UnderCover Wife

UnderCover Wife
Chapter 10: Kembali ke Jakarta



Setelah bertemu dengan tim dokter yang menangani Sean, Monica dan Aditya juga Sean bersiap untuk kembali ke Jakarta. Aditya membantu Monica menyiapkan segala nya.


"Mon kita berangkat ke bandara kalo semua sudah siap."


"Ok dit..."


"Mana Sean? "


"Oh dia pergi dengan Dr. Timothy ke ruangan Dr. Joon. Mo perpisahan katanya." Ujar monica sambil dia merapikan semua barang-barang bawaan mereka. Sean anak yang menggemaskan dan supel, banyak perawat dan dokter yang memberikan Hadiah untuknya.


“Mon… K Adit liat deh apa yang Dr. Joon berikan pada Sean” ujarnya ceria sambil menunjukan alat kedokteran yang dipegangnya kepada Monica dan Aditya.


“Stetoskop….Dr. Joon yang kasih? Sudah bilang terima kasih?” ujar Monica


“Sudah… Mon kita ke Jakarta sekarang?” tanya Sean.


“Iya… kenapa?”


“Apakah nanti kita akan datang kembali ke sini?”


“Kau mau kembali ke sini?” tanya Aditya


“Iya k Adit, tadi Chen sudah janji dengan Dr. Joon kalo Chen akan datang ke sini.” Jelasnya.


“Iya nanti kita ke sini kunjungi Dr. Joon jika itu maksudmu. K Adit dan Mon-mon sudah punya No telepon Dr. Joon, nanti di Jakarta Chen tetap bisa berkomunikasi dengan D. Joon.” Jelas Aditya.


“Asyiikk…..makasih ya k Adit.” Monica yang melihat itu pun terharu, beberapa hari lalu Sean tidak sadarkan diri, kini anak itu sudah kembali ceria.


2 minggu dirawat di singapura banyak hal yang terjadi. Monica jadi mengenal Aditya dan melalui Dr. Timothy monica mengetahui banyak tentang Tumor otak pada anak. Monica berharap Sean akan selalu seperti ini, ceria dan lincah. Semua kebaikan orang sekitarnya pun dia rasakan dan membuat monica terharu. Airmata mengalir di pipinya tanpa dia sadari… Aditya melihatnya.


“Jangan…” ujar Aditya sambil menghapus airmata Monica.


Monica tertegun melihat sikap Aditya. Kadang pria itu dekat, baik, lembut kadang dia cuek acuh tak acuh. Monica sering dibuat bingung oleh Aditya. Dia menatap mata Aditya. Aditya pun larut dalam tatapan monica. Tangan Aditya memegang pipi gadis itu, diusapnya perlahan. Wajahnya semakin mendekat ke arah Monica…


“Syet apa yang gw lakuin ?” batin Aditya, dia tersadar dengan cepat ditariknya tangannya dan berjalan menuju Sean. Sekali lagi monica terpana oleh tindakan Aditya.


Untung saja Bram tidak ada. Ya ampyun Aditya lw cari mati, batin Aditya lagi.


“Apakah kau sudah siap untuk kembali ke Jakarta?” tanya Aditya


“Ya K adit aku sudah siap, aku sudah pamitan pada semua orang yang ada disini”


“Baiklah…ayo kita pergi. “ ajak Aditya, dia mengandeng tangan Sean. Mengatasi kegugupannya menghadapi Monica.


“Shit… Aditya lw gak boleh sabotase lahan orang.” Batin Aditya.


“K adit…..”


“Ya….”


“Kita naik pesawat apa ?”


“Hmmmm apa ya…? Liat aja nanti ya..” ujarnya sambil tersenyum.


Begitu tiba di pesawat Sean berdecak dengan kagumnya, tak henti – hentinya dia memuji mengitari pesawat itu.


“K Adit.. ini punya k adit ya…”


“Bukan… sudah nanti juga kamu tahu…” Aditya pun sibuk kembali dengan laptopnya. Ada berberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan.


Sean berkeliling dan dia pun kelelahan tertidur dikursi dekat Aditya. Aditya memindahkan Sean ke kabin. Dia meminta crew cabin untuk membantunya mengetuk pintu karena Monica ada di dalamnya. Karena tidak ada jawaban, crew cabin membantu adit membukakan pintu. Ternyata monica tertidur dengan lelap. Perlahan Aditya meletakkan Sean disisi Monica.


“Cantik….” Guman Aditya. Dengan segera Aditya meninggalkan monica, dia tidak berani menatap Monica lama-lama, takut hatinya tidak kuat. Ini saja dia sudah tergerak. Akhirnya mereka tiba di bandara Soekarno – Hatta, cengkareng.


“Dimana lw dit…”


“Ruang VVIP nunggu bagasi…”


“Ok…” Bram langsung menuju ruang VVIP dengan setengah berlari.


Dilihatnya rombongan Monica, Aditya dan Sean baru saja keluar dari ruangb tunggu. Bram langsung  menyongsong mereka. Dilihatnya gadis itu, hatinya berdegup dengan kencang. Semua kekuatirannnya akan gadis itu hilang lenyap sejak dia melihatnya.


“Bram…”gumannnya.


Sekejap Aditya merasa bersalah. Bram berhenti dihadapan monica. Direngkuhkan gadis itu dalam pelukannya. Monica terpaku oleh perlakuan Bram.


