
Bram Mahesa Adiputera selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, eh tunggu ada 2 deh yang tidak dapat dia raih atau dapatkan, pertama kesembuhan alergi wanitanya. Namun kini tidak perlu kuatir lagi suatu saat pasti hilang dengan sendirinya.
Kedua Ivan Noya, hal yang tak mungkin dia wujudkan. Sekalipun hubungan mereka diakui di negara ini, namun jika dia nekad maka yang terluka bukanlah negara ini namun keluarganya. Dia tak ingin keluarganya tersakiti. Dia tidak mau jadi orang yang egois, tidak mau keluarganya hancur berantakan.
Setelah mengantar Monica pulang, Bram pulang ke apartemennya. Bram berjalan menuju kamar mandinya, melangkah masuk sambil melepaskan dasi, jas dan seluruh pakaiannya. Berdiri dibawah pancuran, membiarkan air hangat mengalir membasahi tubuhnya. Pikirannya melayang pada sosok wanita yang hari ini resmi menjadi tunangannya. Monica Suhendrata.
Wanita yang hebat yang bisa mengontrol dirinya. Tidak hanya alerginya namun semua ketakutannya akan lenyap. Waktu dirinya mendapati hal yang mengerikan terjadi pada ivan, gadis itu dengan tangguh menjaganya tanpa banyak bertanya. Di titik dia terpuruk Monicalah yang ada disisinya. Kali ini maaf jika dia egois ingin memiliki keduanya.
Bram menghubungi Aditya, dia butuh tahu tentang ivan. Dia butuh mendengar suaranya. Mengetahui bahwa prianya, kekasihnya baik-baik saja.
“Aditya apa kau menemukannya?”
“Ya…kami di rumah Jan yang di LA, tenanglah kami aman Bram.”
“Bisakah aku bicara dengannya?”
“Tidak jangan sekarang, biarkan dia istirahat dulu.”
“Hmmm baiklah…aditya.”
“Ya…”
“Hari ini, hari pertunanganku…” ujar Bram. Aditya terdiam, dalam hati dia bertanya apakah orangtua Auliani dan Bram tetap melakukan pertunangan tersebut?
“Jadi apakah…apakah…kau…” sesak rasanya bertanya demikian pada Bram. sekalipun dia ingin tahu hasilnya, namun hatinya diliputi rasa was-was.dia takut apa yang dia kuatirkan terjadi.
“Aditya…hubungi tim lawyer yang mengurus surat kontrak antara aku dan monica. Ku minta kau menjaga surat perjanjian itu. Aku akan menaruhnya di ruang studyku di apartemen. Mengerti.” Perintah Bram.
“Kenapa?.” Tanya Aditya heran, apa yang Bram ingin lakukan.
“Maksudmu…?”
“Lw mo batalin kontrak nikah lw? Sampai-sampai gw disuruh hubungi tim lawyer lagi…”
“Adoohh Aditya… lw kok kesini-sini semakin oon dipelihara ya. Gini Aditya guanteng… gw dan Monica udah bertunangan kemarin. Ortu dan oma udah setuju begithu liat dia…paham.”
“Serius Lw?”
“Iya…”
“Berarti Liani aman dong…”
“Amaaann lw mo nikah ma dia boleh, mo pacariinn selamanya juga gpp…dah sana lakukan apa yang gw bilang… karena bulan depan gw dan monica bakal nikah…jangan kasih tau Ivan. Kalo dia lebih baik, gw bakal atur jadwal untuk ke sana. Tunggu aja.”
“Sip…thanx ya bram…”
“Hadeeehh udah ah gak usah gitu, lw juga udah nyelamatin ivan gw…”
“Okay…ntar gw hubungi lawyer yang menangani pranikah lw berdua…”
“Thanx ya…titip Ivan ya…”
“Iya…”
Bram menutup teleponnya, dia berjalan ke dapur mengambil air mineral. Tanpa Ivan, apartemen terasa kosong, dingin dan sepi. Jika kekasihnya ada maka segalanya berbeda. Saat dia datang ke apartemen bukan keheningan dan kesepian yang dia dapati tapi kehangatan. Dia merindukan Ivan.
Sementara itu Monica memutuskan untuk memberitahu Sean dan keluarga Sapto bahwa dia akan menikah dengan Bram. Jujur saja dia sedikit kuatir Sean menolak pernikahan itu, dia juga nyaris tidak pernah melihat Sean dan Bram berdekatan. Monica memutuskan untuk menghubungi Bram, pria itu harus ikut membantunya memberitahu Sean dan Monica berharap Bram dekat dengan Sean.
“Tuuuuttttt….Tuuuutttt…Klik”
“Bram…” sapa Monica.
