UnderCover Wife

UnderCover Wife
Chapter 14: Cinta Tak Harus Memiliki.



Baru kali ini Bram merasa gugup. Dia menggenggam erat stir mobilya. Di sandarkannya kepalanya di stang tersebut.


"Syet dah berat banget ya hidup gw..." Keluh Bram. Akhirnya dia turun dari mobil, dan masuk ke dalam Absolute Bar milik Ivan. Ditariknya napas pelan-pelan. Bram memandang ke sekeliling Bar. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Monica.


"Aman..." Gumamnya. Jelas gak ada lah Monica lagi di dapur ngeributin soal orderan tamu nya yang gak nonggol-nonggol. Bram pun melangkah menuju lantai 2 tempat kantor Ivan berada.


"Van..."panggil Bram. Ivan mendongakkan wajahnya.


"Hai Bram...kamu sudah sampai?" Tanya Ivan.


"Ya... Aditya mana?" dihempaskan tubuhnya ke sofa.


"Belum datang dia....hmm kamu capek?"


"Iya..."


"Mo ku pijit...?"


"Gak usah, kau sibuk gak?"


"Gak juga hanya lagi bikin budget buat event bulan depan..."


"Van...gak semuanya lw kerja kan sendiri... Aku kan sudah sering bilang sayang... Sini duduk." Ujar Bram, Ivan menghampiri Bram, duduk di sebelahnya. Bram merebahkan kepalanya di paha Ivan.


"Ada apa? Kau berbeda saat ini, sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikiran mu" tanyanya sambil memainkan anak rambut Bram.


"Hmmm biarkan aku seperti ini dahulu sebentar saja..." Bram pun memutar badannya menghadap ke sandaran sofa, tangannya memeluk pinggang Ivan, menenggelamkan kepalanya di pangkuan Ivan. Napasnya mulai teratur.


"Tidurlah..."


"Ivan...."


"Ya..."


"Jangan buat aku kuatir lagi..."


"Baiklah...." Ivan sebenarnya ingin membantah tapi melihat kekasihnya seperti ini dia pun hanya bisa menuruti kemauannya karena dia sangat mencintai pria itu dan tidak ingin kehilangan momen seperti ini.


Bram terlelap dalam tidurnya, Ivan pun beranjak bangun perlahan, dia mengambil bantal kepala Favoritnya (bantal berbentuk Elmo sesame street) meletakkan di bawah kepala Bram, dan dia pun menyelimuti tubuh Bram.


"Cup....i love you Bram Mahesa Adiputra" dia mengecup kepala Bram.


"Ada apa dengannya mengapa dia seperti ini..."batin Ivan. Ivan mengambil handphonenya dan memutar sebuah nomor.


"Halo....ada apa Van"


"Aditya...apa yang terjadi pada Bram." Tiba-tiba saja suara Ivan yang manja berubah jadi tegas.


FYI ya walaupun Ivan Noya seorang gay namun suaranya tidaklah seperti banci-banci kaleng ya Gaeeesss, cara jalannya atau apapun yang ada dalam diri Ivan. Dia memang imut gaeess tapi Ivan benaran gentleman banget kalo di lihat secara fisik. Suaranya tetap aja ngebass walaupun gak bass banget tapi gak cemprenglah... Jadi jangan samakan dengan bencos-bencos tak berkelas itu ya gaeess.


"Dia sedang bersamamu?"


"Ya..."


"Di apartemen?"


"Kantor gw...ada apa dengannya? Lw kasih ide apalagi?"


"OMG Van gw mana pernah kasih ide aneh sama dia... Kalo lw mo bahas soal study lw yang ke Amerika itu atas usul dia bukan gw."


"Hmmm....dia terlihat lelah, punya beban pikiran yang berat. Itu yang ku rasa dit.."


"Ya...ini tentang kalian..."


"Aditya... love doesn't have to have, it doesn't have to exist. Aku akan pergi darinya jika itu keinginannya. Jika keberadaan ku menyusahkan hati dan menjadi beban dalam hidupnya, aku akan menjauh dit...hanya tolong jaga dia baik-baik. Bagiku dia sangat berharga...i love him dit" jelas Ivan dengan suara sedikit gemetar.


Ivan menatap punggung Bram. Air matanya mengalir di pipinya. Jika ini meringankan beban hidup orang yang di cintai nya maka aku akan pergi menjauh.


