UnderCover Wife

UnderCover Wife
Chapter 17: Hard Dealing Part 2.



Sejak Ivan datang menyerahkan surat perjanjian dan formulir pendaftaran, Bram bekerja bagaikan tak mengenal waktu. Dia ingin melupakan segalanya, kepedihannya. Dia tidak ingin mengubah keputusannya.


“Mungkin ini yang terbaik Dit…” itulah yang dikatakan ketika aditya bertanya padanya.


“Kapan dia pergi?” tanya Bram pada Aditya tentang kepergian Ivan.


“Lusa…”


“Hmmm ... Oh ya dit besok gw harus jemput oma, lw ajak auliani ke mana kek, biar dia bisa ada alasan untuk nolak ajakan nyokab gw. Dan tolong reschedule semua pekerjaan besok. Lalu dinner dengan Pak Fandy yang dari Textile nanti malam tolong tanya apakah bisa dilakukan siang ini.”


“Oh ok, soal Liani gampang ntar gw ajak dia nginap…hehehe…”


“sinting…dah terserah lw…dit gw keluar dulu bentar…tolong urus sisanya ya, kabarin gw kalo udah dapat info dari Pak Adi, trus sore ini Rapat dengan tim Design tolong lw handle dulu. Gw mo ketemu beberapa tenant untuk event fashion show kita.”


“Ya…tenang aja gw bakal atur semuanya”


“Thanx…”


“Bram…”


“Ya…”


“Hubungi Ivan walaupun dia meminta lw jangan hubungi dia atau temui dia, lebih baik lw cari dan temui dia. Jujur gw kuatir dan gw juga gak enak hati dengan dia…Please, sebelum dia pergi.” Saran Aditya. Dia tidak ingin persahabatan mereka retak.


“Thanx…baiklah gw bakal pulang nanti malam ke sana.”


“okay…”


“Gw jalan dulu, jangan lupa hubungi pak Adi.” Ujarnya. Dia pun segera meninggalkan kantornya, tak lama dia memacu mobilnya menuju apartemennya, hal yang dia lakukan selama 2 hari terakhir.


Duduk dalam mobilnya, memperhatikan Ivan yang keluar dari apartement, mengikutinya. Kemarin dia memperhatikan ivan yang sedang jogging dari kejauhan. Melihatnya membuat hatinya sakit. Ya saat ini dia menyadari bahwa dirinya mencintai ivan, namun hatinya juga tergerak oleh Monica.


“Maaf…” Bram meletakkan kepalanya di stang mobilnya. Menarik napasnya dalam-dalam.


“Ting…”sebuah pesan masuk ke whatsapp mesenggernya.


“Lunch dengan Pak Adi, di Garden Tree Restoran Jam 14.00.” pesan dari Aditya.


“Ok…thanx. Setelahnya gw langsung balik. Tolong urus sisanya.” Balasnya.


Dia pun menjalankan mobil dan menuju ke Garden Tree Restoran. Makan siang bisnis. Pak Adi merupakan Ceo salah satu pabrik textile.


Mereka berencana menjalin kerjasama. Setelah pertemuannya dengan Pak Adi, Bram langsung ke rumah Monica.


Dari kemarin Bram selalu pergi ke rumah Monica.


Dia berencana untuk memberitahu niatnya kepada Monica, dia tahu dia tak mungkin langsung menanyakanya pada Monica. Jadi dia mengatur strategi dengan cara pendekatan berkencan.


“Ting…tong…! Ting…tong…!”


“Ya tunggu….” Seru suara dari dalam rumah.


“Ting…tong…!”


“Haaiiiisshhh gak sabaran amat sih…siapa…oh lw toh, gak sabaran banget sih.” Ujar Monica ketika melihat siapa yang datang.


“Sibuk gak…” Tanya Bram


“Sibuk…kenapa...”


“Yaaahh…jangan dong…”


“Laahhh…suka-suka gw dong gw mo sibuk apa gak…emang ada apa sih?” tanya Monica penasaran.


“Nonton Yuukkss...” ajak Bram


“Noh sana ada tv…nonton aja disitu.” Saran Monica dengan nada kesal. Hari ini Bram datang ke rumahnya. Biasanya seminggu atau 5 hari baru datang lagi. Tapi ini sudah 2 hari berturut-turut.


“Nih kopi buat lw.” Tawar Monica.


“Thanx…”


“Lw kenapa Bram? tumben amat lw datang 2 kali berturut-turut.”


“Syeet dia ngitung…” ledek Bram


“Ciih itu buat data aja berapa banyak kopi dan air yang habis.”


