UnderCover Wife

UnderCover Wife
Chapter 15: Whaaatt...



Aditya menepati janjinya pada Ivan. Dia mampir ke Absolute Bar milik Ivan, membuka 1 ruang Private untuk mereka bertiga. Sudah lama juga mereka tidak hang-out.


"Open bill aja van, kali ini gw yang traktir..."


"Sumpah lw mo traktir gw dit..." tanya Bram sambil melakukan break dalam permainan pool mereka. Dia fokus memasukkan bola satu per satu.


"Yup... sesuai dengan daya gwlah..."


"Haaiisshh....btw ulat keket kemana?"


"Brengsek lw Bram nama cewek gw, lw ganti sembarangan."


"Jiaaahhh segitunya marah..." Ujar Bram, hmm muncullah tiba-tiba tanduk kecil di kepala Bram. Dia pun mulai iseng. Dia mendekati Aditya dan...


"Cup..." Sebuah ciuman mendarat dengan mulus sempurna di pipi Aditya yang sedang berkonsentrasi untuk shoot Cue ball.


"Kyaaaakkk...." spontan aja Aditya menjerit seraya mengusap pipinya. Ivan yang lagi di luar ruangan dengan staffnya langsung masuk.


"Ada apa...?" tanya ivan.


"Gpp cuma ulat keket nempel..." Ujar Bram cuek, sedangkan Aditya marah-marah.


"Ivan Noya...lw diam disini jangan ke mana-mana, biar gw yang order minuman. Paham gak Lw...Awas aja lw keluar ruangan." Bentak Aditya kesal dan Langsung keluar ruangan. Ivan ke bingungan, dia gak ngerti ada apa. Hihihi...Bram iseng banget ya. (Bram :kok gw, nih si author.; Author: ciihh fitnah...).


"Eh...iya...Bram apa lagi sih?"


"Gpp sayang... Sini, sini..." panggilnya. Ivan datang mendekat. Bram pun langsung memeluknya.


"Kamu iseng lagi ya...


"Hehehe...."


"Jangan keseringan iseng sama Aditya yank... Ntar kalo dia ngambek kualat loh..." saran Ivan.


"Emang dia kamu Van...biasa ngambek..."ujarnya sambil mencubit pipi Ivan. Dan mencium lehernya.


"Haaiisshh di ingetin jugaan..."


"Eh Van kamu kurusan...hmmm...iya kamu kurusan." Ujar Bram sambil memeluk dia memeriksa tubuh Bram.


"Ala alasan bilang aja pengen peluk-peluk..."


"Hehehe....Van"


"Ya...."


"Makasih...."


"Untuk apa..."


"Untuk mengerti tentangku, dan maaf... Ivan aku tidak ingin kau sedih. Maaf jika harus mengirimmu ke Amerika."


"Jangan di bahas please... jangan."


"Okay....dengar aku dan Aditya selamanya akan ada dan melindungimu. Jadi ku mohon... jangan lagi berusuran dengan Club Nine." Pintanya, Ivan tak berkata apapun, dia hanya memeluk lengan Bram, meletakkan kepalanya di lengan kekar prianya itu.


"Hadeeeehhh tolong ya saat ini edisi brother bukan yayank-yayangan. Btw giliran siapa yang jalan nih..."


"Iiissshhh bilang aja iri...sana panggil Ratu mu..."


"Lagi bobo cantik dia...gak boleh diganggu, nanti cantiknya yayank ku hilang lagi..."gombal Aditya.


"OMG....Bram itu Aditya kan bukan alien?" ejek ivan


"Anggap saja alien...." Ujarnya acuh sambil memainkan telinga Ivan. Dia paling suka dengan telinga Ivan, lembut.


"Jangan di gigit..." Ivan udah tau banget kebiasaan Bram.


"Tok...tok..."


"Biar gw buka, siapa tahu pesanan kita..."ujar Aditya.


