WHAT'S WRONG WITH HER

WHAT'S WRONG WITH HER
bab 18



Sean melamun menatap kosong kedepan. Pria itu memikirkan permintaan orang tua nya beberapa hari yang lalu, yakni memintanya untuk menikahi Rosie. "Bagaimana saya bisa menikah dengan perempuan yang bahkan tidak saya cintai"gumamnya sendiri.


Jujur saja, Sean sebenarnya mengagumi sosok Rosie. Tapi hanya sekedar kagum tidak lebih, hatinya masih terisi dengan gadis yang telah meninggalkan nya entah kemana.


"Hah, apa saya menyerah saja dan menikah sama Rosie"Pikir Sean, tapi bagaimana dengan Rosie? Gadis itu bahkan tidak bisa bersentuhan dengan laki2, apa dia bisa menerima Sean?.


Banyak hal yang Sean pikirkan, hingga akhirnya pria itu merogoh hp dari saku celananya dan menelpon seseorang.


"Mulai sekarang hentikan saja pencarian nya, dan tugas kamu telah selesai"ucapnya pada orang itu.


Ya!, Sean akan mencoba membuka hati untuk Rosie. Mungkin kini sudah saatnya dia melupakan gadis masa lalunya dan membuka lembaran baru dengan Rosie yang sudah dikenalnya hampir berbulan bulan itu.


"Oke Sean, sekarang kamu harus datang kerumah Om Mason. Semoga saja Rosie tidak menolak saya. Semangat!!"ujarnya sambil tersenyum bangga pada dirinya sendiri.


*__________*


Yunda dan Dara tidak bisa berhenti tersenyum saat mendengar keputusan Sean yang menerima perjodohan ini, sungguh ini adalah hal yang begitu langka.


Mengingat Sean sangat tidak suka dengan perjodohan dan juga dia merelakan perasaannya terhadap gadis lain demi menikah dengan Rosie.


"Assalamualaikum "Ucap Rosie yang baru saja datang.


"Waalaikum salam "jawab semua orang yang berada di ruang tengah, yang dimana terdapat Mason, Dara, Edi, Yunda dan juga Sean.


Semua orang kaget saat melihat penampilan rosie yang begitu lusuh, rambut berantakan, mata sembab dan juga baju yang terkena bercak darah.


"Rosie!, kamu kenapa berantakan begini, dan darah siapa ini? "tanya dara bertubi tubi.


Rosie menunduk dan berucap lirih "Jane kecelakaan bund"


"Innalillahi, Terus gimana keadaannya?"tanya dara lagi.


"aku gak tau, Jane masih di tangani dokter waktu aku pulang"jelas Rosie. Gadis itu kemudian baru tersadar saat ini ada keluarga Regan dirumahnya. "Eh Om Tante, maaf aku gak sadar kalau ada Tante sama Om"ujarnya lalu menyalimi Yunda dan juga Edi.


"Saya gak disapa? "tanya Sean sambil menunjuk dirinya.


"Maaf anda siapa ya? "


"Baru beberapa hari gak ketemu udah amnesia aja neng"


"Saya gak amnesia cuma muka kamu emang gak ada di memori saya"


"Udah2!, Rosie kamu mendingan siap2 dulu deh, jangan lama2 ya"ucap dara sengaja untuk melerai perkelahian dua orang yang sudah dewasa berasa bocil itu.


Mau tidak mau Rosie menuruti bundanya, apalagi saat melihat tatapan tajam ayahnya. Hingga beberapa belas menit kemudian, Rosie datang dengan penampilan yang sudah rapi, dan jangan lupakan wajah nya yang tampak sangat cantik dengan make up tipis andalannya.


"Ekhem!! Mumpung semua sudah lengkap, mungkin sudah waktunya kita membahas tujuan keluarga Regan datang kemari"ujar Mason sambil tersenyum.


"Nak Rosie,, Sebelum nya om minta maaf karena ini semua mungkin terlalu mendadak untuk kamu..."Edi menjeda kalimatnya dan menatap Rosie sambil tersenyum simpul yang membuat Rosie semakin penasaran.


"..Mungkin akan lebih baik Sean yang menyampaikan nya"ujar Edi sambil mengode Sean untuk berucap.


Menarik nafas panjang, Sean menatap Rosie dalam yang membuat gadis itu gugup dengan perasaannya yang mulai tidak karuan. "Saya Sean Eyre Regan, hari ini saya ingin meminta ijin kepada Om Mason dan Tante Dara untuk melamar anak kalian Rosiella Ananta Prima menjadi istri saya"


Rosie kaget bukan main saat mendengar penuturan Sean. Sean melamar dirinya? Dia bahkan sampai berdiri dan menatap nanar semua orang yang ada disitu "Kalian bilang ini hal penting? Bagi kalian ini penting TAPI TIDAK BUAT SAYA!! "


"APA!! PAPA MAU MARAH? KALIAN SEMUA EGOIS TAU GAK, Udah cukup saya selama ini jadi boneka mainan anda, jangan lagi anda juga mengatur urusan yang seharusnya bukan menjadi urusan anda"


Rosie tidak peduli lagi apa tanggapan keluarga Regan terhadap dirinya. Yang jelas batas kesabarannya kini telah habis, dan dia tidak mungkin menikahi pria selain Jeffrey.


