
Akhirnya mereka mencapai kesepakatan. Seperti yang di janjikan oleh Aditya, pengacara yang menangani surat pranikah mereka menjelaskan banyak hal. Monica memahami betul surat perjanjian pranikah seperti apa. Dia heran bahwa surat tersebut tidak akan merugikan bagi dirinya.
Ada 2 hal yang menarik perhatiannya yaitu tentang Sean, ketika masa kontrak selesai, Sean akan tetap dalam pertanggungjawaban Bram. Dan jika dirinya hamil, maka perjanjian mereka dibatalkan, Monica tetap sebagai istri dari Bram Mahesa Adiputra.
Monica ingin sekali menyanggah tapi tidak dia lakukan. Karena itu tidak akan pernah terjadi, walaupun terbesit di pikiran tidak akan bisa menghindari Bram. Dia harus menjaga dirinya
."Ciiihhh pede'nya gak ketulungan..." Gumannya lirih.
"Mon... " Panggil Febiola
"Udah kelar bimbingannya? “ tanya Monica.
"Udah, yukkss ke kantin.” Ajak Febiola seraya menggandeng lengan sahabatnya itu.
Monica menjawabnya dengan anggukkan kepala dan membiarkan dirinya di giring oleh Febiola.
Kantin siang ini tidak begitu ramai. Hari ini Monica ke kampus untuk lakukan bimbingan Skripsi, namun ternyata pak Arthur sedang tidak ada di tempat.
“Bete gw Feb.” keluh Monica
“Kenapa…eh lw mo pesan apa?” tanya Febiola.
“Hhmmm apa ya…itu aja deh Soto Betawi.” Jawabannya.
“Okay gw pesanin sekalian deh.” Tawar Febiola.
“Thanx Feb…” Febiola pun meninggalkan Monica untuk memesan makanan, tak lama dia datang kembali dengan membawa Teh botol dingin.
“Nih…ok cerita deh, lw bete kenapa.?” Tanya Febiola.
“Pak Arthur, dia gak info kalo hari ini dia tugas keluar kota…skripsi gw bakal ke tunda kayaknya nih Feb.” jelas Monica
“Masa sih tertunda hanya karena Pak Arthur keluar kota gak mungkin tertunda lah Mon.” kata Febiola meyakinkan bahwa yang dipikirkan oleh Monica salah.
“Sebenarnya bukan karena itu saja Feb.” Monica berusaha untuk menjelaskan.
“Jadi…” Febi memiringkan kepalanya menatap Monica, dia baru tahu ada alasan lain yang menyebabkan kelulusannya tertunda. Monica menarik napasnya dalam-dalam, menenangkan pikirannya. Dia pun akhirnya mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja.
“Apa itu…”
“Alasan…”
“Haaah…?! Ok daripada gw nebak dan salah, coba ku liat…” Febiola meraih kotak itu dan membukanya, betapa terkejutnya dia melihat sebuah cincin emas berjejeran berlian sebanyak 3 buah berlian.
“OMG…lw ngelamar gw…”
“Huusshh ngaco…”
“Jadi…? Eh tunggu pak Arthur ngelamar lw makannya lw bete…”
“Pllaaaakkk…tambah ngaco aja sih…”Monica memukul lengan febiola dengan kertas.
“Adduuhh sakit…jadi apa dong…”
“Bram…”
“Ehh… Bram Mahesa Adiputra itu, Si Mr. Fashion yang gosipnya Gay? Yang bantu lw dan Sean kan…”
“Ya…eh emang dia gay…?” tanya Monica.
“Gosipnya….karena dia gak dekat sama wanita…” Jawab Febiola
“Ooohh..itu karena dia alergi wanita.” Jelas Monica.
“Haaah? Tapi kok malah nikah sama lw.” Tanya Febiola tak percaya.
“Panjang ceritanya.” Katanya singkat.
