
Ana terkejut, dan langsung berkata.
"Ngapain lo disini, ini baru jam 5.32"
Edward menjawab "jemput lo lah ngapain lagi? Kita kan berangkat ke sekolah berdua hari ini"
"Harus nya gua yang tanya ke elu, lu ngapain ngendap-ngendap kayak maling kek gitu?" tanya Edward.
"Ck, ketauan sama lo" ucap Ana.
"Lu gak mau berangkat sekolah bareng gua?" tanya Edward.
"Ya udah kalo gak mau mah, gua pergi sendiri" ucap Edward.
Ketika Edward menyalakan motor, Ana langsung berkata "eh mau mau tungguin"
"Tadi gak mau" jawab Edward.
"Kan tadi, sekarang udah kelanjur" ucap Ana.
"Ya udah buru naik" perintah Edward menyuruh Ana naik ke motornya itu.
Sesampainya mereka di sekolah, Ana pun turun dari motornya dan melepaskan helm. Setelah itu Ana langsung pergi ke kelas tanpa menunggu Edward.
Edward melihat Ana yang langsung pergi begitu saja pun bergegas mengikuti Ana dari belakang.
"Lu kok kagak nungguin gua" ucap Edward.
"Ngapain?" tanya Ana dengan singkat.
Edward langsung menjawab
"Minimal tunggu gua turun"
"Lo lama" Ana langsung menjawab inti dari perkataan Edward.
Setelah perjalanan menuju kelas, akhirnya mereka sampai di kelas.
Ana berdiri melihat ruangan kelas yang sepi dan kosong hanya mereka berdua yang sudah datang di kelas itu.
"Kok diam? Masuk lah, napa malah berdiri di tengah pintu" ucap Edward.
"Sepi ya" ucap Ana.
"Jangan bilang lu takut? WKWK" tanya Edward sambil meledek.
"Enak aja, enggak" ucap Ana sambil mengelak.
"Udah masuk, ada gua" ucap Edward
"Sok iye lo, gue kaga takut" ucap Ana kesal.
Ana pun langsung masuk ke dalam kelas, dan suasana diantara mereka berdua menjadi hening.
"Eh lo kenapa diem?" tanya Ana.
"Ya gapapa, emang napa?" ucap Edward.
"Ngomong lah" pinta Ana.
Edward yang tak tau mau ngomong apa itu langsung membuka obrolan supaya suasana tidak hening.
"Makan apa tadi lu sarapan nya?" tanya Edward.
"Gue gak sarapan tadi" Ana menjawab dengan jujur.
"Kenapa gak makan lu? Diet?" tanya Edward sekali lagi.
"Diet gigi mu" ucap Ana.
"Oke, kalau gitu nanti gua beliin makanan di kantin buat lu" ucap Edward.
Ana langsung menjawab
"Dih, ngapain. Gausah, gue gak laper"
Edward yang mendengar jawaban dari Ana langsung geleng-geleng kepala dan berkata "jangan bandel"
"Siapa yang bandel? Gue gak bandel ya, lo kali yang bandel" ucap Ana.
"Iya gua yang bandel" ucap Edward mengalah.
Setelah mengobrol, satu persatu teman kelas mereka pun datang ke kelas mereka dan bel pelajaran telah berbunyi.
"Morning bestie tersynk, kemarin pasti jalan kaki. Awakwoakwowk" ucap Tania yang meledeki Ana.
"Gue sie o aja ya" ucap Ana tak menghiraukan perkataan Tania.
"Yaaahh jangan ngambek dong, gue minta maaf deh na. Ya maafin ya? Oke? Ayolah nanaa, maafin gue" ucap Tania meminta maaf sambil merengek.
"Iyain" ucap Ana
"Lo gak niat maafin gue?" ucap Tania.
"Serah lo dah, dimaafin" ucap Ana
"Hehe makasih na, sorry kemarin gue cuma pengen jahilin lo aja" ucap Tania mengatakan yang sebenarnya.
"Lo jahilinnya gak lucu" ucap Ana.
"Iya kan gue udah minta maaf, hehe" ucap Tania dengan perasaan bersalah.
"Awas lo gitu lagi ya" ucap Ana sedikit mengancam Tania supaya dirinya tidak dijahilin lagi.
"Iya iya gue janji" ucap Tania sambil berjanji.
"Eh, btw lo dipanggil sama cewe kelas sebelah tuh Edward" ucap Tania menyampaikan pesan dari cewe kelas sebelah.
"Siapa?" tanya Edward dengan singkat dan ingin tau siapa yang memanggilnya.
"Gue gak tau, kata nya suruh lo ke kelas nya" Tania menjawab dengan jujur.
"Oh ok thanks" ucap Edward.
Edward masuk di kelas sebelah dan ada seorang perempuan yang menghampirinya.
"Halo" ucap seorang perempuan berinisial V
"Lu siapa? Ada perlu apa?" tanya Edward ke perempuan berinisial V itu.
Perempuan berinisial V itu langsung menjawab pertanyaan dari Edward sambil tersenyum dan sedikit menggoda Edward.
