UnderCover Wife

UnderCover Wife
Chapter 19: Let's Made A Deal...



Monica Suhendrata tak pernah menyangka kalau hidupnya perlahan mulai berubah dan dia gak tau ke mana arahnya perubahan itu. Apakah menjadi lebih baik atau bagaimana. Yang pasti jauh dari yang dia rencanakan. Tidak pada relnya begitulah istilah yang Monica berikan pada hidupnya.


“Ini sih keluar jalur…” gumannya.


Hari dimana dirinya membawa Bram ke rumahnya untuk menenangkan hati Bram adalah hari dimana dia melihat betapa rapuhnya seorang Bram. Pria itu biasanya sangat mendominasi ternyata dia bisa menjadi hancur hanya karena seseorang.


“Katakan padaku, ada apa dengan bossku pak Ivan, aku dengar dia berangkat ke As untuk kuliah lagi. Ada apa?” tanya monica ketika Bram sudah lebih baik.


Bram menginap di rumah Monica, menempati kamar gadis itu sehingga monica harus pindah di kamar Sean.


“Aku, Aditya, dan Ivan, bersahabat sejak kami kuliah. Awalnya aku hanya dengan Aditya saja, namun sekarang kami bersahabat bertiga. Aku yang meminta ivan untuk pergi, ini demi keamanannya. Hmmm apa kau pernah dengar Pak Adam? Dia salah satu tamu eksekutif di Absolute Liquer Bar.” Bram akhirnya menceritakan hubungan mereka bertiga. Namun dia tetap menyembunyikan kebenaran tentang Ivan Noya, kebenaran bahwa Ivan Noya adalah kekasihnya.


“Ya dia tamu vvip. Tidak sembarangan orang yang diperbolehkan untuk menjamunya. Bartender yang boleh masuk melayani dia hanya Rian dan Pak ivan.”


“Sebenarnya gw gak suka mon kalo ivan terima itu orang sebagai tamu vvip di Absolute Liquer Bar. Dia sangat berbahaya. Dan benar saja, dia mengikuti Ivan ke AS. Ivan jadi sasaran empuk mon… gw bodoh banget…”


“Bram itu bukan salah lw…emang lw tahu kalo Pak Adam bakalan ekorin dia? Gak kan? Jadi jangan nyalahin diri lw sendiri…” nasehat Monica pada Bram.


“Ivan dan Aditya, udah gw anggap keluarga gw mon… gw gak sanggup mon, gak tahu lagi harus bagaimana? Jujur mon gw juga ada masalah lain…” diraihnya gelas kopinya dan meminumnya perlahan.


“Gpp juga kalau lw gak mau cerita Bram…”


“Monica Suhendrata, menikahlah denganku…Please.” 


“Kok itu lagi sih yang dibahas…” Monica jengah sekali mendengar permintaan Bram, tepatnya lamaran yang gak romantisnya Bram.


“Hari ini hari pertunangan gw dengan Auliani… jadi apa lw ngerti sekarang? Gw gak mau kehilangan mereka, ivan dan Aditya. Gak sanggup gw mon… sekalipun gw punya orangtua, namun gw gak bisa kehilangan mereka. Please bantu gw. Jadi Isteri Bram Mahesa Adiputra untuk 1 tahun ini. Hanya 1 tahun…” pinta Bram. 


“Setelah 1 tahun apa yang terjadi? Kita pisah gitu aja…lalu status gw apa? Janda Adiputra?. Bram gw gak pernah punya planning jadi janda tau…!” ujar monica dengan ketus.


“Maaf…tapi hanya kamu yang bisa bantu aku mon…please…”Bujuk Bram. Pria itu terus membujuk Monica agar gadis itu menerima usulnya menjadi Undercover Wife nya untuk 1 tahun.


Entah apa yang merasuki pikiran Monica, saat ini dia sedang terpaku di depan meja riasnya merias wajahnya dengan riasan sederhana namun menarik. Dia akhirnya menyetujui permintaan Bram. Dia menanda-tangani surat perjanjian pranikah dengan Bram terlebih dahulu sebelum Bram membawanya ke rumah untuk di perkenalkan sebagai isterinya.