“Cerita aja mon…kita temanan kan biar lebih ringan sedikitlah kalo kamu ada cerita…” ujar febiola
Akhirnya monica menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Bram.
“Jadi kapan pernikahannya…”
“Bulan depan…”
“Haaaahh..gila cepat amat.”
“Permintaan oma, karena oma hanya ada 2 minggu aja disini.”
“Ohhh…"
"Nanti aku kabarin deh…”
“Bukan kabarin…tapi kirim undangan…”
“iya…iya…”
“Drrrttt….Ddddrrrrtt…” sebuah telepon masuk mengagetkan Monica. Dibacanya nama yang tertera di screennya. Bram.
“Ya…kenapa Bram…”
“Kamu di mana Mon…”
“Kantin…”
“Ok… tunggu.” Bram turun dari mobilnya, dan menuju kantin tempat monica berada.
“Omg…Bram tuh mon, gila emang dia styles dan cakep…” ujar Febiola.
Yaaa maklum lah Bram CEO di bidang fashion, otomatis deh penampilannya juga luar biasa…dia tidak memakai jas, hanya celana khaki warna cream, kemeja putih lengan panjang dan syal yang melingkar setengah di lehernya, sentuhan terakhir kacamata hitam. Semua gadis di dekatnya terpesona melihat penampilan Bram. Namun tidak dengan Monica, gadis itu tidak begitu ingin memperhatikan Bram.
“Biasa aja kali…menurut gw Aditya lebih cakep…” ucapnya pelan
“Omg… belum nikah lw udah selingkuh…” bisik Febiola.
“Iiiissshh…”
Bram berdiri tepat di depan Monica. Dia melepaskan kacamatanya menyisipkan di dadanya. Menatap monica.
“Bram…” ucap febiola. Monica tidak berkata apa-apa, dia hanya menatap pria yang ada dihadapannya. Bram menundukkan wajahnya mendekat ke wajah Monica, dan mengecup bibir monica.
“Dasar mesum…” pekik Monica setelah Bram melepaskan ciumannya.
“Harus kamu biasakan…ingat sebentar lagi kita menikahkan…”
“Kapan sih otak mu gak mesum…”
“Hahahaha….hmmm hai kau Febi kan” sapa Bram pada Febi.
“Ya betul…”
“Apa kau sudah memberitahukan dirinya…?” tanya Bram pada Monica.
“Tentang apa…”
“Our wedding…”
“Sudah…baru saja. Tumben ke sini? Ada apa?”
“Aku harus ke amerik… ini no telepon supir di rumahku. Kalo mom atau oma ingin kau datang ke rumah hubungi dia biar dia jemput dan antar kamu ke sana.”
“Berapa lama ke Amrik…”
“Kenapa? Udah kangen sama aku?”
“Ciihhh najong…”
“Haaahhahahaha jangan githu sayang aku tahu pasti kok isi hati mu seperti apa…hmmm gini deh aku bakal atur Aditya pulang duluan bagaimana?”
“iisshhh aku gpp kali sendiriian juga udah terbiasa…”
“Tapi masalahnya sekarang berbeda sayang…kamu adalah isteri dari Bram Mahesa Adiputra.”
“iiisshh…” Monica menopang dagunya melihat kea rah lain.
“Syet dah jadi obat nyamuk kita…” celetuk Febiola.
“Eh gw balik dulu ya… Sean biar gw jemput…”
“Gak usah Feb… biar kami aja…” Ujar Bram
“Gw mo ajak dia dan Monica ke suatu tempat..”
“Ohhh okay deh…kalo githu gw balik ya…”
“Feb tunggu…” Cegah Monica.
“Kenapa?”
“Lw bawa motor gw…nih kuncinya…”
“Bensin full teng..?”
“Ya full teng…!”
“Asyiikkk…. Bogor I coming…berangkat sudah…!!” teriak Febiola sambil mengambil kunci motor Monica dan meninggalkan monica dan Bram.
