
Setelah sampai di suatu tempat, Edward mengajak Ana untuk masuk ke dalam mall bersama nya dan mencari toko perhiasan.
"Ngapain lo ngajak gue ke tempat perhiasan?" tanya Ana yang masih bingung.
"Udah diem aja" ucap Edward menyuruh Ana untuk diam.
Edward langsung melihat ke dalam etalase yang berisi banyak perhiasan yang terdiri dari cincin,gelang,kalung,anting-anting, dll. Edward mulai mencari benda yang akan diberikan ke Ana, Edward mencari dengan teliti dan akhirnya Edward menemukan benda yang ingin dibeli.
Edward menemukan kalung liontin berbentuk love, kalung itu emas asli yang berkilau. Edward membeli kalung itu, setelah pembayaran selesai Edward langsung memakaikan kalung itu ke leher Ana.
"Eh apa nih?" tanya Ana yang heran mengapa kalung yang dibeli langsung dipakaikan ke leher Ana.
"Buat lo" ucap Edward sambil memakaikan kalung itu ke leher Ana.
"Gak usah, kasih mak lo aja" ucap Ana yang menolak pemberian kalung dari Edward.
"Tapi gua beli khusus buat lo" ucap Edward dengan tulus.
Ana melihat mata Edward yang tulus itupun akhirnya menerima kalung itu. Dan membiarkan Edward memakaikannya di leher Ana.
"Bagus gak?" tanya Edward memastikan kalau Ana suka dengan kalung yang dia berikan.
"Bagus, cuma mahal" ucap Ana yang mengatakan kalau kalung itu mahal.
"Kagak mahal bagi gua, yang penting lu suka sama yang gua beli buat lo" ucap Edward.
"Hehe, makasih ya. Lain kali jangan yang mahal-mahal" ucap Ana merasa tidak enak.
"Tenang aja, yuk pulang" ucap Edward mengajak Ana untuk pulang.
Mereka pun pergi dari mall itu dan Edward langsung mengantarkan Ana pulang ke rumah takutnya mama nya Ana mencari Ana dan khawatir dengan anaknya itu.
Sesampainya dirumah, benar saja ada mama nya Ana yang sedang menunggu di depan rumah.
"Dari mana kalian?" tanya mama nya Ana penasaran.
"Hehehe, itu..." ucap Ana gugup.
"Maaf tante sudah buat khawatir, tadi saya mengajak Ana ke mall dulu beli kalung" ucap Edward meminta maaf karena sudah membuat mama nya Ana khawatir.
"Oh begitu, dikirain kemana. Beli kalung buat siapa?" tanya mama nya Ana.
"Buat Ana tante" jawab Edward dengan muka polosnya.
"Wah wah, kalian pacaran?" tanya mama nya Ana lagi yang mengira kalau anaknya itu sedang berpacaran.
"Enggakkk" ucap Ana.
"Belum tante" jawab Edward yang menjawab belum karena diri nya belum tahu cara menyampaikannya.
"Belum? Berarti sudah ada rencana buat nyatain perasaan ya? HAHAHA" ucap mama nya Ana peka dengan maksud Edward.
"Apa sih ma" ucap Ana malu.
Mama nya Ana melihat ke arah leher Ana ternyata benar kalung itu diberikan ke Ana, mama nya Ana tersenyum.
"Ini kalung nya? Wah bentuk cinta ya" ucap mama nya Ana.
"Haha, iya tante" ucap Edward canggung.
"Kode keras nih bentuk cinta" ucap mama nya Ana meledek anaknya itu yang tidak peka.
Edward hanya tersenyum saja, dan Ana yang sedari tadi tidak mengerti maksud dari kode yang mama nya bilang.
"Tante, saya pamit pulang ya" ucap Edward.
"Oh sudah mau pulang, baiklah hati hati ya. Terimakasih sudah mengantarkan Ana pulang" ucap mama nya Ana sambil tersenyum ke arah Edward.
"Iya tante sama sama" ucap Edward langsung menyalakan motor nya dan pergi pulang kerumahnya.
Di ruang tamu, Ana duduk di sofa karena dia letih berjalan jalan di mall tadi. Lalu mama nya Ana bertanya ke Ana "gimana sekolahnya hari ini? Ada cerita apa di sekolah? Cerita ke mama sayang mama pengen tau. Kamu kan jarang cerita sama mama nak" tanya mama nya dengan penuh rasa penasaran dan rasa ingin tahu yang besar tentang anaknya itu.
"Lancar kok ma" ucap Ana menjawab pertanyaan mama nya dengan singkat, Ana tidak mau memberitahu mama nya soal kejadian tadi di sekolah.
