
Analia Bella Christina, adalah seorang gadis yang dingin dan tidak menghiraukan apapun di sekelilingnya kecuali ada yang mengusik diri nya.
Pagi hari, Analia bangun dari tidur nya dan segera pergi mandi setelah itu sarapan. Analia sangat teliti dalam mengerjakan hal apapun, serta gerakan Ana sangat lincah karena terlalu lincah terkadang mama dan papa nya pun kaget ketika Analia tiba tiba muncul di depan mereka tanpa suara jejak kaki.
Setelah selesai bersiap, Ana pamit ke orang tua nya untuk pergi ke sekolah.
Papa nya Analia memberikan tumpangan untuk mengantarkannya ke sekolah, tetapi Ana tidak mau merepotkan papa nya sehingga Ana memilih untuk pergi naik bus.
Analia menunggu di halte bus, tidak lama kemudian akhirnya bus yang ditunggu nya pun sampai. Ana langsung menaiki bus tersebut, agar dia tidak terlambat datang ke sekolah.
Beberapa menit kemudian akhirnya Ana tiba di sekolah nya, Analia pun langsung turun dari bus dan pergi ke kelas baru nya.
"Padahal masih temen kelas yang lama tapi kenapa suasana nya berubah ya?" ucap Analia kebingungan.
Tak lama setelah itu Tania datang menghampiri Analia, ya... Tania adalah sahabat Analia dari kecil selalu ada disaat Ana senang maupun susah. Tania sudah menjadi bagian yang paling penting di kehidupan Ana, sifat Tania yang cerewet dan kepo ini bertanya pada Analia.
"Dorr, ngapain bengong? Kenapa? Ada apa? Why? Kok keliatan kayak bingung gitu sih" ucap Tania yang langsung memberikan 5 pertanyaan langsung ke Ana.
Ana yang di ulah oleh sahabatnya itu langsung menghela napas.
"Huhhh, tarik napas... Hembuskan" ucap Analia sambil menarik napas dan menghembuskan nya.
Setelah melakukan hal itu, Analia langsung memberikan jawaban dari 5 pertanyaan dari sahabatnya itu.
"Jadi gini, gue lagi mikir. Ini kelas kok kayak beda banget gitu, padahal temen kelas nya masih kayak dulu kelas 10 ya gak sie? Apa cuma gue aja?" Analia langsung menjawab pertanyaan Tania itu dan balik bertanya.
Tania pun menjawab "ah perasaan lo aja kali, gue ngerasa kok tetep sama gak ada yang berubah. Aelah lo, kebanyakan menyendiri sih loo"
Analia pun tak menghiraukan perkataan Tania, Ana pun diam dan tak berkata sepatah katapun.
Bel pun berbunyi, dan guru masuk ke kelas mereka di ikuti oleh satu anak laki-laki yang tinggi, putih, dan memiliki badan yang bagus.
"Anak-anak, mohon perhatiannya sebentar" ucap wali kelas mereka, bu Rena.
Anak-anak di kelas itu langsung memperhatikan ke depan, mereka melihat dan berpikir akan bertambahnya pasukkan anggota di kelas mereka.
"Silahkan nak, perkenalkan diri kamu ke teman-teman" ucap bu Rena.
"Halo, gua Edward Wijaya" ucap murid baru itu yang ternyata memiliki nama Edward Wijaya dan hanya memperkenalkan nama nya.
Wali kelas mereka, bu Rena itu langsung speechless mendengar murid baru itu cuma memperkenalkan nama nya.
"Hahaha, ya itu nama nya. Baik, silahkan duduk di tempat kosong sebelah Analia ya Edward". Ucap bu Rena yang menyuruh dia untuk duduk di bangku kosong sebelah Ana.
Ana melihat Edward menghampiri diri nya itu tak menghiraukannya sedikitpun. Analia merasa terganggu ada nya Edward yang duduk di bangku sebelahnya, Ana sudah terbiasa duduk sendiri dari kelas 10 karena dirinya tidak suka ada siapapun yang mengusik ketenangannya.
Edward duduk di sebelah Ana, dan langsung membuka buku. Edward juga tak menghiraukan Ana yang sedari tadi mencuri pandang ke dirinya. Analia mengira kalau Edward tidak tahu, kalau diri nya sedang melihat Edward.
Ana mengatakan sesuatu di dalam hati nya "ini anak keliatannya sama kayak gue".
Analia pun membuang pandangannya, dan lanjut memperhatikan guru yang sedang menjelaskan materi di depan.
Jam istirahat berbunyi, seluruh murid di kelas dipersilahkan untuk makan dan bersantai sejenak.