Sebenarnya Aditya tadi sempat melihat Monica dan dia gak mau ambil resiko Monica mengetahui mereka ada di situ apalagi ada Bram yang sedang berpacaran dengan Ivan.


"Lohh Aditya..." ujar Monica, dia terkejut melihat Aditya. Duh tuh kan benar aja.


"Eh... Monica..." Aditya sengaja teriak sebagai kode buat Bram, agar pria itu menjauh dari Ivan.


"Shit...." Maki Bram, ngapain lagi tuh cewek. Bram pun merubah posisinya, menjauh dari Ivan.


Monica pun masuk sambil membawa Tray isi pesanan Aditya. Menatanya di atas meja. Setelah itu dia berdiri dan...


"Bram...." Sapa Monica kaget.


"Hai Mon...."


"Eh... kalian saling kenal?" tanya Ivan.


"Iya pak Ivan, hmmm mereka teman pak Ivan?"


"Iya..."


"Eh bentar tunggu... Hmmm beberapa Minggu lalu, waktu pak Ivan telepon itu soal pak Alexander..."


"Ohh gw pake hp dia...."jawab Ivan polos sambil menunjuk ke arah Bram.


Bram hanya senyum tawar. Hatinya berdegup kencang.


Baru kali ini dia merasa speechless di hadapan Monica dan Ivan. Makanya dia diam aja gak berkutik. Monica membuka botol wine untuk mereka. Matanya menatap Bram.


"Ntar ya lihat kita buat perhitungan..." batin Monica.


"Bomat emang gw pikirin..."batin Bram seolah-olah mengerti tatapan mata Monica.


"Eh kalian kenal dimana?" tanya ivan curiga.


"Duh mampu's dah gw..." batin Bram.


"Toko buku...." Celetuk Aditya.


"Iya toko buku..." Monica membenarkan.


"Oh...." Kenapa hatiku gak tenang ya, dan Bram kenapa jadi diam, bahkan dia menjauh, batin Ivan.


"Pak Ivan, apakah saya boleh ijin pulang sekarang?"


"Haaah kenapa? Apa Sean sakit?"


"Gak sih pak, hanya dia tidak bisa tidur katanya, barusan ibu asuhnya telepon kalau Sean nangis terus..."


"Oh ok... boleh. Kamu pulang dengan siapa?"


"Bayu pak...anak ibu asuh, dia jemput aku."


"Sudah di jemput?"


"Iya pak sudah..."


"Pak Bram, pak Aditya, ku permisi dulu." pamit Monica pura-pura sopan.


"Ya..." Jawab mereka berbarengan. Bram mengambil handphonenya, dan mengirimkan pesan buat Monica.


"Sampai di rumah... jangan tidur tunggu aku..!!"


"Ciiihhh apa-apa pria ini... tadi di dalam diam aja..." Gumamnya. Monica pun ke loker karyawan, mengganti pakaiannya dan segera absen keluar.


"Bayu...."panggil Monica.


"Sudah..." Tanya Bayu.


"Iya...nih kunci motor gw." Ujarnya sambil menyerahkan kunci motornya.


"Mon.... tunggu..." tiba-tiba saja Aditya memanggilnya. Dia berlari dari dalam mengejar Monica.


"Eh Adit....ada apa?"


"Bentar atur napas dulu gw... Hmmm okay. Sean kenapa? Apa dia baik-baik saja?"


"Hanya Rewel dikit kangen ibunya..." Potong Bayu.


"Eh lw siapa?"


"Bayu..."ujar Bayu sambil mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


"Aditya..."


"Ohhh lw yang ngasih hadiah Transformers..."


"Sean cerita?"


"Iya ...hmm tunggu sini temani Monica, gw mo ambil motor dia"


"Okay...dia yang tadi lw cerita"


"Iya..."


" Mon begitu nyampe hubungi gw ya..."


"Kenapa?"