“Haaaiiissshhh…”


“Dahh ahh…gw serius nih…”


“Mon…”


“Apa lagi…”


“Lw punya cowok gak…”


“Haaahhh…kepo amat sih.”


“Iissshh…udah jawab aja napa?”


“Ada…”


“Boong…”


“Laah kenapa juga nanya…”


“Mon…lw bisa bantu gw gak?”


“Bantu apa?”


“Tapi gw harap lw jangan marah. Please ya Mon…tolongin gw.”


“Okay apa...lagi pula lw juga dah pernah bantu gw, soal sean.”


“Mon…be my wife please..!”


“Whaaaattttt….syet gila…jangan becanda deh lw…”


“Gw serius monica, tadikan lw janji mo bantu gw…”


“Iya tapi bukan untuk jadi isteri.?”


“Please mon, bantu gw…”


“Gak bisa Bram…”


“Kenapa?”


“Karena gw gak ada rasa…”


“Yakin…”


“Iya..”


Bram mendekatkan jarak antara mereka. Menangkup wajah monica dan sebelum monica tersadar, Bram mencium bibirnya, mengisap bibir bawah monica, membujuknya melalui ciumannya, sekejap dia memberontak namun ciuman bram yang lembut, menggoda sangat memabukkan membuat dirinya melayang, otomatis dia membalas ciuman itu.


Perlahan bram melepaskan monica. Menempelkan keningnya di dahi monica. monica terengah-engah, mengatur napasnya kembali dan dia memalingkan wajahnya dari Bram.


“See…kau membalasku… jangan katakan kau tak punya rasa.”


“Itu reflex bram…” kilahnya. Dia menjauhkan diri dari Bram.


“Pembohong …” Bram mengambil kopinya.


“Apa maumu sih …?”


“Tolong aku Mon, menikahlah dengan ku…”


“Aku tanya mengapa kau ingin aku menikah denganmu, aku yakin kau tidak ada rasa juga padaku.”


“Siapa bilang…aku menyukaimu. Baiklah mon, dengarkan aku, please dengarkan aku baik-baik. Aku minta bantuanmu, orangtuaku ingin aku menikah. Mereka menjodohkanku dengan seorang gadis yang nama Auliani Sanders.”


“Bagus menikahlah dengannya…”


“Tidak bisa…”


“Kenapa?”


“Auliani adalah kekasih Aditya…”


"Damn...riweh amat...terus?"


"Ini...tolong baca." Bram akhirnya menyerahkan proposal pranikah.


"Perjanjian Nikah Kontrak...apa ini maksudnya Bram..."


"Jadi istri kontrak ku selama 1 Tahun ini Mon... itu kontrak perjanjiannya."


"Whaaatt...wah parah, sinting lw ya Bram...gak, gw gak mau...!"


"Please Mon... tolongin gw.."


"Gak mau... pokoknya gak bisa."


"Cuma 1 tahun Monica... please."


"Apaaaa...lw kalo ngomong gak pake otak ya..lw enak habis kontrak nama lw tidak terkontaminasi. Nah gw...lw pikir dong pake otak...lw cari aja sana orang lain yang mau..." ucap Monica panjang lebar kesal.


"Please..."


"Gak mau gw Bram...gak Lw cari aja orang lain."


"Gw alergi wanita...gak bisa dekat-dekat dengan cewek..." Sambungnya lagi.


"Ala...boong... bukti nya nih lw dekat gw Gpp..."


"Ayo ikut..."


"Apaan sih...lepasin gak tangan gw..."


"Diam ikut saja..." Bram membawa Monica kembali ke kantornya. Dia menghubungi Aditya.


“Dit gw otw ke kantor dengan monica, Lw tunggu gw di lobby…” perintahnya.


Aditya terpaku pada perintah Bram, dia sedang rapat dengan tim design. Tapi dari nada bicaranya aka nada masalah besar jika dia tidak datang menemuinya di lobby.


“Ok...rapat kita tunda sampai besok pagi…” Aditya pun berlari menuju lobby.


“Gw bakal buktiin ke elo mon…” Melihat wajah serius Bram, monica tidak banyak membantahnya lagi.


Dia pun diam mengikuti apa yang dimau dilakukan oleh pria itu. Ketika mereka tiba di lobby, Aditya sudah berdiri di sana menunggu Bram. Aditya melihat wajah kesal bram…duh apalagi ini, gumannya dalam hati.


“Bram…ada apa?” tegor Adaitya.


“Lw tunggu sini dengan Adit.. “ perintahnya.


“Ada apa sih...mon’ tanya Aditya sambil berbisik.


