WHAT'S WRONG WITH HER

WHAT'S WRONG WITH HER
bab 12



Jane mengajak Rosie ke restoran untuk makan bersama sekaligus menjelaskan kesalah pahaman mereka. Katanya Restoran ini adalah miliki suami kakak sepupu jane, mangka dari itu jane mengajak rosie di tempat itu saja.


"Gue pengen jelasin waktu gue di lamar Jeffrey "ucap jane yang sukses membuat Rosie meletakan kembali sendoknya.


"Lo kok nolak si jan, jelas2 lo suka sama dia juga! "ujar rosie sedikit kesal.


Jane dengan keras menonyol kepala rosie, "Gue nolak Jeffrey juga karena mikirin lo"Sarkas jane.


"Maksud lo? "Rosie jadi telmi tak mengerti apa yang di maksud oleh jane


Jane mengehela nafas pelan lalu menatap rosie dengan intens, "Lo harus jujur sama gue, lo suka kan sama Jeffrey?"


Deg


Rosie seketika mematung, jadi ini alasan jane menolak Jeffrey, sungguh Rosie rasanya menjadi bersalah sekarang, dia seharusnya memikirkan perasaan Jane yang jelas2 menyukai Jeffrey.


"Gak kok"


"Bohong!, gue tau banget cie, dari lo natap Jeffrey yang kayak tatapan memuja, meperlakuin Jeffrey layaknya cowok lo,,kita sama2 cewek cie, gue tau gimana yang lo rasain ke Jeffrey "ucap jane.


sungguh dia sangat kesal sekaligus kasihan dengan sahabatnya ini, kesal karena kenapa harus suka cowok kayak Jeffrey, dan kasihan cintanya bertepuk sebelah tangan.


Rosie hanya menunduk saat Jane terdengar seperti marah kepadanya, dia sadar dan tidak akan marah kalau jane membentaknya seperti ini, "Maafin gue jane, gua gak ada maksud ngerebut Jeffrey dari lo, gue juga bakal berusaha nerima kalau lo sama Jeffrey nanti, gue serius"


Jane menepuk jidatnya pelan, "Gue gak suka sama Jeffrey, yang waktu itu gue ngomong suka sama dia itu cuma pengen ngetes lo beneran suka Jeffrey atau enggak, tapi pas lo reaksinya berlebihan gitu bahkan sampai ngusir gue,, gue jadi makin yakin kalau lo suka sama dia"jelas jane panjang kali lebar.


Rosie melongo saat mendengar penjelasan Jane, "Lo lagi gak bercandakan?, serius lo gak suka Jeffrey? "tanya rosie masih tak percaya.


"Ck iya cie, lagian juga hati gue udah ada pawangnya"ujar Jane sambil senyum2 membayangkan wajah dokter tampan itu.


"Jane berarti gue masih bisa dapetin hati Jeffrey dong?"ucap Rosie girang sambil mengguncang guncang bahu jane.


"Iya cie iya! "


"Jane Thank you so much, gue sayang banget sama lo"ujar rosie dan langsung memeluk jane erat.


"Lepasin woy sesak nafas gue"ucap jane sambil memukul mukul punggung rosie.


Tanpa mereka sadari salah satu kariawan Rosie yang baru saja datang terdiam membeku saat melihat Jane dan Rosie berpelukan. "Bener dugaan gue, nona bos emang belok, apalagi sampai bilang sayang2 begitu"gumam Dea sambil geleng2 kepala.


Kenapa dia bisa berada disini?, karena hari ini dea cuti satu hari dan kebetulan rumahnya dekat dengan restoran ini.


Dea langsung putar balik untuk pulang, dia takut bertemu dengan bossnya, mau bagaimanapun dia ijin libur karena sakit, padahal mah sebenernya emang lagi malas kerja saja.


Balik lagi ke Rosie dan Jane, mereka kini kembali melanjutkan makan mereka, sesekali bersenda gurau, Rosie Bahkan melupakan niatnya untuk membantu Jeffrey membujuk jane.


"Owh iya, yang lo bilang pawang hati lo itu siapa jan?"tanya Rosie penasaran.


Jane kembali tersenyum saat mengingat pria itu. "Gue gak tau cie, pokoknya dia itu dokter, ganteng, kulkas berjalan dan cool banget orangnya"jelas jane mendeskripsikan dokter tampannya.


"Lo gak tau namanya gitu, ya ampun Jane kasian banget sih lo"Kekeh rosie tertawa geli.


"Anjir lo, tapi liat aja bentar lagi pasti gue tau namanya dia"ujar jane dengan bangganya.


"Aminin deh"ucap Rosie.


"Hai Jane"sapa seorang pria yang datang tiba2.


"Eh Mas Chandra"kaget Jane saat melihat suami kakak sepupunya itu datang, "Cie kenalin ini Mas Candra suaminya kak Winda sepupu aku"ujar Jane.


Rosie terdiam saat melihat wajah seseorang yang sangat dia hindari selama hidupnya. Wajah Gadis berubah pucat, keringat dingin bercucuran keluar dari wajah nya.


"Cie lo gak papa? "tanya Jane khawatir, sedangkan Chandra hanya menunjukan senyum miringnya kepada rosie tanpa sepengetahuan Jane.


"G-gue pergi dulu"gadis itu susah payah mencari nafasnya yang terasa tercekat di tenggorokan nya. Rosie berlari sempoyongan dengan tangan yang memegang kepalanya. Dia tidak peduli dengan teriakan jane.


Gadis itu menorobos begitu saja hujan lebat untuk menuju mobilnya.


Saat sampai mobil rosie langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Merasa mobil Jane tak mengikutinya, Rosie meminggirkan mobilnya di pinggiran jalan.


