
Monica sudah kembali bekerja di Absolute Liquer, karena dia memerlukan biaya untuk menggantikan semua pengeluaran yang di tanggung oleh Bram.
Bram memang tidak meminta Monica untuk menggantikannya tapi Monica lah yang berinisiatif karena dia tidak ingin ada hutang budi dengan Pria itu.
"Mon...."panggil seorang gadis.
"Di panggil pak Boss noh di kantor..."
"Oh ok... Thanks ya Ros..."
"Sip...sip..."
Monica berjalan ke lantai 2 tempat kantor Pak Ivan.
"Ada apa ya pak Ivan manggil..."batin Monica, 2 minggu lebih memang dia tidak masuk kerja, semoga tidak ada masalah dengan pekerjaannya.
"Tok...tok..."
"Masuklah.... Hai Mon, duduklah, ku selesai kan ini dulu..." Ujar Ivan. Monica pun menuruti perintah bos nya, dalam hatinya bertanya-tanya ada apa pak Ivan memanggilnya...(Gak komat-kamit baca mantra lagi Mon.., haaiisshh author...)
"Ok Mon... Bagaimana kondisi Sean...? Sebelumnya aku minta maaf tidak dapat membesuk Sean.."
"Haaiisshh pak Ivan, ku pikir ada apa panggil aku kemari..."
"Lah... emangnya kau pikir aku bakal apain kau...Kamu kayak gak kenal aku aja." Ujar pak Ivan.
"Hehehe bukan begitu pak... Monica kan juga was-was wajarlah pak... Monica hanya karyawan parttime, trus gak masuk lebih dari seminggu. Mana ada bos yang mau mempekerjakan karyawan seperti itu..."
"Iya... tapi kamu harus ingat ya....bos mu ini beda dengan bos yang lain..."
"Iya...pak Bos..."
"Terus kabarin perkembangan Sean ya...gw kepo hehehe... maklum lah gw anak tunggal"
"Iya pak Boss nanti Mon-mon kabarin..."
"Eh iya mon... Ini coba baca..." Ivan memberikan selembar Flyer pada Monica. Gadis itu membacanya dengan teliti.
"Waaahhh bagus nih pak.. ayo pak kita ikut kompetisi ini... lumayan kan pak buat meningkatkan grade kita..."
"Yaaa ela Mon bukan itu maksud gw..."
"Laah jadi gimana maksudnya Mon Mon gak ngerti..."
"Kita bikin acara kayak gitu...gimana menurut mu..."
"Ooohh ya ampun kirain... Hmmm boleh lah... sekali-kali kita perencana..."
"Okay nanti panggil Rian ya...."
"Iya...tapi kok cuma Monica aja sih pak yang di panggil klo mo bikin acara gini..."
"Aduh Mon Mon..otak lw ya... Dung dung amat sih... Kan tadi gw dah bilang, gw minta maaf kalo gak bisa besuk Sean..."
"Hmmm okay lah pak..."
"Sama ini Mon .." Ivan menyerahkan sebuah amplop coklat.
"Apalagi nih pak..."
"Itu dari kami...semua karyawan... Maaf kalo kami hanya bisa bantu sekedarnya..."
"Oh...wahh terimakasih ya pak..."
"Ya...nanti pas briefing jam 8 kamu bilang ke rekan-rekan kerja lainnya."
"Baik pak... Mon balik dulu ke bar... Tadi lagi set-up..."
"Okay... jangan lupa panggil Rian ya..."
"Iya pak..." Monica berjalan keluar dari ruangan pak Ivan kembali ke bar.
Ivan Noya adalah bosnya, hanya Monica yang tidak tahu bahwa Bram kenal dengan Ivan Noya. Karena jadwal Monica di Bar itu hanya 3 x dalam seminggu. Dia bukan karyawan tetap hanyalah karyawan magang.
"Adit... Gimana sudah selesai?"Tanya Bram.
"Sudah...ini coba kau periksa..." Aditya menyerahkan dokumen perjanjian pranikah. Bram membacanya dengan teliti.
