
Pagi telah tiba, Edward menjemput Ana untuk pergi ke sekolah bersama.
Ana berpamitan ke orang tua nya, tetapi sebelum Ana keluar dari rumah papa nya Ana bertanya tentang diri nya yang kata nya diantar dan dijemput oleh seorang lelaki muda sekelas dengan Ana.
"Tunggu sebentar Ana, ada yang ingin papa tanyakan" ucap papa nya yang ingin mengetahui hubungan anaknya itu.
"Oke, tanya apa pa?" tanya Ana dengan penuh rasa penasaran.
"Kata mama, kamu beberapa hari ini diantar dan dijemput sama cowok ya?" ucap papa Ana sambil meledek.
"Iya pa, kenapa? Cuma temen kok bukan pacar Ana." ucap Ana dengan jujur takut papa nya mikir macem-macem.
Papa nya Ana pun menjawab
"Lebih dari temen juga gak apa apa"
"Dih apa sih pa, udah ah Ana mau ke depan dulu udah ditungguin" ucap Ana segera bergegas ke depan.
Papa nya Ana pun melihat ke arah mama nya Ana dan mereka saling bertatap seakan akan berkomunikasi lewat mata, papa nya Ana pun berkata ke mama nya Ana "anak kita dijemput calon pacar di depan"
Mama nya Ana pun menjawab "anak kita udah gede pa"
"Iya, gak berasa ya ma" ucap papa nya Ana.
Di depan, Ana menghampiri Edward yang menunggu nya daritadi di motor.
"Sorry, gue tadi di tanya bokap gue jadi nya lama" ucap Ana meminta maaf karena sudah membuatnya menunggu lama di depan rumah.
"Iya tenang, udah buru naik" ucap Edward yang tidak mempermasalahkan hal itu.
Analia langsung naik ke motor, dan mereka langsung berangkat ke sekolah.
Sesampainya mereka di sekolah, Ana menunggu Edward turun dari motor.
"Tumben lu nungguin gua" tanya Edward dengan senang karena Ana menunggu diri nya turun dari motor.
"Oh jadi gak mau ditungguin yaudah gue ke kelas duluan" ucap Ana, Ana hendak pergi tapi tangannya ditarik oleh Edward.
"Eh iya iya tungguin, gua buka helm dulu" ucap Edward.
Edward pun membuka helmnya dan mengajak Ana untuk ke kelas bersama.
"Yok" ucap Edward sambil memegang tangan Ana.
"Ndak usah pegang-pegang" ucap Ana langsung melepaskan pegangan Edward.
Mereka pun langsung ke kelas, sesampainya mereka di kelas. Seluruh teman kelas nya melihat ke arah mereka dan saling bertatap tatapan, seisi kelas menjadi canggung.
Tania yang sudah tahu kalau sahabatnya itu pergi bersama Edward tersenyum.
"Jiakhh elaah pergi ke sekolah bareng juga ternyata tohhh. Gue pikir dianter pulang aja" ucap Tania menggoda Ana.
"Jaga cocotmu" ucap Ana jengkel.
Edward hanya diam saja, karena dia dikenal dingin tak banyak bicara di sekolah.
Sewaktu jamkos, Ana pergi keluar kelas sendiri. Diri nya ingin pergi ke perpustakaan, tetapi di tengah perjalanan Analia bertemu geng cowok tengil di sekolahnya yang terkenal satu sekolah... Geng cowok tengil itu, memiliki ketua. Dan ketua dari geng tersebut menyukai Ana, tapi Ana tak menghiraukannya.
"Heyyoww ketua, lihat ada siapa" ucap salah satu anggota geng cowok tengil itu.
"Hello, babe. Terakhir kita ketemu kelas 10 ya, apakabar sayang?" ucap Fincent ketua geng itu sambil menyentuh pipi Ana.
Ana yang merasa risih dengan kehadiran mereka menepis tangan Fincent dari pipi nya.
"Kaga usah ganggu gue!" ucap Ana sedikit membentak.
Ana pun pergi, tapi tangan nya ditarik oleh Fincent.
"Mau pergi kemana sayang? Biar abang anterin" ucap Fincent menggoda.
"Sok asik lo" ucap Ana.
Anggota geng cowok tengil itu tertawa semua, dan salah satu dari mereka pun berkata "bos, lihatlah cewe ini sok jual mahal"
"Lepasin gue" ucap Ana minta dilepaskan tangannya.
"Lepasin? Hahaha" ucap Fincent, langsung mendorong Ana ke tembok.
"Lu puasin gua dulu kalo mau di lepasin" ucap Fincent yang mulai membuka satu kancing baju Ana.
Ana memberontak tapi tenaga Fincent jauh lebih kuat dibanding dirinya.
Edward melihat kejadian itu langsung menarik Fincent dan memukul wajahnya.
"Lu siapa? Kagak usah ikut campur!" ucap Fincent.