Hari ini dia akan ikut dengan Bram ke rumah pria itu. Dan akan diperkenalkan sebagai tunangan Bram. Bram telah mempersiapkan segalanya, tidak hanya surat perjanjian yang harus ditanda-tangani mereka, tapi juga cincin dan gaun. 


“Monica…apakah kau sudah siap? Cepatlah…” panggil Bram yang sudah tak sabar. Hari ini orangtuanya mengadakan pesta pertunangan untuknya dan Auliani. Namun bukan dengan Auliani dia bertunangan namun dengan Monica. 


Monica akhirnya keluar dari kamarnya. Dia mengenakan gaun berwarna biru dongker, berbahan Chiffon silk. Gaun itu menyala di kulit putih Monica. Rambutnya yang sedikit blodies dia gelung dengan baik sehingga terlihatlah leher jenjangnya yang amat sangat sexy. Riasannya sederhana namun memikat.


“Bram…” panggil Monica. pria itu berbalik dan terpukau melihat Monica. Dia pun melangkah dengan cepat menghampiri Monica.


“Eitss…stop…jangan bikin aneh-aneh. Ingat perjanjian kita no physical act…” cegah Monica, ketika melihat Bram mendekat. Bram menghentikan langkahnya, dia gak mau kehilangan Monica. Gadis itu merupakan aset yang berharga saat ini jauh melebihi saham yang dia miliki.


“Ayo berangkat jika kamu sudah siap…” ajak Bram.


“Ya… aku sudah siap.” Relax mon tarik napas lw dalam-dalam, batinnya. 


Pesta pertunangan Bram Mahesa Adiputra diadakan dirumahnya. Mereka tidak mengundang tamu yang banyak hanya keluarga dan kerabat terdekat dari kedua belah pihak. Tapi bukan pihak Monica ya…melainkan Auliani. 


Bram memacu mobil Audi R8 Spydernya meninggalkan rumah monica, mobil tersebut melaju di tengah-tengah jalan ibukota menuju ke kediaman termewah di daerah Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.


“Bram…”


“Ya sayang…”


“Iiissshh apaan sih lw…”


“Mon kamu harus membiasakan diri untuk panggilan itu. Aku gak ingin keluarga ku melihat sebuah cela. Sebenarnya aku juga udah pernah janji sama mama aku untuk bawa kamu 2 minggu lalu namun aku juga paham kita belum sedekat itu. Aku bukan pria picik mon…”


“Ciihh iyaaa lw gak picik sama gw…Cuma mesum…awas aja kalo lw mesum…”


“Apa yang lw bakal lakuin menghajar gw?”


“Eh… lw pikir gw gak bisa? Sorry bukannya gw sombong gw ban hitam karate.” Ucap monica dengan sedikit bangga.


“Pantes aja pintu gw somplak kayak githu lw dobrak…”


“Udah ah gw mo ngomong nih…”


“Ya apa…”


“Aditya bagaimana apa dia tahu…”


“Soal apa?”


“Auliani mo di jodohin sama lw…”


“Ya..tapi tentang pesta hari ini dia gak tahu…”


“Lebih baik lw telpon dia…hmm kalo tentang kita dia tahu?”


“Ya…”


“Ooohh…”


“Mon…"


“Ya…”


“Iiihh kok gak pake sayang sih…”


“Mulai deh….”


“Hahaha…anyway thanx banget, disaat gw seperti ini lw malah ada buat gw…gw gak sempurna mon tapi gw harap gw bisa bahagiain lw.”


“Bram…ingat aja kesepakatan kita…dan poin terpenting agar kita berdua tidak sedih ketika berpisah…jangan melibatkan emosi apapun..”


“Okay…eh siapkan hati lw, jangan panik, jangan grogi, ingat gw ada didekat lw.”


“Ya…” Tarik napas dalam-dalam…


Audy R8 spyder itu pun berhenti disebuah rumah mewah bernuasa modern klasik. Di halamannya terparkir sudah mobil-mobil mewah berkelas. Bram turun terlebih dahulu, dia mengitari mobilnya dengan cepat. Membukakan pintu untuk Monica, mengulurkan tangannya dan membantu Monica untuk turun dari Mobil.