Mencintaimu memang salah di mata masyarakat. Apalagi di Indonesia, mereka menentang, namun hatinya tak bisa di bohongi. Jika saat ini tidak mungkin untuk memiliki maka jika suatu hari nanti dia mati dan diijinkan untuk reinkarnasi maka dia berharap menjadi pria normal yang jatuh cinta pada 1 orang wanita yang istimewa.


"Van...jangan salah kan dirimu. Dalam hal ini tidak ada yang salah atau pun benar. Aku akan menjaga kalian berdua, bagiku kalian adalah keluarga ku. Selain Auliani tentunya..."


"Haaah lw balik ma dia..."


"Lw pikir gw rela cewek gw nikah sama Bram. Dia milikku..."


"Ciiihhh segitunya..."


"Hahaha sorry... sorry, dengar sedih boleh, berlarut jangan dan gak boleh dekat - dekat dengan Adam...paham?"


"Kenapa...dia kan ganteng..."


"Jangan gila deh Van....kasus lw kemarin bikin gw nyaris kehilangan ultimate..."


"Gank lw itu..."


"Ya...so jangan ok. Jauhi Adam, jauhi Club' Nine. Lw utang nyawa sama anak buah gw..."


"Sorry dit..."


"Hei you my brother okay..."


"Okay..."


"Ntar gw mampir.... tunggu aja"


"Dengan Liani?"


"Gak kali ini edisi kita bertiga...siapkan ruangan biasa okay...cheer up Van" hibur Aditya.


"Thanks..."


"Tahan si boss edan itu okay..."


"Itu mah gak usah lw minta udah gw lakukan kali..."


"Ok see ya..." Aditya pun menutup teleponnya, ketika dia mengangkat wajahnya dilihatnya wajah Auliani yang sudah cemberut.


"Sayang.... maaafff"


"Bodo..."


"Aduh Lian jangan ngambek dong..."


"Lagi makan malah teleponan...siapa! Ivan ya?"


"Ya...dia bagaikan adik buat aku Lian, saat ini dia butuh kakaknya so please jangan marah."


"Hmmm....tapi besok temani aku..."


"Iya..."


"Eh jangan besok deh...aduh ku lupa besok aku harus nemanin mama dan Tante Amelia.." ujar nya dengan suara yang lama-lama perlahan di nama Tante Amelia.


Siapa sih yang gak kenal dengan nama Amelia Putri Adiputra, apalagi di mata Aditya. Dia adalah ibu kandung bisa dan sahabatnya Bram, jadi udah pasti deh pertemuan besok masih bahas soal jodohin Auliani, kekasihnya dengan Crazy Bisa Bram Mahesa Adiputra.


"Jangan cemberut gitu dit... gantengnya hilang..."


"Biarin...habis kamu sih...lose mood deh nih."


"Huuhhj ngerajuk...gankster bisa pundung ya..."ledek Auliani.


"Gankster juga manusia kalee yank..."


"Hmmm...udah ah kita lanjut makan..." Auliani melanjutkan dinnernya.


Aditya memperhatikan gadis di hadapannya. Di letakkannya perlengkapan makannya, dan berjalan mendekati Auliani, di sentuhannya dagu gadis itu hingga menghadap ke arah Aditya, dan Aditya mencium bibir sexy dan penuh merekah milik Auliani. Auliani pun membeku.


Auliani membelalakkan matanya menatap Aditya. Aditya melepaskan ciumannya. Menyentuh bibirnya dengan jemarinya.


"I love you..." Ucapnya dan dia kembali duduk.


"Habiskan makanmu..." Ujar Aditya acuh tak acuh.


"Waaahhh kebetulan banget nih..." Sebuah suara wanita yang dikenal Aditya bergema.


Benar saja itu Jan.


"Jan..."


"Enak nih..."ujarnya seraya mendaratkan pantatnya di kursi kosong meja mereka dan diapun mengambil kerupuk yang ada di piring Aditya. Melihat keakraban mereka Auliani pun jadi cemburu. Lagi-lagi mukanya di tekuk.


"Main nyomot aja gak sopan..." Ujar Aditya ketus.


"Haaiisshh Adityaku sayang jangan ketus githu dong...."


"Sayang, sayang pala lw peyang..."


"Hihihi..." Cynthia Januari menopang dagunya melihat Auliani kekasih Aditya.


"Hei cewe boleh nanya gak..." Ujar nya seraya memainkan rambut Auliani. Auliani hanya diam menyesap minumannya.