“Entah gw juga gak ngerti.”


“Susan, Nita, Audrey… kemari kalian…” para wanita yang dipanggil Bram membelalak tak percaya. Biasanya Bram menyuruh mereka menjauh tapi ini…


“Mendekat sini atau kalian ku pecat…!”Perintahnya dengan suara keras. Dengan takut mereka mendekati Bram.


“Lagi…terus. Ke sini kesamping gw atau di hadapan gw cepat…” teriaknya lagi.


Aditya memahami maksud Bram, dia memberi kode pada sekuriti untuk datang mendekat ke Aditya, untuk berjaga-jaga agar jangan ada hal buruk terjadi.


Para wanita tersebut berdiri persis di hadapan Bram, tiba-tiba rasa mual dan pusing dirasakan oleh Bram. Kepalanya terasa berat dan berputar. Perutnya mual dan…


“Ooeekkk….ooeeekk!!” Bram muntah berkali-kali dan akhirnya dia jatuh pingsan


“Kyyaaakkkk…bram…bram…eh lw jangan bercanda deh…banggun” pekik Monica panik…


Aditya memegang pundak Monica, menenangkannya. Lalu memerintahkan satpam untuk membawa Aditya ke rungannya. Mereka menurunkan Bram disofa.


“Dit apa yang terjadi? Kenapa dengan Bram..?.”


“Apa yang Bram bilang padamu mon…?”


“Tadi dia bilang dia sakit…” Monica pun menceritakan semua apa yang terjadi sore itu antara dia dan Bram.


“Ya…dia alergi wanita. Satu-satunya wanita yang bisa dekat dengannya secara fisik adalah kamu Mon.."


“jadi itu benar….”


“Kau lihat sendiri kan…”


“Ya…”


“kamu pulang tunggu Bram siuman, oh ya lw mau minum apa?” tawar Aditya.


“Bebas…apa aja.”


“Tolong bantu gw mon…gw gak bisa kehilangan Auliani. Pilihannya hanya kalian berdua. Lagi pula ini hanya untuk 1 tahun.


“Nanti ya dit, gw pikirkan dulu…”


Satu masalah terselesai kan dengan baik, akhirnya Bram berani memberitahukan kondisinya yang alergi wanita dan hanya bersama monica alerginya tidak kambuh-kambuh. Tinggal masalahnya dengan ivan.


Bram membuka pintu apartementnya. Dia berjalan masuk mencari sosok pria yang selama ini mengisi hari-harinya.


Bram menemukan ivan duduk dilantai menghadap jendela besar. Kaleng-kaleng bir berserakan disekitarnya. Bram mendekati Ivan, ikutan duduk di lantai memeluk ivan dari belakang.


“Hentikan jangan minum lagi…” Bram mencium tengkuk leher ivan, memberikan gigitan kecil. Tangannya menjelajahi tubuh ivan yang cukup berotot.


“Stop bram…”


“Tidak…aku menginginkanmu.” Bram tiba-tiba menggendong ivan membawanya kekamar mereka.


Dia merebahkan ivan ditempat tidur. Memberikan kecupan sepanjang leher dan dada bidang ivan. ivan mengerang, tangannya memegang lengan bram. tiba-tiba bram berhenti, mendekatkan wajahnya kepada ivan. meletakkan keningnya.


“Van…maaf jika aku egois…maaf jika aku menyuruh untuk pergi, berlaku tidak adil saat ini padamu. Maafkan aku.”


“Sudahlah tak apa, aku mengerti…” ujar Ivan, Bram duduk ditepian tempat tidur. Memegang kepalanya, mengacak-acak rambutnya tanda kebingungan.


Ivan duduk disebelahnya, meraih tangannya dan menautkan jemari mereka. Bram mengangkat wajahnya menatap ivan.


“Terima kasih…selama ini kau menjagaku. Aku janji aku akan belajar dengan baik dan hidup dengan baik…kau jaga kesehatanmu.” Ivan tersenyum saat berkata demikian. Bram menatap ivan.


Dia memegang dagu ivan, mendekatkan bibirnya ke bibir, menciumnya mesra. Ivan terkejut dengan tindakan Bram, pria itu tidak pernah menciumnya sebelumnya.


Bibirnya membujuk agar ivan membuka mulutnya dan dia memperdalam ciumannya. Lidahnya membelai setiap rongga, menyentuh lidah ivan, mengulumnya lembut.


Dia menghisap perlahan bibir bawahnya, memberikan gigitan-gigitan kecil.