"Lu semua, serang dia" perintah Fincent ke anak buah nya.
"Siap bos" ucap seluruh anggota nya.
Anggota nya pun menyerang Edward dan, tak ada satu pun yang menang melawan Edward.
"Lu, maju sini" ucap Edward mengajak Fincent untuk bertarung.
Fincent pun langsung menyerang Edward, tapi sialnya Edward begitu lincah menghindari serangan Fincent.
Analia merasa takut dan trauma, Edward melihat Ana ketakutan itu langsung memeluk Ana.
"Udah jangan takut, ada gua" ucap Edward sambil memeluk Ana.
Ana pun nangis dipelukan Edward, dan berkata.
"Lo telat dateng nya, huhuhuhu" ucap Ana sambil menangis.
Edward yang merasa lucu melihat tingkah Ana yang memiliki sifat dingin itu ternyata bisa child juga.
"Iya maaf, ini salah gua yang telat dateng nya. Maaf kalo gua datangnya telat, oke? Jangan nangis lagi" ucap Edward menenangkan Ana.
"Enggak, lo gak telat dateng nya huhuhu" ucap Ana yang bersyukur karena Edward menolongnya.
"Kita ke kelas?" tanya Edward.
"Enggak" ucap Ana yang masih menangis.
"Mau kemana?" tanya Edward.
"Gatauu, hiks hiks" ucap Ana.
"Ikut gua mau?" tanya Edward yang ingin mengajak Ana ke suatu tempat.
Ana hanya mengangguk yang mengartikan, diri nya mau ikut.
"Ayo" ucap Edward sambil memegang tangan Ana.
Edward mengajak Ana ke taman belakang sekolah yang penuh dengan bunga, udara sejuk banyak pepohonan.
"Kita mau ngapain disini?" tanya Ana.
"Coba lo liat disana" ucap Edward menunjuk ke arah pohon besar.
"Napa?" tanya Ana.
"Kesitu yuk" ucap Edward.
Edward langsung menarik tangan Ana, dan duduk di bawah pohon besar itu.
"Adem juga disini, anginnya kenceng" ucap Ana merasa sejuk duduk di bawah pohon besar itu.
Ana sudah tak sedih lagi, dan suasana hati Ana sudah kembali seperti biasa.
"Udah gak sedih lagi kan?" tanya Edward yang ikut senang melihatnya.
"Udah, makasih ya" ucap Ana berterimakasih ke Edward.
"Iya" ucap Edward.
Ana menikmati kesejukan dan ketenangan di bawa pohon itu, sangkin sejuk nya Ana pun ketiduran di pundak Edward.
Sudah 2 jam Ana tidur di pundak Edward, sebenarnya Edward mau membangunkan Ana tapi melihat Ana tidur pulas itu membuat Edward tak tega membangunkannya.
Setelah 2 jam tertidur, Ana bangun dan bertanya jam berapa sekarang. Dan Edward pun menjawab "udah jam 15.35"
"Hah!?" ucap Ana terkejut.
Ana bergegas berdiri dan ke kelas, ya benar saja ternyata kelas sudah kosong. Seluruh murid telah pulang ke rumah.
"Asli, parah 2 jam gue tidur" ucap Ana.
"Gua kagak tega bangunin lu, lu pules tidurnya" ucap Edward.
"Mending kita pulang" ucap Ana tak menghiraukan yang dikatakan Edward.
Mereka berdua pun pulang, Ana pergi ke halte bus. Edward pun mengikuti Ana, berharap bus yang dinaiki Ana tak datang di halte.
"Lu mau naik bus?" tanya Edward.
"Iya" ucap Ana.
"Napa kagak bareng gua aja" ucap Edward penasaran.
"Gue gak mau ngerepotin lo" ucap Ana dengan jujur dan merasa ngerepotin Edward selama ini.
"Oh jadi alasan lu itu" ucap Edward yang baru tahu kalau seorang Ana bisa merasa ngerepotin.
"Tapi gua gak ngerasa kalau lu ngerepotin gua, kan yang nawar gua" ucap Edward berharap Ana berubah pikiran.
Ana hanya terdiam, dan tetap menunggu bus. Tapi sayangnya tak ada bus yang berhenti di halte tersebut.
"Jam segini gak ada bus, udah pergi duluan" ucap Ana kecewa.
Edward menarik tangan Ana dan membawa Ana ke motor, lalu Edward memberikan helm ke Ana menyuruh dirinya memakai helm dan naik ke motor.
"Naik" ucap Edward menyuruh Ana naik ke motor.
Ana pun naik dan memakai helm, lalu Edward mengantarkan Ana pulang ke rumah. Hubungan mereka semakin dekat, dan menjadi baik.
"Ini kok bukan jalan ke arah rumah gue?" tanya Ana yang tahu kalau Edward bukan mengantarkannya pulang.
"Iya, gua mau beliin sesuatu buat lu" ucap Edward yang mau membelikan barang untuk Ana.