Saat turun dari mobil monica kehilangan keseimbangan, dirinya nyaris terjatuh. Dengan cepat Bram menangkap tubuh Monica. Mereka berdiri berhadapan, aroma maskulin woods yang lembut mengelitik hidung Monica membuat dirinya hanyut dalam buaian aroma itu. Bram juga terpesona oleh Monica, aroma lembut mint green tea terpancar dari tubuh Monica.


“Shit..okay that enough, gw gak tahan…” maki Bram pelan, diraihnya tubuh Monica mendekat. Bram mencekal kedua tangan Monica kebelakang tubuhnya, tangan yang lain merengkuh tengkuknya, Bram mencium monica dengan rakusnya, ******* habis bibir gadis itu menggigit bibir bawah monica, mengulumnya. Entah mengapa jika dia berdekatan dengan Monica tubuhnya berespon berbeda. Dirinya selalu lepas kontrol dan menginginkan gadis itu dibawahnya.


“Ehheeemmm…” suara dehaman yang kencang membuat Bram tersadar dan menghentikan ciumannya. Bram menarik dirinya menyandarkan keningnya pada Monica, menetralkan seluruh indranya. Bram menjauhkan dirinya sedikit lengannya tetap memeluk monica.


“Hebat ternyata apa yang Aditya bilang itu benaran…” celetuk Auliani.


“Lian…bisakah kau sedikit menjauh…” pinta Bram karena tiba-tiba saja perutnya berasa mual.


“Ya…Tuhan, sekalipun gadis itu disisimu berdekatan dengan wanita lain kau masih terasa mual…?” tanya Auliani, dia sedikit heran.


“Ya masih walau hanya sedikit…eh kenalkan ini Monica, mon dia…” Bram mencoba memperkenalkan mereka berdua.


“Pacarnya Aditya…hai aku Monica.” potong Monica sambil mengulurkan tangannya.


“Iya betul…” sambung Bram


“Auliani…hmmm aku ada rencana…” ujar Auliani.


“Apa…” tanya Bram. Auliani menjelaskan maksudnya kepada Bram dan Monica.


“Hmmm masuk diakal, boleh juga, patut dicoba usulmu itu.” Bram menyetujui usulan Auliani.


“ya.. itu bukan ide yang buruk..” sambung Monica.


“Kalau begitu, kita masuk duluan ya Bram…dahh…yuukkss Mon.” pamit Auliani sambil menggandeng Monica.


“Mon..tunggu…” Bram menghentikan langkah Monica.


“Apa….”


“Cup…” Bram mencium sekilas Monica lagi. Kali ini benaran hanya sekilas.


“Iisssshhh dasar mesum…”


“Hahahhaha… pergilah.”


Auliani dan Monica masuk ke dalam rumah. Beberapa orang yang mengenal Auliani menyapa dan bertanya tentang Monica. Auliani hanya menjawab mereka bertemu didepan rumahnya. 


“Tunggu kau anak dari Pengacara Sanders yang terkenal itu?” tanya Monica.


“Ya aku terkejut, siapa yang tidak mengenalnya, dia salah-satu Role model di dunia Hukum.”


“Apa kau di jalur Hukum juga…"


“Ya…aku mahasiswi Fakultas Hukum semester akhir…”


“Ahh…bidang apa?”


“Perdata…”


“Oohhh…samalah kita...hehehe …”


“Ting…ting…ting” Seorang MC yang berdiri di dekat tim music mendetingkan gelas wine untuk menarik perhatian para tamu yang hadir.


“Selamat Malam para Tamu terhormat sekalian, terimakasih telah mau hadir di acara keluarga ini. Sebelumnya mari kita panggilkan Tuan rumah yang mengadakan acara ini. Inilah Tn. Donny Adiputera & Ny. Amelia Putri Adiputera. Serta Oma Carolyn Van Path.” Ujar Si MC.


Mereka pun mendekat ke panggung. Ke dekat MC diiringi tepuk tangan para tamu.


