
Mama nya Ana mendengarkan semua cerita Edward, dan mencoba untuk membantu membujuk Ana.
"Baiklah, tante coba bujuk Ana ya" ucap mama nya Ana.
"Kamu pulang aja dulu sekarang, besok pagi-pagi kalau tante masih belum bisa bujuk Ana maafin tante ya. Soalnya Ana tipe yang susah buat dibujuk" ucap mama nya Ana.
"Oke tante, saya permisi dulu. Sebelumnya makasih ya tan udah mau coba buat bujuk Ana." ucap Edward.
"Iya sama-sama, hati-hati ya dijalan" ucap mama nya Ana.
Edward pun pulang ke rumah dan memikirkan bagaimana cara membujuk Ana supaya dirinya tidak marah lagi.
Keesokkan hari nya seperti biasa Edward menjemput Ana untuk berangkat sekolah bersama, Ana masih marah ke Edward dan di sepanjang jalan menuju sekolah mereka saling diam. Ana tidak berbicara sepatah katapun ke Edward, Edward merasa canggung sekali karena mereka saling diam. Lalu Edward pun memulai pembicaraan pertama kali, supaya suasana mencair.
"Sayang, aku bakal cari tahu orang nya siapa yang ngirim pesan ke aku. Aku janji" ucap Edward.
"Ya" ucap Ana hanya menjawab dengan singkat.
Mereka pun telah sampai di sekolah, dan Ana masuk duluan ke kelas. Edward mencoba mengejar Ana tapi di tengah lorong sekolah Edward di cegat oleh Virly.
"Cie berantem ya?" ucap Virly dengan muka bahagia.
"Minggir" ucap Edward yang malas meladeni Virly.
Edward mencoba menghindar, tapi Virly malah menarik tangan Edward.
"Tunggu dulu dong, buru-buru amat sih. Masih mau bertahan sama Ana? Kenapa gak sama aku aja sih sayang?" ucap Virly.
"Bukan urusan lo" ucap Edward yang masih belum sadar kalau Virly yang mengiriminya pesan perusak hubungan tersebut.
Ana melihat Edward dan Virly sedang mengobrol dari ujung lorong, Virly yang menyadari ada Ana yang sedang melihat mereka berdua itupun langsung memeluk Edward.
"Lu ngapain meluk gua?" tanya Edward kebingungan.
Ana langsung menghampiri Edward "oh bagus ya" ucap Ana.
Edward langsung melepaskan pelukan Virly.
Ana pergi meninggalkan Edward dan Virly itu, Edward langsung mengejar Ana.
"Na tunggu na, Ana!" ucap Edward memanggil Ana.
Edward langsung menarik tangan Ana.
"Apalagi?" tanya Ana.
"Dengerin penjelasan aku dulu Ana" ucap Edward.
"Masalah pesan dari cewe misterius aja belum selesai, dan sekarang kamu meluk Virly maksud kamu apa? Kamu selingkuh sama Virly. Iya? Ngaku aja" ucap Ana.
Edward ingin menjelaskan semua nya tapi Ana tak berhenti berbicara.
"Udah lah, kalo kamu gak serius kenapa kita pacaran?" ucap Ana.
Ana pun langsung pergi masuk ke kelas.
"Aduh, gua harus gimana lagi bujuk Ana ya" ucap Edward kebingungan sambil menggaruk kepala nya.
Edward pun masuk ke dalam kelas dan duduk di samping Ana dan berkata "yaudah untuk beberapa hari ini aku gak ngomong sama kamu dulu sampai kamu bisa nenangin pikiran kamu" ucap Edward.
Ana mendengar itu hanya diam saja tak menjawab, sepulang sekolah Edward tak meninggalkan Ana dan tidak mengantarkan Ana pulang ke rumah.
Ana melihat Edward yang langsung pergi begitu saja meninggalkan dirinya merasa sedikit sedih, dan terpaksa Ana harus menunggu bus seperti dulu.
Tania melihat Ana sendirian menunggu di halte itu langsung memberikan tumpangan "naik na, gue anterin" ucap Tania.
Ana langsung naik ke mobil nya Tania dan curhat tentang Edward.
"Yaelah na, Edward udah ngejelasin ke lo. Harusnya lo percaya sama dia, dia mungkin sekarang udah kebingungan gimana cara nya supaya lo ga marah lagi sama dia" ucap Tania.
"Jadi yang salah gue gitu??" tanya Ana.
"Ga gitu maksud gue, lo disini ga salah. Tapi disisi lain Edward juga ga salah, dia juga udah berusaha ngejelasin dengan sesuai fakta Ana" ucap Tania.
"Lah terus tadi dia berpelukan sama Virly apa maksud nya, ya jelas dia selingkuh" ucap Ana semakin kesal.
