
Kantor Bram ada di kawasan kemang, Jakarta selatan. Gedung 4 lantai di mana lantai 1 nya terdapat Sorbet Café. Aditya sedang menikmati Mochacinno Latte’nya ketika dilihatnya Ny. Adiputra yang adalah ibu dari Bram, Bos dan kawannya itu. Aditya pun langsung berdiri menyambut Ny. Adiputra dan dia tidak sendiri di temani oleh seorang gadis cantik bernama Auliani, hmmm rencananya nih ya, si tante mau nge’jodohin si Auliani ini dengan Bram.
“Sore tante…” sapa Aditya.
“Eh Adit, Bram ada di atas kan?”
“Oh…Bram hari ini tidak datang tante.” Ujarnya dan memang adit kali ini tidak bohong.
“Ala…jangan boong lw dit, lw kan kompakkan banget ma dia, tul gak tante…” ujar Auliani, ke adit dia ketus-ketus ke mamanya Bram duuhhh lembut setengah hidup dah…aiisshhhhh…
“OMG… ya gak lah…Adit ngomong bener kok, coba aja sono lw ke atas. Lw kan tahu sifat bram bagaimana, emang kalo dia ada gw bisa duduk bebas ngopi di bawah kayak begini?”
“Sudah – sudah, jangan pada ribut. Ayo Liani duduk dulu aja, tante telpon Bram dulu.”
“Baiklah tante…” ujar si ulat keket yang langsung mendaratkan pantatnya di atas kursi yang tadi di duduki oleh Aditya.
“Tante… mo minum apa?”
“Bolehlah pesanin yang segar-segar deh dit…”
“Aku pesankan Strawberry Smoothies ya tante…”
“Okay boleh..”
“Aku macha Frappe…” sambung Liani.
“Gw bukan waiter, lw pesan aja sendiri…”ujar adit seraya meninggalkan Liani.
“Iiissshhh adit..!! tungguin gw woi…” Auliani mengejar adit ke kasir
“Apa-apan sih…” Aditya menepis tangan Auliani, ketika tangan gadis itu memegang tangan Aditya.
“Adit…kenapa sih lw…gw salah apa sama lw… ?”
“Lw koreksi diri aja deh, gak usah nanya-nanya gw.” Keketusan Aditya membuat Auliani kesal. Dia langsung pergi meninggalkan Aditya.
“Lw gak jadi pesan…”
“Tau ah bomat..”
“Yeee dia ngambek…” Aditya walupun dia ketus, cuek namun dia pria yang baik dia pun memesankan minuman untuk Auliani. Karena tempat duduknya diduduki para bidadari Adiputra maka Aditya memilih duduk di Bar Stall.
“Bro… emak dikau ada di basecamp nih…” Aditya mengirimkan pesan pada Bram.
“Gw masih di rumah Monica..” balasnya
“Eh…busyet lw gak pulang?”
“Heheehe rahasia…udah sana jaga emak gw”
Hadeeeeehhh belom juga nikah udah main nginap aja nih si boss….. parah. Gw bakal ribet deh nih ngurusin yang kayak gini. Aditya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Bram Mahesa Adiputra…!! Sungguh kamu anak durhaka ya… mom ada di kantor cepat ke sini.” Bentak Ny. Adiputra ketika teleponnya sudah tersambung dengan anak semata wayangnya yang sedikit kurang ajar… 🤭🤭
“Aduh mom, suara mom kayak petir… sakit kepala Bram nih. Ada apa sih mom”
“Pake nanya lagi…dimana kamu?”
“Iiiisshh kenapa sih mom… Bram capek nih.”
“Aduh anak durhaka ini…cepat kamu ke mari. Mom sudah dari tadi di kantor kamu.”
“Ya elaaah mom…”
“Braaaammm lw mau ngopi gak.” Teriak monica dari dapur. Pas deh nih…batin Bram. Dia pun tersenyum picik..😎
“Iyaaa sayang, tolong buatin ya…”
“Eh..siapa itu Bram? Kok ada suara cewe? Kamu ada di mana?”
“Di rumah calon mantu mommy lah… udah ah mom jangan ganggu Bram, sana mom ganggu Donny Adiputra yang ganteng dan menawan..”
“Bram Mahesa…” Suara Mom nya kembali meninggi. Bram langsung menutup teleponnya.
“Lw telpon siapa? Adit ya… dia ke mana?”
“Haaah kok lw malah nanyaain dia sih? Lw gak kuatir ama gw?”
“Laah kan lw di depan gw…ngapain gw kuatirin. Btw lw sampai kapan mo ngendon di rumah gw? Gw bisa di gebrek warga nih….”
“Ya udah lw aja yang ke rumah gw ya…”
“Gila apa lw… pulang sana, ini bukan panti sosial…”
“Pinjam handuk…”
“Untuk… ?”