D jam istirahat teman-teman kelas langsung menghampiri Edward, berusaha untuk mengajak diri nya kenalan. Apalagi para wanita di kelas Ana itu sangat menyukai penampilan Edward. Bahkan, berita tentang Edward murid baru itu begitu cepat menyebar di kelas lain.
"Hai Edward... Boleh kenalan?" ucap salah satu teman kelas Ana yang sangat iri ke diri nya itu yaitu Vira.
Edward hanya menoleh ke arah Vira, tapi tak menjawab sepatah kata pun.
Vira merasa kalau diri nya di abaikan, dan langsung pergi.
Edward melihat ke arah Ana yang menahan tawa nya itu dan berubah menjadi senyuman di wajahnya.
"Lu manis kalo senyum" ucap Edward memberikan pujian singkat ke Analia.
Analia tertegun dan terdiam, Ana menjadi salting dan langsung berdiri menarik tangan Tania untuk pergi ke kantin.
Tania yang merasa tangannya ditarik oleh Ana itu langsung mengatakan "ih apa sih main tarik aja, pelan-pelan hei..." ucap Tania yang langsung di bawa keluar kelas.
Edward yang melihat tingkah lucu Ana itu langsung tersenyum kecil, baru pertama kali Edward tersenyum walaupun sedikit. Ada apa dengan Edward?
Jam istirahat sudah habis, saat nya melanjutkan pelajaran yang sangat membuat seluruh murid ngantuk kecuali Ana.
Analia berbeda dari yang lain, disaat yang lain membenci dan dibuat ngantuk oleh pelajaran matematika tetapi seorang Analia kebal oleh pelajaran itu. Memang, Analia sangat pintar dalam pelajaran matematika sehingga itu membuat diri nya menjadi juara 1 di kelas.
Analia dikenal karena kepintarannya, sehingga Vira iri ke Ana yang selalu beruntung di banding diri nya.
Ana mengira kalau murid baru itu, Edward akan mengantuk disaat jam pelajaran matematika. Ternyata Ana salah, ternyata Edward sama seperti diri nya. Pintar dalam pelajaran itu, sepertinya Ana mendapatkan saingan dalam pelajaran matematika.
Setelah 3 jam pelajaran matematika, akhir nya selesai juga dan istirahat keduapun tiba.
Seluruh murid gempor dan langsung merenggangkan tubuh mereka dan ada juga yang langsung tidur di kelas.
Tapi tidak dengan Analia dan Edward yang segar bugar, Ana sedikit heran mengapa bisa Edward kebal dari pelajaran matematika yang terkenal sangat membosankan di kelas nya itu? Ana melihat Edward yang sedari tadi tidak pergi ke kantin dan justru malah membaca buku di kelas.
Apakah Edward sebenarnya kutu buku?
Edward menyadari kalau Ana melihat diri nya, dan Edward langsung berkata "kenapa?" tanya Edward melihat ke arah Ana.
Ana terkejut dan langsung menjawab pertanyaan Edward "H-hah?, e-enggakk. Nape lo, liat-liat gue" ucap Ana yang gugup karena ketangkap basah oleh Edward.
"Lo yang liat gua duluan" ucap Edward dengan singkat dan jelas.
Analia tak menjawab lagi, Ana membuang pandangannya langsung menatap langit di jendela.
"Liat apa disana?" Edward melihat Ana memandangi jendela dan langsung melempar pertanyaan ke Ana.
"Langit" jawab Ana dengan jelas.
"Oh" ucap Edward.
Tania melihat cara tatapan Edward ke Analia berbeda, dan Tania mau menjahili sahabatnya itu tapi bagaimana cara nya? Tania harus memikirkan cara menjahili Ana.
Lagi-lagi waktu cepat berlalu, jam istirahat telah selesai.
Seluruh murid melanjutkan aktivas untuk belajar lagi.
Setelah pelajaran terakhir selesai, akhirnya jam pulang telah tiba. Jam yang sangat ditunggu tunggu oleh murid di kelas, teman kelas Ana yang mengantuk itu langsung bugar karena pelajaran terakhir sudah selesai.
Tania mengajak Analia pulang bersama nya, dan Ana menyetujuinya.
Tania mengambil mobil di tempat parkir, Ana menunggu di depan halaman sekolah.
Tania sudah mengambil mobil dan langsung menancap gas meninggalkan Ana sendiri di halaman sekolah itu.
"Bye-bye Anaaaa, HAHAHAHA...." ucap Tania sambil meledeki Ana.
"Woi, Tan. Kurang ajar, bus udah gak ada lagi. Duh begimane gue pulang? Masa jalan kaki, kurang ajar Tania" ucap Analia mengomel sambil jengkel dengan kelakuan Tania yang menjahilinya itu.