok na, gua bangga sama lu" ucap Edward sambil tersenyum ke arah Ana.


Ana mencoba tersenyum tapi tak bisa, Ana tidak bisa membohongi diri nya sendiri. Ana sangat sedih lalu ia menangis karena ranking nya turun, tapi Ana tidak akan menyerah. Ana akan terus belajar sampai mendapatkan posisi ranking pertama kembali.


Edward mencoba menenangkan Ana, dan menghiburnya.


Disisi lain Randy melihat kalau Ana menangis karena melihat board ranking dan itu membuat Randy merasa bersalah, seharusnya kemarin sewaktu mengisi soal ujian ia salahkan saja 3 soal supaya diri nya yang mendapatkan ranking 2 dan biarkan Ana yang dapat ranking 1.