“Gw mo mandi…”
“Hadeeeeeehhh….nyusahin….” monica kesal banget sama Bram, orang ini belum pulang dari kemarin. Monica tinggal di perumahan yang lumayan cukup menjunjung tinggi norma susila. Monica berjalan ke kamarnya, Bram mengikutinya dari belakangnya. Ketika di kamar Monica, dia memeluk gadis itu. Monica tersentak kaget.
“Braaaaammmm apa-apaan sih lepas gak…”
“Gak…aku beneran kangen sama kamu.”
“Gila…lepasin aku bram. Kalo ada yang liat bagaimana? Aku bisa di usir warga ini.?”
“Iiih siapa yang mo liat kita di kamar mereka di luar, masa mereka mo sengaja datang masuk sih?” ujarnya sambil tetap memeluk Monica.
“Braaamm jangan gini lah…” pinta monica karena sebenarnya monica gak tahan dengan napas bram yang berhembus di tengkuknya. Bukan rasa geli namun rasa yang lain timbul di dirinya, rasa yang membuat tubuhnya bergetar.
“Mon… “
“Ya….”
“Aku malas mandi, kau mandi kan aku ya….” Goda Bram, bram paling suka ganggu monica. Dia suka melihat wajah merah semu monica.
“Kyaaaaakkkk dasar mesum…sana mandiiii” monica melepaskan diri dari Bram…Bram bukan melepaskannya malah memeluknya erat.
“Kamu ini ya gak bisa diam banget sih…hmmm mandi bareng yuk…”
“Gilaaaa…..” ujar monica sambil menginjak kaki bram agar dia bisa lepas dari pelukkan Bram.
“Aduuuh…aduh.. si eneng meni galak pisan euy…” Bram mengelus kakinya yang di injak oleh monica…
“Rasaiiin…mesum sih..”
“Mon….”
“Apa lagi sih sana mandiiii….”
“Hmmm aku kan udah pernah liat semua bagian tubuhmu…tinggal nyicip aja yang belom…”
“Braaaaammmm…..!” keluarlah semua jurus kungfu cubitan, tendangan dan pukul.
"Hahaha....." Tawa nya sambil berjalan ke kamar mandi meninggalkan Monica yang sedang kesal.
"Dasar mesum..." guman Monica. Dia kesal dengan sikap nya yang mesum, memeluk dirinya seenak jidat nya, menciumnya, membuat Monica kehilangan akal sehatnya. Namun Bram membuat dirinya nyaman. Dan ketika dia tidak ada disisinya dia mulai merindukan nya.
"Masak apa ya... Hmmm kalo sapo tahu Bram bakal suka gak ya...laaaaahh ngapain juga gw pikirin dia suka apa gak...masak mah masak aja...🤭" Guman Monica.
Monica sibuk di dapur tidak memperhatikan keberadaan Bram yang sedang melihat apa yang Monica lakukan. Bram menyenderkan tubuhnya ke palang pintu dapur.
"Kenapa dengan gw ya... Kok gw gak mual ya kalo berdekatan dengan lw sih... Kayaknya gw...." Batin Bram. Dia pun mendekati Monica perlahan dan memeluk gadis itu dari belakang. Monica tersentak oleh perlakuan Bram.
" Masak apa serius amat...?"
"Sop daging buaya...." Jawab Monica asal
"Huuhh mana ada tuh..."
"Masak tanpa nanya aku mo makan apa?"
"Gak perlu, gak usah... Kamu makan aja daging buaya ini..."
"Iiihhh galak aja..."
"Bram....."
"Ya sayang...."
"Bletaaakkk..." Tiba-tiba Monica memukul kepala Bram dengan Ladle kayu untuk mengaduk sop yang di pegang nya...
"Adddaaawwww... " Bram menjauh dari Monica dan mengelus kepalanya yang di pukul Monica... Gila nih cewek.
"Buk...." Tiba-tiba saja Bram roboh di lantai dapur, Monica pun jadi histeris. Dia mematikan kompor dan menghampiri Bram.
"Braaam...hey brammm, bangun... Braaam..." Panggil Monica, dia pun panik seketika.
"Braaam bangun....brammmm...maaf, aku hanya bercanda....hiks hiks" Isak Monica, airmatanya mengalir di pipi nya... Bram mengintip dengan sebelah matanya, betapa terkejutnya dia ketika melihat Monica menangis. Bram langsung membuka matanya, melihat gadis itu...
"Mon..." panggil nya lembut. Monica mengangkat wajahnya dan menatap Bram dengan air mata yang berlinangan...
"Braaam...." Monica langsung melompat ke dalam pelukan Bram.
"Maaf...maaf...aku cuma bercanda...mana yang sakit..apa kau baik-baik saja...maaf maaf kan aku" ujarnya sambil menangis. Melihat tingkah Monica yang seperti itu Bram tidak tega untuk mengerjainya lagi.