"Apa..."


"Aditya boleh buat ku..."


"Braaakkk....eh cewek dengar ya..."


"Lian...tenanglah..."potong Aditya.


"Adit...lw dengar kata-kata nya kan."


"Duduk pelankan suara mu... Bukan itu maksud Jan."


"Jan...kenapa disini..." Tiba-tiba datang seorang gadis cantik nan imut banget kayak boneka.


Auliani memerah melihat gadis yang baru datang dan melihat ke Aditya. Aditya memberikan kode untuk dia duduk kembali.


"Hai sayang...ku ketemu teman lama jadi menyapa mereka dahulu. Karena kamu sudah disini yuukkss ah...."dia pun bergegas berdiri.


"Hmmmm dit ku serius soal ultimate... Bye Auliani."


"Eh..iya bye..." Jawabnya, Auliani melihat mereka, Jan merangkul pinggang gadis cantik tadi. Sesekali Jan mengacak-acak rambutnya. Pasangan yang mesra.


"Nah paham sekarang..." Ujar Aditya.


"Ya... mereka couple?"


"Iya... Tahu The Club Nine kan..."


"Ya..."


"Gadis yang dengan Jan adalah pemilik 25% saham di Club itu."


"Whaatt.... OMG. Imut gitu..."


"Bahaya mereka Liani... dan maaf aku sedikit melibatkan mu"


"Maksudnya..."


"Mereka melihat mu, pasti mereka akan mencari tahu siapa dirimu."


"Ala...jangan kuatir...kamu tahu papi ku siapa kan..."


"Haahhh iya juga...aku lupa...kalo aku pacaran sama anak penguasa hukum"


"Husshhh ngaco...Btw kenapa dengan ultimate?"


"Aku sedang berusaha melegalisasikannya, bukan lagi sebuah gank tapi aku ingin menjadikan yayasan keamanan."


"Kayak yayasan sekuriti githu..."


"Ya... Tapi bukan sembarang sekuriti aja."


"Hmmm okay... datang aja ke rumah ngobrol dengan papi."


"Aduuuhh belum siap ketemu camer aku Lian.."


"Plaaaaakkk..."sebuah napkin mampir dengan mulus di wajah ganteng Aditya.


"Dasar ngacoo udah sering ketemu juga..."


"Hihihi iya zeyeng nanti diriku mencari papi mu."


"Hmmm masih mau dessert gak...?"


"Gak ahh...ntar aja di rumah."


"Okay Yukks cabut...aku ada janji nih dengan Ivan"


"Aku boleh ikut gak?"


"Gak edisi brother nih..."


"Ku tunggu di Bar..."


"Gak boleh Auliani...banyak lalat disana..."


"Huuuuu...Adit payah."


"Cup...lain waktu aja ya yank"dia mengecup pipi Auliani. Mereka pun meninggalkan restoran setelah membayar semua pesanan mereka.


Dari kasir Aditya melambaikan tangan pada Jan sebagai tanda perpisahan. Jan membalasnya.


"Tadi Aditya Prakasa ya..." tanya gadis yang bersama Jan.


"Ya..."


"Pemilik Ultimate?"


"Ya...kenapa kau tertarik."


"Bukankah kalian sedang jalin kerjasama?"


"Seperti nya tidak akan terlaksana..."


"Loh kenapa...gankmu kan cukup terkenal dan solid."


"Tapi cacat hukum sayang..."


"Terus hubungannya dengan Aditya? Bukankah akan lebih menguntungkan Aditya?"


"Kau lihat gadis yang bersama Aditya?"


"Ya siapa dia pacarnya ya..."


"Ya... Auliani Sanders..."


"Haaah serius Anak dari Sanders yang itu?"


"Ya...."


"OMG....ya sudah Jangan jalin apapun.."


"Hmmm begitu menurut mu?"


"Ya... karena Sanders berbahaya."


"Okay... Ayo kita makan."


Hampir setiap gankster tahu dan kenal dengan keluarga Sanders dan mereka tidak ingin berurusan dengan keluarga itu. Menghindar lebih aman, karena mendatangkan keamanan dan kedamaian. Sekalipun Jan menginginkan ultimate namun begitu melihat Aditya dan Auliani, dia pun berniat mengundurkan diri. Pantesan aja Aditya percaya diri menghadapi dirinya. Tidak selamanya yang kita inginkan boleh dan bisa kita miliki.