“Dasar gila…!” umpat Monica.
“Ayo…kita juga pergi…” ajak bram. Ternyata Bram mengajak Sean dan Monica jalan-jalan dan makan malam. Bram juga mengajak mereka mampir ke rumah orangtua nya.
“Mom…dad…”
“Apa sih teriak-teriak…eh siapa itu Bram…” Tanya Amelia, Mom Bram.
“Kenalin nih mom adiknya monica Sean… dia baru saja operasi tumor otak…tapi sean seorang pemberani iya kan chen…”
“Malam tante…” sapa Sean dengan suara lembut.
“Kok tante sih… panggil mom aja kayak kak Bram, lagi pula Kakak mu Monica kan bakal jadi Isteri kak Bram jadi kamu panggil Mom aja…sini sini duduk…” Amelia walaupun seorang mom yang tegas dia memang lembut sekali sama anak kecil. Itulah sebabnya dia menjadi donator dan mentoring sebuah panti asuhan.
Malam itu Monica dan Sean menginap di rumah orangtua Bram. Ternyata mereka tidaklah seperti yang Monica pikirkan. Bahkan mereka meminta Sean tinggal saja di rumah mereka. Sean sangat gembira bahwa dia sekarang memiliki keluarga yang lengkap.
Esok paginya Bram berangkat ke Amerika menyusul Aditya. Dia butuh melihat Ivan, dan dia juga tahu ivan butuh dirinya. Aditya memberikan alamat dimana mereka tinggal kepada Bram.
“Where’s Aditya…” tanya kepada anak buah Aditya yang juga mengenal dirinya.
“Up’s Stairs Sir…” jawab anak buah Aditya. Bram langsung berjalan dengan cepat ke lantai atas. Dia berhenti di depan pintu kamar Ivan. mengatur napasnya, mengatur perasaannya.
“Tok…tok…” tak lama Aditya membukakan pintu untuk Bram. mempersilahkan bos, sekaligus sahabatnya itu untuk masuk. Dia melihat Ivan duduk di sofa dekat jendela.
Dia melangkah mendekati Ivan. Ivan menoleh ke arah datangnya suara langkah kaki. Begitu melihat Bram, air matanya mengalir di pipinya. Bram merengkuh Ivan dalam pelukkannya.
“Sssttt…tenanglah aku sudah datang. Kau aman…” bujuknya. Memindahkan tubuh ivan ke dalam pangkuannya. Ivan memeluk pinggangnya. Merebahkan kepalanya diatas dada bidang Bram.
“Bram…hikss…hikss.” Isaknya.
“Maaf… tenanglah aku disini sekarang…” Bram mengecup keningnya lembut.
“Apa kau sudah makan?” tanyanya, ivan tidak menjawab hanya menggelengkan kepalanya.
“Ayo kita makan…” Dia pun membopong ivan hingga ruang makan. Bram memperintahkan pelayan untuk menyiapkan makan untuk mereka.
Melihat kondisi ivan yang seperti ini, membuat bram mengurungkan niatnya memberitahu tentang pernikahannya.
“Bram…”
“Ya…”
“Aku ingin pulang…” ucapnya lirih, ada nada takut dan kecewa, Bram menatap Ivan. Dia menghela napasnya lagi-lagi dia harus mengalah, dia pun tak ingin ivan terluka kembali.
“Iya aku akan membawamu pulang…nah makanlah. " Bujuk Bram
Mereka makan dalam diam, tenggelam dengan pikirannya masing-masing. Dia terlalu egois sehingga membuat beberapa orang tersakiti. Jika dia membawa pulang ivan, maka dia harus membagi waktu antara Ivan dan Monica. Memikirkan hal ini membuat kepalanya sakit. Jujur saja saat ini sulit mengambil keputusan. Sulit baginya memilih. Jujur dia tidak ingin memilih.