“Baiklah kita akan mendengarkan kata sambutan dari pak Donny Adiputera."


“Selamat Malam…sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas kehadirannya di pesta kecil kami. Untuk keluarga Sanders terimakasih atas kesediaannya untuk hadir.”


“Baiklah selanjutnya kita panggilkan Bram Mahesa Adiputera putra tunggal dari keluarga Adiputera” para tamu bertepuk tangan mengiringi kedatangan Bram ke atas panggung. Bram berdiri menjauh dari semua orang. Dia berbalik ke arah Tim Musik.


“Kalian bertiga…bangun dan berdirilah disana.!” Perintahnya pada 3 wanita penyanyi latar. Mereka terkejut kaget mendengar suara perintah Bram.


“Cepat lakukan…!” Bentaknya kencang... Bram benar-benar tak peduli sekitarnya yang dia inginkan adalah hilangnya rasa mual yang mulai menjalar di tubuhnya.


“Bram…hentikan.” Tegur ibunya.


“Mom…gak bisa Bram mual…gak enak ini rasanya…”


“Sudah…sudah hentikan…lanjutkan acaranya.”


“Tunggu sebentar…Bram mau ngomong… “


“Apa lagi sih Bram…”


“Oeeekk…shit… Gak jadi Mom bram Mual banget ini…” Bram gak pernah pura-pura soal penyakitnya. Ini memang aneh dia selalu saja mual jika berada di sekitar wanita.


“Auliani…liani tolong kami nak ambilkan air putih hangat untuk Bram…” perintah Oma.


Pas banget nih batin Auliani, sesuai banget dengan skenario yang ingin mereka jalankan. Auliani mengambil air hangat dan membawanya ke panggung untuk Auliani.


“Stop…stooppp…lian…jangan mendekat. Gw mual banget ini.. oooeeekkk…ooooekkk” Bram memegang perutnya yang mual.


“Permisi…sini biar saya saja….” Tiba-tiba Monica datang dari belakang Auliani mengambil gelas yang dipegang Auliani.


“Ahh Monica…” guman Bram, Monica berjalan mendekat ke arah Bram. Merangkul pinggang Bram.


“Sayang kenapa tidak menungguku…ini minumlah.” Monica memberikan gelas air hangat pada Bram. bram meneguknya perlahan-lahan.


“Kau kemana sih…?” seketika itu juga mualnya berangsur-angsur hilang.


“Sudah baikan…”


“Ya…makasih sayang…cup” ujarnya sambil mencium pipi Monica. Blussshhh otomatis wajah Monica memerah karena perlakuan Bram.


“Eh siapa itu…pi, apa papi tau siapa gadis itu? kok Bram mesra sekali dengan gadis itu ?”


“Bram…”Panggil Auliani yang mulai berjalan mendekat.


“Stoopp diam di situ Auliani. Pleasee stop…jangan buat aku mual lagi…”


“Braaammm…!” bentak Maminya


“Jangan keterlaluan deh kamu…Dia itu calon tunanganmu..”


“Mom…gak bisa, Sayang sini jangan jauh-jauh aku mual tahu..Tunggu sebentar ya..” Bram menarik napasnya dalam-dalam. Dia berdiri tegap dengan tangannya memeluk melingkar di pinggang Monica.


“Auliani dan om, tante Sanders yang ku hormati. Sebelumnya saya minta maaf sebesar-besarnya. Bahwa saya menolak atas pertunangan saya dengan Auliani. Hal ini dikarenakan saya sudah memiliki orang yang saya cintai dan juga gadis ini mampu membuat Alergi wanita saya sembuh… jadi saya minta maaf.” Ujar Bram


“Perkenalkan Monica Suhendrata…” sambungnya lagi.


“Selamat Malam, saya Monica Suhendrata.”


Semua yang hadir sangat terkejut oleh tindakan Bram, tapi memang sebagian dari mereka mengetahui tentang penyakit Bram dan mereka sempat berpikir Bram kemungkinan jadi gay. Hehehe sebenarnya memang Bram melenceng secara seksual tetapi sejak bertemu dengan Monica semuanya berubah.