"Nah lw tau si Bram bagaimana..."


"Syet ngerepotin amat sih tuh bocah...."


"Mon nih helm, yukkss naik cepat kasian Sean..."


"Jangan ngebut ya bay..." Pesan Aditya.


"Hahaha lw salah pesan, nih Monica kalo bawa sendiri yang suka ngebut. Okay dah kita cabut dulu..." Pamit Bayu.


Aditya kembali ke ruangan dan...


"Hadeeeehhh kapan berhenti bermesraan sih..."


"Laahhh kita kan cuma peluk-peluk sayang...lw mau sini" ledek Bram. Aditya melotot sambil bergidik.


"Btw tadi sore kalian berdua kenapa..."


"Jangan bahas..." Cegah Ivan.


"Maaf.... dia lagi emosional dit" kata Bram, tangannya merangkul pundak Ivan.


"Van.... Ingat pesan gw tadi ya..."


"Kan dah ku bilang jangan dibahas dulu... Atau kalian benar-benar ingin aku pergi secepatnya?"


"Bukan gitu juga sih tapi kamu harus daftar ulang dulu kan ke UNCLA..."


"Ya... memang" Jawab Ivan.


"Sudahlah dit, biarkan saja dulu.. btw bukannya tadi kita lagi main bilyard ya..." Bram mengingatkan.


"Haaiisshh kalian bermesraan terus siapa yang mo main..." protes Aditya.


"Bilang aja lw iri... Ya gak yank.." Ledek Ivan.


"Aarrrggg Auliani tolong Abang mu ini Napa?" Keluh Aditya.


"Idiiih lebay... sini yank biarkan saja Adit iri dengan kita..." Ejek Bram. Kemudian dia menarik Ivan ke dalam pelukannya.


"Hihihi..."


"Semprul lw pada... Van sorry kalo gw ungkit nih, gw cuma minta tolong sama lw... Please benaran jauhi Club Nine dan Adam" pinta Aditya.


"Iya...iya...Ivan menjauh dari mereka."


"Thanks banget ya... Soalnya gw lg mo daftarin Ultimate jadi Legal Sekuriti Agency. Eh tadi gw ketemu Jan dengan ceweknya..."


Ujar Aditya.


"Masa... baguslah kalau begitu, lw hubungi bokapnya Auliani deh..."


"Aduuuhh gw belum siap ketemu camer..." Canda Aditya.


"Gelo dasar...eh Van kamu wa siapa?"


"Monica, nanya dia udah nyampe apa belum...tanya Sean bagaimana..!"


"Oh trus apa katanya..."


"Sudah sampai dia, eh kenapa juga lw pengen tau?"


"Cup... udah malam, pulang yuk, aku.... pengen..." Bisik Bram di telinga Bram.


"Jangan gigit..." Kata Ivan manja.


"Haiiiyaa mataku udah gak perawan lagi... Liat dua sejoli edan... pulang gih sana cari sarang... terkontaminasi mata gw nih..."


"Ayo yank...kita pulang, Aditya jahat ngusir kita..." Ajak Bram.


"Aku handling over dulu sama anak buah ku. Tunggu ya...cup" Ivan mencium sudut bibir Bram. Ivan meninggalkan mereka berdua.


"Haiisshhh...rusak sudah jiwa virgin ku.."


"Lebay... Eh dit, gw bakal ngomong sama Ivan soal Monica."


"Ya lw kasih tau dia aja dulu. Baru lw ngomong ke Monica. Lalu kita ketemuan di sini. Bikin tindakan berikutnya." saran Aditya


"Tul...yok ah ke bar.. sumpek di sini..."


Aditya benar dia harus ngomong yang sebenarnya ke Ivan tentang Monica. Juga tentang kelanjutan rencananya.


"Sorry mon gak jadi ketemu untuk bicara kita nih hari, bsok aja ya..." Wa Bram ke Monica.