“Bram…” bisik monica, kenapa sih nih cowok mesum amat yak. Walaupun begitu rasa kangen monica terobati. Jujur aja selama Bram tidak ada, monica merasa kehilangan. Monica membalas pelukan Bram.


“Apa kau baik?”


“Ya…tak bisakah kau lepaskan pelukanmu.?”


“Nanti aku kangen…” bisiknya, Sean melihat monica dipeluk oleh Pria yang belum pernah dilihatnya sama sekali. Dia mendekati Aditya.


“K adit…itu siapa…?” bisik Sean. Aditya menarik Sean menjauh, memberikan ruang untuk Bram dan Monica.


“Pemilik pesawat dan Monica….ayo sini ikut k Adit biarkan mereka.”


“Oh…itu pacar mon-mon ya…” Mereka pun berjalan menjauh. Sebenarnya Bram masih ingin memeluk gadis itu namun dia menyadari kehadiran Sean. Dia pun melepaskan pelukannya, namun tangannya masih memegang tangan monica.


“Hai…” sapa nya pada Sean


“Halo om…hmm kata K adit, pesawat tadi punya om ya.?”


“Haaahh Kok om sih? Kok Aditya di panggil Kakak?”


“Ciih ngalah napa ma anak kecil…” ujar Monica


“Iiissshhh biarin aja napa? Atau ada sesuatu antar kalian..?”


“Haaaah gak lah..” ujar Aditya. Gawat…


“Aku Bram….” Ujar Bram seraya menjulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Sean.


“Sean…om”


“Kk atau Bram…jangan om.” Potong Bram. Aditya di panggil kakak masa gw di panggil om.


“Adit, lw bantu gw atau pulang jalan kaki…”


“Iya…iya….hmmm Sean, dia adalah pria itu.” Bisiknya.


“Oooohhhh…jadi dia…” bisik Sean. Aditya mengangguk tanda setuju.


“Mon-mon, kita pulang ke rumahkan?”


“Iya…” jawab monica singkat.


“Kalian tunggu sini, aku ambil mobil dulu….” Ujar bram. Haah…tumben banget tuh boss.


“Biar aku saja….”


“Sssttt…tunggu aja sini.” Perintah bram sambil menarik tangan Monica.


Dia membawa Monica melintasi jalan bandara mennuju lapangan Parkir. Bram mengeluarkan Kacamata hitam dari sakunya, dia berhenti sejenak lalu memasang kacamata tersebut pada Monica…😎


Monica jadi ingat beberapa peristiwa di singapura. Perhatian-perhatian kecil yang sering dilakukan oleh Bram yang mampu membuat Monica selalu dan selalu tersenyum dan mengingat Bram. Dia ingat pernah satu kali bram menguncirkan rambutnya yang panjang ketika dia sedang mencuci piring, atau memakaikan sandal. Mengambilkan air mineral.


Bram membukakan pintu penumpang di bagian depan untuk monica. Mempersilahkan gadis itu duduk dan memasangkan sabuk pengamannya. Dia pun mengitari mobilnya, duduk dibelakang kemudi.


“Mon….” panggil Bram, monica pun menoleh ke arah Bram. Diraihnya wajah monica dan bram mencium monica begitu mesranya, hal yang ingin dia lakukan ketika dia melihat tadi. Namun karena ada Sean, Bram hanya bisa memeluknya. Bram terus mencium bibir Monica. Monica membalas ciumannya. Dia benar-benar rindu pada Pria itu. Bram mengakhiri ciuman mereka. Tanpa berkata apa-apa Bram melepaskan monica, memasang sabuk pengamannya untuk dirinya dan menyalakan mesin mobil, dan meninggalkan halaman parkir, menjemput para kurcaci.


Hari ini Jakarta tidak semacet biasanya. Dengan kecepatan sedang mobil bram melaju berpacu dengan kendaraan yang lain menuju rumah Monica. Rumah monica tidak begitu besar namun cukuplah untuk mereka berdua. Bram sekali lagi membantu monica mengeluarkan koper-koper mereka dan semua hadiah yang diberikan oleh tim medis RS Medika Singapura. Belum sempat monica mempersilahkan Bram dan Aditya masuk, Bram sudah menerobos masuk duluan, meletakkan barang –barang yang dipegangnya dia atas sofa dan meja. Dia melepaskan dasi, jas dan beberapa kancing kemejanya, menggulung lengan kemejanya. Melihat Bram yang seperti itu Monica menelan ludahnya… syett kok tiba-tiba rumah terasa panas ya…batin monica


“Dit…order go-food. Tanya Sean, dia mau apa…jangan junk food… eh dit orderin gw sate senayan dong…”


“Ok…mon kita mo order makanan, lw mau apa? Bram sih pesan sate, apa lw mau ?”


“Boleh… itu aja. Gw masak nasi biar kalian bisa nambah nasi…”


“Pesan lebih kalo githu… eh mereka kan ada sop nya juga sekalian pesanlah..”


“Okay…” Adit mulai sibuk dengan pesanannya, monica memasak nasi didapur, Sean membongkar koper dan semua hadiahnya. Bram merebahkan dirinya disofa.


“Dah gw pesan nih ada…..jiaaah dy molor” guman Aditya. Adit tahu bram kelelahan. Dia harus menenangkan ivan, menunggu monica, menghadapi mamanya yang selalu saja memaksa Bram untuk menikah dengan Auliani Sander. Entah mengapa di rumah ini Bram merasa nyaman. Serasa pulang ke rumahnya sendiri.