"Mon...Mon...aku tak apa-apa, aku juga hanya bercanda...maaf Mon" Monica tertegun sesaat mendengar perkataan Bram. Dan dia pun memukuli Bram.
"Dasar mesum...gila..gak tau diri..."
"Aduh.. duhhh sayang sudah sudah...iya ampyuunn...ehhh sakit nih semua badan aku..."
"Sayang.. sayang....siapa yang sayang lw....iiisshhh..." Dia terus memukuli Bram.
"Berhenti memukuli ku atau aku akan mencium mu?" Ujar Bram.
"Bodo...aku benci kau... dasar idiot..."dia terus memukuli Bram, Bram pun akhirnya menangkup wajah Monica.
"Kau yang minta ya.. jangan marah..." Belum sempat Monica menyadari maksud perkataan Bram, Bram sudah menciumnya habis-habisan. Monica tersentak kaget, otaknya menyuruh menjauh dari Bram, menyuruh untuk tidak membalas ciuman Bram, namun kehangatan menjalar ditubuh dan relung hati nya, dirinya menyerah pada sentuhan lembut Bram.
Bram yakin bahwa gadis yang diciumnya ini menyukai dirinya maka dia pun berhenti berinisiatif, menahan ciuman nya dan benar saja, Monica lah yang berinisiatif melanjutkan ciuman mereka, Bram tersenyum penuh kemenangan dan dia yakin Monica tidak akan menolak permintaannya untuk menjadi istri kontraknya.
Ny. Amelia Putri Adiputra pulang ke rumah dengan kondisi hati yang kesal. Dia ingin menjodohkan Auliani Sander dengan putra kesayangannya Bram, tapi anak itu malah seenaknya. Dan tadi dia mendengar suara wanita.
"Mami kamu kenapa dari tadi aku perhatikan kamu cemberut terus?" Tanya Donny Adiputra yang sedang membaca buku pada isterinya Amelia. Mereka adalah orang tua dari Bram.
"Bram tuh papi..."
"Kenapa dengannya? "
"Mami kan ingin dia cepat menikah pap, mami ingin dia menikah dengan Auliani pap... "
"Oohhh....kenapa mami ingin dia dengan Auliani?"
"Duuuhh papi ini gimana sih masa papi gak tau sih kalo mantu wanita yang gak kita kenal apalagi dari kalangan gak jelas bisa tidak sopan sama kita, mami juga gak ingin dapat mantu yang gold digging, papi ngerti kan maksud mami." Jelas Amelia, dia mencurahkan kekuatirannya kepada suaminya, Donny.
"Mami... boleh aja mami menjodohkan dengan Bram... tapi mami harus berikan juga kepercayaan kepada Bram dalam memilih pasangannya."
"Iya ngerti mami...tapi mana sampai sekarang Bram gak punya pacar... Kemana mana hanya dengan Aditya dan Ivan."
"Ma... pasti adalah, mungkin Bram gak ingin mengenalkan nya pada kita buru-buru."
"Memang kenapa sih? Kita kan orang tua nya pa.."
"Iya... Mungkin Bram gak ingin di cap Playboy. Dan mami kan tahu Bram ada sedikit Alergi wanita. Menurut papi dia gak bisa dekat dengan sembarang wanita..."
"Iya juga sih pap... Hmmm tapi Bram normal kan ya pap... Mami rada kuatir juga dia agak-agak gimanaaaaa githu.."
"Normal lah... Eh mami bukan nya tadi mau bikin kan papi kopi ya..."
" Ehh... Ya ampyuunn papi maaff..."
"Iya...iya... bikin kan aku kopi lah."
"Iya tunggu ya..." Amelia meninggalkan Donny yang sudah kembali tenggelam di buku yang di baca nya.
"Lw tadi apa-apa sih dit galak kayak gitu sama gw." tanya Auliani pada Aditya yang mengantarkannya pulang.
"Turun kita sudah sampai..."ujar Aditya ketus.
"Aditya bisa gak sih lw sopan dikit sama gw...salah gw apa sama lw.."
"Lw nanya beneran? Lw pura-pura gak tahu atau amnesia mendadak?" Aditya tambah marah mendengar perkataan Auliani.
"Gw..." Auliani kesal sendiri dengan kata-kata Aditya, dia gak ingin diketusin.
"Turun..."
"Gak mau..."
"Jangan bikin gw habis kesabaran... Lw kenal gw..."
" Gw gak mau..." Ujar Auliani, dia tetap mempertahankan pendiriannya. Dilipatkan tangannya dan memandang keluar jendela dengan cemberut, kesal.
"Terserah lw deh..." Ujar Aditya marah. Dinyalakannya kembali mobilnya dan dia melajukan dengan cepat menuju apartemen nya. Aditya memarkirkan mobilnya.