"Jeffrey gue takut hikss.. Jangan sentuh aku.. Hikss... Jangan.. "


Tubuh gadis itu bergetar hebat, Rosie memeluk lututnya sendiri ketakutan, bayang2 masa lalu kembali menyeruak bak kaset rusak di kepala gadis itu.


Dengan tangan yang bergetar hebat, rosie berusaha mencari obat penenangangnya, setelah ketemu dia langsung saja meminum obat itu.


Perlahan nafas rosie mulai teratur, gadis itu dengan segera menguhubingi Jeffrey. Dia sangat membutuhkan pria itu sekarang. Tak lama telpon di angkat oleh Jeffrey.


"Jeff tolong gue"lirih rosie.


"Gue lagi sibuk"


"Hiks jeff gue but___"


Tut...


Jeffrey langsung memutus telepon begitu saja. "Jeffrey gue takut hikss...gue butuh lo"Rosie menangis sejadi jadinya didalam mobil, dia membenci dirinya yang begitu ketergantungan akan kehadiran Jeffrey.


Seharusnya dia tidak seperti ini, dia harus sadar sudah cukup banyak merepotkan Jeffrey, tapi disaat seperti ini dia sangat membutuhkan Jeffrey, hanya pria itu yang bisa membuat rosie tenang.


Tubuh gadis itu menggigil karena pakaian yang dia kenakan sudah sangat basah. Hingga dering telponnya membuat Rosie berharap kalau itu adalah Jeffrey.


"H-halo jeff, tolong gue"ujar rosie bergetar tanpa melihat nama seseorang yang telah menelponnya.


"Rosie kamu kenapa?,,kamu bagi lokasi kamu sekarang!,saya akan kesana"dari seberang sana suara orang itu terdengar sangat khawatir.


Rosie melihat layar hpnya dan terpampanglah nama Sean disana. "Se gue takut hikss....gue takut se... "


"iya, kamu tenang ya, sekarang saya akan kesana"


Tut.


Rosie dengan segera mengirim lokasinya ke Sean. Dan kembali menangis ketakutan bahkan gadis itu makin menjadi jadi memukul kepalanya agar bayangan itu segera hilang, dia sungguh tidak mampu mengingat kejadian yang begitu menyiksanya.


*___________*


Sean berlari seperti orang kesetanan. Bahkan kariawannya sangat bingung melihat bosnya seperti itu. Setelah melihat lokasi yang dikirim Rosie, Sean langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sean bersyukur karena lokasi itu tidak jauh dari perusahaannya. Dari jauh dia dapat melihat mobil merah yang terparkir di pinggir jalan, dan Sean meyakini itu adalah mobil Rosie.


Sean dengan segera turun, dan membuka pintu mobil Rosie kasar. "Rosie kamu gak papa kan? "tanya Sean.


Penampilan gadis itu begitu berantakan, Sean ingin menenangkan Rosie, namun dia teringat Rosie melarang keras untuk menyentuhnya. Sebenarnya dia juga bingung kenapa Rosie melarangnya seperti itu.


"Tolong gue hiks,,,gue takut se, gue takut.. "Ujar Rosie. Gadis itu kembali ingin memukul kepalanya. Namun Sean lebih dulu menahan tangan gadis itu.


"Kamu gak boleh kayak gini, masih ada saya, saya akan ngelindungin kamu rosie, kamu bisa percaya sama saya, jadi saya mohon biar kali ini saya sentuh kamu, kamu gak perlu khawatir" Ujar Sean lembut.


Dan siapa sangka!, Rosie tidak menepis tangan Sean. Gadis itu terdiam dengan tatapan kosong menatap tanganya yang di pegang oleh Sean "Lepasin Se"ujarnya.


Sean yang semula tersenyum menjadi datar begitu saja saat mendengar penuturan Rosie. Pria itu memberanikan diri untuk menarik Rosie keluar dan memeluk erat gadis itu. "Saya gak akan melepas ini sebelum kamu tenang "


Lagi2 bayangan masa lalu itu timbul lagi di pikiran Rosie "Lepasin gue!!"Teriak rosie sambil memberotak dalam pelukan Sean.


"Kamu harus tenang Rosie, kamu bisa percaya sama saya, kalau kamu butuh penenang kamu bisa peluk saya, kamu bisa datang ke saya, jangan pendam masalah kamu yang justru bakal bikin kamu setres, kamu bisa cerita semuanya ke saya"ucap Sean menenangkan.


Perlahan Rosie berhenti memberontak, gadis itu membalas pelukan Sean dan menangis sejadi jadinya di dada bidang pria itu. "Gue takut.. Dia datang Se, gue takut sama dia hiks.. "


Sean mengelus rambut panjang Rosie yang basah "Kamu gak perlu takut, saya ada disini, saya akan selalu lindungin kamu"


Tangis gadis itu perlahan mereda. Sean melepas pelukannya dan memperlihatkan wajah sembab Rosie di depannya. "Saya antar kamu pulang, baju kamu masih basah, nanti kamu sakit"


Rosie menganggukan pelan kepalanya menurut. "Nanti mobil kamu biar pak supir aja yang ngantar"ucap Sean lagi.


Pria itu perlahan mengiring Rosie untuk masuk kemobilnya. Sean melepas jasnya dan langsung memakaikan itu kepada Rosie.


Sean menghela nafas pelan, dia benar2 Penasaran sebenarnya apa yang membuat Rosie ketakutan seperti ini.


Namun pertanyaan itu dia urungkan saat melihat keadaan rosie yang seperti tidak ada lagi gairah hidup.


TBC


Jangan lupa like dan votement nya