"Ganteng, jangan jutek gitu dong sama aku. Jangan 'lo-gue' gimana kalau 'aku-kamu' aja?" ucap perempuan itu sambil mengelus pundak Edward.
Edward langsung menghindar dan pergi dari kelas itu.
Edward kembali masuk ke kelasnya, dan duduk di tempat asalnya.
"Muka lo napa kek gitu?" tanya Ana dengan penuh rasa penasaran.
"Gua ketemu cewe kaga jelas di kelas sebelah" Edward langsung menjawab pertanyaan Ana dengan wajah yang masih dipenuhi rasa kesal.
Ana langsung menjawab "tuh cewe demen ama lo kali"
"Mana gua tau" ucap Edward.
Pembicaraan mereka berakhir, mereka melanjutkan pelajaran karena guru sudah masuk ke dalam kelas. Sepulang sekolah, Edward memberikan tumpangan lagi.
"Bareng gua gak?" tanya Edward menawarkan tumpangan.
"Kagak" Ana langsung menolak ajakan Edward.
Tania yang sedang berada disampingnya Ana langsung menggoda Ana.
"Cieee, pacaran niiiyeeeeee" ucap Tania.
"Sembarangan" Ana langsung menjawab perkataan Tania yang asal ceplas ceplos.
"Bareng gua aja sekalian kayak kemarin" Edward mengajak Ana sekali lagi berharap Ana tidak menolak ajakannya.
"Kayak kemarin? Wait... JADI KEMARIN LU BERDUA PULANG BARENG!!?? OMGGG, byeee gue pulang duluan kalo gitu nikmati waktu kalian berdua" ucap Tania langsung pergi meninggalkan Ana berdua dengan Edward.
Tania senyum-senyum melihat tingkah Ana ternyata sahabatnya itu bisa dekat juga dengan seorang laki-laki, selama ini Tania mengira kalau sahabatnya itu tak menyukai laki-laki. (LESBIE)
"Lo sih" ucap Ana ke Edward yang membocorkan rahasia.
"Kok gua?" tanya Edward bertanya titik salah diri nya dimana.
"Ngapain lo kasih tau soal kemarin" ucap Ana.
"Emang itu rahasia?" goda Edward.
"Iya" ucap Ana.
Edward langsung menjawab
"Oke, siap lain kali gua jadiin rahasia"
"Yok" ucap Edward sambil menepuk belakang jok motor nya.
"Masih fresh ini jok motornya" ucap Edward yang memberikan kode ke Ana supaya naik ke motornya.
"Iya iya, mana helm nya?" tanya Ana menyetujui ajakan Edward untuk mengantarkannya pulang ke rumah.
Edward langsung memberikan helm ke Ana, dan segera mengantarkan Ana pulang ke rumah.
Sesampainya Ana dirumah, Edward langsung pamit untuk pulang. Tapi waktu Edward pamit untuk pulang, Ana menawarkan Edward sesuatu.
"Eh, besok gue rencana nya mau bawa bekal lo mau di bawain bekal juga kaga?" tanya Ana sambil menawarkan ke Edward.
Edward yang mendengar perkataan Ana itu langsung berpikir, terkena angin apa seorang Ana bisa care ke diri nya?
"Boleh, besok sekalian gua jemput" ucap Edward.
"Oke, udah sana huss" ucap Ana sambil menyuruh Edward segera pulang.
"Lu ngusir gua?" tanya Edward yang merasa kalau diri nya diusir oleh Ana.
"Gue bukan ngusir, tapi nyuruh lu cepet pulang ntar kalo ada nyokap gue bisa lama lu pulang" Ana menjawab dengan jujur.
"Oke, titip salam sama nyokap lu. Gua pulang dulu" ucap Edward sambil menitip salam ke mama nya Ana.
"Iya nanti gue sampein, cepet pulang" ucap Ana dengan penuh rasa gelisah takut mama nya tau kalau dirinya diantar pulang oleh Edward.
Edward langsung menyalakan motor, dan pergi.
Ana langsung masuk ke dalam rumah dan minum segelas air putih, di dapur ada mama nya. Mama nya Ana bertanya "tadi pulang dianterin Edward?"
"Kok mama tau?" ucap Ana dengan polosnya dia mengira kalau mama nya tau kalau tadi memang diantar pulang oleh Edward.
"Bener dianter sama Edward toh? Mama padahal cuma nanya aja, HAHAHA" ucap mama sambil meledeki Ana.
"Apa sih mama" ucap Ana merasa kalau diri nya keceplosan.
Ana langsung masuk ke kamar dan pergi mandi, setelah selesai mandi Ana menerima 1 pesan WhatsApp dari nomor tak di kenal.
Ana membuka WA :
+62***-****-**** : hai, cewe.
Analia : siape lu?
+62***-****-**** : coba tebak
Analia : gua blok ya.
+62***-****-**** : galak amat
+62***-****-**** : ini gua, Edward
Ternyata nomor tak dikenal itu dari Edward.
Ana langsung menyimpan nomor nya, dan mematikan layar ponselnya. Setelah itu Ana lanjut rebahan.