Fix sudah deh acara pertunangan dengan Auliani terbatalkan. Bram mengenalkan Monica sebagai satu-satunya wanita yang patut menjadi isterinya.


“Bram jangan main-main kamu.” Tegas oma nya. Bram dapat sidang dari keluarganya setelah para Tamu pulang. Monica tetap disisi Bram. Dia menyaksikan semua pertengkaran keluarga.


“Bram gak main-main oma, oma lihat sendiri… bram gak bisa dengan wanita lain. Bram gak tahu kenapa oma…”


“Bohoong…pasti bisa..” sanggah Ny. Amelia.


“Mom…Bram serius…! okay gini aja. Ijinkan Bram menikah dengan Monica atau Bram menikah dengan Seorang Pria.” Ancamnya


“Braaammm…”Bentak Maminya. Bram duduk disebelah Monica dengan cueknya dia hanya memainkan rambut Monica. Melihat pertengkaran kecil itu, Monica menunduk.


“Hentikan…” pinta Monica dengan suara tertahan.


“Haah…Mon, kamu tahukan kelemahanku apa. Gak ada wanita lain…tidak…Pi bujuk mami lah”


“Bram…gak mungkin kamu gak bisa…”


“Gak bisa ya gak bisa mi…”ujar Bram kesal.


“Hentikan Bram…sudah hentikan…hikkss…hikss” airmata Monica mengalir.


“Ehh…mon. monica ya Tuhan, sayang kamu kenapa nangis…” Bram meraih Monica ke dalam pelukannya.


“Jangan bertengkar lagi…Bram mon-mon mohon jangan ribut lagi…jangan.” 


“Iya..iya, maaf…maaf…sayang…!”


“Om, tante, oma…jika kalian tidak setuju dengan hubungan kami, ya sudah…tapi monica mohon jangan bertengkar lagi… please bram jangan ribut lagi…huhuhu.”


“Mon…kamu…shit maaf Bram lupa…ya Tuhan monica maaf…” Bram memeluknya erat. Menenangkan Monica.


“Bram please janji ya ini terakhir kamu bertengkar dengan mereka…please bram please…kamu, kamu tahukan Mon-mon dan chen tinggal berdua saja, kami kehilangan orangtua kami. Kamu masih bisa bertemu dengan mereka… jadi mon-mon mohon sama kamu ya bram..please…!”pinta Monica.


“Ya Tuhan…mon maaf Bram lupa.” Bram memeluk monica dengan erat. Tiba-tiba oma Carolyn mendekati Bram dan Monica. Disentuhnya pundak Bram, pria itu menoleh ke arah omanya. Oma memberi kode agar Bram menyingkir. Kini oma dari Bram duduk dihadapan Monica.


“Hi Nona, siapa nama mu nak…?”


“Monica oma…”


“Boleh Oma tahu mengapa kamu menangis nak…”


“Mon kangen mama dan papa mon…”


“Memangnya orangtua kamu ke mana sayang…?” tanya oma. Bram sangat terkejut oma nya memanggil monica dengan kata sayang… Bram aja gak pernah di panggil githu. 


“Yes kayaknya bakal dapat restu nih…” batin Bram. Dia senang banget .


Monica menceritakan semuanya, tentang keluarganya, orangtuanya yang sudah meninggal, Seannya yang tercinta yang baru saja di operasi. Tentang kuliahnya yang hampir selesai, pekerjaannya di Bar dan tentang hubungannya dengan Bram.


Kejujuran, kepolosan dan keanggunan Monica membuat oma dari Bram terpaku dan ya sesuai dengan harapan Bram, dia mengijinkan hubungan Bram dan Monica, dengan 1 syarat harus menikah secepatnya.


****


Note Author :


Hi para pembaca thanx banget udah mau mampir baca.


Yukkss dukung terus dengan membaca dan kirim bintang tanda kamu mengenalku dan suka pada Novel ku.


Sorry kalau masih banyak Typo...


Jangan lupa mampir ke karyaku yang lain.


Your Author With Love: Adrinna