Mama nya hanya menghela napas mendengar jawaban dari anak nya itu, dan berkata "mama cuma mau jawaban selain lancar kok ma, mama mau kamu cerita hari ini di sekolah"
Ana di desak oleh mama nya, dan itu merusak mood Ana lalu Ana langsung masuk ke kamar nya tanpa berkata sepatah kata pun ke mama nya.
Mama nya merasa hari ini tidak selancar yang Ana bilang, apa Ana sedang ada dalam masalah di sekolahnya? Ana di bully? Mama nya Ana langsung menghubungi Edward, untungnya waktu Ana mandi mereka berdua saling tukar nomor, Edward memberikan nomornya ke mama Ana dan mama nya Ana memberikan nomor Ana ke Edward.
/Di WA/
Mama nya Ana : Edward, tante boleh nanya gak?
Edward Wijaya : iya tante boleh
Mama nya Ana : tadi di sekolah lancar?
Edward Wijaya : Lancar tan
Mama nya Ana : Tapi sepertinya Ana lagi ada masalah ya? Tadi tante nanya ke dia jawaban dia sama kayak kamu. Tapi abis itu ekspresi di wajah nya berubah dan langsung masuk ke kamar. Sebenarnya ada apa?
Edward pun bingung ingin membalas chat dari mama nya Ana seperti apa, apakah dia harus menjawab yang sebenarnya?
Edward Wijaya : tadi ada masalah kecil tan di sekolah, tapi tenang aja ada saya kok tan. Saya kan udah janji buat jagain anaknya tante, hehe.
Mama nya Ana : baik, terimakasih ya Edward udah jagain Ana.
Edward Wijaya : iya tan.
Chat mereka pun berakhir, mama nya Ana merasa tenang sedikit dengan perkataan Edward dan mama nya percaya kalau Edward akan menjaga Ana dengan baik.
Beberapa minggu kemudian, sudah memasuki 1 bulan sejak Edward pindah ke sekolah nya Ana.
Tania mengajak Ana untuk ke kantin, tetapi Ana menolak ajakan Tania dan berkata "gue mau ke tempat rahasia biasa gue menyendiri disana" ucap Ana.
"Yaelah lo, mulai lagi kan lo ke sana" ucap Tania.
"Udah lama gue gak ke sana, jadi kangen hahaha" ucap Ana yang merindukan tempat rahasia nya itu.
"Jiakhh elah, kangen sama orang kek" ucap Tania yang menggoda Ana.
"Sa ae lo kantong kresek" ucap Ana.
"Udah dulu, gue mau ke tempat rahasia bye Tania" ucap Ana langsung pergi meninggalkan Tania.
Edward yang baru selesai balik dari perpustakaan melihat Ana berjalan menuju suatu tempat yang Edward sendiri tidak tahu dia mau kemana.
Edward pun mengikuti Ana diam diam, dan ternyata Ana menuju tempat khusus. Edward sendiri pun baru tahu ada tempat seperti ini di sekolah ini, Edward menyadari kalau tempat ini adalah tempat khusus buat Ana dan sudah menjadi tempat rahasia bagi Ana.
Ana melihat suasana tempat yang sepi tidak ada satupun orang yang tahu tempat itu, dan mengambil satu buku yang sudah lama ia tak baca.
Disaat sedang membaca buku, ada seorang pemuda yang diam-diam memotret Ana. Disaat itu Ana merasa ada orang, "Siapa itu!? Jangan sembarangan memotret" tanya Ana dengan rasa ingin tahu siapa orang yang berani mengikutinya dan justru malah memotretnya. Pemuda itu langsung kabur takut ketahuan oleh Ana, jika ketahuan sudah pasti akan terjadi perang kedua.
"Kurang ajar, siapa sih ganggu aja" ucap Ana yang langsung pergi meninggalkan tempat rahasia nya dan kembali ke kelasnya.
Sepulang sekolah Ana mencari Edward, tapi Edward tak kunjung tiba. Kemanakah Edward?
Ana yang mencoba menelpon Edward itu pun kebingungan karena Edward handphone nya tidak aktif, lantas harus dicari kemana Edward?
Edward yang melihat Ana celingak celinguk sambil menelpon itu langsung memiliki niat menjahili nya.
Edward langsung memeluk Ana dari belakang, dan hal tak terduga terjadi. Ana malah menyikut perut Edward dan memukul pinggang Edward dengan tas nya.
"Oi oi, ampun ampun sakit sakit oi ini gua na, ampun na, Ana ampun" Edward teriak kesakitan.
Ana yang langsung tersadar ternyata yang dipukul nya itu adalah Edward dia langsung menghentikan pukulannya.