"Okay ini bagus...gw tinggal atur jadwal pertemuan dengan Monica...hmm urusan Ivan bagaimana?"
"Udah beres juga tinggal tetap kan kepergian nya aja kapan."
"Ohh ok... Adit...lw balik lagi ma ulet keket..."
"Sembarang aja lw ngasih nama....Liani..."
"Iya...iya... mentang-mentang udah balikkan dibela deh..."
"Rese lw... anyway busway thnx ya"
"Untuk...?"
"Otak lw yang normal karena nolak perjodohan..."
"Bosan hidup lw...pake thanks-thanks'an segala..!"
"Susah banget ya muji elo..."
"Adit, justru gw yang harusnya berterima kasih sama lw... banyak hal yang udah lw lakukan buat Gw." Ujar Bram mulai serius.
"Ok...stop...berthank-thanks'an kayak gini serasa dunia mo kiamat... gw belum mo mati... masih mau nikmati Liani... wkwkwkkk"
"Buaya lw..."
"Gw Aditya boss... masa lupa..."
"Diem deh.... eh dit, menurut lw kapan waktu yang tepat untuk kasih proposal ini ke Monica ya..."
"Terserah lw lah..."
"Plaaaaakkk..."tiba-tiba Bram melempar gulungan kertas ke arah Aditya.
"Adaawww gila lw baru juga sayang-sayangan ma gw udah sarkasme aja lagi lw..."
"Lw setan, jawab kayak gitu, gw serius Oneng..."
"Gw Aditya bukan Oneng... Hmmm lw liat sikon nya aja dah...Ntar gw bantu pantau dari Barnya Ivan, dia kan karyawan di sana."
"Iya sih..."
"Eh atau ntar malam aja lw ke rumahnya mumpung lagi adem tu dia."
"Sok tau..."
"Taulah.... waktu lw gak ada ampuuun dah tuh cewe...berisik. marah-marah gak jelas... pusing gw liatnya. Gw kena omel melulu."
"Iya..beneran gak bohong gw, hmmm dia Baik... lucu...imut kadang ceroboh... pintar, rajin... egois dan manja"
"Hmmmm...syet lengkap amat? Manja...?"
"Iya..."
"Imut...."
"Banget..." Mengingat Monica wajah Aditya jadi memerah.
"Aduh gawat ini, gw kan baru balik sama Auliani..."batin Aditya. Bram memperhatikan Aditya, dia melihat blushing face Aditya.
"Lw...suka.."
"Suka...eh...apa?" Ujar Aditya, shit... bisa perang dunia ini. Diliriknya Bram, bener aja wajahnya udah di tekuk kesal.
"Apa lw pernah suka sama dia... jawab jujur dit" tanya Bram dengan wajah masam.
"Memang gw sempat goyah Bram, tapi hanya sesaat, gw sadar pas lw datang jemput di bandara. Di tambah lagi lw sampai nginap di rumah dia. Gw gak mau nikung sahabat gw. lw aja gak nikung gw tentang masalah Auliani, malah lw nyuruh gw cari cewek lain buat lw. Dan lagi pula gw masih sayang sama Liani..." jelas Aditya panjang, lebar dan dalam... hehehe kayak rumus volume aja.
Bram hanya diam mendengar perkataan Aditya. Dia benar kalo memang niat nikung mungkin Aditya akan lakukan waktu di Singapura.
"Thanks... gw bakal pertimbangkan waktu yang tepat, yang pasti harus secepat mungkin karena oma mo datang...!"
"Waduuhhh...serius lw?"
"Iya lah...masa gw becanda, apa lagi masalah oma...bisa kualat kalo gw boong."
"Ya udah deh coba aja.."
"Tok...tok..pak ada tamu cari pak Aditya." ujar sekretaris Bram.
"Minggir...." Bentak Suara di belakang sekretarisnya Bram. Suaranya tegas namun sedikit sexy.
"Siapa sih..." Ujar Bram
"Aditya Prakasa....Mo sampai kapan lw gak angkat telepon gw haaah..." bentak Auliani.
"Eh buset ulat keket..." Celetuk Bram yang kaget akan kedatangan Auliani di kantornya.