"Turun...gw mo pulang, mo istirahat. Terserah lw mo ke mana." Dia turun dan membanting pintu mobil. Auliani ikut turun, wajahnya masih ditekuk cemberut. Aditya melangkah dengan cepat meninggalkan Auliani.
"Aditya... tunggu..." panggilnya mengejar Aditya. Aditya tetap tak peduli dia terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.
"Adit...." teriak Auliani sambil meraih tangan Aditya.
"Mau apalagi sih... lepasin tangan gw."
"Gak mau..."
"Liani...lw tau gw kan...lepasin gak..."
"Gak..." Amarah Auliani pun terpancing, dia pun melotot ke arah Aditya. Sebenarnya dia pun bingung mo ngapain, dia ingin mengalah pada Aditya tapi entah lah setan apa yang ada di otak nya membuat ego nya terusik hingga dia tidak ingin mengalah dari Aditya.
Aditya kesal dengan ulah Auliani.
"Lw yang minta ya... gw udah memperingati lw" Aditya pun membuka pintu apartemen nya dan menarik Auliani ke dalam apartemen.
Dia pun berbalik ke arah Auliani. Aditya meletakkan tangannya di tengkuk Auliani meraih wajah gadis itu dekat ke arah nya, dia mencium bibir Auliani dengan kasar, tak ada kelembutan.
Amarah Aditya meluap. Dia menarik gadis itu, terus menciuminya dengan kasar membawa nya keatas sofa, menindih tubuh Auliani dengan tubuhnya, menarik tangan Auliani ke atas kepala gadis itu, mengunci dengan tangannya, dia pun tidak berhenti menikmati bibir Auliani, tangannya yang lain bergerilya ke mana dia suka. Auliani ingin berontak namun tubuh nya tidak ingin Aditya berhenti. Ketika jemari Aditya berada di puncak kembarnya dia mengerang, memberikan tubuhnya pada Adit. Aditya serasa mendapatkan ijin dari Auliani untuk melakukan lebih maka menarik gaun gadis itu keatas dan melepaskan nya, tangannya menyelinap ke belakang punggung Auliani melepaskan kaitan Bra nya, dan disingkirkannya juga ke lantai. Aditya menurunkan wajah ke arah bukit kembar Auliani, menciuminya di puncaknya, di lepaskannya tangan Auliani. Gadis itu menyebutkan nama Aditya dengan sangat sexy, membuat Aditya tak ingin berhenti dan dia ingin mendengar namanya terus dipanggil seperti itu, Aditya melepaskan sisa pakaian Auliani, meraih surga dunia gadis itu, memberikan apa yang membuat gadis itu memanggil namanya dengan sexy.
"Adit...Adit..." Panggil Auliani dengan suara terengah-engah. Aditya mengangkat wajahnya menatap wajah gadis itu.
"Apa kau ingin aku berhenti?" tanyanya, Auliani membuka matanya menatap wajah Aditya, tidak ditemukan amarah pada pria itu, hanya gairah yang sama seperti dirinya.
"Jadi...kau ingin apa?" Aditya kenal siapa Auliani, amat sangat kenal, dia tak akan pernah menjawab dengan jujur maka Aditya berhenti melakukan apa yang sedang lakukan. Auliani kaget dengan apa yang terjadi.
"Adit..."
"Apa.... kata kan apa mau mu..."
"Jangan berhenti..." Jawabnya pelan, Auliani membuang ego nya dan menjawab pertanyaan Aditya. Aditya tidak lagi bertanya namun dia menurunkan wajah nya memberikan kenikmatan pada inti Auliani dengan bibir dan lidah nya dan melepaskan pakaiannya sendiri. Ketika dia tahu bahwa Auliani sudah siap menerima nya maka dia menyatukan dirinya dengan Auliani. Memberi dan mengambil, bergerak berirama dengan tempo yang cepat hingga mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Auliani menggigit pundak Aditya untuk meredam suaranya.
"Adit..."
"Sssstttt diamlah sesaat..." Aditya meletakkan kepalanya di atas bukit kembar Auliani. Sementara tangan Auliani berada di punggung Aditya. Alunan napas Auliani membuat Aditya nyaman dan mengantuk.
"Geser sedikit..." perintahnya, Auliani memberikan tempat untuk Aditya.
"Tidurlah....aku tak akan mengijinkan kau pulang malam ini.." Aditya memberikan kecupan ringan di pipi gadis itu, mengambil kain flanel yang ada di sandaran sofa menutupi tubuh mereka yang polos. Auliani sudah terlelap dalam pelukannya.
"Liani....aku tak akan melepaskan diri mu lagi." Guman Aditya dan dia pun memejamkan matanya. Sebuah senyum manis menghiasi wajah Auliani.