"KAMU!! "tinggal sedikit lagi tangan Mason ingin mencapai permukaan wajah Rosie, namun tangannya ditahan cepat oleh Sean.


"Saya harap Om tidak melakukan kekerasan!, saya dan keluarga saya akan pergi, biarkan Rosie menenangkan pikirannya agar dia dapat mencari keputusan"ujar Sean.


Sebenarnya Sean sudah yakin bahwa Rosie akan menolak nya, Namun dia juga tidak ingin terlalu memaksa, Dia paham betul kalau Rosie masih sangat kaget dengan semuanya yang terdengar terlalu mendadak. "Rosie, saya pamit dulu, semoga kamu mengambil keputusan yang tepat nantinya"


Setelah itu keluarga Sean pamit pulang, Dara yang merasa tak enak hati meminta maaf kepada keluarga Regan dan syukur nya semua itu di maklumi oleh mereka.


"Dimana sopan santun kamu ha? " bentak Mason.


"Dimana hati nurani ayah? "bukannya menjawab rosie malah balik bertanya. "Apa masih belum puas ayah menguasai aku selama ini, ayah hancurin impian aku, dan sekarang ayah memanfaatkan aku untuk kepentingan bisnis ayah IYAKAN?"


"Saya melakukan ini juga gara2 kamu!!, saham perusahaan kamu menurun!,, dan kenapa kamu membebaskan karyawan kamu itu ha?, kamu jangan terlalu naif Rosie, hanya karena alasan dia ingin mengobati anaknya kamu sudah luluh, kamu bodoh atau bagaimana? "


"itu karena dia rela melakukan apapun demi anaknya!. Apa ayah peduli waktu aku sakit? Enggak kan? Bahkan ayah makin menambah beban aku. Apa ayah pernah nanya apa yang aku impikan? Sama sekali gak ada, bahkan ayah hancurin semua itu. mungkin rasa sayang terhadap anak saja ayah gak punya sama sekali"


"Rosie--"


"Apa? Bunda mau belain ayah untuk aku menerima perjodohan ini?"potong Rosie yang langsung membuat bundanya terdiam "Kalian gak tahu gimana sehari hari yang aku jalanin, aku merasa tersiksa yah! Ayah gak pernah tau kalau aku bahkan hampir di lecehkan, YANG ADA DIPIKIRAN AYAH ITU CUMA PERUSAHAAN, PERUSAHAAN DAN PERUSAHAAN "


Setelah sekian lama, luapan emosi yang selama ini dipendamnya kini keluar juga. Rosie benar2 sudah tidak tahan lagi dengan sifat ayahnya yang mengatur ngatur hidupnya. Air mata tidak ingin keluar lagi, gadis itu merasa nafasnya tercekat.


Sedangkan Mason dan Dara terdiam. Dilecehkan? Mereka bahkan baru mendengar itu sekarang. "Nak kamu--"


Rosie tertawa hambar dan mengusap wajahnya kasar, "Dan satu lagi, aku minta maaf untuk yang kesekian kalinya karena udah buat bunda keguguran waktu itu..."Rosie tersenyum miris


"...karena itu anak laki2 dambaan ayah meninggal dan hari itu juga, jadi hari yang benar2 bersejarah buat aku karena kehilangan sosok ayah yang hangat berubah menjadi orang yang kejam yang tega menyiksa anaknya yang bahkan masih belum mengerti apa2 waktu itu"


"bagi saya sebutan 'ayah' itu sebenarnya tidak cocok untuk pria seperti anda"setelah mengatakan itu rosie langsung meninggalkan dara dan juga Mason yang masih terdiam.


Gadis itu mengambil dokumen2 pemilik perusahaan yang dimana sudah menjadi miliknya. Dia meletakan map itu dengan kasar di atas meja "Saya tidak membutuhkan ini lagi, karena memang saya tidak pernah menginginkan nya, saya sudah cukup muak dengan sifat anda yang selalu mengekang saya"


"Saya lebih baik menjadi orang miskin yang bisa hidup bebas dari pada hidup mewah tapi dikurung didalam neraka seperti ini"lanjutnya lalu bergegas keluar dari rumah. Tujuannya hanya satu, Rosie ingin menjauh dari sini.


"MAU KEMANA KAMU? "pertanyaan Mason tak di pedulikan oleh gadis itu, dia bahkan berlari dengan sangat kencang agar para bodyguard tidak mengejar nya. Disaat berlari Rosie mendengar sesuatu jatuh dari tas kecilnya, saat dia menoleh obat penenangnya sudah menggelerang ditangah jalan.


Rosie tidak punya waktu untuk memungut benda itu saat melihat taksi melintas didepannya. Dengan cepat gadis itu masuk kedalam taksi tanpa memperdulikan obat penenang satu2nya yang dia bawa itu. "Pak bawa saya ketempat yang jauh dari sini"


"kemana neng? "tanya supir itu.


"Kemana aja deh asalkan jauh dari daerah sini"kesal Rosie. Dan supir taksi itu hanya mengangguk pasrah.


TBC...


Ber-tegang2 dahulu, dan ber-ngakak2 kemudian hehe. Kasih yang tegang aja dulu, kalau yang komedi terus tar konfliknya berasa ringan, gw gak mau yang ringan2 harus yang berat2 kayak beban hidup wkwkwk.


Btw kalian tim konflik ringan atau berat?


jangan lupa like dan votement nya ya