"Plaaaaakkk..." Aditya melemparkan kembali gulungan kertas yang tadi Bram lempar.
"Auliani namanya....!!! Btw emang lw nelpon yank?"
"Noohh liat hp lw..." Auliani kesel banget sama Adit.
Dia duduk di sofa bersebrangan dengan Aditya...gak tau apa kalo dia kangen, batin Auliani. (cie-cie yang kangen.…). Aditya meraih hp nya dan melihat misscall yang masuk.
"Astaga...50 misscall... sayang kamu nelpon apa neror..."canda Aditya.
"Plaaaaakkk..."sebuah sepatu flat nyangsang dengan manisnya di wajah Aditya, spontan Bram ketawa ngakak.
"Gila lw berdua....sana pergi cari sarang... hahaha..." Usir Bram.
"Bram... jangan lupa Ivan, kasih penjelasan ke dia" ujarnya.
"Okay..."
"Yukkss yank cabut gw lapar belum makan...eh lw telpon Monica aja sekarang ajak dia lunch...coba aja tanya." Saran Aditya.
"Eh.. benar juga lw."
"Siapa Monica..." tanya Auliani.
"Calon istri bosss...cup" Aditya pun mencium Auliani dengan mesra.
"Woiii gila jangan kissing depan gw..." Bentak Bram sewot.
"Kenapa pengen...?sana cari Mon-mon... wkwkwkkk" Aditya tertawa puas ngerjain Bram, Auliani hanya tersenyum kesal, di cubitnya pinggang Aditya.
Yang di cubit malah meringis dan mendaratkan 1 ciuman di pipi Auliani. Setelah itu mereka pergi meninggalkan Bram yang masih kesal. Bram menarik napasnya perlahan, dia meraih handphonenya dan meng-dial nomor telepon Monica.
"Tuuuuuutttt....Tuuuuuttttttt"
"Halo..."
"Hai mon, ini gw Bram...lw hari ini sibuk gak?"
"Hmmm ya lumayanlah ini aja gw udah di tempat kerja. kenapa?"
"Lw pulang kerja jam berapa?"
"Jam 11an sihh, tapi nanti lihat juga dari tamu-tamunya bagaimana. kalo bisa di tinggal yaaa gw pulang jam 11an, kenapa sih?"
"Gpp..."
"Haiiissshhhh rese banget sih, gw lagi sibuk lw malah telepon gak jelas... pusing ah...gw tutup ya telponnya...bye Bram"
"Duuuhhh gini banget ya menghubungi orang tanpa bantuan Aditya.
"Ddrrrtttt...Dddddrrrttttt" sebuah pesan masuk dari Ivan.
"Sayang pulang kerja bisa ketempatku? aku kangen..."
"Waduuuhh...kenapa bisa bertepatan gini..."batin Bram.
"Iya... aku tahu... baiklah nanti aku mampir..."
"Benarkah...janji..."
"Iya janji..."
"Jangan Php...janji mu untuk liburan aja belum kau tepati..." ujarnya lesu.
"Iya maaf...aku salah gak tepati janji...hmm kamu dimana sekarang?"
"Di AL di kantor ku..."
"Tunggu aku ke sana sekarang..." Bram pun segera memutuskan teleponnya dan merapikan mejanya.
“Nina… tolong kamu cancel semua janji temu hari ini, pindahkan di besok pagi jam 8 dan jam 11. Kabarin ke Aditya soal ini semua okay…” Perintah Bram pada sekretarisnya.
“Siap baik pak…”
“Eh iya 1 lagi apakah bahan rapat hari ini sudah ada?”
“Iya sudah ada pak…”
“Hmmm kalo begitu nanti email ke saya ya…dan kamu jangan lembur pulang aja duluan…tapi ingat jangan lupa email semuanya yang untuk besok dan hubungi Aditya…”
“Iya baik pak…”
Setelah memberikan perintah Bram pun meninggalkan kantornya, tujuan adalah Ivan. Dalam kondisi seperti ini Ivan butuh di perhatikan lebih. Apalagi dia berniat mengirim Ivan ke America.