Tidak puas jika hanya mencium bibirnya maka bibirnya pun berjelajah menelusuri lehernya, menghisapnya perlahan sehingga meninggalkan jejak cintanya.


Jemarinya terus membelai seluruh bagian tubuh ivan.


Bram mencium bagian dada bidang ivan. Meniup ujung-ujungnya, membelai dengan lidahnya. ivan mengerang, dia pun tidak berhenti membelai setiap otot-otot Bram. Jemarinya pun menari dengan indah disetiap inci tubuh pria itu.


“I want you…” bisik ivan, perlahan memutar tubuh ivan, bibirnya menjelajahi setiap punggungnya. Jemarinya membelai tugunya, membuat ivan membenamkan wajahnya di bantalnya.


Menggigit bantalnya untuk meredamkan suaranya. Dia pun meraih pinggul Ivan dan perlahan dia memasuki tubuh ivan dan mulai bergerak berirama.


Ivan meremas seprainya, wajahnya dibenamkan di dalam bantal, berkosentrasi pada setiap kenikmatan yang diberikan oleh Bram. Dirinya pun mengikuti irama tubuh Bram.


Udara kamar meningkat jadi panas setiap belaian membawa diri ivan ke dalam kenikmatan, ivan melepaskan hasratnya dibarengin oleh terlepasnya lahar Bram di dalam ivan.


Dia memekikkan nama Bram berulang-ulang, hingga tubuhnya netral kembali dan diapun roboh dalam pelukan Bram.


“Tidurlah…”ucap bram sambil meraih selimut dan menyelimuti tubuh mereka. Mereka tahu hari ini hari terakhir mereka bersama.


Kantor Bram Pukul 22.00wib:


"Tok..tok...hmmm pak Bram saya pamit pulang duluan ya..."ujar Susan sang sekretaris.


"Oh iya ok..." Bram merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Dia melihat jam di meja kerjanya, Jam 10 malam.


"Ddrrrttt... Ddrrrttt...." Telpon nya berbunyi di lihatnya nama yang tertera di layar teleponnya. Aditya.


"Kenapa dit..."


"Lw di mana?"


"Kantor...."


"Haaah serius..."


"Ya..."


"Bram sebentar lagi Ivan pergi...ke sini lw sebelum terlambat...Gw di airport."


"Gw gak bisa dit... lw antar dia. Salam aja buat dia." Menurut Bram pertemuannya tadi malam adalah cukup.


"Bram Mahesa Adiputra...." Bentak Aditya.


"Tolong lah dit...."


"Lw serius?"


"Ya...."


"Gila lw beneran kacau lw Bram... Sadis lw" dalam amarah Aditya menutup teleponnya.


"Dia gak akan datang kan dit..." Suara Ivan bergetar sedih. Ivan meremas-remas jemarinya.


Feeling-nya tepat, kedatangan Bram tadi malam merupakan salam perpisahan darinya. Dia yakin Bram akan meninggalkannya untuk selamanya.


"Dit...jaga dia ya...aku Gpp. Thanks ya dit. You my brother" ujar Ivan. Dipeluknya Aditya sebentar.


"Jangan macam-macam disana Van, kontak-kontak gw. Kalo ada libur gw ke sana okay"


"Ya....thanx"


"Jaga kesehatan...."


"Bye dit...." Ivan pun melangkah meninggalkan ruang tunggu, lebih baik dia menunggu di dalam. Setelah cek in Ivan mengirimkan pesan kepada Bram.


"Bram... makasih atas semuanya, thanx udah menolong aku, bertemu dan berkenalan dengan mu hal yang membahagiakan dalam hidup ku. Disaat aku tak punya siapa pun kau ada. Aku akan merestui keputusan apapun yang kau ambil... karena hanya ini yang bisa aku lakukan untuk mu. Ini wujud cintaku untuk mu. Bram Mahesa Adiputra...i love you, and goodbye."


Hingga panggilan terakhir untuk penumpang tujuan California, Bram tak pernah muncul. Dengan gontai Ivan berjalan masuk ke dalam pesawat.


Kantor Bram sudah sepi, namun Bram masih disana. Dia membaca pesan Ivan.


"Maaf.... maafkan aku..."isaknya. Bram terduduk di lantai kantor nya. Dia memeluk tubuhnya sendiri, air matanya mengalir tak berhenti.


"Aarrrggg sial...." umpatnya kesal.


Bukannya Bram tak mau datang atau tak punya perasaan. Tapi dia takut, takut kalau hatinya hancur, takut melihat kesedihan di mata Ivan. Walaupun dalam kegalauan, Bram menyadari 1 hal dia mencintai Ivan dengan sepenuh hati.