“Hai Mon…bagaimana kabar mu?”
“Aku baik…hmmm Bram.”
“Ya sayang…”
“Iiiissshh habbits…”
“Aduuuhhh cinta kamu harus biasakan, ingat kita bakal jadi suami isteri loh… tumben nelpon duluan? Ada apa? ahh…kangen ya..”
“Ngaco…ku mo ngundangmu makan malam…”
“Serius…”
“Iya…aku ingin memperkenalkan kamu dengan resmi ke Sean…”
“Ohh ok…kapan?”
“Besok bagaimana?”
“Gimana kalo sekarang…tunggu ya, jangan tidur dulu. Aku jalan sekarang…”
“Eh…terserahlah…aku jemput sean dulu kalo githu…”
“Jemput..?emang dia dimana sekarang…?.”
“Rumah Febiola…”
“Okay gw otw ke rumahmu…tunggu aja 20 menit sampai…”
“Ehh…jangan ngebut…”
“Hehehehe udah mulai kuatir rupanya…tenanglah sayang ku bawa mobil hati-hati kok. Lagi pula ku gak dari PIK. So santai ok…tunggu ya..bye”
“Iiissshhh…siapa juga yang kuatir..dasar mesum” guman Monica sambil menatap hp nya yang sudah lost connection.
“Lebih baik aku bersiap…” gumannya lagi.
Bram melajukan R8 spydernya dengan kecepatan sedang. Apartemennya terletak di Senayan City, Bram memilih jalan potong di bandingkan jalan Protokol. Karena menuju rumah Monnica di jam 8 malam seperti ini masih ada kemungkinan macet. Ternyata dia butuh waktu 35 menit. Bram segera turun dan menghampiri Monica di dalam rumah.
“Tok..tok..tok…” Bram mengetuk pintu Monica namun tidak ada jawaban jadi dia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.
“Mon…mon-mon kamu sudah siap…” panggil Bram.
“Eh itu kayak suara Bram deh…” monica yang masih merapikan riasan wajahnya langsung berdiri dan bergegas menuju pintu. Betapa kagetnya Monica mendapati Bram di hadapannya.
“Bram…” pekiknya ringan.
“Aku ketuk gak ada yang respon, jadi aku masuk. Lain kali kunci pintunya Mon.”
“Ya…aku tadi lupa…”
“Haaiisshh…eh kau sudah siap? Ayo jemput sean…” ujar Bram.
“Bentar aku ambil tas ku dulu…” Monica pun bergegas menuju kamarnya. Bram menatap Monica yang melangkah menjauh darinya, dia pun mengikuti Monica ke kamarnya. Di raihnya lengan Monica, hingga gadis itu menghadap padanya.
“Kyaaaakkk…apa yang kau lakukan” Tanya Monica.
Dia menciumnya lembut seolah tak ingin bibir monica tersakiti. Menghisap bibir bawahnya, refleks monica membalas ciuman Bram. menikmati manis dan hangatnya bibir pria itu. Jemarinya yang lentik memegang lengan Bram yang kokoh. Monica mengerang tanpa disadarinya. Bram menyadari dirinya menginginkan lebih. Dia menghentikan ciumannya. Mengecup bibir Monica ringan, mengecup hidungnya, keningnya. Membawa Monica ke dalam pelukannya.
"Mon...aku..."
"Bram lepaskan...kita harus Jemput Sean"
Bram melepaskan pelukannya, menatap bibir Monica yang bengkak karena ciumannya. Bram merengkuh wajah Monica dan menciumnya lagi.
"Kau harus membiasakannya..."
"Dasar mesum..."
"Wkkkkkk...ayo kita Jemput Sean." Bram menarik tangan Monica. Bram tetaplah sama seperti waktu awal Monica kenal ketika menjaga Sean di Singapura. Selalu memberikan perhatian-perhatian kecil. Saat ini Bram melakukan hal yang sama. Membukakan pintu mobil untuknya dan memasangkan seatbelt.
Kediaman keluarganya Febiola ada di daerah kemang, Jakarta selatan. Dengan cepat Bram memacu R8 Spydernya. Ke arah kemang sedikit macet sehingga mereka tiba agak lama dari biasanya.
“Coba tadi naik motor gw aja…”
“Iiissshh ini udah malam gak bagus buat Sean naik motor malam-malam.”
“Ya… eh bram tungguh rumahnya yang pagar putih…yang ada pohon jambu kancing.”
“Hmm…”
“Tin…tin…” tidak lama keluarlah sang penjaga kebon…eh satpam maksudnya membukaan pintu pagar buat mereka.
“Malam pak…” sapa Monica.