"Ya ampun Anaaa... Capek gue ngejelasin ke elo, cuma Edward sama mak bapak lo aja yang sabar ama elo" ucap Tania.
"Hehe" ucap Ana.
"Edward udah ngejelasin kalau Virly yang meluk dia, dia ga tau apa apa. Harus nya lo coba berpikir dengan bijak deh, dimana lagi coba cari cowok setia kayak Edward?" ucap Tania.
Sesampainya dirumah, Ana langsung menelpon Edward.
Handphone Edward berdering dan ternyata itu dari Ana.
Edward langsung mengangkat telepon itu "hallo, kenapa na?" ucap Edward.
"Lo itu harus nya minta maaf, bukan nya malah ninggalin gue dan biarin gue nunggu di halte bus. Udah ga kasih kabar, ninggalin pula" ucap Ana.
Diri nya mau meminta maaf tapi gengsi.
"Oke, aku minta maaf soal semua nya. Kamu masih marah sama aku?" ucap Edward memastikan sekali lagi.
"Udah enggak" ucap Ana.
"Hah? Udah enggak? Serius?" tanya Edward dengan nada senang.
"Ya begitulah, tadi dapet ceramahan dari Tania. Jadi nya udah ga marah lagi" ucap Ana berkata jujur.
Edward senang mendengarnya, dan akhir nya Ana sudah tidak salah paham lagi.
Malam hari nya, Edward kedatangan tamu.
Tok...tok..tok... Bunyi suara ketukan pintu. Edward mencoba mengintip di balik jendela, gak ada orang sama sekali dan akhirnya Edward mencoba keluar untuk mengecek. Edward menengok ke kanan ke kiri gak ada orang, pas Edward mau masuk sudah ada Virly di belakangnya.
"Hai sayang" ucap Virly.
"Ngapain lu ke rumah gua?" tanya Edward.
"Jangan galak-galak dong sayang" ucap Virly.
"Aku ke sini cuma mau ngajak damai aja" kata Virly sambil mengambil minuman.
"Maksud lu?" tanya Edward.
"Ya emang nya kamu gak mau damai sama aku? Dan kamu mau aku ganggu terus hubungan kamu sama Ana? Enggak kan?" ucap Virly.
"Oh ok, kita damai" ucap Edward.
"Sekarang kita udah damai kan, sebagai tanda perdamaian yuk kita minum ini di dalem. Aku beliin ini di alfamart pas mau mampir kesini cuma buat ngajak kamu damai aja, kalo ga mau sama aja kamu gak ngehargain usaha aku" ucap Virly.
Edward pun menyetujui nya sebagai tanda perdamaian, mereka berdua masuk ke dalam rumah.
"Eumm, mama sama papa kamu kemana kok sepi banget rumah nya?" tanya Virly.
"Ke luar negeri" ucap Edward.
"Oh oke, diminum dulu" ucap Virly menyuruh Edward meminum minuman yang berisi obat tidur.
Setelah Edward meminum minuman dari Virly, tiba-tiba kepala nya pusing dan Edward pingsan di sofa.
Virly tersenyum picik, dan langsung membopong Edward ke dalam kamar Edward. Virly pun menaruh Edward di kasur.
Ana yang ingin bertemu dengan Edward itu ingin menemuinya langsung di rumah, beberapa menit setelah itu Ana melihat pintu rumah Edward terbuka. Ana langsung masuk ke dalam rumah nya dan masuk ke dalam kamar, pintu kamar Edward tidak terkunci.
Ketika Ana membuka pintu, Ana melihat Virly yang mencoba membuka baju Edward. Ana melihat Edward yang seperti pingsan itu langsung menampar Virly "apa-apaan ini, lo mau apain Edward?" tanya Ana.
"Ya menurut lo aja sih gue mau ngapain?" ucap Virly.
"Gila lo, untung gue kesini kalo gak pasti gue salah paham lagi sama Edward" ucap Ana.
"Santai dong, mumpung Edward lagi pingsan gini lo juga bisa kok" ucap Virly.
"Maksud lo?" tanya Ana dengan polos.
"Satu bagi dua" ucap Virly.
"Enak aja, mending lo pergi dari sini?" ucap Ana.
Ana langsung menarik tangan Virly dan mengusirnya keluar dari rumah Edward.
Virly yang tampak tidak senang dengan Ana itu langsung segera pergi dengan muka kesal.
"Liat aja lo Ana, gue pastiin hubungan lo sama Edward bakalan hancur sehancur-hancurnya" ucap Virly.
Ana masuk ke dalam rumah Edward dan menutup pintu rumah, Ana mencoba membangunkan Edward tapi sayangnya Edward sudah terlanjut tertidur karena efek obat tidur yang ada di dalam minuman yang dia minum.
Ana pun tidur di sebelah Edward, dan pagi pun tiba.