“Ooohh Non Monica, bapak kira siapa… tumben naik Mobil.”
“Hehehe iya pak mumpung ada supir gratis…hahahaha.” ujar Monica sementara pria disebelahnya menekuk wajahnya.
“Mon-mon…” teriak Sean yang muncul di depan pintu. Monica berlari mendekati sean, dan dia memeluknya.
“Chen…kamu sudah makan…belum mon.. eh ada om..hmmm kak Bram?” tanya Sean, dia pun menjulurkan kepalanya mencari-cari sesuatu.
“Cari kak Adit ya…dia lagi tugas ke laur negeri..” ujar Bram yang melihat Sean mencari seseuatu atau seseorang tepatnya.
“Chen … kak Bram dan Mon-mon mo ajak Sean makan diluar sekalian pulang.”
“Oh kalau githu Chen ambil tas Chen dulu…”
“Ya…mon mau ketemu bapak-ibu sapto dulu chen…”
“Masuklah mon mereka ada di ruang keluarga…”
“Okay… Bram..”
“Gw tunggu di sini aja…”
“Okay…tunggu bentar ya…”
“Ya…”
Monica masuk ke ruang keluarga bertemu dengan orang tua dari Febiola. Dia pun menceritakan kedatangannya untuk menjemput Sean. Monica belum menceritakan tentang rencana pernikahannya kepada keluarga Sapto. Belum waktunya memberitahu mereka. Monica perlu memberitahu pengacaranya terlebih dahulu. Tak lama mereka pun meninggalkan rumah Febiola.
“Kita makan dimana?”
“Sean boleh milih?”
“Ya…mo dimana?”
“Sean ingin makan seafood…”
“Hmmm okay… duduk yang rapi gunakan seatbelt mu.”
“Jangan ngebut Bram…” cegah Monica.
“Iya gak…” dasar Bram suka obral janji jika berkaitan dengan kecepatan. Dia melaju mobilnya dengan cepat, yang membuat monica memalingkan wajahnya ke arah Bram, melototi Pria itu.
“Kan tadi ku bilang jangan ngebut Bram…”
“Hehehe maaf…demi tuan putri yang cantik, akan ku kurangi kecepatannya.” Bram pun memperlambatan kecepatan mobilnya. Melesat di sepanjang Toll Jorr sejak keluar dari daerah kemang yang akhirnya membawa para penumpang tiba di Rumah Makan Bandar Jakarta.
“Jiiaaaahh jauh aja nih makan malam” pekik Monica.
“Demi Sean…bukan untuk mengimpress lw…”
“Ciiihh…ayo Sean kita turun.”
Mereka pun berjalan masuk ke dalam restoran. Bram menggandeng tangan Sean. Monica memperlambat jalannya melihat punggung mereka berdua. Mom-dad, mon-mon salah ambil keputusan gak ? Sean butuh figure ayah…batinnya.
Ya Sean butuh figure ayah. Monica tidak dapat melakukannya, tapi Bram bisa. Bram melakukan tugas sebagai ayah Sean sekalipun hanya sementara. Tapi apakah akan adil untuk Sean yang hanya mendapatkan perhatian Bram hanya 1 tahun? Haiiisshhh kayaknya gw harus berjuang untuk lebih dari setahun.
Monica merasa mereka bagaikan keluarga yang harmonis. Duduk bertiga dalam restoran, makan malam dan berbincang-bincang.
“Kak Bram… apakah chen boleh memesan es…”
“Tanya mom kamu…”
“Haahh…?”
“Maksudnya Mon-mon, malam ini dan seterusnya kalau bisa Chen panggil aku Dad dan mon-mon kamu panggil Mom..gimana?”
“Hahhh…serius…? Apa boleh…mon.”
“Sean Suhendrata… apakah sean ingin punya ayah?” tanya monica sambil memegang tangan mungil Sean.
“Ya…apakah Mon sedang mencarikan Ayah buat sean?”
“Sean Apakah boleh Kak Bram jadi Ayah dan kakak ipar mu?” tanya Bram .
“Tunggu…apa ini serius…?”
“Ya…”
“Yes…hore…di hari ayah nanti sean bakal tampil berdua ayah tidak lagi sendiri…” Sean benar-benar senang.
“Eh tunggu…ini Cuma panggilan aja atau bagaimana?”
“Sean…bulan depan kak Bram dan Monica akan menikah, apakah kau menyetujuinya…”
“Serius…ya…Sean setuju…asal monica bahagia…” ujar Sean sambil memeluk Monica.
“Mon…sean punya ayah…” Bisiknya… Monica merengkuh Sean dalam pelukan Monica mencium ubun-ubun kepala Sean
“I love you Sean…” Bisik Monica.